"L-lo mau apa?"
Viona dihempaskan setelah Rangga membawanya ke ruangan lain yang lebih sepi. Rangga tersenyum lebih tepatnya menyeringai, ia perlahan mendekati Viona dengan membuka satu-persatu kancing bajunya. Viona yang menyadari akan ada sesuatu hal yang tidak beres, gadis itu berdiri lalu berusaha lari tetapi Rangga berhasil mencegahnya dengan menjambak rambut gadis itu, lalu menariknya untuk menghadap pada dirinya dan ... Plak satu tamparan keras berhasil didapat oleh Viona sampai sudut bibirnya terluka mengeluarkan darah. Setelah itu Rangga kembali menghempaskan Viona hingga menabrak dinding.
"Gak usah pura-pura polos lo, gue yakin juga udah dipake sama Vaga," ucap Rangga dengan sedikit bernada tinggi.
Viona tidak menanggapi ucapan dari cowok b******k di depannya itu, ia meringis ketika merasakan perih di tangannya. Rupanya telapak tangan Viona terkena serpihan beling bekas botol minuman yang berserakan, rasa sakit itu bisa ia tahan hanya saja Viona sedang memikirkan bagaimana untuk kabur dari Rangga.
Cowok itu sudah semakin mendekati Viona dengan kancing baju yang sudah terlepas semua, sedangkan Viona tidak bisa lari ke mana-mana karena sudah mentok, Rangga berjongkok di depan Viona. Tatapan matanya seperti diliputi oleh sebuah keliaran dalam fantasinya sendiri. Bagaimana bisa Viona bisa memiliki perasaan pada laki-laki itu dulu, Rangga yang selalu bersikap manis sekarang malah menunjukkan sikap aslinya yang kejam dan beringas. Viona menyesal, sungguh, ia sangat menyesali dirinya sendiri yang terjebak dalam hubungan dengan Rangga.
"Topeng lo ke buka sekarang Rangga, gue jadi bisa liat sifat asli lo yang kayak binatang ini," kata Viona sama sekali tak takut, menatap Rangga dengan tatapan sengit.
Bahkan luka yang ia rasakan dari pipinya yang kebas dan telapak tangan yang terkena beling tak sebanding dengan kenyataan yang seterang ini tentang orang yang dulu pernah mengisi hari Viona. Satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata lentik gadis itu, bukan air mata penyesalan hubungannya yang kandas, melainkan air mata penyesalan telah menemui dan kenal dengan Rangga.
"See? Lo lihat sendiri 'kan, gue siapa sekarang. FYI selama lo jadi pacar gue pun, lo mungkin ke dua atau ke tiga. Hem lebih kayaknya."
"Baj*ngan," umpat Viona, detik berikutnya Rangga malah tertawa mengerikan.
"Gue bakal tunjukin yang mana artinta baj*ngan itu Viona."
Rangga mulai melancarkan aksinya, tetapi dengan cepat Viona berhasil menghindar. Gadis itu meronta-ronta demi menghindari paksaan yang dilakukan oleh Rangga.
Srak
Lagi-lagi baju Viona kembali dirobek, kali ini tepat menampilkan bentuk tubuh yang berisi dan padat milik Viona serta kulit d**a yang terlihat putih dan mulus. Mata Rangga berbinar seperti menemukan sebuah mangsa yang sangat empuk.
"Kenapa lo gak pernah bilang kalau tubuh lo memang sangat menggoda seperti ini," kata Rangga terdengar sangat menjijikan di telinga Viona.
"Gila!"
Bruk
Kesempatan untuk Viona lepas dari Rangga, ia mendorong cowok itu hingga tersungkur dan berjarak darinya. Tetapi nyatanya Viona tak bisa lepas begitu saja dari Rangga yang saat ini malah mencekal kaki Viona.
"Lo pikir bisa lari dari gue."
"Stop Rangga! Jangan lakuin sesuatu yang buat lo menyesal nanti! Tolong!" teriak Viona dan Rangga malah tertawa sangat kencang.
"Gak ada yang bisa nolongin lo di sini, Viona."
Situasi Viona semakin terdesak dan Rangga benar-benar gila sekarang, ia menarik ke dua kaki Viona setelahnya mencekal kuat ke dua tangan Viona masing-masing di samping kepalanya. Rangga berhasil mengendalikan Viona dengan posisi tepat di atas tubuh gadis itu.
"Kena lo sekarang."
"Rangga tolong, jangan kayak gini." Viona masih berusaha melepaskan diri dari cowok gila itu.
"Kenapa lo selalu nolak sama gue, Vio. Gue yakin lo juga udah ngelakuin hal ini sama Vaga 'kan. Meski pun keperawanan lo diambil dia, setidaknya bekas pun gue yakin lo masih nikmat."
Jujur, perkataan Rangga sangat membuat Viona merinding sekujur tubuhnya. Cowok gila, cowok m***m, cowok brengs*k, sebutan apa lagi yang pantas untuk Rangga sekarang.
"Lo pilih kasih, Vio," sambung Rangga.
"Cukup! Gue gak mau lagi denger bacotan jijik lo!" pekik Viona muak.
"Oke." Satu kata itu terlontar dari mulut Rangga dibarengi dengan seringai.
Rangga pikir malam ini ia akan berhasil meminta apa yang sudah ia inginkan sejak lama dari Viona. Rasa penasaran itu semakin tinggi ketika melihat Viona dan Vaga seperti sudah dekat. Rangga pula lah yang mengulik latar belakang Vaga, ia menyuruh spy untuk memata-matai Vaga dan terbitlah artikel itu. Rangga tidak tahu dampak yang diterima oleh Vaga atas artikel tersebut. Ah, meski pun Rangga tahu, tidak mungkin juga ia peduli yang ada Rangga akan senang melihat Vaga menderita.
Dalam keputusasaannya, Viona hanya berharap apa yang dilakukan Rangga padanya tidak akan meninggalkan trauma yang mendalam, walau pun mungkin tubuhnya sudah rusak, Viona tak tahu juga apa hidupnya akan semakin rusak. Ternyata, di dunia yang keras ini gadis cantik nan manis itu harus berjuang seorang diri untuk menjaga dirinya, tetapi malam ini dengan kejam Tuhan kembali membuat Viona jatuh dalam kubangan neraka dunia yang begitu menyakitkan.
Tenaga Viona sudah habis untuk meronta-ronta, akhirnya kepasrahan lah yang hendak Viona lakukan. Gadis itu memejamkan mata bulir bening sudah semakin deras mengalir dari ke dua bola matanya. Ia terisak karena tak ada satu pun orang yang bisa menolongnya sekarang, ia terisak dengan perasaan sesak yang begitu mendalam. Viona membayangkan kembali bagaimana perjalanan hidupnya yang terjal dan berliku-liku, sampai malam ini selesai pun ia yakin kehancuran baru yang akan Viona dapat. Sementara Rangga yang sudah melihat Viona berbaring dengan pasrah tersenyum senang, peluannya semakin besar, tanpa berlama-lama lagi Rangga mendekatkam wajahnya untuk meraup bibir ranum milik Viona.
Brak
Bugh
Sebelum Rangga berhasil mengambil ciuman pertama milik Viona dengan secepat kilat Vaga mendobrak pintu ruangan tersebut lalu menerjang Rangga hingga cowok itu berguling ke belakang. Tak henti di sana Vaga melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Rangga. Setelah melihat Rangga kalah telak, Vaga segera bangkit untuk menghampiri Viona.
"Vio, lo gak apa-apa? Vio buka mata lo," ucap Vaga, Viona membuka mata tepat saat itu ia menangis tersedu-sedu.
Vaga segera membawa Viona ke dalam pelukannya, menenangkan gadis itu dengan cara mengusap lembut kepalanya. "Lo aman sekarang."
Viona tak bisa lagi berkata-kata, hampir saja jika Vaga tak datang hidup Viona akan hancur.
"Aish sialan!" Rangga yang masih sadarkan diri mendesis seraya mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah. "Woy! Gue bayar lo semua buat habisin dia, b*****t!" Rangga berteriak, melihat dari jaraknya anak buah yang ia sewa tumbang karena Vaga.
Mendengar suara Rangga dan antek-anteknya yang akan datang menghampiri Vaga serta Viona, Vaga melepaskan pelukannya pada Viona, lalu melepaskan jaket yang ia kenakan untuk dipakai oleh gadis itu agar tubuhnya tidak terekspos meski pun jaket Vaga juga kotor dan sedikit sobek, tetapi lebih baik dari pada baju Viona yang sudah compang-camping.
"Lo ikutin gue," kata Vaga memberi intruksi.
"Gimana caranya kita bisa kabur? Lo udah kayak gitu, lo pasti kalah dari mereka."
"Udah ikut aja dengerin apa kata gue." Vaga menggandeng tangan Viona, lalu berlari menuju jendala tua yang kacanya sebagian sudah ada yang pecah.
Mengerti ke mana Vaga membawanya Viona membolakan mata dan benar saja dugaannya saat ini, mereka menerjang jendela itu hingga kaca yang tersisa pecah, kemudian Vaga menarik Viona dan kembali memeluknya saat ke duanya melayang di udara sebelum akhirnya terjun bebas ke bawah sana, tepat saat itu pula anak buah Rangga datang dan gagal menangkap mereka.
Bruk
Suara dentuman keras terdengar, Viona dan Vaga mendarat pada tumpukan kardus-kardus bekas, hampir saja mereka mati karena terjun dari lantai dua gedung itu. Jantung Viona berdegup sangat kencang, ia tak menyangka aksi gila yang dilakukan Vaga dengan membawanya.
"Vio bangun, kita selamat," sahut Vaga pada Viona yang masih memeluknya dengan sangat erat. "Vio."
"Lo gila Vaga!" teriak Viona bangkit lalu mendorong tubuh Vaga. "Kita hampir mati!"
"Buktinya kita masih selamat," kata Vaga santai.
"Gak waras lo."
"Ada yang lebih gak waras dari gue, Vio." Vaga menoleh ke atas sambil melihat pada Rangga yang sedang memaki-maki anak buahnya, ia tersenyum miring dan Viona melihat ke mana arah mata Vaga memandang.
Dari tempat mereka mendarat Rangga melihat Viona dan Vaga yang menatap ke arahnya, Rangga semakin marah dan kesal apa lagi ketika melihat senyuman mengejek yang diberikan untuknya dari Vaga, selain itu sebelum mereka pergi Vaga mengacungkan jari tengah pada Rangga sambil mengisyaratkan ejaan satu kata dengan gerakan mulutnya 'pe-cun-dang' hingga membuat laki-laki itu semakin kebakaran jenggot.
"Aaaarrrrgggh! Kejar mereka sekarang!" teriak Rangga memberi intruksi pada anak buahnya ketika Vaga dan Viona pergi.