3 - Pesan Untuk Stuart

1421 Words
“Kau yakin akan membawa Stuart?” tanya Elena pada suaminya yang sedang memakai baju kebesarannya. “Ini pertemuan penting bagi seorang Count untuk mendapatkan kepercayaan King Louise. Dia tidak akan bisa mengingat jalan pulang.” Count Anthony tidak menjawab. Menatap cermin dan melihat bayangan istrinya yang masih mengenakan baju tidur. Dia tidak akan bertanya darimana istrinya mendapat luka cakar halus di punggung. Juga aroma berbeda ketika wanita itu memunggunginya semalam. Segala detil di tubuh istrinya, dia mengingat dengan jelas–bahwa kemarin dia telah memanipulasi Stuart untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Semua penghuni kastil ini tahu, betapa bodoh dan pelupanya Stuart–apalagi kalau sudah mendapat gertakan dan ancaman. Dan hal itu yang ingin dimanfaatkannya di pertemuan penting kali ini, sebagaimana Elena selama ini memanfaatkan Stuart. “Hanya satu hari perjalanan, dan menempuh jalan yang lurus saja. Dia tidak akan lupa. Lagipula, aku tidak ingin Count lain mendengar pertemuan ini atau mereka akan mendahului untuk melobi perbatasan.” Elena mendekati suaminya, memeluknya dari belakang dengan manja. Namun Count Anthony mendorongnya mundur, memberi kode dia tidak ingin bajunya yang sudah rapi menjadi kusut kembali. Elena merajuk, tapi Anthony sama sekali tidak melihat ketulusan di wajah istri yang baru dinikahinya tiga tahun ini. Elena bukan lagi wanita yang sama dengan yang dinikahinya tiga tahun lalu, atas permintaan King Louise. “Apakah King Louise hadir juga?” tanya Elena sembari kembali ke tempat tidur dan memasang pose menantang. Anthony hanya meliriknya, lalu menuju meja dan mengeluarkan senapan. Mengeceknya apakah berfungsi atau tidak. Senapan baru hadiah dari King Louise karena bersedia menikahi sepupu jauhnya. “Aku tidak tahu, yang jelas salah satu utusan kerajaan.” “Sampaikan salamku pada sepupuku yang baik itu,” ucap Elena sembari mengangkat kakinya, membuat baju tidurnya tersibak. Dan Anthony melihat garis-garis merah di bagian tubuh istrinya yang tersibak itu. Dia hanya diam, lalu pura-pura tak melihat. Membalikkan badan dan mengeraskan rahangnya–berusaha menahan gemuruh amarah di dadanya. Tiba-tiba dia membalik badan dan mengarahkan ujung senapan ke wajah istrinya. Elena terkejut dan seketika menurunkan kakinya–teringat bahwa jemari rekan bisnisnya kemarin meninggalkan banyak tanda di tubuhnya. Apakah suaminya telah melihat semuanya, hingga dia menodongkan senapan ke mukanya? “Sayang … ap-apa yang kau lakukan?” tanyanya panik. Anthony mendekat dan senapan itu semakin dekat ke wajah Elena. Elena menahan napas, terlebih ketika ujung benda logam dingin itu menyentuh keningnya. “Anth … Anthony …” Antony tersenyum, lalu menyarungkan senapannya di pinggang, dan menutupi dengan baju kebesarannya. Elena menarik napas lega. “Kukira kau akan membunuhku, sayang.” Anthony menyeringai. Tentu saja dia sangat ingin membunuh Elena, saat wanita itu dengan beringas berada di bawah tubuh lelaki lain. Tapi sayang, dia tak pernah bisa membuktikannya, hanya bisa mendapati bekas-bekasnya. Bekas-bekas yang sebagai seorang lelaki dia tahu bagaimana cara meninggalkannya di kulit seorang wanita.. Menikahi wanita cantik sebaya anak sulungnya ini hanyalah salah satu syarat dari King Louise agar dia mendapatkan akses untuk masuk ke perbatasan. Hanya mendiang Countess Leonor, wanita yang dicintainya. Dan dia tak tergantikan dengan wanita manapun. Elena hanya menunggu waktu saja untuk menyusul Leonor–setelah semua misinya tercapai. “Mana mungkin aku membunuh istriku sendiri,” ucap Anthony dan seketika Elena memeluknya erat. “Jaga anak-anakku selama aku pergi, Elena. Sebagaimana Kerajaan mengawasiku, dan tidak akan memaafkan satupun kesalahan di kastil ini, demikian juga aku.” Elena memejam mata. Dia tahu segala konsekuensinya, namun dia yakin bisa mengendalikan semuanya. Semua yang berada di kastil ini berada dalam kekuasaannya. Semua tunduk padanya–kecuali Eugene, si anak kedua. “Ah, aku hanya sedikit kesulitan menghadapi Eugene.” Anthony melepaskan pelukan Elena. “Dia anak yang baik. Kau akan mengetahuinya suatu hari. Dia hanya belum bisa menerima kau menggantikan posisi ibunya.” Elena menatap Anthony, memasang wajah sendu. “Aku yakin bisa merebut hatinya bila aku mengandung anakmu, sayang. Kita akan memberinya adik, maka dia akan bisa menerimaku sebagai ibunya.” Anthony membalik badan dan wajahnya hendak mengekspresikan rasa jijik, namun tak ditunjukkannya pada Elena. “Tidak untuk saat ini, Elena. Aku harus mengurus perbatasan.” Anthony meninggalkan kamar, di bawah tatapan kesal Elena. Dia sudah bisa menduga, Anthony tidak akan mau memberinya anak–karena di hatinya hanya ada Leonor. Eugene berkali-kali mengusiknya dengan menyanjung-nyanjung nama wanita yang sudah mati itu setiap Elena berusaha menggantikan perannya sebagai seorang ibu. Hanya Edward, si sulung yang bisa bekerja sama dengannya. Meski tatapannya selalu penuh curiga. Seorang anak akan membuat posisinya menjadi kuat di kastil ini. Dan tak akan ada yang bisa menggugat bila dia menjadi Ratu kecil di istana kecil ini–bila Count Anthony sudah mati. Dari balik jendela kamarnya, Elena menatap kereta kuda yang dikendarai Stuart meninggalkan kastil. Si pelayan bodoh itu, pasti tidak bisa membawa pulang majikannya kembali ke kastil. Perjalanan ke perbatasan adalah perjalanan yang tak pernah dijalaninya, dia pasti sudah lupa bila hari sudah berganti. “Lihatlah, Count Anthony. Bila aku sudah mengandung, kau sendiri yang akan menyerahkan kastil ini padaku dan kekasihku.” Elena meraba perutnya yang masih rata. Dia yakin, penerusnya akan membuat hidupnya lebih terjamin. Bersama Anthony dia tidak yakin bisa tetap berada di kastil ini sampai akhir hayatnya. Lelaki itu bisa melemparnya ke jalanan bila mengetahui apa yang sudah dilakukannya di luar kastil. *** “Kau bisa mengingat jalan pulang, Stuart?” tanya Count Anthony, saat mereka berdua beristirahat di tepi hutan. Matahari sudah tepat di atas kepala, namun rimbunnya pepohonan menaungi mereka dari panas. Stuart baru saja menenggak habis botol minumnya. “Aku ingat, Yang Mulia. Jalan lurus ke selatan, tidak berbelok-belok.” Count Anthony menghembus napas pelan. Dia tidak yakin dengan ucapan Stuart. Dia mengamati pelayannya, yang tidak memperhitungkan bahwa perjalanan mereka masih panjang. Air minum sudah tinggal separuh. Meski mereka bisa berhenti di tepi sungai, tapi bila malam tiba tentu akan lebih sulit mendapatkannya. Bagi Stuart dengan pemikiran sederhana, kebutuhan pokoknya hanya makan minum, pakaian dan tempat tinggal. Selebihnya adalah urusan menuruti perintah majikannya. Sama sekali tidak ada ambisi untuk mendapatkan kehidupan lebih baik. Apa karena kemampuan otaknya juga terbatas? Dia seorang yang bodoh dan pelupa, sehingga banyak masalah tak bisa diingatnya dengan baik. Semua orang di kastil memaklumi kondisinya. Padahal, melihat fisiknya yang gagah karena ditempa pekerjaan sebagai pelayan dan wajahnya yang akan tampak lebih tampan bila dia mencukur rapih cambang dan kumisnya–pasti Elena yang seorang bangsawan akan tergila-gila padanya dan akan memanipulasinya lebih hebat lagi. “Stuart, bila aku mati nanti, kau harus menemui adikmu di Bonart. Kau masih ingat adikmu?” Stuart tampak berusaha mengingat-ingat, dan sepertinya gagal. Count Anthony memaklumi keterbatasan otak Stuart. “Dia menjadi pelayan di Kastil milik Count of Bonart. Dulu ayahmu berpesan padaku untuk menjagamu. Bila aku mati, kau harus menjaga dirimu sendiri. Jadi bekerjalah pada Count of Bonart, agar kamu bisa berkumpul dengan adikmu.Hanya dia yang bisa menjagamu. Bila kamu tetap berada di kastilku, aku tidak menjamin kau bisa hidup damai seperti sekarang.” Stuart mengangguk-angguk. Namun sejurus kemudian dia tertegun. Wajah lugunya tampak bersedih menatap sang majikan. “Apa Yang Mulia mau mati?” Count Anthony tersenyum. “Aku sudah lelah dengan semua petualanganku ini. Sudah saatnya aku berkumpul dengan Leonor. Semua orang pada akhirnya akan mati, Stuart. Tidak akan ada yang abadi.” Stuart tiba-tiba merasakan kesedihan di dadanya. Dia mendekati majikannya, lalu menggenggam tangannya. “Jangan tinggalkan aku, Yang Mulia.” “Bila aku mati nanti, pakailah kalung yang ada di dadaku. Aku akan melindungimu selama kau memakai kalung itu.” Count Anthony membuka bajunya, hingga tampak bagian dadanya yang putih bersih. Meskipun sudah berumur tujuh puluh lima tahun, tapi dia masih gagah dan badannya berotot. Namun wajahnya tak bisa menipu isi jiwanya, yang selalu merindukan Leonor sejak kematiannya. Wajah itu tampak semakin keriput dan menua dengan cepat–di mata Stuart. “Aku tidak melihat kalung,” ucap Stuart polos, karena dia memang tidak melihat apapun di d**a majikannya. “Kalungnya akan muncul saat aku akan mati. Jadi pesanku, kau harus berada di sisiku ketika aku mati. Tidak ada yang boleh memakai kalung itu selain kamu, Stuart. Tidak Edward, Eugene, apalagi Elena. Kau mengerti?” Stuart memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengamati d**a majikannya yang terbuka. Dia semakin tidak mengerti, kenapa dia yang harus memakai kalung yang barangnya saja tidak kelihatan. Dan kenapa harus dia, bukan anak keturunan majikannya. Count Anthony meraih kepala Stuart dan memeluknya. Matanya memejam rapat, mengingat beberapa kejadian terakhir yang mengancam jiwanya. Karena ambisinya selama ini, para pengkhianat kini mengelilinginya dan berlomba mengakhiri hidupnya. Merebut harta paling berharga yang dimilikinya. Dan dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. “Aku mengandalkanmu, Stuart.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD