Seperti hari-hari biasanya, sehabis makan malam bersama sang Oma sambil berbincang-bincang singkat tentang hari ini, Violet beserta Omanya langsung menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan diri setelah beraktivitas seharian. Apalagi Oma Ana yang sejak kemarin sibuk mengurus pindahan mereka, tentu saja itu sangat melelahkan.
Sesampainya di kamar, Violet terlebih dahulu menatapi foto kedua orang tuanya yang telah tiada karena sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa tahun silam. Jika Violet diminta untuk mengingat apa yang terjadi malam itu, maka Violet akan menyerah terlebih dahulu karena ia tak sanggup untuk kembali memutar kejadian tragis yang berhasil merenggut nyawa kedua orang tuanya tersebut.
Sorot mata Violet mulai menyendu. Tak pernah terbayang olehnya secepat itu Tuhan memanggil kedua orang tuanya kembali ke pangkuannya. Beruntung saja ada omanya yang bersedia untuk merawatnya hingga detik ini. Oma Ana adalah ibu dari ayahnya. Oma juga sempat terpukul dengan kepergian sang anak yang begitu mendadak, tetapi ia berusaha kuat demi cucu tunggalnya yang saat itu lebih merasa kehilangan.
Violet mengembuskan napas beratnya. Ia pun kembali menaruh foto kedua orang tuanya ke tempat semula. Setelah itu, ia berjalan menuju meja belajarnya untuk mempersiapkan buku pelajaran untuk besok agar paginya Violet bisa tenang tanpa beban. Ketika ia mulai mengeluarkan beberapa buku tulis dari dalam tasnya, tiba-tiba ia teringat dengan Reksa yang sekarang menjadi teman sebangkunya sekaligus tetangganya itu. Mustahil jika ia merasa biasa-biasa saja saat melihat sosok Reksa kembali ke hidupnya setelah pertemuan mereka yang secara tak sengaja terjadi tersebut.
Walaupun Violet masih sedikit ragu dengan dugaannya, tetapi hati Violet begitu yakin kalau Reksa yang sekarang menjadi tetangganya itu adalah Reksa yang bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu.
“Ish, kenapa gue dari tadi mikirin dia mulu, sih? Belum tentukan Reksa yang gue liat beberapa tahun lalu itu adalah dia? Mungkin aja namanya sama,” celoteh Violet sambil memasukkan buku-buku pelajaran yang sesuai dengan jadwal besok.
Setelah semuanya siap, Violet pun berjalan menuju kasurnya untuk merehatkan badan dan pikiran dalam indahnya mimpi. Namun, langkahnya tiba-tiba tertahan ketika ekor matanya sekilas mendapati seseorang dari jendela kamarnya yang tertutup dengan tirai putih. Karena rasa penasaran yang sudah merajalela, Violet pun berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya lalu perlahan-lahan menyingkap tirai putih yang menutupi penglihatannya. Ketika tirai tersebut benar-benar tersingkir dari pandangannya, tatapan mata Violet seketika terkunci pada seseorang tersebut.
Reksa. Ya, laki-laki itu yang membuat Violet membeku lagi. Entah karena Reksa sangat mempesona di matanya atau bagaimana, yang jelas Violet merasa ada gelenyar aneh ketika ia melihat sosok Reksa. Apalagi jika laki-laki itu sedang fokus menggambar sesuatu seperti sekarang. Ah, Violet semakin tak ingin mengalihkan pandangannya barang sedetik!
Cukup lama menatap Reksa yang sedang mengayunkan tangannya di atas buku gambar dengan kaca mata tipisnya, tiba-tiba gerakan tangan Reksa terhenti yang membuat fokus Violet sedikit buyar. Hatinya mulai berdebar tak enak. Sepertinya akan ada hal memalukan yang akan terjadi setelah ini. Dan benar saja, sepersekian detik setelahnya, Reksa memalingkan wajahnya tepat ke arah Violet yang saat itu masih setia berdiri di depan jendela sambil menatapnya. Dengan mata yang membelalak, Violet langsung menarik tirai putih tersebut kembali untuk menutup kaca jendelanya lalu berjalan agak kaku seperti robot ke arah kasur empuknya.
Detak jantungnya saat ini berpacu dengan tak beraturan. Takut kalau Reksa sempat menyadari tingkah bodohnya barusan. Violet menggigiti kuku-kukunya dengan kaki yang bergetar tak karuan. “Duh, bodoh banget, sih gue! Kenapa bisa-bisanya ngeliatin dia sampai segitunya?!” rutuk Violet sambil mengacak frustasi rambutnya kemudian langsung merebahkan dirinya ke kasur dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Sedangkan Reksa yang masih mencerna apa yang ia lihat barusan hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa ia sekarang tengah menangkap basah kelakuan Violet? Sepertinya begitu. Namun, Reksa tak ambil pusing. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian kembali berkutat dengan gambarannya.
***
Pagi sudah mulai menyapa dunia dengan cahayanya yang cerah. Seakan mengintrupsi makhluk bumi untuk segera beraktivitas dan memulai hari mereka dengan kebahagiaan. Hal itu sekarang tengah berlaku bagi Violet. Entah mengapa, suasana hati Violet hari ini seakan sangat cerah seperti keadaan pagi ini. Bahkan omanya saja sampai dibuat geleng kepala dengan tingkah laku cucunya yang satu itu.
“Pagi Oma!” ucapnya sedikit berseru ketika berada di dapur yang membuat omanya sedikit kaget.
“Kamu ini hobi banget ngagetin Oma,” omel Oma Ana yang ditanggapi Violet dengan kekehan. Ketika Violet mengedarkan pandangannya ke arah dapur untuk melihat apa yang dilakukan neneknya, sontak Violet langsung mengambil alih pisau yang sedang Oma-nya gunakan untuk memotong wortel.
“’Kan udah Olet bilang kalau Olet aja yang masak. Oma duduk manis aja di meja makan nungguin makanannya,” peringat Violet sambil menuntaskan pekerjaan sang nenek.
Oma Ana hanya tertawa. “Oma ‘kan juga bosan duduk-duduk terus. Pegel tau,” keluh Oma Ana yang hanya ditanggapi senyuman oleh Violet. Violet memang sering kali memperingatkan sang nenek untuk duduk diam ketika berada di rumah. Mengingat usia Oma Ana yang semakin bertambah membuat Violet merasa sudah saatnya ia yang mengambil alih pekerjaan rumah. Namun, sekeras apapun Violet memaksa, Oma Ana tak mau mendengarkan permintaannya.
“Ngomong-ngomong, kok tumben Oma masak sup ayam pagi-pagi kayak gini?” tanya Violet sembari memasukkan potongan wortel ke dalam sup ayam yang tengah dibuat Oma Ana.
“Oma mau ngasih sup ayam itu ke tetangga baru kita si Raksa.”
Violet mengernyitkan dahinya. “Reksa maksud Oma?”
“Iya, pokoknya itulah.” Oma Ana mengibaskan tangannya yang membuat Violet terkekeh. “’'Kan kata kamu sup ayam buatan Oma ini rasanya wuenak tenan, makanya Oma mau ngasih menu andalan Oma ke dia.”
“Bukan Violet ‘kan yang ngasih?” tanya Violet sambil terus mengaduk sup ayam buatan Oma Ana. Namun, gerakannya seketika terhenti saat mendapat jawaban yang terduga dari sang nenek.
“Ya, kamulah. Masa iya Oma. Biar kamu tuh lebih deket gitu loh sama tetangga baru. Karena Oma lihat, kamu tuh rada jutek sama tetangga,”
“Tapi Oma—“ baru saja Violet ingin menolak kehendak neneknya itu, Oma Ana langsung memotong ucapannya.
“Nah, ini sup ayamnya udah mateng. Kamu ambil tas sana, biar cepet diantar sup ayamnya ini. Mumpung anget.”
Jika sudah begini, sangat sulit untuk Violet menolak permintaan Oma Ana. Dengan gerakan sedikit lemas, Violet pun berjalan ke arah meja makan untuk mengambil tasnya yang tergeletak di sana. Setelah menyampirkannya di kedua bahu, Violet kembali berjalan dengan gerakan lambat ke arah omanya yang sudah memasukkan sup ayam buatannya ke dalam sebuah rantang.
“Nih, kasih ke Reksa, ya?”
“Kalau dianya nggak ada titip ke pembantunya aja nggak papa, ‘kan?” tanya Violet yang langsung diangguki cepat oleh sang nenek.
“Iya, nggak papa. Tapi kalau bisa sampai ke dianya. Udah sana, buruan.” Oma Ana langsung memberikan rantang yang ia pegang ke tangan Violet lalu membalikkan badan cucunya dengan sedikit mendorong agar cepat memberikan sup ayam tersebut kepada Reksa.
“Iya, Oma. Iya. Salim dulu tapi.” Violet meraih tangan Oma Ana untuk mencium punggung tangannya lalu berjalan keluar dari rumah tersebut. “Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam,” sahut Oma Ana dari dalam rumah dengan senyuman yang mengembang. Sedangkan Violet terus-menerus menarik napasnya sepanjang jalan menuju rumah Reksa untuk menetralkan detak jantung yang kembali berpacu tak karuan.
Ingin sekali rasanya menolak permintaan ini, tetapi Violet tak ingin membuat Oma Ana sedih. Ah, serba salah kalau begini caranya. Violet menatap rumah Reksa dari balik pagar rumah cowok itu yang terbuka lebar seakan meyambut kedatangan Violet. Sebelum melanjutkan langkahnya, Violet memejamkan mata sambil melafalkan doa dalam hati agar ia tak bertingkah bodoh lagi di depan laki-laki itu.
Setelah menutup mata beberapa detik, Violet membukanya lalu menghentakkan napasnya dan kembali berjalan menuju depan pintu rumah Reksa yang tertutup. Sesampainya ia di sana, Violet lagi-lagi menarik napasnya dalam-dalam. Dikala ia benar-benar siap, Violet pun membuka mulutnya untuk mengucap salam. Namun, disaat yang bersamaan, seorang laki-laki memakai seragam putih abu-abu dengan memakai kaca mata tipis membuka pintu rumahnya dengan perlahan yang membuat Violet sedikit terbata-bata dalam mengucapkan salam.
“Assa—Assalamu... alaikum...?”
Laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah Reksa itu mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sebelum membalas salam yang diucapkan Violet.
“Waalaikumsalam. Ada apa?”
Dengan perlahan, Violet memberikan rantang yang berisi sup ayam buatan omanya itu ke hadapan Reksa. “I—Ini sup ayam dari Oma,” ucap Violet dengan perasaan yang gugup. Beruntung saja Reksa langsung menerimanya dan memanggil Bi Ikah untuk menaruh rantang tersebut ke dalam karena Reksa ingin berangkat ke sekolah.
“Bilang sama Oma Ana makasih buat sup ayamnya. Nanti dicobain pas pulang sekolah,” ucapnya dengan senyum tipis yang diangguki pelan oleh Violet. Tak berapa lama kemudian, seorang lelaki yang berumur empat puluhan berjalan mendekat ke arah Reksa yang Violet tebak adalah ayahnya Reksa.
“Ada siapa, Sa?” tanya lelaki itu dengan sedikit tergesa.
“Tetangga baru, Yah.”
Lelaki berkemeja itu menyipitkan matanya lalu ber-oh ria. “Ohh... kamu Violet, ya? Cucunya Oma Ana yang baru pindah itu?”
Violet mengangguk canggung. “Iya, Om.”
“Saya Oka, Ayahnya Reksa. Salam kenal, ya?”
Violet yang bingung harus berekspresi seperti apa hanya bisa menganggukkan kepalanya lagi. “Iya, Om,” jawabnya.
Setelah perkenalan yang singkat itu, Reksa pun kembali angkat bicara. “Yah, ayo berangkat. Nanti telat.”
“Duh, Ayah lupa ngasih tahu kamu kalau Ayah hari ini nggak bisa ngantar kamu ke sekolah karena ada sedikit pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan pagi ini.”
“Sepagi ini?” tanya Reksa yang diangguki oleh Oka dengan cepat.
“Iya, Ayah minta maaf, ya? Kamu hari ini naik motor nggak apa-apa, ‘kan?” pinta Oka yang diangguki Reksa dengan sedikit lemas. “Nah, kalau begitu sekalian aja antar Violet ke sekolah.” Oka melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Udah jam enam lewat, kalau Violet naik angkot bisa telat. Violet nanti berangkatnya bareng Reksa, ya?”
“Enggak usah Om—“ baru saja Violet ingin menolak tawaran yang diberikan ayahnya Reksa, Oka sudah terlebih dahulu pamit dari sana setelah mengacak rambut sang anak.
“Assalamualaikum,” ucapnya kemudian berjalan ke arah mobil lalu masuk ke dalamnya. Beberapa detik kemudian, mobil melesat menjauh dari rumah tersebut.
“Waalaikumsalam,” sahut Reksa dengan nada yang pelan sambil menatap kepergian sang ayah. Setelah beberapa detik terdiam, ia melirik sekilas ke arah Violet yang masih mematung di tempat dengan segala pemikiran yang ada di benaknya. “Ikut gue,” ucapnya yang langsung membuat Violet tersadar dari lamunannya.
“Ke mana?” tanyanya dengan wajah cengo.
“Ke sekolah emang mau ke mana lagi?” jawab Reksa kemudian berjalan menuju garasi rumahnya untuk mengambil motor matic yang hanya ia pakai beberapa kali dalam sebulan. Setelah mengeluarkan motor tersebut dari garasi dan menyalakan mesinnya, Reksa berjalan kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil sesuatu.
“Enggak usah, gue naik angkot aja!” ucapnya sedikit berseru kemudian melangkah berusaha menjauh dari depan rumah Reksa yang langsung dicekal oleh laki-laki berkaca mata itu.
“Ini amanah dari Bokap gue. Gue harus laksanain,” kata Reksa sedikit datar yang membuat Violet bungkam.
“Den, ini helm-nya.” Bi Ikah memberikan sebuah helm pada Reksa yang diterima Reksa dengan cepat lalu ia sodorkan kepada Violet.
“Nih, pakai cepetan. Nanti terlambat,” suruhnya sambil memasang helm di kepalanya kemudian berjalan ke arah motor yang sudah ia nyalakan. Cukup lama Violet menatap helm yang disodorkan Reksa tersebut. Ingin menolak, tapi rasanya tidak keburu jika ia naik angkot. Dengan keterpaksaan, Violet pun menerima tawaran tersebut, memakai helm yang diberikan Reksa padanya, kemudian naik ke atas motor milik cowok tersebut sambil berdoa dalam hati agar ia tak terkena serangan jatuh saat berboncengan dengan Reksa si laki-laki berkacamata.