Dua jam pelajaran sudah terlampaui dan Reksa masih saja belum terbiasa dengan keadaan tempat duduknya sekarang yang di sebelahnya telah diisi oleh seorang murid baru. Laki-laki itu semakin merasa tak nyaman ketika gadis bernama Violetta itu selalu menatapnya dengan tatapan yang menurutnya tak biasa untuk orang yang baru saja saling kenal. Apa cewek ini sudah pernah bertemu Reksa sebelumnya? Ingin sekali mempertanyakan itu padanya. Namun, mulut Reksa sulit sekali untuk mengatakannya.
Sekarang sudah jam istirahat. Reksa melirik aktivitas Violet dari ujung matanya, canggung sekali. Sekilas, Reksa melihat kedua tangan gadis itu yang saling meremas dengan kaki yang bergerak terus-menerus seperti orang yang tengah dilanda kegugupan. Apa mungkin karena tampang wajahnya ini Violet jadi seperti ini? Ah, Reksa mulai kepedean!
“Ngantin, yuk!” ajak Delta pada Reksa yang masih berdiam diri di kursinya ketika teman-temannya yang lain sudah memilih untuk keluar dari kelas tersebut menuju surganya para pelajar, kantin.
Setelah beberapa detik masih setia melihat Violet menggunakan ekor matanya, Reksa pun mengembuskan napasnya pelan lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju meja Delta yang berada tepat di depannya. Menatap Violet sebentar yang juga dibalas oleh cewek itu dengan tatapan ogah-ogahan, kemudian Reksa memilih untuk menjauh dari tempat duduknya sesegera mungkin untuk menghindari tatapan tak nyaman yang dilemparkan oleh Violet.
“Lo merasa aneh nggak, sih?” tanya Reksa sedikit berbisik pada Delta ketika mereka sudah berada di depan kelas.
Delta menaikkan alisnya sebelah. “Aneh kenapa? Terus kenapa lo ngomongnya bisik-bisik kayak gitu?”
“Anak baru yang duduk di samping gue itu—“
“Astaga! Untung lo ngingetin,” potong Delta yang sukses membuat Reksa kebingungan. Setelah mendengar kalimat ‘anak baru’, tiba-tiba saja sahabatnya yang rada-rada itu berbalik badan dan berjalan ke arah meja Reksa untuk menghampiri Violet yang saat itu seperti kebingungan ingin melakukan apa. “Hai, Violet. Gue Delta, sahabatnya Reksa.” Delta mengulurkan tangan yang hanya ditatap oleh Violet. Melihat itu, Delta pun langsung menarik tangannya kembali. “Ehmm, lo mau ikut ke kantin nggak? Gue yang bayar, deh.”
Ajakan yang dilayangkan Delta untuk Violet tersebut sontak mengundang kerutan di dahi Reksa. Delta neraktir murid baru? Fix, jiwa ke-playboy-annya kumat lagi!
Tak kunjung juga mendapat sahutan dari Violet, Delta pun angkat bicara kembali. “Sayangnya gue nggak menerima penolakan. Jadi ...” Delta mengulurkan tangannya ke hadapan Violet. “Ke kantin, yuk?” ajaknya sekali lagi yang membuat Reksa sedikit tercengang. Sepertinya Delta memang tak tahan lagi untuk segera melepas status jomblonya. Makanya segala macam cara ia lakukan kepada perempuan yang ia incar agar dia bisa mendapatkan cewek itu. Berbeda dengan Reksa yang sampai sekarang masih saja menjomblo dan memilih untuk menunggu gadis ber-hoodie itu muncul ke hadapannya lagi.
Beberapa detik kemudian, Violet pun bangkit dari duduknya. “Gue ...duluan jalan ke luar kelas,” ujarnya sedikit terbata-bata lalu berlalu dengan cepat dari sana. Ketika melewati Reksa, Violet pun menundukkan kepalanya betul-betul hingga membuat kening Reksa lagi-lagi berkerut.
“Itu cewek unik banget, ya?” puji Delta sembari memandang Violet yang menunggu mereka di ambang pintu kelas.
Reksa tak menyahut apa-apa. Ia hanya menatap gadis itu dari jarak beberapa meter ini dari atas sampai bawah. Ada yang aneh dari gadis itu ketika beradu tatap dengannya atau sekedar melihat wajahnya. Namun, Reksa tak bisa mendeskripsikan apa arti tatapan yang dilayangkan Violet untuknya.
Melihat Reksa yang berkutat dengan pikirannya sendiri membuat Delta menepukkan tangannya tepat di depan wajah sang sahabat yang langsung menyadarkan cowok berkacamata itu. “Bengong bae lo,” ucap Delta ketika Reksa memberikan tatapan tajamnya pada cowok cengengesan itu. “Gue duluan, ya?” Delta menepuk bahu kanan Reksa lalu berjalan menghampiri Violet dan mengajaknya untuk berjalan berdampingan.
Sebelum beranjak dari tempatnya, Violet menatap Reksa sebentar kemudian berlalu dari ambang pintu kelas. Reksa kembali memutar otaknya. Wajah Violet tampak tak asing di matanya. Padahal seingat Reksa, ini adalah kali pertamanya bertemu dengan gadis itu. Reksa dengan cepat menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran yang sudah berkelebat ke mana-mana. Ia pun dengan segera menyusul Delta dan Violet yang sudah mulai menjauh dari kelas.
***
“Lo mau pesen apa, Let? Biar gue yang mesenin,” tawar Delta ketika sesampainya mereka di kantin.
Violet menarik napasnya lalu mengembuskannya secara pelan. Keadaan kantin yang cukup ramai membuatnya sedikit ogah duduk di tengah-tengah keramaian itu. Kebisingan, gelak tawa, atau rumpian perempuan, membayangkannya saja Violet sudah sumpek. Apalagi benar-benar berada di sana. Namun, karena merasa tak enak hati menolak ajakan Delta, Violet pun menahan ketidaknyamanan itu.
“Samain aja sama pesenan lo,” putus Violet yang membuat mata Delta berbinar.
“Ya, udah. Lo tunggu di sana, ya?” Delta menunjuk sebuah meja yang berada dekat dengan meja pojok kantin yang menjadi perkumpulan para lelaki. Sedikit terkejut, tetapi Violet hanya menganggukkan kepalanya pelan guna mengiyakan permintaan cowok tersebut. Setelah Delta berlalu dari hadapannya menuju ibu kantin untuk memesan makanan, Violet pun menatap meja kosong yang ditunjuk oleh Delta barusan.
Gue benar-benar nggak nyaman, tapi gue nggak enak hati buat nolak. Gimana dong? Batin Violet. Beberapa detik terdiam, akhirnya Violet memutuskan untuk berjalan menuju meja tersebut. Namun, langkahnya seketika tertahan saat seseorang menahan tangannya.
“Lo mau ke mana?” tanya seseorang yang terdengar tak asing di telinganya. Benar saja, ketika Violet membalikkan badannya, ia mendapati sosok Reksa yang sedang menahan lengannya. “Di sana banyak cowok, nanti lo nggak nyaman. Ikut gue,” ucap Reksa yang membuat Violet membeku seketika. Ia hanya bisa menuruti kemauan cowok itu dan berakhir duduk di sebuah meja yang lebih didominasi oleh perempuan.
“Kita duduk di sini aja,” ucapnya kemudian melepaskan cekalannya di lengan Violet.
Tak ada yang bisa Violet katakan kecuali anggukan kepala dan menundukkan kepalanya lagi dan lagi. Melihat badge nama Reksa yang berada di seragam cowok itu membuat Violet teringat dengan seseorang yang selama ini ia rindukan. Dan Violet takut jika orang yang ia rindukan setelah pertemuan pertamanya itu benar-benar sosok Reksa yang menjadi teman sebangkunya ini. Sekuat apapun ia mencoba untuk berpikiran bahwa nama mereka hanya kebetulan sama, tetap saja sosok Reksa yang berada di sampingnya ini mengganggu pikiran Violet.
“Lo ...takut sama gue?” tanya Reksa yang dijawab gelengan oleh Violet. “Kalo nggak, kenapa lo kelihatannya gelisah banget pas duduk sebelahan gue? Atau lo nggak nyaman—“
“Gue nyaman, kok,” jawab Violet refleks yang membuat Reksa menaikkan alisnya sebelah. “Ma—Maksud gue, gue nyaman punya teman sebangku kayak lo. Gu—Gue juga ...gak takut,” cicit Violet dengan kepala yang menunduk kembali. Tak ingin lagi memperpanjang pembicaraan, Reksa hanya menganggukkan kepalanya untuk mengiakan jawaban Violet.
Dalam hati, Violet merutuki dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa mendadak gagu seperti ini di depan Reksa?
“Loh, kenapa kalian duduk di sini?” tanya Delta sedikit heran ketika melihat kedua temannya duduk di meja yang bukan ia inginkan.
“Otak lo udah lama nggak dicuci, ya?” tanya Reksa balik. “Masa perempuan lo suruh duduk di dekat sarang laki-laki kayak gitu? Sendirian lagi. Ini, nih alasannya lo nggak laku-laku sampai sekarang. Lo nggak bisa memahami cewek.”
“Ye ...kayak lo tahu tentang cewek aja. Pacaran aja juga nggak pernah,” kesal Delta sembari menyodorkan seporsi soto ayam ke hadapan Violet.
Reksa tersenyum tipis. “Setidaknya gue paham,” sahut Reksa kemudian menepuk bahu Delta dan berlalu menuju ibu kantin untuk memesan sesuatu. Lagi dan lagi, Violet membeku di tempatnya ketika mendengar penuturan Reksa yang seolah peduli padanya. Entah mengapa, hati Violet rasanya berbunga-bunga.
“Maafin gue, ya, Let. Gue kurang peka tadi. Perkataan Reksa ada benernya juga, sih, hehe.”
Violet tersenyum tipis. “Gak apa-apa ...” sahutnya pelan kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah punggung tegap Reksa.
Mungkin nggak, sih itu kamu?