Mobil Harry melesat ke depan, ban-ban sport menghantam aspal sirkuit dengan raungan liar. Lampu-lampu sorot memantul di permukaan mobil, menambah sensasi adrenalin yang membara.
Harry menoleh sekilas ke arah Agnes, rahangnya mengeras.
“Apa maksudmu?” tanya Harry, tangannya menggenggam erat setir, matanya tetap fokus pada lintasan yang berkelok. Napasnya naik turun dengan cepat, membawa aura yang cukup mencekam.
Tapi Agnes menatap santai seolah tak ragu sedikit pun. “Apa kau tau kalau Daniel dan Emma berselingkuh?” tanya Agnes
Mobil-mobil lain mulai mengejar, Daniel dengan Emma di sampingnya tepat berada di belakang mereka.
“Mereka berselingkuh?” tanya Harry balik dan membanting setirnya membuat mobilnya hampir menabrak mobil Daniel yang untungnya bisa dihindari oleh Daniel.
Agnes terkejut, jantungnya hampir copot atas ulah Harry barusan.
“Kau gila? Kau ingin kita mati?” tanya Agnes menahan marah.
“Itu yang kau katakan barusan, gila. Bagaimana bisa kau menuduh suamimu berselingkuh dengan tunanganku? Apa kau punya bukti?” balas Harry denial untuk mempercayai ucapan Agnes.
Harry menginjak pedal gas lebih dalam, seolah ingin menenggelamkan kemarahannya dalam kecepatan. Mobil melaju kencang, mendahului dua mobil di depannya, sorakan penonton meledak.
Namun di tikungan tajam, Daniel berusaha menyalip. Emma bersorak riang di sampingnya, sempat melirik ke arah Harry dan Agnes dengan senyum penuh tantangan. Tatapan itu tidak luput dari perhatian Agnes.
“Kau lihat?” tanya Agnes. “Wanita di samping Daniel itu tidak sepenuhnya milikmu, Harry. Mereka diam-diam memiliki hubungan terlarang.”
Harry mengepalkan rahangnya, namun tidak menjawab. Ia justru memutar setir keras, membuat mobil mereka melesat keluar tikungan dengan sempurna, meninggalkan Daniel yang hampir kehilangan kendali.
Penonton kembali bersorak, sementara di dalam mobil, Harry berusaha menahan amarah dan rasa bingung. “Aku tau kau wanita yang pintar, Agnes. Jika benar mereka berselingkuh, kau hanya tinggal membuktikan itu dan menceraikan suamimu.”
Agnes menatapnya, kali ini lebih serius. “Lalu?”
“Apa tujuanmu yang sebenarnya? Aku yakin kau tidak akan bersusah payah melakukan ini hanya untuk menghasutku.”
Agnes tertawa pahit karena sulit sekali meyakinkan pria yang ada dihadapannya ini. “Kau benar-benar mencintai Emma rupanya.”
“Apa kau tidak mencintai Daniel? Untuk apa menikah jika kau tak mencintainya,” tanya Harry balik membuat Agnes berteriak meluapkan kekesalannya karena Harry yang benar-benar telah dibutakan cinta.
“Wah ... kau benar-benar sudah buta rupanya. Jika aku mencintainya, aku tidak akan menikahinya. Karena aku mencintai pria b******k itu, aku tidak tau kapan perselingkuhan mereka dimulai. Dan saat aku mengetahui pengkhianatan mereka, aku mati.”
Deru mesin semakin menggelegar saat putaran terakhir dimulai. Sorak penonton membahana, bendera-bendera dikibarkan tinggi, dan layar besar menampilkan jarak tipis antara mobil Harry dan Daniel.
Daniel yang didampingi Emma menekan gas habis-habisan, mencoba menyalip dari sisi kanan. Mobil mereka melesat begitu dekat hingga hampir bersenggolan dengan mobil Harry. Emma berteriak riang, mengangkat tangannya ke udara, sementara Daniel terlihat berkeringat, matanya sesekali melirik ke arah Harry dengan tatapan menantang.
Garis lurus terakhir terbentang di depan. Daniel mencoba mengejar, mesin meraung keras, namun jaraknya tak lagi bisa ditekan. Harry melajukan mobilnya dengan stabil, pandangan fokus ke garis finis.
Dalam detik-detik itu, Agnes bersandar ke kursinya, matanya sedikit menyipit, seolah melihat sesuatu yang hanya bisa dipahami olehnya.
Akhir Harry melintasi garis finis pertama kali.
Kembang api kecil ditembakkan ke langit, suara sorakan membahana. Nama Harry Alexander dielu-elukan penonton.
Namun laju mobil Harry tidak berhenti. Alih-alih mengurangi kecepatan setelah melewati garis finis, ia justru terus menekan pedal gas, membuat mesin meraung semakin keras.
Agnes yang duduk di kursi penumpang langsung meraih pegangan pintu, tubuhnya menegang. Matanya membelalak menatap Harry dengan heran.
“Apa yang kau lakukan?” serunya, suaranya meninggi dan bergetar. “Apa kau ingin kita mati?”
Lintasan balapan sudah jelas menunjukkan batas akhir. Bendera tanda berhenti berkibar, penonton bersorak namun berubah jadi terdiam tegang melihat mobil Harry terus melaju.
Agnes menutup matanya rapat-rapat, berteriak ketakutan ketika jarak dengan batas lintasan semakin dekat.
Mobil akhirnya berhenti mendadak, hanya beberapa meter setelah menabrak pembatas. Detik itu juga mobil mereka mengeluarkan asap tipis dari kap mesinnya.
Suasana lintasan mendadak hening. Para kru dan penonton terpaku, tidak menyangka kejadian itu bisa terjadi.
Agnes merasakan jantungnya berdetak tak beraturan, napasnya terengah-engah. Tangannya gemetar ketika buru-buru membuka sabuk pengamannya. Ia melangkah keluar dengan kaki yang lemah, tubuhnya bergetar hebat karena syok.
“Aku… hampir mati,” ucapnya sambil berjalan pelan, namun seketika lututnya goyah, membuatnya terjatuh ke aspal.
Harry segera keluar dari mobil, rahangnya mengeras menahan emosi. Ia cepat menghampiri Agnes, lalu berjongkok di hadapannya. Dengan kedua tangannya, ia menggenggam lengan Agnes dengan kuat, seolah tak ingin melepaskan.
“Kau lihat?” teriak Harry, “Kita tidak mati hari ini! Jadi bagaimana kau bisa mengatakan aku akan mati! Dan kau juga mati?”
Matanya menatap tajam penuh amarah bercampur ketakutan. “Siapa kau sebenarnya, hah? Apa kau dewa? Atau… kau datang dari masa depan?”
Agnes yang masih terengah menatap mata Harry yang bergetar. Ia tersenyum samar, lalu tanpa diduga, ia tertawa kencang.
Perlahan tawa itu mereda. “Aku bisa melihat ketakutanmu, Harry,” ucapnya dengan suara rendah. “Kau tahu mereka berselingkuh.”
Harry terdiam seketika, wajahnya menegang. “Apa?”
Agnes menepis tangan Harry dari lengannya dengan kasar. “Kau tahu… sejak awal bahwa mereka berselingkuh. Tapi kenapa aku baru mengingatnya sekarang?”
Harry terkejut, ia berdiri menatap Agnes yang tampak seperti orang gila baginya. Agnes tertawa menyadari sesuatu yang luput dari perhatiannya.
Perlahan Agnes bangkit meski lututnya masih lemas. Ia melangkah mendekat ke arah Harry dan meraih kerah Harry dengan erat.
“Jangan berpura-pura tidak tahu, Harry,” ucap Agnes penuh tekanan. “Jika kau tidak ingin mati, bekerja samalah denganku. Balaskan dendamku. Hancurkan mereka seperti mereka hancurkan aku!” Air mata mengalir pada pipi Agnes.
“Jangan berikan mereka kesempatan untuk merebut hidup kita. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali, kau ... harus percaya padaku,” ucap Agnes putus asa.
“Aku mohon,” ucapnya lagi lalu jatuh pingsan dalam dekapan Harry. Sementara Harry terdiam mencoba mencerna semua yang Agnes katakan.
Kilatan saat pesta itu berputar dalam pikirannya. Harry adalah orang yang pertama kali melihat Daniel dan Emma berciuman di balkon itu. Tapi, Harry tidak berani untuk memergoki mereka dan memilih mundur.
Harry tidak mengerti, kenapa Agnes begitu bersikeras untuk membalas perselingkuhan mereka dan bukan bersikap seolah tak ada apa-apa. Seperti apa yang Harry lakukan selama ini.
“Haruskah aku percaya padamu? Tapi, kenapa? Kenapa aku harus mati? Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?” tanya Harry dalam hati. Matanya menangkap Daniel yang berjalan bersama dengan Emma dengan wajah khawatir.