sementara itu Winda tengah di Landa kecemasan,
"Aduh bagaimana ini,ternyata lelaki semalam itu bos besar." Gumam Winda panik ia berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya.
"Winda kamu kenapa sih kayak setlikaan,mondar-mandir gak jelas." Tegur Nindi yang melihat Winda berjalan mondar-mandir.
"Emm...kamu ingat gak,lelaki yang aku ceritain tadi pagi?" Tanya Winda.
Memang tadi saat berangkat bekerja,ia berangkat bersama dengan Nindi.
Nindi adalah sahabat sejak kecil Winda,jadi Winda tak segan untuk menceritakan apa yang sedang menimpa dirinya,begitu juga dengan nindi. Mereka sering berbagi masalah dan mencari solusi bersama.
"Ingat memangnya kenapa?" Tanya nindi mengrenyitkan keningnya.
"Ternyata lelaki yang semalam itu bos besar,alias pak Adimas yang punya perusahaan ini." Ucap Winda dengan wajah panik.
Nindi yang mendengar itu langsung terkejut mulutnya terbuka lebar,segera ia menutup mulutnya dengan tanganya. Saking terkejutnya.
"Serius kamu?" Tanya nindi tak percaya.
"Iya Nind,mana aku panggil dia m***m lagi." Winda menjadi tambah panik saat mengingat dirinya mengatai pria itu m***m bahkan Winda menggigit pundaknya.
"Tenang,win...lagian kamu gak salah,kalian kan gak saling kenal dan tiba-tiba saja pak bos meluk kamu itu kan namanya pelecehan." Ucap Nindi menenangkan sahabatnya itu.
"Benar juga ya,harusnya dia yang minta maaf ya?" Ucap Winda membenarkan ucapan nindi.
"Sedang apa kalian kenapa tidak kerja malah asik bergosip." Ucap Bu Siska kepala OB.
"Maaf Bu..." Jawab mereka serempak.
"Ya sudah,sana kembali bekerja jangan malas-malasan."
Gegas mereka berdua melanjutkan pekerjaan mereka. Setelah menegur mereka sisa melanjutkan pekerjaannya.
"Huh... akhirnya selesai juga." Ucap Winda setelah menyelesaikan tugasnya.
"Gimana Winda udah?" Tanya nindi.
"Iya udah..."
"Ya sudah ayo pulang." Ajak nindi.
Winda mengangguk dan bersiap untuk pulang bersama nindi.mereka berjalan bersama sembari sesekali melontarkan candaan.
Tingkah mereka tak lepas dari pengamatan Dimas. Dimas terus menatap Winda yang sesekali tertawa mendengar candaan dari nindi.
Sungguh Dimas merindukan tawa ini,lesung pipi yang terlihat saat Winda tertawa bahkan tingkah polah Winda sangat mirip dengan Nadia. Dimas berjalan mendekat ke arah dua gadis yang sedang asik bercengkrama itu.
"Aduh..." Pekik Winda saat tak sengaja menabrak tubuh Dimas yang berdiri tepat di depan Winda.
"Eh...maaf pak,kami tidak melihat bapak disini." Ucap nindi meminta maaf,Winda yang menyadari kecerobohannya juga langsung meminta maaf kepada Dimas.
"Bagaimana kakimu?" Tanya Dimas tanpa menjawab ucapan mereka.
"Mm...kaki saya baik-baik saja pak." Jawab Winda menunduk.
"Sepertinya kamu masih kesusahan berjalan,lebih baik kita kerumah sakit." Ucap Dimas.
Nindi dan Winda sontak mendongak menatap Dimas tak percaya. Nindi langsung menyenggol Winda yang masih terbengong.
"Eh...iya pak,tidak perlu kaki saya sudah..." Ucapan Winda menggantung karena Dimas langsung menggendong tubuh kurus Winda menuju mobilnya.
"Pak...lepas saya bisa jalan sendiri dan saya tidak perlu ke rumah sakit saya sudah sembuh." Ucap Winda memberontak,ini tidak baik baginya jika semua orang melihatnya di gendong oleh big bos yang terkenal dingin,maka akan banyak gosip miring tentangnya. Sementara nindi juga masih terbengong dengan apa yang di lakukan oleh bosnya.
"Lah...terus nasib aku gimana ini?"gumam nindi yang masih terbengong menatap kepergian mereka. Tapi tak lama kemudian Raka datang menghampiri nindi.
"Ini,kunci motor milik Winda,kamu pulang bawa motor winda." Ucap Raka menyerahkan kunci motor,nindi menerima kunci motor itu dan segera pulang. Entah bagaimana nasib sahabatnya itu,ia akan bertanya nanti saat ia mengembalikan motor winda.
"Pak...ih,saya sudah tidak apa-apa..." Ucap Windi saat Winda sudah di dudukan di kursi mobil Dimas dan mencoba turun dari mobil tetapi ia tidak bisa bergerak karena tubuhnya di kunci dengan tubuh besar Dimas.
"Saya tidak menerima penolakan." Ucap Dimas menatap lekat mata Winda tanganya bergerak memasang sabuk pengaman untuk Winda.
Sungguh jantung Winda rasanya mau copot,karena jarak mereka begitu dekat bahkan Winda bisa merasakan nafas hangat yang menerpa di wajahnya.
"Bernafaslah nanti kamu pingsang." Ucap Dimas tersenyum melihat tingkah Winda.
Mendengar kalimat itu sontak membuat Winda malu dan salah tingkah,pasalnya Winda sangat gugup karena Dimas begitu dekat denganya dan bahkan tanpa sadar ia menahan nafasnya.
"Dasar lelaki aneh..." Grutu Winda menatap Dimas yang mulai berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi.
Selama perjalan hanya hening menemani mereka,sesekali Winda melirik ke arah Dimas yang masih fokus kedepan.
Lama tak ada pembicaraan dan hawa dingin yang keluar dari AC,membuat Winda merasa mengantuk. Apa lagi suasana mendukung untuk dirinya tertidur.
Dimas yang merasa tak ada pergerakan ia menoleh ke arah Winda yang tertidur langsung tersenyum.
"Cepat sekali tidurnya." Gumamnya.
???
Winda merasa sangat nyaman dengan selimut tebal yang membungkus dirinya. Hawa dingin membuatnya semakin mengeratkan selimutnya untuk lebih menghangatkan tubuhnya.
"Tunggu,selimut?" Winda langsung terbangun saat mengingat dirinya tadi sedang naik mobil,ia melihat sekeliling.
"Aku dimana?" Gumam Winda saat melihat tempat yang begitu asing baginya. Ia melihat jam di atas nakas matanya seketika membola waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Astaghfirullah...ibu bisa kawatir dan marah jika aku belum pulang." Winda yang panik langsung turun dari ranjang dan lupa jika kakinya masih terasa sakit.
"Awh..." Pekik Winda saat merasakan nyeri di kakinya.
Dimas yang mendengar pekikan Winda langsung berlari menuju kamar dimana Winda berada.
"Apa yang terjadi?" Tanya Dimas panik,ia melihat Winda yang terduduk sambil memegangi kakinya dan meringis.
"Kau tidak apa-apa,seharusnya kau lebih berhati-hati,kata dokter kau masih belum boleh banyak bergerak." Ucap Dimas lalu membawa tubuh mungil itu ke ranjang.
"Pak,saya harus pulang ibu saya pasti kawatir karena saya belum pulang." Ucap Winda.
"Kamu tenang saja,tadi saya sudah menelpon ibumu kalau kamu sedang bersama saya." Ucap Dimas.
Kedua alis Winda saling bertaut,bingung bagaimana ibunya mengijinkan Winda bersama dengan seorang pria.
"Tak perlu curiga begitu,saya hanya bilang kalau kamu masih perlu perawatan pada kaki kamu makanya ibumu mengijinkan." Ucap Dimas.
"Tapi,saya baik-baik saja dan sepetinya saya harus pulang." Winda tetap kekeh.
"Tidak,kamu harus banyak istriharat dan untuk besok kamu tidak perlu bekerja terlebih dahulu sampai kakimu pulih."
"Tapi kalau saya tidak masuk kerja nanti gaji saya akan di potong,saya tidak mau itu terjadi."
"Kata siapa gaji di potong hanya karena tidak masuk bekerja,apa lagi alasanya karena sakit. Perusahaan saya tidak memiliki perturan sepeti itu."ucap Dimas heran,pasnya perusahaanya tidak membuat peraturan seperti itu.
"Saya pernah ijin tidak masuk kerja karena ibu saya sakit,dan gaji saya di potong satu hari." Adu Winda.
"Hah...baiklah sepertinya saya harus menyelidiki hal ini,sebaiknya kamu istrhat dan tak perlu mengkhawatirkan apapun." Ucap Dimas.
"Tapi kenapa bapak tiba-tiba baik kepada saya?"
"Karena saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi kemaren malam." Ucap Dimas.
Hening...Winda tak membalas ucapan Dimas,ia kira Dimas akan melupakan kejadian tak sengaja kemarin,tetapi perkiraannya salah.ternyata Dimas malah bertanggung jawab sampai seperti ini.
Kruuuukkkk...
Bunyi perut Winda memecah keheningan,Dimas menatap Winda yang malu karena perutnya berbunyi dengan sangat keras.
Dimas tersenyum melihat Winda yang terus mengutuk perutnya yang berbunyi dengan sangat nyaring.
"Kamu lapar?" Tanya Dimas.
Winda mengangguk malu.tak berani menatap wajah Dimas.
"Ingin makan apa?" Tanya Dimas lembut tanganya terulur mengelus lembut kepala Winda.
Winda sontak mendongak menatap Dimas yang tengah menatapnya sambil tersenyum manis. Ia tertegun dengan perlakuan Dimas.
"Emm...saya terserah bapak saja." Ucapnya gugup
"Baiklah tunggu sebentar." Ucap Dimas lalu berjalan keluar untuk memesan makanan.
"Duh...dasar pria aneh,bikin spot jantung saja." Gumam Windi sambil memegang dadanya yang berdebar sangat kencang karena perlakuan Dimas barusan.