2 - Majikan Berhati Emas

1507 Words
Stuart merasa tubuhnya membeku, saat Countess Elena membuka pintu kereta kuda. Dia terbangun dari tidurnya ketika kereta kuda tiba-tiba berhenti, dan seketika menyadari bahwa dia telah terlelap selama perjalanan. Sial baginya adalah, majikannya sendiri yang mengendarai kereta kuda kembali ke Kastil. “Keluar kau, Stuart!” seru Countess Elena, memasang wajah marah dan kesal. “Kau yang harus memberi penjelasan pada suamiku, apa yang telah terjadi sehingga aku harus pulang saat hari sudah gelap.” Stuart beringsut mendekat ke pintu kereta. Sekujur tubuhnya terasa gemetar dan dingin. Dia melirik ke ujung anak tangga menuju kastil. Dan wajah sangar Baron Arnold sudah menantinya di ujung anak tangga menuju istana. Lelaki separuh abad berbadan kekar yang menjadi tangan kanan Count Anthony itu tidak akan memberinya ampun. Stuart menarik napas panjang, berusaha menahan gemuruh di dadanya. Elena menyeringai melihat tangan gemetar Stuart memegang daun pintu kereta. “Kau tahu apa yang akan kau katakan pada Count?” gertak Elena sembari menarik baju bagian belakang Stuart. Stuart membungkuk, dengan mata melirik ketakutan. Dia bahkan sudah lupa apa yang dilihatnya di tepi hutan. Seingatnya, dia hanya mengantar majikannya untuk urusan bisnis dan dia sudah tak ingat lagi. Gertakan Elena membuat isi kepalanya seketika kosong melompong. “Aku … lupa, Yang Mulia Countess …” ucap Stuart tergagap. Elena menarik baju di punggungnya. Sembari menyeringai puas, dia menarik Stuart hingga berjalan beberapa langkah menjauhi kereta kuda. Diliriknya, Baron bergegas melangkah turun dari tangga kastil dengan wajah cemas. “Ak-aku … harus bilang apa pada Yang Mulia?” Stuart benar-benar tidak bisa mengingat apapun. Terlebih ketika Elena membentaknya tadi. Bahkan di tak ingat kenapa bisa terbangun di kereta majikannya. Elena menyeringai semakin lebar. Tiga tahun menikah dengan Count Anthony setelah istri pertama Count Anthony meninggal, membuatnya memahami kenapa suaminya masih saja mempekerjakan pelayan bodoh dan pelupa seperti Stuart. Dia bisa diperintah apa saja, sesuai dengan keinginan majikannya. Dan wajah polos tanpa dosanya ketika dia sudah lupa dengan apa yang baru saja dilihat dan dialaminya–benar-benar keuntungan besar buat Elena. Makanya, bila hendak berjalan-jalan atau bertemu dengan “rekan bisnis”-nya, hanya Stuart pelayan yang dimintanya pada Sang Suami untuk menjadi kusir kereta kuda. Cukup diberi makanan, semuanya akan tersimpan rapat di kepala Stuart yang bodoh. Dia tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membungkam siapapun. "Anda baik-baik saja, Countess Elena?" Baron Arnold tampak khawatir. Dan ketika melihat Stuart yang membungkuk ketakutan, menyandar diri di dinding kereta kuda, dia segera memahami bahwa pelayan pribadi Count Anthony adalah penyebab semua masalah sejak senja tadi. Elena meninggalkan Baron Arnold. "Aku mau kereta kuda yang baru. Hampir saja aku tidak bisa pulang, tadi rodanya lepas. Stuart menabrak batu, dan aku terpaksa mengendarainya sendiri, karena Stuart takut rodanya lepas lagi." Baron Arnold terkejut mendengar penjelasan majikannya, lalu membungkuk dalam pada majikannya–memberi hormat sekaligus meminta maaf. Atas kesalahan bodoh Stuart, pelayan di bawah pengaturannya. "Maafkan kami Yang Mulia Countess. Para pengawal sudah kami kerahkan untuk mencari Countess setelah matahari tenggelam. Count Anthony benar-benar khawatir." "Aku mau istirahat," ucap Elena tanpa merasa bersalah, lalu melenggang meninggalkan Stuart dan Baron Arnold yang keduanya masih membungkuk hormat padanya. "Count Anthony sudah menunggu anda. Beliau kecewa karena anda sudah melewatkan makan malam." Stuart merasa sekujur tubuhnya membeku. Meski baru menyadari bahwa perutnya terasa perih saat mendengar kata makan malam, namun rasa takutnya telah mengalahkan semuanya. Kedua tangannya tiba-tiba terasa dingin saat dia menyatukannya. Kali ini, dia pasti akan mendapat hukuman berat. "Stuart, kau akan mendapat hukuman!” ucap Baron Arnold sembari menegakkan punggungnya. Menatap Stuart yang beringsut menarik kuda untuk dimasukkan ke dalam istal. Di bawah tatapan Baron Arnold yang geleng-geleng kepala melihat pelayan paling setia di Kastil Count Anthony sekaligus paling bodoh. * Count Anthony menatap Stuart tak berkedip. Seolah berusaha memastikan, bahwa cerita panjang lebar istrinya tentang kenapa mereka bisa pulang ke kastil setelah melewatkan makan malam adalah benar. Count Anthony merasa percuma mendapatkan cerita lengkap dan akurat dari Stuart–meski Stuart adalah pelayan yang selalu mendampingi istrinya saat keluar dari kastil. Pelayan setianya ini tidak akan mengingat apapun. "Kau dari mana saja?" Suara berat dan dalam Count Anthony nyaris membuat Stuart tersedak. Dia yakin Countess Elena sekarang sedang berputar-putar di kamarnya, bahagia karena akan terbebas dari hukuman. Dan di sini, dia yang harus siap dihukum apa saja. Padahal menurutnya, seharusnya mereka dihukum berdua karena mereka berdua yang pulang malam. Bahkan kuda yang membawa kereta kuda itu juga harus dihukum. "Mencari buah plum." Jawaban yang sama dengan pekan kemarin. Karena hanya itu yang dikerjakannya di dalam hutan, saat majikannya bertemu dengan rekan bisnisnya. Ingatan yang perlahan muncul, namun kemudian hilang seperti asap. "Kau terlalu sering berkeliaran, Stuart. Apa kau lupa bila Kerajaan sedang mengawasi kita? Setiap saat mereka bisa datang, mencari alasan untuk menyalahkan aku. Membiarkan istriku di luar kastil saat gelap, akan membuat King Louise marah. Aku sudah berjanji padanya untuk menjaga baik-baik sepupu jauhnya itu, kau mengerti Stuart?" Stuart mengangguk. Dia duduk bersimpuh di hadapan kursi besar majikannya–siap menerima hukuman. “Maafkan saya Yang Mulia, saya terlalu lama mencari buah plum. Dan seperti kata Yang Mulia Countess, roda keretanya lepas.” “Dan kau tidak ingat kenapa rodanya bisa lepas?” tanya Count Anthony hati-hati. Dia tidak bisa mendesak pelayannya, karena hal itu justru akan membuat dia lupa lebih banyak lagi–termasuk menyiapkan air mandinya untuk besok pagi. Stuart tampak berpikir keras, hingga keringat mulai bermunculan di pelipisnya. Dia benar-benar kesulitan mengingat semuanya–kecuali apa yang dikatakan majikannya. Bahwa roda kereta lepas karena menabrak batu. Tapi, dia tidak merasa menabrak batu–dan hal itu membuatnya kebingungan. Count Anthony menarik napas panjang. Membuat Stuart merasa sedikit lega. Count Anthony sangat memahaminya–dan tidak akan menghukumnya. Meski istrinya berteriak-teriak untuk menyuruh menghukumnya, Count Anthony malah memberinya makanan. Benar saja, sebuah piring berisi roti besar disodorkan ke hadapannya. Membuat Stuart mendongak tak percaya. Majikannya sendiri yang menghulurkan roti itu padanya. “Makanlah, kau pasti lapar.” Stuart langsung menyambar roti itu dan memakan dengan lahap. Count Anthony mengamatinya sembari tersenyum-senyum. Teringat bagaimana Stuart kecil saat pertama kali diantar oleh bapaknya untuk melamar bekerja di Kastil. Bapaknya hanya seorang petani biasa, yang putus asa karena panennya gagal dan dia tidak mampu lagi membiayai hidup anak-anaknya. Selain Stuart, ada adiknya yang juga disuruh bekerja di kastil lain. Dan dia selalu melahap roti dengan lahap seolah sedang kelaparan–seperti dulu ketika pertama kali datang ke kastil ini. “Sudah berapa lama kau mengabdi padaku, Stuart?” tanya Count Anthony. Stuart terdiam sejenak. Dia sama sekali tidak ingat berapa tahun. “Sejak saya kecil?” Count Anthony terkekeh. “Kau masih sepuluh tahun waktu pertama kali bekerja. Dan kau sudah lima belas tahun bersamaku. Jadi sekarang kau sudah dua puluh lima tahun. Kau ingat pernah bertemu dengan King Louis kan?” Stuart menelan ludah. Rotinya sudah habis dan kerongkongannya terasa kesat karena haus. Tapi dia tak mungkin meminta air minum pada majikannya. Jadi dia hanya bisa memegang lehernya. Seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan King Louis. Dan dia yakin, sebagai pelayan tidak akan mungkin diijinkan bertemu dengan orang mulia seperti seorang Raja. Tiba-tiba Count Anthony berjongkok di sebelahnya, menghulurkan gelas berisi minuman berwarna merah. Stuart ingat, dia sering diberi majikannya minuman ini, dari bekas minumnya yang tak pernah habis di gelasnya. Rasanya manis dan hangat, membuat sekujur badan yang dingin serasa bertenaga kembali. “Minumlah, besok kita akan bertemu dengan seseorang. Orang penting dalam hidupku, dan kita harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Jadi kau harus beristirahat malam ini.” Stuart meraih gelas dari majikannya dan meneguknya perlahan. Rasa hangat dan nyaman menjalari badannya. Di Kastil ini, hanya dia satu-satunya pelayan yang mendapat makanan istimewa dari majikannya–meski hanya sisa-sisa. Count Anthony menepuk bahunya dua kali, lalu menarik kerah lehernya mendekat. “Hanya kau satu-satunya orang yang kupercaya di dunia ini, Stuart. Kau berhak meneruskan apa yang sudah aku bangun selama ini,” bisik Count Anthony. “Aku tahu, banyak hal yang luput dari pandangan mataku, dan kau adalah mataku selama ini. Jadi, tetaplah menjadi Stuart-ku.” Stuart meninggalkan ruangan majikannya setelah Count Anthony menyuruhnya. Dia tak mengerti apa yang dibisikkan oleh majikannya, karena kantuk dan lelah sudah menderanya. Dia ingin bergegas masuk ke dalam kamarnya dan terlelap. Tapi langkah kakinya ditahan oleh putra sulung Count Anthony yang berada di balik pintu ruangan ayahnya. Edward. “Hai Stuart, ke mana kau tadi membawa Countess?” tanya Edward sembari menarik baju Stuart, hingga keduanya merapat ke sudut pilar. Stuart menggeleng. “Ak-aku tidak ingat, Tuan.” Edward mencengkram kerah baju Stuart kesal. Lalu berbisik kasar di telinga pelayan pribadi ayahnya itu. “Dia bertemu pacar gelapnya kan? Katakan padaku!” Stuart mengusap telinganya yang gatal karena hembusan kasar napas Edward. “Aku tidak ingat, Tuan. Roda keretanya lepas. Dan …” Dengan kesal, Edward mendorong Stuart, hingga pelayan itu tersungkur di lantai. “Huh, dasar bodoh!” makinya kesal, lalu merapikan pakaiannya dan berlalu. Dia tidak akan mendapat informasi apapun dari Stuart–si pelayan bodoh dan pelupa. Pantas saja, ibu tirinya hanya mau Stuart yang menemainya keluar kastil. Rahasianya pasti aman di kepala bodoh Stuart.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD