“Saya akhiri pelajaran kali ini dan jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang Ibu berikan. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam ...” sahut seluruh penghuni kelas XI IPA 3 ketika guru di mata pelajaran terakhir mereka mengucapkan salam untuk mengakhiri pertemuan hari ini. Ketika mendapati guru tersebut telah keluar dari kelas mereka, sebagian siswa yang telah membereskan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas langsung mengeluarkan diri dari ruangan berwarna putih tersebut karena bel pertanda pulang juga sudah berbunyi sejak satu menit yang lalu.
Tak berbeda dari teman laki-lakinya, Reksa dan Delta pun saat ini juga tengah melakukan hal yang sama. Kedua cowok bertubuh tegap dan tinggi itu saat ini tengah berjalan santai di koridor sambil berbincang santai. Terkadang mereka saling melemparkan guyonan untuk menghindari suasana yang flat.
Namun, guyonan yang terjadi di antara keduanya sempat terhenti ketika Delta melihat Violet berlalu mendahului mereka. Lantas, Delta pun langsung menyenggol lengan Reksa. “Menurut lo Violet itu cantik nggak?” tanya Delta dengan binaran mata seperti orang yang sedang jatuh cinta.
Reksa menatap punggung Violet yang mulai mengecil dari penglihatannya sebentar. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Cantik itu relatif,” jawab Reksa seadanya karena menurutnya memang begitulah kenyataannya.
“Tapi menurut gue, Violet itu beda dari cewek-cewek yang pernah gue kenal. Dia menarik,” ucap Delta dengan senyum yang terpatri di bibirnya.
Reksa hanya menanggapi ucapan Delta dengan gelengan. Kalimat langganan yang sering sahabatnya pakai ketika baru berkenalan dengan cewek. Namun, ujung-ujungnya juga selalu gagal dalam tahap PDKT karena sifat kurang pekanya Delta. Jadi, jika Delta berucap seperti itu, Reksa tak perlu heran lagi. Ia yakin, Violetlah nanti yang akan menjadi sasaran PDKT Delta selanjutnya.
Ngomong-ngomong, daripada menganggap gadis itu unik atau menarik, Reksa malah menilai murid baru yang bernama Violet itu aneh. Ya, menurutnya gadis itu sangatlah aneh. Selama pelajaran berlangsung, Reksa mengamati raut wajah Violet dari ekor matanya. Lagi dan lagi, cewek itu nampak tak tenang dan gelisah setiap kali ia duduk bersebelahan dengan dirinya.
Reksa bingung, memangnya apa yang ia perbuat sampai cewek itu terlihat gelisah? Padahal seingat Reksa, ia sangat jarang berbincang dengan Violet. Bahkan untuk hari ini saja, Reksa dan Violet hanya mengobrol saat di kantin waktu istirahat pertama berlangsung. Setelah itu tak ada perbincangan apa-apa lagi yang mereka lakukan. Tapi mengapa Violet seperti itu? Belum lagi tatapan tak nyaman yang selalu diberikan Violet ketika sedang menatapnya. Ah, murid baru itu memang aneh!
“Woi! Ngelamun aja lo.” Delta mengagetkannya dengan cara bertepuk tangan tepat di depan wajahnya yang membuat Reksa tersadar dari lamunannya. “Lo dijemput bokap nggak? Kalau kagak, mending nebeng gue aja,” tawar Delta pada Reksa yang baru saja menyadari jika mereka sudah berada di area parkir sekolah.
“Gue naik angkot aja,” tolak Reksa yang membuat Delta mengangkat kedua bahunya.
“Ya, udah. Gue duluan, ya, man,”
“Siap, hati-hati lo,” sahut Reksa yang diangguki Delta kemudian melajukan motor matic-nya menjauh dari area sekolah dan bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan. Sekuat apapun Delta mengajaknya, Reksa pasti tak akan mau. Ia lebih memilih untuk naik angkot jika ayahnya tak menjemput ketimbang nebeng dengan Delta agar saat di perjalanan menuju pulang nanti ia bisa mengisi waktu luangnya dengan mencorat-coret buku gambarnya atau sekedar merampungkan gambar yang belum selesai.
Selain alasan itu, Reksa juga tak ingin merepotkan orang lain. Selagi masih bisa berusaha sendiri, untuk apa kita membuat repot orang lain?
Setibanya ia di depan gerbang sekolah, matanya langsung tertuju pada sebuah angkot yang hendak berjalan. Dengan gerakan secepat kilat, Reksa langsung berlari menuju angkot tersebut. “Bang, masih muat satu orang nggak?” tanyanya pada sang supir angkot.
Supir angkot pun menolehkan kepalanya ke belakang. “Kayaknya masih muat, naik aja kalau mau,”
“Makasih, Bang.” Reksa pun kini melangkahkan kakinya masuk ke dalam angkot lalu mendaratkan bokongnya tepat di belakang kursi sang supir angkot. Setelah itu, angkot pun berjalan mengangkut penumpang yang kurang lebih berjumlah tujuh sampai delapan orang itu ke tempat tujuan masing-masing.
Namun, Reksa merasa ada seseorang yang memperhatikannya saat ia mulai mengeluarkan buku gambar dan pensil dari dalam tasnya. Ralat, seseorang ini semenjak tadi memperhatikan gerak-geriknya yang membuat Reksa sedikit tak nyaman. Perlahan, Reksa pun mengangkat kepalanya dan baru saja menyadari jika orang yang duduk di hadapannya sekarang adalah Violet dan dialah orang yang sedari tadi memperhatikannya.
Ketika Reksa menyadari keberadaannya, Violet langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan bersikap tak tahu-menahu. Reksa hanya menatap cewek itu sebentar, berniat tak ingin ambil pusing atas apa yang dilakukan cewek aneh itu. Ia pun mengembalikan fokusnya ke arah buku gambar miliknya untuk merampungkan sketsa gadis ber-hoodie yang ia kerjakan saat di sekolah.
Tak sampai dua menit, Reksa pun mengembuskan napasnya lega sambil menatap hasil corat-coretnya. Ia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat sudah sampai di mana taksi berjalan. “Bang, berhenti di depan komplek itu, ya?” pinta Reksa sambil menunjuk komplek perumahan yang tak jauh jaraknya dari keberadaan angkot sekarang.
Supir angkot pun mengangguk. Satu menit kemudian, angkot pun berhenti tepat di depan komplek rumah Reksa. Setelah membayar ongkos angkot dengan uang berwarna ungu, Reksa pun turun dari sana dan mulai berjalan guna menuju ke rumahnya yang tak jauh dari depan komplek. Namun, lagi-lagi ia merasa ada yang aneh. Seperti ada seseorang yang sedang berjalan di belakangnya sekarang.
Setelah berargumen dengan pikirannya, Reksa pun membalikkan badannya yang sontak membuat terheran-heran. Ternyata Violet yang berjalan di belakangnya. Cewek itu sedang berjalan dari jarak beberapa meter dengannya sambil menundukkan kepala yang membuat Reksa bertanya-tanya apakah rumah cewek itu satu komplek dengannya? Jika iya, mengapa wajahnya sangat terlihat asing di sini?
Daripada bertanya, ia lebih memilih untuk memendam pertanyaan itu kemudian melanjutkan langkahnya agar cepat sampai ke rumahnya yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi. Matanya seketika menyipit ketika sesampainya ia di depan pagar rumah. Ia melihat Bi Ikah sedang berbincang dengan seorang wanita paruh baya yang tampak asing di perbatasan antara rumahnya dengan rumah sebelah.
Karena rasa penasaran, Reksa pun berjalan mendekat ke arah dua orang wanita itu. “Bi Ikah?” panggil Reksa yang membuat sang empunya nama menoleh.
“Eh, Den Reksa udah pulang?”
Reksa mengangguk lalu tersenyum tipis ketika wanita paruh baya itu melempar senyum ke arahnya. “Bibi ngapain di sini?”
“Ini loh, Den. Den Reksa punya tetangga baru. Ini Oma Ana, tetangga baru Den Reksa sama Bapak.” Bi Ikah memperkenalkan wanita paruh baya yang bernama Oma Ana tersebut padanya yang langsung Reksa cium punggung tangannya.
“Reksa, Oma.” Reksa memperkenalkan dirinya pada Oma Ana yang dibalas senyuman oleh wanita paruh baya tersebut.
“Salam kenal, ya, Reksa.”
Ketika acara perkenalan terjadi di antara mereka, tiba-tiba suara seseorang dari arah belakang membuat ketiga orang itu menoleh secara bersamaan. “Oma, Violet pulang,” ucapnya lalu berlari kecil menuju Oma Ana kemudian memeluknya erat. “Oma ngapain di sini? Kita ‘kan baru pindahan, nanti Oma kecapekan lagi.” Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Violet yang Reksa anggap cewek aneh di sekolahnya.
“Gak lah, Oma cuma ngobrol santai sama tetangga baru kita,” sahut Oma sambil menatap ke arah Reksa yang membuat Violet sedikit menahan nafas.
Dia jadi tetangga baru gue?!
“Kalau gitu, saya pamit mau ngelanjutin kerjaan, ya, Oma. Mari, Mbak, Den, saya masuk dulu,” pamit Bi Ikah yang diangguki ketiga orang tersebut.
Tak berselang lama kepergian Bi Ikah, Oma Ana pun pamit masuk ke dalam rumah barunya. “Oma masuk dulu, ya? Kamu ngobrol aja sama si Reksa. Reksa, sekali lagi salam kenal, ya?”
“Iya, Oma. Semoga Oma betah di sini,” sahut Reksa yang kemudian diangguki Oma Ana lalu beliau berjalan menuju rumah yang berada tepat di samping kediaman Reksa.
Sepeninggal Bi Ikah dan Oma Ana kembali ke dalam rumah, Reksa dan Violet hanya sama-sama bungkam. Tak ada pembicaraan yang mereka lakukan, tetapi keduanya masih sama-sama berada di tempatnya. Beberapa detik berlalu dengan keadaan yang tetap sama, Violet pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju depan rumahnya yang tertutup. Namun, di pertengahan jalan, langkahnya terhenti karena ucapan Reksa.
“Semoga lo dan Oma Ana betah di sini. Salam kenal, Violet.” Reksa mengakhiri ucapannya dengan senyum yang memunculkan lesung pipitnya kemudian membalikkan badan menuju rumahnya.
Violet sempat membeku selama beberapa detik, tetapi kemudian ia tersenyum tipis. “Salam kenal juga, Reksa.”