Kereta kuda yang dikusiri oleh Stuart yang semula melaju kencang, kini mulai melambat setelah mendekati hutan Bonart. Batas akhir wilayah Kendall dengan Bonart adalah hutan Bonart, hutan yang menjadi permasalahan perbatasan antara Wilayah Kendall dengan Bonart. Hanya King Louise yang bisa menentukan, akan masuk ke wilayah mana hutan Bonart ini. Kedua belah wilayah, sudah cukup lama berseteru tanpa ada hasil akhir yang menguntungkan bagi keduanya.
Stuart sedikit-sedikit mengingat bahwa Countess Elena sempat menyebut nama hutan ini. Dan bisnis rahasia yang sedang dijalaninya adalah demi membantu suaminya mendapatkan hutan ini. Tapi Stuart tak bisa mengingat dengan jelas semuanya, termasuk kejadian di hutan kemarin. Seingatnya, roda kereta tidak lepas–tapi kenapa Baron menyuruhnya mengganti roda. Itu artinya rodanya memang terlepas, tapi kenapa dia tidak bisa mengingatnya.
Count Anthony meminta Stuart menepi dari jalan, mendekat di tepi hutan.
“Turunkan aku, Stuart!” perintah Count Anthony dari dalam kereta, membuat Stuart bergegas turun dan membuka pintu kereta. Majikannya tampak duduk dengan tatapan aneh padanya. Stuart menghulurkan tangan, dan Count Anthony menyambutnya perlahan. Tangannya terasa sangat dingin, membuat Stuart tiba-tiba merasa khawatir.
“Tuan baik-baik saja?” tanya Stuart was-was ketika Count Anthony berjalan menuju ke dalam hutan. Majikannya tak menjawab. Dia terus berjalan lebih dalam ke dalam hutan, membuat Stuart mau tidak mau mengikutinya.
Semakin ke dalam, pepohonan semakin rapat. Untung saja hari belum senja, jadi suasana di dalam hutan masih terang. Count Anthony menghentikan langkahnya di sebuah pohon besar yang menjulang tinggi, hingga Stuart harus mendongak sepenuhnya untuk melihat pucuknya–menirukan si majikan.. Batang pohon itu sangat besar. Untuk memeluk batangnya saja diperlukan lebih dari lima orang, saking besarnya.
“Pohon apa ini?” tanya Stuart pada dirinya sendiri. Stuart berdiri di sebelah majikannya, ikut-ikutan menatap batang pohon besar dan rimbun di hadapan mereka.
“Aku baik-baik saja, Stuart,” jawab Count Anthony, menjawab pertanyaan sebelumnya.. “Waktuku tidak lama lagi. Hanya kamu yang harus tahu, bahwa pohon ini yang menjadi saksi.”
Stuart tak mengerti apa maksud ucapan majikannya.
“Dengarkan aku baik-baik, Stuart. Pohon ini berumur seribu tahun”
“Seribu tahun? Dari mana Tuan tahu?” tanya Stuart kagum. Pantas saja pohon ini begitu tinggi dan besar. Stuart mengelilingi pohon itu dan menyentuh batangnya yang keras. Dia tidak pernah melihat pohon sebesar ini dalam hidupnya. Mungkin juga pernah, tapi dia tidak ingat.
“Aku yang dulu menanamnya. Batang mungilnya tumbuh pertama kali, seribu tahun yang lalu.”
Stuart terkekeh. Majikannya pasti sedang tidak enak badan, makanya mulai meracau. Tatapan matanya saja begitu aneh. Namun Count Anthony tampak tidak menggubris Stuart, dia tetap mendongak ke atas, berusaha mendapati pucuk pohon dengan sepasang mata keriputnya. “Kau akan mengingat semua ini, Stuart. Bila aku mati, kau boleh menebang pohon ini dan menggantinya dengan yang baru.”
Stuart kembali terkekeh. Dia menertawakan ingatannya yang payah. “Aku tidak akan bisa mengingat dengan baik, Tuan. Dan … aku …” Stuart menoleh ke sekeliling hutan dan tampak bingung menatap batang-batang pohon di sekelilingnya..
“Kenapa?” tanya Count Anthony melihat air muka Stuart yang membuatnya menarik napas panjang. Pelayannya ini pasti sudah lupa jalan pulang, bahkan jalan keluar dari hutan ini.
“Tadi kita dari sana, kan?” tanyanya menunjuk ke dalam hutan.
Count Anthony geleng-geleng kepala. Dia lalu membalik badan dan berjalan keluar dari tepi hutan. Stuart mengikutinya dengan tergesa. Dia tak ingin ditinggal di dalam hutan dan tak tahu jalan pulang–sedangkan langit mulai meremang.
“Kita harus sampai di Kastil Bonart sebelum gelap,” ucap Count Anthony. “King Louise menunggu kita di Kastil Bonart, nanti malam.”
Stuart terperangah. Jadi, perjalanan yang sedang mereka tempeh saat ini untuk bertemu dengan King Louise. Stuart tiba-tiba merasa begitu bangga, dia berkesempatan berada di dekat King Louise.
Stuart lega ketika mendapati kereta kuda mereka masih tertambat di tepi hutan. Dia bergegas berjalan mendahului majikannya, namun tiba-tiba langkahnya dipaksa berhenti oleh suara desingan logam.
Sebuah benda panjang berkilat tiba-tiba sudah berada di lehernya, dari balik sebatang pohon. Dan seorang lelaki berpakaian seperti prajurit dengan mengenakan penutup muka, keluar dari balik pohon.
Stuart berdiri kaku. Lelaki itu menghunus pedang di lehernya.
“Akhirnya, akhir hidupmu sampai, Anthony,” ucap lelaki itu dengan suara berat dan menggema. Sontak Stuart merasa sekujur tubuhnya gemetar hebat. Ujung pedang tajam dan dingin itu menekan lehernya, hingga dia hanya bisa mendongak.
“Sepertinya aku yang akan mati, bukan Count Anthony,” batin Stuart ketakutan. Dan dia merasakan aliran hangat di bawah celananya, tanpa sadar keluar karena sangat ketakutan.
“Kau lama menungguku?” tanya Count Anthony. “Berapa tahun?”
“Bagiku tak ada bedanya hari, bulan atau tahun. Asalkan aku bisa membawa kepalamu …!”
Tiba-tiba Stuart merasa tubuhnya ditendang ke samping dari arah belakang, dan dia jatuh tersungkur. Dia masih tersungkur di tanah, mengira nyawanya sudah lepas dari tubuhnya, ketika mendengar suara tembakan membelah kesunyian hutan. Dan suara benda berat roboh.
“Bangun Stuart!”
Stuart merasa kerah bajunya ditarik, dan dia mengenali suara majikannya. “Aku masih hidup?”
“Cepat masuk ke kereta. Mereka pasti mendengar suara senapanku!”
Count Anthony berlari menuju kereta diikuti oleh Stuart yang berlari dengan badan nyaris tersungkur. Dia sempat melirik lelaki yang tadi menghunus pedang ke lehernya, terkapar dengan d**a memerah darah. Dia masih bergerak, tapi dengan napas tersengal. Pedang berkilatnya jatuh tak jauh darinya.
“Cepat, Stuart! Ke Kastil Bonart!” teriak Count Anthony dari dalam kereta.
Stuart segera memacu kereta kudanya. Dia tak lagi ingat menuju ke mana, yang jelas lurus saja tidak usah berbelok-belok.
“Lebih cepat, mereka sudah datang!” teriak Count Anthony.
Stuart menoleh ke belakang. Dan benar saja, di belakang kereta kuda yang dipacunya, beberapa kuda mengejar. Para penunggangnya mengenakan jubah serba hitam dengan memakai penutup wajah–seperti lelaki tadi. Stuart semakin panik. Dia merasa celananya sudah sangat basah karena tak bisa mengendalikan ketakutan yang menyergapnya.
Dia dan majikannya akan mati senja ini. Stuart menoleh ke arah matahari yang sebentar lagi tenggelam. Bila majikannya sampai mati karena dia tidak bisa melaju dengan cepat, maka dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Terdengar suara tembakan. Stuart menoleh sekilas. Dilihatnya Count Anthony menghulurkan kepala dari jendela kereta, dan menembak salah seorang penunggang kuda dengan senapannya. Penunggang kuda itu terjatuh, terdengar ringkik kudanya di kejauhan. Stuart sedikit lega karena majikannya ternyata ahli menembak. Setidaknya, beberapa kuda yang mengejar mereka pasti ketakutan mendengar suara senapan Count Anthony.
“Stuart, apa kau tidak bisa lebih cepat lagi?” teriak Count Anthony.
Stuart memacu kudanya sekuat tenaga. Dia sudah berusaha keras, karena dia juga tidak ingin mati hari ini. Tiba-tiba dari arah depan ada sebuah kuda hitam melintas dan menghadang kereta kudanya. Sontak dua ekor kuda yang menarik kereta Count Anthony terkejut dan membuat lajunya tak terkendali.
Kereta kuda itu oleng dan melaju dalam posisi miring beberapa saat. Stuart berusaha mengendalikan kereta kuda dengan posisi miring itu, tapi dia tak lagi bisa bertahan. Sempat didengarnya suara beberapa tembakan. Lalu kereta kuda menghantam sebatang pohon.
“Stuarrrrt!” teriak Count Anthony bersamaan dengan kereta yang pecah karena menghantam pohon. Kuda-kuda jatuh dan terhantam pecahan kereta kuda.
Stuart terpelanting.