Pandu pun akhir nya terdiam dan tidak ingin lagi berdebat dengan Jasmin. Baru hari pertama Jasmin ada di perusahaan itu, tapi dunia nya seakan runtuh. Pandu tak tahu bagaimana kehidupan nya setelah ini.
"Jasmin. Ajari aku. Aku benar-benar tidak tahu apapun tentang ini. Kepala ku pusing sekali." Ucap Pandu berpura-pura lemah.
Jasmin yang sejak tadi sedang mengetik sesuatu di laptop milik nya, langsung menghampiri Pandu.
Namun sebelum itu, ia mengambil obat dan langsung memasukkan nya ke dalam mulut Pandu.
Pandu tak bisa macam-macam. Mau protes pun tak bisa. Berkali-kali ia melihat proposal yang ada di depan nya, tetap saja ia tak bisa menyimpulkan apa-apa.
"Apa anda masih belum mengerti, Tuan?"
"Ya. Aku tidak mengerti apapun, Jasmin. Bukan kah sejak tadi sudah aku katakan? Aku tidak mengerti. Tolong ajari aku."
"Apa anda yakin ingin seorang sekretaris gendut dan tidak seksi seperti ku mengajari anda?"
"Jasmiiiiiin! Apa-apaan kau!"
"Katakan, Tuan Pandu. Saya tidak ingin nanti nya orang-orang mengatakan jika saya memaksa anda."
"Ya, Jasmin. Aku membutuhkan kamu, Jasmin. Tolong aku, Jasmin."
Jasmin tersenyum. Ia pun mendekat ke arah meja bos nya itu. Hal pertama telah berhasil ia lakukan. Yaitu membuat Pandu meminta tolong pada nya.
Jasmin duduk di samping Pandu dan mengajari nya satu hal yang paling mendasar. Pandu pun terpaksa memperhatikan semua itu.
Karena jika tidak, maka nanti Jasmin pasti akan kembali berulah. Dari pada membuat nya repot, lebih baik Pandu menuruti saja apa mau nya wanita gendut itu.
"Selesai. Bawa pekerjaan ini pulang ke rumah anda. Pelajari lebih lanjut. Besok, kita akan bertemu lagi di sini."
Jasmin langsung pergi begitu saja ketika jam kerja berakhir. Pandu begitu senang karena akhir nya Jasmin telah pergi meninggalkannya.
Ia pun dengan cepat pulang karena sudah begitu kelelahan. Ponsel nya tak ada. Entah bagaimana cara nya ia menghubungi sang kekasih hati.
Tubuh nya sudah panas dingin karena sudah beberapa jam tidak menyentuh gadis-gadis cantik.
"Tuan, anda mau pulang?" Tanya supir pribadi Pandu.
"Ya jelas aku mau pulang. Aku lelah sekali hari ini. Jasmin gendut itu benar-benar monster."
Pandu langsung masuk ke dalam mobil. Suara dering ponsel milik supir nya membuat nya kesal.
"Tuan,"
"Ada apa, Beni?"
"Pacar Tuan menelpon."
"Berikan pada ku."
Pandu pun mengambil alih ponsel milik supir nya itu. Ponsel milik nya telah di rusak Jasmin. Jadi, ia pun meminjam ponsel milik supir nya terlebih dahulu.
"Halo sayang. Kenapaa kamu tidak bisa di hubungi? Apa kamu sudah tidak menyayangi ku lagi? Aku ma-ti saja kalau begitu."
Wanita itu benar-benar begitu di manjakan oleh Pandu selama ini. Walaupun Pandu memiliki pacar nya sendiri, tapi ia juga masih suka main dengan wanita lainnya.
Ya nama nya saja playboy. Pasti di hidup nya memang di kelilingi oleh banyak nya wanita-wanita yang ia pilih.
"Sayang. Jangan begini. Ponsel ku hilang. Seperti nya terjatuh. Dan aku tidak tahu dimana. Kamu datang saja ke apartemen ku. Aku rindu kamu."
"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu kamu di sana."
Panggilan pun berakhir. Pandu segera pulang. Dan sebelum itu, ia mampir terlebih dahulu di toko bunga dan toko kue kesukaan pacar nya.
Sesaat setelah Pandu berada di dalam mobil, ponsel milik supir nya kembali berdering. Namun, supir nya Pandu memilih tidak untuk menjawab panggilan itu.
Apalagi mereka sedang terburu-buru pulang karena pacar nya Pandu akan segera datang. Pandu tidak ingin pacar nya menunggu terlalu lama.
Setelah Pandu tiba di apartemen milik nya, ia begitu terkejut karena melihat suara tangisan sang pacar di pintu.
Ia pun langsung masuk ke dalam apartemen nya dan melihat pemandangan yang begitu membuat jantung nya ingin berhenti saat itu.
Demi apa. Pacar nya Pandu sedang berlutut di depan Jasmin dengan rambut acak-acakan. Bahkan pakaian wanita itu pun so-bek.
"Ada apa ini? Jasmin, bagaimana kamu bisa berada di apartemen ku?"
"Pak Pandu, mulai hari ini aku akan tinggal dengan anda. Nyonya Rima yang memerintahkan aku untuk melakukan nya."
"Apa? Itu tidak mungkin. Nenek ku tidak mungkin segi-la itu. Pasti kau mengada-ngada. Jasmin gendut, keluar kau dari apartemen ku!" Teriak Pandu.
Namun yang bersangkutan malah pergi ke sebuah kamar dan meletakkan koper nya di sana. Pandu tak bisa berkata-kata. Jasmin memang begitu membuat nya kesal.
Ia pun membantu pacar nya untuk bangkit dan mengobati lu-ka wanita itu.
"Sayang, dia siapa sih? Aku takut. Dia seperti monster yang mau memakan ku. Apa kamu tidak bisa mengusir nya pergi dari sini?"
"Tidak bisa sayang. Dia sekretaris gendut pilihan nenek. Jika aku tidak mau mendengar kan perintah nenek, maka aku akan jadi miskin. Apa kamu mau, pacaran sama laki-laki miskin?"
"Tidak. Aku tidak mau. Kalau kamu miskin, mending kita putus aja."
"Iya. Aku tahu. Tenang lah dulu. Nanti kalau aku sudah memiliki cara, maka aku akan segera mengusir nya."
"Kamu tidak bohong, kan."
"Tidak dong sayang. Ayo kita ke dapur. Aku membeli kue kesukaan mu."
Pandu dan pacar nya pun ke dapur untuk melihat kue yang di beli Pandu tadi. Namun, saat mereka di sana, kue itu telah di habiskan oleh Jasmin.
"Aaaaaghhhh,, kenyang sekali. Kue ini ternyata sangat enak." Ucap Jasmin tanpa rasa bersalah.
Pandu langsung membeku. Ia ingin marah dan mengha-jar Jasmin. Akan tetapi, ia tak berani. Jasmin begitu kuat.
"Jasmin, kenapa kau makan kue kami?" Tanya Pandu dengan wajah kesal nya.
"Bukan nya kue ini untuk ku? Aku sudah lelah bekerja mengajarkan mu hari ini. Aku pikir, kamu memang membelikan nya untuk ku."
"Sayaaaang! Apa benar kamu membelikan kue itu untuk si gendut ini? Aku marah! Aku kesal, Pandu."
"Sayang. Tenang lah.Jangan marah-marah seperti ini. Kue dan bunga ini untuk mu. Tapi si gendut itu malah mengambil nya. Sayang, lihat lah tubuh gendut nya itu. Pasti makan nya banyak. Kamu jangan marah. Kita makan di restauran kesukaan kamu saja, bagaimana?"
"Baiklah kalau begitu."
Pacar nya Pandu pun tidak lagi marah karena mereka akan pergi ke restauran favorit pacar nya. Sebuah restauran mahal yang sangat di sukai oleh wanita matre itu.
Saat mereka akan pergi, Jasmin pun mengikuti mereka. Pandu benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.
"Jasmin. Mau kemana kau?"
"Aku akan pergi kemana pun kamu pergi, Pandu. Begitu lah pesan yang disampaikan oleh Nyonya Rima. Bagaimana, apa aku boleh ikut?"
"Jasmiiiiiiiiin."