Dia bisa tahu walaupun jarak mereka sejauh ini? Mustahil! batin Adeline yang terkejut.
Ian memang mendengar obrolan mereka. Sambil mendengar cerita Lukman tentang temannya yang seorang panglima di angkatan udara, telinga lain dan matanya fokus menangkap pendengaran dan gerakan mulut Nadin dan Adeline.
Siapa yang menduga ibunya akan mengatakan sesuatu yang buruk tentang anaknya? Bukankah dia yang menginginkan perjodohan ini?
Jujur saja, Ian masa bodoh tentang itu. Daripada memikirkan omongan ibunya, dia bingung dengan Adeline. Karena ini kali pertama pertemuan mereka, Ian masih belum bisa menebak siapa sebenarnya Adeline. Wanita lanjut usia itu tengah tersenyum padanya tampak santai. Namun, ia bisa melihat kepanikan dan ketegangannya yang samar.
Adeline menjadi gugup dan membuang wajahnya, kembali mengajak Nadin mengobrol saat dia sedikit menyipitkan matanya menatap wanita itu. Wajahnya sangat tenang tanpa membalas senyuman wanita itu sejak tadi. Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang.
Pintu terbuka saat itu dan Lucia yang telah menghilang beberapa saat sebelumnya kembali. Pertama-tama, dia melihat keadaan Adeline yang tidak seperti biasanya. Wanita itu tampak gelisah dan marah yang ditutup-tutupi.
Di saat Adeline melihat Lucia, dia berkata, “Lucia, bukankah kamu bilang ingin mengenal lebih jauh dengan calon suamimu?”
“....” Kapan dia mengatakan itu?
Lucia kemudian melirik Ian yang sedang berbicara dengan Lukman tanpa bisa dia dengar. Kemudian ayahnya mengangguk sebelum Ian berjalan mendekatinya.
“Adeline, aku akan membawa Lucia ke luar sebentar.”
Tersenyum merekah, Adeline mengangguk. Setidaknya kali ini dia sudah mengerti cara memanggilnya dengan benar. “Pergunakan waktu kalian. Jangan pedulikan kami di sini.”
Pandangan Ian bergeser pada Lucia. Dan Lucia membalas tatapan itu.
***
Lucia menatap pria besar yang sudah berjalan jauh di depannya. Dia berdecak pelan karena langkah Ian sulit dia imbangi. Padahal dia yang mengajak Lucia untuk ke taman dengan kolam ikan di sisi kanan restoran, tapi pria itu malah tidak peduli dengannya.
Menghela napas mencoba bersabar, Lucia berjalan lebih cepat. Dia harus bisa mengejarnya supaya perjodohan ini berhasil.
Mungkin Ian baru merasakan kalau Lucia tidak berada di sebelahnya. Dia berhenti melangkah lalu membalikkan tubuh untuk melihatnya yang sedang berjalan cepat.
Walaupun kesal, Lucia mencoba tetap tersenyum manis saat sudah berada di depannya. “Apa kamu bisa melangkah lebih lambat?”
Ian bisa melihat kekesalan itu di balik senyuman indah tersebut. Dan dia merasa sedikit bersalah. “... Maaf.”
Lucia tidak menanggapi selain tersenyum dan mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan kali ini Ian melatih kesabarannya untuk berjalan lebih lambat dari yang biasanya dia lakukan.
“Aku harap kamu dan orang tuamu tidak keberatan dengan restoran ini,” Ian membuka pembicaraan mereka dan Lucia menggeleng pelan.
“Apa yang salah dengan itu? Makanan di sini tidak buruk. Kita juga bisa menikmati pemandangan ini.”
Melihat jejak kejujuran di mata wanita itu membuat Ian mengangguk singkat. “Senang mendengarnya.”
Mendongak dan menatap dari samping pria itu, Lucia bertanya-tanya, kapan pria ini akan mengeluarkan sifat tiraninya. Apakah setelah mereka menikah?
Karena terlalu fokus menatap Ian, pria itu membalas tatapannya hingga dia tersentak kaget. Lucia dengan cepat tersenyum indah lagi.
“Omong-omong, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?”
“Ian saja boleh.”
Berhenti melangkah, Lucia menggeleng sambil tersenyum. “Bagaimana jika dengan Kak? Hmm ... itu terdengar tidak nyaman. Kalau Mas?”
Ian menoleh cepat menatap Lucia yang memiringkan tubuh ke arahnya dengan kedua tangan terjalin di belakang. Postur sederhana itu entah kenapa sangat menyenangkan matanya. Seperti gerakan lambat, Ian melihat kedua mata Lucia yang berkedip perlahan. Indra penglihatannya yang tajam menangkap sepasang bulu mata lebat dan lentik lalu manik mata bercahaya wanita itu.
“Mas?”
Ian mengerjap cepat dan mengalihkan wajahnya ke depan lagi. “Hm.”
Diam-diam, Lucia tersenyum. “Apa besok Mas Ian punya waktu luang? Aku ingin mengunjungi Mas dan Tante Nadin.”
“Ya. Kamu bisa datang.”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang tertunda dengan Lucia yang memandang kolam ikan. Namun, baru saja beberapa langkah seorang anak kecil berlari kencang ke arah Lucia, tidak melihat ke depan. Ian yang menyadari itu pun melambat dan berjalan di belakangnya.
Tanpa tahu apa yang ada di depannya, anak itu tidak sengaja menabrakkan dirinya ke kaki Ian yang keras. Bukannya goyah, Ian masih berdiri dengan mantap. Sedangkan anak laki-laki itu terjatuh ke belakang setelah memantul kemudian menangis kencang.
Terkejut dengan suara tangisan, secara refleks Lucia menoleh ke belakang dan berjongkok di sebelah anak kecil tersebut. Dengan tenang seraya tersenyum, Lucia membantu anak itu berdiri dan mengibas bagian belakang celananya yang kotor. “Nah, tidak apa-apa. Anak laki-laki tidak boleh menangis terlalu lama.”
Dia kemudian mengusap pipi anak itu yang berlinangan air mata dengan tangan lain dan menambahkan ucapannya, “Tidak apa-apa. Lain kali kamu harus hati-hati, ya.”
Anak itu mengangguk.
Perbuatan Lucia tidak lepas dari pandangan Ian. Ian bahkan tidak repot-repot menatap anak kecil yang menabraknya tadi.
“Aduh, maaf. Ini anak saya. Dia berlari tidak melihat ke depan.” Seorang wanita mendekat selepas berlari. Dia memegang anaknya dan berulang kali meminta maaf pada mereka berdua.
“Tolong jangan marahi dia. Dia masih kecil. Cukup peringatkan secara baik-baik.”
Wanita itu mengangguk. “Tentu.”
Setelah membungkuk sekali lagi, wanita itu dan anaknya pergi. Lucia menatap punggung kedua orang itu dalam diam. Sedangkan Ian menatapnya tanpa ia sadari..
Saat Lucia ingin berbalik, lantai yang dia pijaki ternyata licin. Dia terkesiap. Dia pikir, dia akan terpeleset dan jatuh. Akan tetapi, Ian yang sigap secara refleks menahan pergelangan tangan dan pinggang rampingnya. Memeluknya agar tidak jatuh ke kolam di sebelahnya.
“Kamu baik-baik saja?” ada jejak nada khawatir dan kepanikan dalam suara Ian walau samar membuat Lucia mendongak.
Dan kedua manik mata mereka bertubrukan untuk beberapa saat berikutnya.
Jarak mereka sangat dekat. Lucia bisa merasakan napas hangat Ian. Dan dengan jarak sedekat ini, dia bisa melihat mata Ian sangat jelas. Dan dia menyukainya. Mata pria ini adalah mata tergelap yang pernah ia lihat. Mereka sangat tajam seperti binatang buas membuat seseorang bisa bergidik hanya dengan tatapannya. Belum lagi pegangannya pada Lucia sangat kuat seolah memberi tahu dia bahwa kekuatannya bukanlah omong kosong.
Ini benar-benar bertolak belakang. Penampilan dan sikapnya berbeda.
Kembali, keraguan muncul di benaknya.
Apa dia bisa hidup bersama pria semacam ini?
Lucia mulai merasakan rasa sakit pada pergelangan tangannya.
Di saat melihat kerutan di antara alis Lucia yang rapi, Ian dengan cepat melepaskan wanita itu setelah dirasa dia sudah bisa berdiri dengan baik.
“Terima kasih untuk yang tadi.”
Ian sedikit menurunkan pandanganya ke tangan Lucia. Kemudian mengalihkan wajahnya. “Ayo”
Masih di tempatnya berdiri, senyuman Lucia memudar. Ekspresi tenangnya kembali dengan kerutan tipis.
Benarkah pria ini sesuai rumornya?
Lagi, ini sangat bertolak belakang.
***
Kembali ke ruang pribadi mereka tadi, Lucia memperhatikan Lukman yang menyapa Ian dengan hangat membuat dahinya berkerut tipis.
Jika Lucia masih ingat dengan jelas, kemarin ayahnya tampak khawatir mengenai Ian dan rumornya. Akan tetapi, sekarang dia tampak bersahaja dan bersemangat ketika mengobrol dengan pria ini. Kenapa?
Hal pertama yang Adeline amati ketika mereka kembali adalah sosok Lucia. Dia melirik pinggiran gaun panjangnya yang sedikit kotor. Kemudian tatapannya naik ke atas dan berhenti pada pergelangan tangan wanita itu. Melihat bekas merah di sana membuat matanya berkilat.
Dia tahu itu. Sosok seperti Ian memang sesuai dengan rumornya!
Dia kemudian berdeham untuk menarik perhatian semua orang di sana, termasuk Lucia. Dengan wajah terlewat bahagia, dia memulai pidatonya, “Sudah semakin malam dan saya rasa sudah waktunya kita membahas kelanjutan perjodohan ini, benar?”
Baik Lukman maupun Nadin setuju.
Adeline kemudian menatap Ian. “Bagaimana, Ian? Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?”
Ian melirik ibunya yang tersenyum penuh harap sebelum menatap wanita di belakang Adeline. Dan wanita itu tersenyum malu.
“Lucia kami tentu saja menerima perjodohan ini," Adeline menambahkan setelah mengetahui siapa yang pria itu lihat.
Ian tidak menjawab cepat. Dia memberi durasi keheningan sejenak sebelum membuka suara, “... Saya akan meminta cuti untuk acara pernikahan nanti.”
“Oh syukurlah!” Adeline berteriak lega sambil mendekati suaminya dan memeluknya erat. Dan Lukman tersenyum membalas pelukannya.
Nadin tersenyum lebar. Siapa pun pasti tahu jika dia sangat bahagia seperti yang lain.
Lucia mengangkat matanya, mata mereka kembali beradu dalam diam. Meta hewan buas itu tampak tajam namun lembut bersamaan. Hingga dia ingin berlama-lama saling tatap seperti ini.
Seperti keinginannya sebelumnya, dia ingin perjodohan ini berhasil. Bagaimanapun tiraninya Ian, mereka harus menikah.