Mendengar ibuku sudah tiada, aku hanya diam membatu, pikiranku seakan berhenti berpikir mulutku bagai dikunci, aku tidak tahu harus berbuat apa dan berkata. Aku hanya bisa terdiam, dengan sendirinya buliran air dari sudut mataku menetes dengan deras, air mataku belum kering untuk Eyang Tetapi kini aku kehilangan Ibuku lagi. “Mbak tidak apa-apa?”tanya Mba Nur dengan tatapan menyelidiki. “Kapan ibu meninggal. Mbak Nur?” tanyaku membuka kaca mata hitam yang aku kenakan. “Eh … siapa?” ujarnya mendekat dan melihat wajahku dari jarak dekat “Ririn …? Oh iya ampun Teh, kamu dari mana saja?” Aku memeluk Mbak Nur, meluapkan rasa sesak di dalam dadaku. “Mbak. Ibu kap-” “Sini, ikut ibu ke dalam rumah,” ujarnya menatap kanan-kiri. Ikut masuk ke dalam rumah kontrakannya. Ia menceritakan semuanya

