Bab 4. Tukar Pasangan

1083 Words
Mobil hitam mewah milik Daniel Christopher berhenti mulus di halaman rumah besar mereka. Pesta telah usai, dan suasana malam begitu hening. Agnes melangkah masuk lebih dulu, gaun merah marun yang ia kenakan masih berkilau meski tubuhnya sudah terasa lelah. Begitu sampai di ruang tamu, Agnes menjatuhkan dirinya ke sofa empuk. Ia menghela napas panjang sambil melepaskan kalung berlian dari lehernya, lalu menaruhnya di atas meja. Satu per satu cincin dan gelang ia lepas, hingga yang tersisa hanya wajah letih dengan tatapan kosong ke arah lampu gantung yang berkilau di atas kepalanya. Daniel menyusul, melepas jas hitamnya, namun tatapan matanya penuh selidik. Ia duduk di kursi seberang, menautkan jemarinya. “Agnes…” panggilnya. Agnes menoleh sekilas, lalu mengangkat alis. “Apa?” “Apa maksudmu menawari Harry ikut balapan? Kau terdengar aneh tadi,” tanya Daniel heran. Seolah ada sesuatu yang mencurigakan dari istrinya. Agnes tersenyum samar. “Aku hanya mencoba membangun suasana. Dari gosip yang kudengar, Harry menyukai mobil balap dan sering mendatangi sirkuit. Jadi… kenapa tidak kita manfaatkan itu? Kau pun bisa ikut, Daniel. Aku yakin salah satu mobil di garasimu cocok untuk itu.” Daniel terdiam, menimbang-nimbang ucapannya. Seolah ide itu tidak juga salah untuk dilakukan. “Lagipula, bukankah kau berencana bekerja sama dengan Harry? Membangun hubungan dengannya lewat kesenangan yang sama adalah strategi bisnis yang bagus, bukan?” lanjut Agnes lagi. Tatapan matanya yang penuh keyakinan menarik perhatian Daniel. “Aku tak pernah menyangka kau ternyata berpikir sejauh itu. Kau pintar sekali, Agnes,” ucap Daniel dengan senyuman lebar menatap kagum pada Agnes. Ia lalu berdiri, berjalan mendekati Agnes, lalu duduk di sisi sofa. Dengan tangan hangat, ia menyentuh dagu istrinya, menatapnya dengan sorot penuh hasrat. “Aku tau kau sangat bisa diandalkan, tak salah jika aku hanya mencintaimu,” lanjutnya dengan tatapan mata penuh kebohongan. Daniel mendekat hendak mencium bibir Agnes. Namun Agnes menoleh cepat, membuat ciuman itu hanya mendarat di pipi. “Tubuhku penuhh aroma alkohol, sebaiknya kita membersihkan diri terlebih dulu,” ucap Agnes beralasan. Daniel hanya bisa menelan kekecewaannya, Agnes lalu berdiri dan berjalan ke arah kamar. “Aku ingin mandi dulu,” katanya lagi sambil melangkah meninggalkan Daniel yang terpaku, sedikit heran dengan sikap dingin istrinya malam itu. Agnes memasuki kamar mereka yang cukup luas. Ada ketakutan yang memenuhi hatinya. Ia tau jika ini adalah kesempatan kedua yang telah diberikan padanya. Dan Agnes tidak mau menyia-nyiakannya. Namun, bukan berarti dia bisa bersantai begitu saja. Kematian akan terus menghantuinya. Agnes menatap pantulan wajahnya dari cermin. “Beberapa jam yang lalu seharusnya aku sudah terbaring di meja operasi, tapi Tuhan memberikan kehidupanku sekali lagi. Itu berarti, aku harus membalas mereka dengan lebih kejam dari pada apa yang sudah mereka lakukan dahulu,” gumamnya. Tatapan matanya berubah penuh kebencian dan dendam dalam hatinaya. Seolah tak ada kata maaf bagi Daniel mau pun Emma. *** Suara deru mesin mobil terdengar, tribun sirkuit malam itu dipadati penonton. Lampu-lampu sorot menerangi lintasan, membuat suasana semakin bergemuruh. Harry tiba dengan mobil sport biru metaliknya. Bersama dengan Emma yang mengenakan jumpsuit balap berwarna putih dengan aksen biru, senada dengan jaket Harry. Pakaian couple mereka membuat keduanya tampak serasi, ditambah dengan tawa riang Emma yang menggema membuat keduanya tampak sangat serasi. Agnes yang berdiri di sisi mobil Daniel menatap tingkah Emma yang jauh berbeda dari yang ia kenal. Lalu melirik sekilas ke arah Daniel yang tak lepas memandangi Emma yang memang sangat mencuri perhatian. “Akhirnya kalian datang juga,” sapa Agnes pada Harry dan Emma. “Iya dong, jarang sekali kan orang terkenal sepertimu mendatangi arena sirkuit seperti ini. Apalagi, Daniel yang super sibuk mau ikutan lomba,” jawab Emma dengan melirik ke arah Daniel tanpa ragu. “Selamat malam Agnes, aku tidak menyangka acara malam ini akan sangat ramai seperti ini,” ucap Harry mencoba untuk menengahi. “Tentu saja harus meriah, meski pun aku tidak pernah ikut perlombaan, tapi aku juga sangat jago dalam balap mobil,” sahut Daniel dengan sikap angkuhnya. Tiba-tiba suasana berubah menjadi penuh persaingan antara Daniel dan Harry. “Baiklah, sebelum kita mulai,” ucap Agnes tiba-tiba memotong, “aku ingin mengusulkan sesuatu hal, mungkin sedikit… gila.” Semua mata menoleh padanya, bahkan suara mesin yang meraung-raung seolah mereda ketika kata-kata Agnes terucap. “Mari kita bertukar pasangan,” lanjutnya dengan senyum samar. “Mari lihat mobil mana yang masih bisa melaju kencang… meski di samping kalian bukanlah pasangan asli kalian.” Daniel terperangah, sementara Harry spontan menoleh curiga pada Agnes. Alisnya berkerut, tatapannya penuh tanda tanya. “Itu permainan yang gila, Agnes. Balap mobil bukanlah sesuatu yang bisa kau lakukan dengan main-main.” “Wah ... itu ide yang bagus sayang,” seru Emma riang sambil menepuk tangan. “Aku suka tantangan! Ayo kita lakukan hal itu!” lanjutnya dengan mata berbinar. Tanpa Harry sadari, Emma sempat menatap Daniel dengan sorot dalam, penuh makna. Tatapan itu hanya berlangsung sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Daniel salah tingkah, matanya berkedip cepat membalas tatapan itu. Agnes memperhatikan semuanya dalam diam. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, meski hatinya bergemuruh. Harry akhirnya menghela napas berat. “Baiklah, kalau ini yang kamu mau, aku ikut saja.” “Bagus,” ucap Agnes dengan menahan kesal karena interaksi Daniel dan Emma diam-diam. Daniel mencoba menahan ekspresinya, namun jelas sekali rasa gugupnya bercampur senang. “Kalau begitu… apa taruhannya?” tanyanya. Emma tersenyum nakal, “Bagaimana kalau pemenangnya… boleh meminta satu hal dari pasangan lain. Apa pun itu,” ucapnya melirik sekilas ke arah Daniel. Harry menyetujui dengan mengangguk pelan, “Oke. Satu permintaan dari pasangan lain. Tapi harus adil, semua setuju.” Agnes menatap mereka satu per satu, lalu tersenyum dingin. “Setuju.” Semua pun berpindah ke posisi masing-masing, Daniel dan Harry yang masuk ke mobil masing-masing, sementara Agnes dan Emma yang bertukar posisi. Di dalam mobil Harry, Agnes dengan santai memasang sabuk pengamannya dan terlihat sangat siap. Saat mc mulai menghitung mundur, Harry menatap Agnes dengan penuh curiga. “Apa yang ingin kau katakan?” tanya Agnes tiba-tiba menoleh tajam pada Harry. “Katakan saja, aku akan menjawab semua pertanyaanmu,” lanjut Agnes semakin membuat Harry curiga. Harry terdiam sejenak, tapi akhirnya ia membuka suara. “Apa tujuanmu sebenarnya? Aku yakin ini tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis.” Agnes menatap dalam, senyum kecil mengembang pada wajahnya. Hitungan mundur yang terdengar membuat jantung berdegup kencang. Hingga suara tembakan terdengar dan mobil Harry melaju yang pertama kali. Entah kenapa wajahnya mengeras seolah baru saja mendengar sesuatu yang gila. “Kau akan mati dalam satu minggu ke depan,” ucap Agnes.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD