Perlahan mata Agnes terbuka, ia menatap langit-langit yang putih bersih, serta dinding yang selaras. Ia sadar sedang berada di rumah sakit. Rasa dingin menjalar dari jarum infus yang tertancap di punggung tangannya, tubuhnya lemah, dan napasnya berat.
“Agnes!” panggil Daniel yang duduk di sampingnya. Ia terkejut melihat Agnes yang sudah sadar.
“Kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya panik, jemarinya nyaris menyentuh tangan Agnes, tapi Agnes bergeming.
Daniel menoleh ke pintu. “Aku panggil dokter ya, jangan ke mana-mana. Tunggu sebentar!”
Tanpa menunggu jawaban, Daniel keluar dari kamar VIP. Agnes menghela napas perlahan, mencoba mengatur pikirannya yang masih kacau. Tubuhnya terasa berat, tapi kepalanya mulai merekam kembali potongan-potongan yang sempat hilang.
Jantungnya berdebar makin kencang. Ia meraih tiang infus di sampingnya, perlahan mendorong tubuhnya untuk duduk. Agnes mengingat semua yang terjadi sebelum dirinya pingsan.
“Apa ... pria itu akan percaya?” gumam Agnes teringat pada Harry. Terakhir kali wajah pria itu begitu keras dan sulit sekali untuk disentuh.
Tak lama pintu kamar terbuka. Seorang dokter bersama Daniel masuk, dan langsung mendekati ranjang Agnes bersama perawat di belakangnya.
“Selamat pagi Nyonya Agnes,” ujar dokter itu dengan tenang, “Apa ada keluhan yang Anda rasakan? Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada luka serius. Tekanan darah sempat turun, tapi sekarang sudah stabil.”
Daniel mengerutkan kening, “Tidak ada luka serius? Dia pingsan, Dok! Pasti ada yang salah tolong lakukan pemeriksaan lebih lanjut, segera!”
“Tuan, gejalanya lebih mengarah ke reaksi tubuh karena kaget atau syok mendadak, bukan cedera. Tapi secara medis tidak ada indikasi trauma serius.”
“Aku tidak mau tahu,” potong Daniel tajam, “Kalau perlu, panggil spesialis. Aku mau pastikan semuanya normal.”
“Daniel,” panggil Agnes dengan lemah, “Sudahlah. Aku baik-baik saja,” ujar Agnes. Ia lalu mencoba turun, kedua kakinya pelan menyentuh lantai dingin.
Daniel mencoba membantu memegang tangan Agnes. “Kau mau ke mana?” tanyanya cemas.
Tapi Agnes menepis tangan Daniel. “Aku ingin pulang,” ucapnya, tapi begitu ia berdiri, pandangan dunia berputar. Kakinya goyah, tubuhnya langsung limbung.
“Agnes!” Daniel sontak menopangnya sebelum tubuhnya benar-benar jatuh.
Dokter ikut mendekat, memegang bahu Agnes untuk membantunya kembali duduk di ranjang. “Nyonya, tolong jangan memaksa dulu. Tubuh Anda belum siap.”
Daniel menatap dokter, wajahnya menegang. “Periksa dia sekarang! Apa masih belum cukup bukti jika ada yang tidak beres pada istriku!” bentak Daniel dan membuat dokter mengangguk panik.
Tak lama kemudian, Agnes pun dibawa ke ruang pemeriksaan. Di ruang MRT, tubuh Agnes direbahkan, kepala dicekam alat yang terasa terlalu dingin di kulitnya.
Hingga akhirnya, dokter kembali dengan lembar hasil di tangannya. “Hasil pemeriksaan otak normal. Tidak ada tanda perdarahan, trauma, atau kelainan lain. Nyonya hanya butuh istirahat cukup. Reaksi tubuh sebelumnya sangat mungkin akibat kelelahan, ditambah syok emosional.”
Daniel terdiam sejenak, ia tampak lega sekaligus frustrasi. Reaksi yang tak pernah Agnes harapkan Daniel tunjukkan. Seolah Daniel sedang memainkan peran suami yang baik. Tapi kenyataannya, busuk.
“Terimakasih Dok,” ucap Daniel tidak berani protes lagi dan mengantar Agnes untuk kembali ke ruang rawat VIP.
Sepanjang jalan Agnes hanya diam. Meskipun Daniel terus mengoceh mengkhawatirkan kondisi Agnes terlebih setelah kecelakaan mobil kemarin.
“Aku tidak menyangka, bagaimana bisa Harry membawa mobil seperti orang gila? Apa dia tahu akibat dari sikapnya itu?” oceh Daniel lalu mendorong kursi roda Agnes keluar dari lift.
“Aku akan menuntutnya karena sudah membahayakan istriku. Agnes, jangan khawatirkan apa pun. Serahkan semua ini padaku,” lanjutnya. Ia tak memperhatikan wajah Agnes yang sangat muak mendengar kepalsuan dari bibir Daniel.
Namun, langkah mereka terhenti saat melihat sosok tidak asing berdiri di depan ruang rawat VIP.
“Harry?” tanya Daniel terkejut melihatnya ada di sana.
Harry langsung berdiri tegak dan menunduk saat matanya bertemu dengan mata Agnes. Sementara Daniel langsung berjalan cepat dan mendorong Harry ke tembok dengan penuh amarah.
“Mau apa kau ke sini? Mau pastiin Agnes terluka? Apa tidak cukup udah buat Agnes masuk rumah sakit karena kegilaanmu?” hardik Daniel marah dengan mata yang memerah karena emosi.
Harry tampak tenang tanpa ekspresi. Matanya melirik ke arah Agnes yang hanya diam menyaksikan semuanya.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Maafkan aku, karena terbawa emosi. Aku ... hanya tidak tahu harus bereaksi apa,” lanjutnya seolah menjelaskan dibalik sikapnya itu meski Daniel mengernyit tidak mengerti maksud dari ucapan Harry.
Daniel semakin terbawa emosi dan melayangkan tinjunya. Tapi suara Agnes menghentikannya.
“Daniel ... biarkan saja Harry. Dia sudah minta maaf, jadi lupakan saja apa yang terjadi di arena balapan kemarin,” ucapnya dan mendorong kursi rodanya sendiri.
Daniel menekan tubuh Harry sekali lagi ke tembok. “Jangan dekat-dekat lagi dengan istriku. Aku akan ambil jalur hukum jika kau melakukannya lagi!” ancam Daniel lalu segera berbalik membantu Agnes masuk ke kamarnya.
Sementara Harry hanya bisa mendesah pelan. Ia teringat bagaimana Agnes bersikeras meminta untuk percaya padanya. Tapi sikap Agnes yang menjadi dingin seperti ini membuat Harry merasakan penyesalan yang berat.
Harry tahu, ucapan Agnes tidak ada yang salah. Ia tahu tentang perselingkuhan Emma dan Daniel. Ia bahkan mempunyai bukti perselingkuhan keduanya. Tapi Harry tidak berani untuk mengungkapkannya dan hanya diam, bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.
Namun, hari ini Harry sudah memutuskan. Ia tidak akan diam saja dan akan memulai semua dari awal. Meski harus menahan sakit dalam hatinya, Harry tidak mau lagi terbawa dalam keadaan yang menyesakkan.
Dengan menghela napas panjang, Harry memasuki ruang VIP itu dan mengejutkan keduanya. Agnes yang baru saja duduk di atas ranjangnya dan Daniel yang sedang merapikan selimut menoleh dengan heran.
Daniel menahan emosi dan segera menghampiri Harry bahkan mendorong tubuhnya untuk keluar.
“Mau apa kau? Pergi! Apa kau tidak mengerti dengan ucapanku barusan?” tanya Daniel marah.
Harry menepis tangan Daniel dan mendekati Agnes. Ia lalu segera memberikan dokumen pada Agnes dengan tatapan tajamnya.
“Baiklah, aku terima penawaranmu. Ayo ... kita kerja sama,” ucapnya dengan mantap. Agnes menatap mata Harry mencari maksud dari ucapannya barusan.
Agnes tahu apa yang Harry maksud, ia tersenyum kecil melihat keyakinan Harry yang berubah pikiran untuk mengungkapkan pengkhianatan Daniel dan Emma.
Daniel yang ada di sana langsung meraih berkas itu dan membacanya. Ia menatap Harry dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Apa semua ini?” tanyanya kesal. “Apa kau sudah tidak punya otak? Bagaimana bisa kau menawarkan kerja sama pada orang yang sedang sakit!” lanjutnya dengan meninggikan suaranya.
Harry melirik tajam dan membuat Daniel terdiam seketika. Aura menyeramkan keluar dari tatapan itu.
“Baiklah, aku akan menerimanya. Mari kita mulai bekerja sama,” sela Agnes dengan tatapan tajam, bahkan ia tak peduli reaksi Daniel yang melotot tidak terima dengan keputusannya.