ingin memiliki.

1282 Words
"Winda kamu dari mana saja?ibu kawatir tahu gak?" Ucap Yanti ibu Winda. "Maaf Bu,tadi Winda lembur karena menggantikan teman Winda yang harus pulang cepat karena ibunya sakit." Winda menjelaskan kepada sang ibu. Winda lalu berjalan masuk dengan kaki terpincang-pincang. "Kamu kenapa kok jalan kamu begitu?" Tanya ibu kawatir "Tadi Winda jatuh bu,ada mobil yang gak sengaja nyrempet Winda makanya Winda jatuh tapi Winda gak apa-apa kok." Ucapnya. Ibu Winda langsung membantu Winda untuk berjalan memasuki rumahnya. Dengan cepat sang ibu mengambilkan kotak obat untuk mengobati luka Winda dan memijit kaku Winda yang terkilir. ??? Pagi hari Adimas berjalan memasuki kantornya dan menuju keruangannya "Pagi pak..." Sapa Raka asisten Adimas. Adimas hanya mengangguk dan segera memasuki ruanganya di ikuti oleh Raka. "Bagaimana apa kau sudah tahu siapa dia?" Tanya Dimas saat sudah mendudukan dirinya di kursi keesaranya. "Sudah tuan..."jawab Raka sambil menyodorkan sebuah berkas kepada bosnya. "Namanya adalah Winda Pratiwi,usianya baru dua puluh tahun tuan dan dia bekerja di perusahaan kita sebagai ofice girl." Jelas Raka "Baiklah kamu boleh pergi,aku akan membacanya lengkapnya." Ucap Dimas sambil terus membaca tentang identitas Winda. "Padahal kamu tidak ada ikatan saudara dengan Nadia tetapi kenapa wajah kalian begitu mirip?" Gumam Dimas setelah membaca identitas Winda. Winda dan Nadia memang sangat mirip sepeti pinang di belas dua. Dan bahkan tanggal lahir mereka pun sama cuman beda berapa hari. "Tunggu tapi dia bekerja disini,sudah tiga bulan tetapi disini tetapi aku sama sekali tidak pernah melihatnya." Gumamnya lagi. "Raka cepat kesini." Perintah Dimas kepada Raka melalui telpon kantornya. "Ish...dasar tadi katanya suruh pergi,sekarang suruh balik lagi. Dasar bos gak ada akhlak." Gerutu Raka saat Dimas mematikan telponya secara sepihak. "Ada apa tuan?" Tanya Raka saat sudah menemui Dimas. "Suruh Winda buatkan kopi untuk ku." Perintah Dimas. "Baik tuan..." Raka mengangguk dan hendak keluar mengerjakan perintah tuanya. "Tunggu..." Ucapan Diman menghentikan langkah Raka. "Pastikan Winda yang mengantarkan kesini."ucap Dimas, Raka mengangguk dan segera meninggalkan ruangan bosnya dan menyuruh Winda untuk membuatkan kopi. "Loh...pak Raka?bapak perlu sesuatu?" Tanya nindi kepada Raka. Ia heran tak biasanya Raka datang ke tempat para OB berada. Raka tak menjawab ia terus berjalan menuju ruangan untuk para OB,sampai langkahnya terhenti. "Kamu Winda kan?" Tanya Raka pada Winda yang berpapasan dengan Raka. "I-iya pak saya...kenapa?" Tanya Winda gugup,ini pertama kalinya ia melihat Raka sebelumnya ia tak pernah melihat Raka hanya bertemu itupun dari jarak jauh. Kata temanya ini Raka itu galak dan dinginya kebangetan. "Kamu buatkan kopi,untuk tuan Adimas dan kamu juga yang harus mengantarnya." Ucap Raka dingin. "Ta-tapi pak saya di suruh oleh pak Angga untuk membeli bubur ayam,jadi..." "Kamu mau membantah?Nindi..." Belum sempat menyelesaikan omongannya Raka sudah memotongnya. "I-iya pak..." Jawab nindi "Kamu gantikan Winda membeli bubur ayam,biar Winda bikin kopi untuk tuan Adimas." Perintah Raka dingin dan datar lalu segera pergi dari ruangan itu. Sementara Winda dan nindi terbengong melihat tingkah Raka. "Kamu buat salah apa sih Winda?kok kayaknya bos marah besar?" Tanya nindi pada Winda. "Aku gak tahu Nind,padahal aku baru ketemu sama pak Raka hari ini,dan pak Dimas aku sama sekali tak tahu sepeti apa wajahnya." Ucap Winda sambil menyodorkan uang kepada Nindi. "Ya sudah cepat,sebelum bos besar marah karena lama menunggu." Ucap nindi mengambil uang dan segera pergi membeli pesanan Angga. Winda mengangguk dan segera membuat kopi untuk bos besarnya. Tak perlu waktu lama Winda membuat kopi setelah selesai Winda langsung membawa kopi ke ruangan Adimas. Tok...tok... Winda mengetuk pintu ruangan, "Masuk..." Terdengar suara dari dalam untuk mempersilahkan Winda masuk. Winda membuka pintu dan berjalan perlahan sambil menunduk ia tak berani melihat ke arah bos besarnya itu karena takut membuat kesalahan. Dimas masih setia menatap Wajah Winda tanpa mengedipkan matanya. Sungguh wajah itu sangat mirip dengan kekasihnya yang sudah hilang hampir setahun karena kecelakaan pesawat. Dimaa masih menatap lekat wajah Winda tanpa mau mengalihkan tatapannya,Winda yang merasa di tatap memberanikan diri untuk mendongak. Untuk beberapa detik tatapan mata mereka bertemu,dan mata Winda membulat saat mengingat pria yang semalam hampir menabraknya dan memeluknya erat. Seketika Winda memutus tatapanya dan kembali menunduk,ia berusaha mengendalikan dirinya agar tak bergetar takut. Ia takut kalau Dimas mengingatkanya dan sudah mengatai Dimas pria m***m. "Ini kopinya pak,saya permisi." Pamit Winda. "Tunggu...apa kau tidak ingat saya?" Tanya Dimas. "Maafkan saya pak atas ucapan saya semalam sungguh say...." "Bagaiman kakimu?" Tanya Dimas memotong ucapan Winda. Winda mendongak dan menatap heran ke arah bos besarnya itu. Ia kira dia akan marah kepadanya karena sudah mengatainya m***m. "Bagaimana apa masih sakit?' tanya Dimas lagi saat tak mendengar jawaban dari Winda. Winda terlonjak kaget saat menyadari Dimas sudah ada di depannya dan sedikit menundukkan tubuhnya menatap wajahnya. Karena sangking dekatnya Winda bisa merasakan hangat nafas dimas menerpa wajahnya. Sontak Winda mundur beberapa langkah,tapi dia lupa jika kakinya masih sedikit sakit dan membuatnya oleng membuatnya hampir terjatuh jika Dimas tidak menahan pinggangnya. Sekilas mereka seperti berpelukan jika ada orang yang melihat posisi mereka saat ini. "Pak...bisa lepaskan saya." Ronta Winda karena cekalan tangan Dimas begitu erat dan membuat Winda risih. "Ah...maaf." ucap Dimas melepas cekalanya. "Apa masih sakit?"tanya Dimas kawatir. "Kaki saya sudah tidak sakit pak,saya permisi." Winda berpamitan Winda ingin segera keluar dari ruangan ini,dia sedikit risih dengan sikap Dimas. Dimas membiarkan Winda pergi,dia tidak ingin Winda menganggapnya aneh dan takut terhadapnya. "Kalian benar-benar mirip,aku harap itu adalah kamu sayang." Gumam Dimas. Sungguh ia ingin sekali memeluk Winda karena dia melihat sosok Nadia di dalam diri Winda. Hingga ia berpikir untuk memiliki Winda sebagai pengganti Nadia,Ya,dia harus mendapatkan Winda. Adimas terus menatap ke arah Winda yang sudah menghilang setelah pintu ruanganya tertutup. "aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi Nadia." gumam Dimas. Dimas benar-benar mengira kalau Winda adalah Nadia kekasihnya. dia ingat betul saat Nadia pergi karena marah kepadanya karena ia tak mengijinkan Nadia pergi berlibur ke luar negeri untuk berlibur bersama teman-temannya. "mas,aku ingin berlibur bersama mereka boleh ya mas?" Nadia berucap dengan manja. bukan ia tak ingin mendengar larangan Dimas untuk tidak ikut berlibur,karena mereka sebentar lagi akan menikah Dimas kawatir kalau terjadi sesuatu padanya sebelum hari H tiba. "bukan mas gak boleh sayang,tapi kamu tahu sendiri kan kalau pernikahan kita tinggal dua Minggu lagi?jadi mending kita pergi saat bulan madu nanti." ucap Dimas berusaha membujuk sang kekasih. "itu beda lagi mas,bulan madu ya bulan madu. ini kan acara perpisahan,lagi pula setelah menikah nanti pasti bakal jarang banget kita ngumpul-ngumpul." ucapnya cemberut. memang Nadia ini baru berusia sembilan belas tahun dan baru saja lulus SMA,Dimas memilih segera menikahinya karena ia takut kalau Nadia akan di ambil orang. memang umur mereka terpaut begitu jauh,tetapi tak membuatnya mengurangi rasa cintanya kepada gadis itu. Nadia yang memang juga mencintai Dimas begitu senang ketika Dimas memintanya untuk menikah denganya,karena dirinya juga sangat mencintai pria itu,karena ia sangat yakin jika Dimas akan bisa membahagiakan ya dan membimbingnya. dan semua teman-temanya mengadakan perpisahan dengan jalan-jalan keluar negeri, tetapi calon suaminya itu tidak memperbolehkannya. "sayang sudah dong jangan marah,ini semua juga demi kebaikan kita,kamu tahu kan kalau gak baik jika bepergian menjelang hari pernikahan?" ucap Dimas memeluk Winda berusaha memberikanya pengertian. "lepas ih...ya sudah kalau gak boleh." ucap Nadia kecewa dan segera meninggalkan Dimas sendirian di ruang tamu. Dimas hanya menggeleng,dia sangat tahu bagaiman kekasihnya itu sedang ngambek. Dimas hanya menghela nafasnya secara kasar dan pergi meninggalkan kediaman kekasihnya. esoknya dia tak menyangka jika Nadia nekat pergi berlibur meskipun dirinya dan keluarganya telah melarangnya. Dimas begitu kawatir akan terjadi sesuatu pada kekasihnya itu. benar saja setelah pesawat yang di tumpangi Nadia mengalami kecelakaan dan di kabarkan semua penumpang tidak ada yang selamat. Dimas begitu terpukul dengan kabar itu,tapi ia menganggap kalau Nadia masih hidup,dan selama belum menemukan mayatnya maka dia akan terus mencari dan berharap Nadia akan kembali. dan benar saja dia menganggap Winda adalah Nadia,dan dia ingin memiliki Winda untuk di jadikan miliknya dan takkan pernah melepasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD