Selepas pulang bertemu dengan Alora, Viona memutuskan untuk jalan-jalan lebih dahulu. Ia hendak ke taman kota yang letaknya tak jauh dari tempatnya saat ini. Karena dekat juga ia lebih memilih untuk berjalan kaki saja. Gadis itu menikmati perjalanannya dengan ditemani oleh angin sepoi-sepoi, matanya menerawang jauh ke atas sana.
"Ibu, apa sekarang Ibu sedang melihatku?" Viona mengatakan itu dalam hatinya.
Langit biru yang terbentang luas di atas sana seolah memanggil namanya untuk datang, tetapi Viona belum ingin bertemu dengan Ibunya. Ia masih ingin berada di dunia ini, banyak hal yang mesti ia selesaikan.
Brak
Lamunan Viona buyar ketika di depannya terjadi sebuah kecelakaan, motor sport yang melaju cukup tinggi terjungkal ketika hendak menghindari seorang Nenek yang menyebrang. Viona segera berlari bukan untuk menolong si pengendara motor, tetapi untuk menuntun lebih dulu Nenek-nenek itu. Karena kebetulan jalanan cukup sepi, alhasil belum ada yang menolong si pengendara motor, setelah Nenek itu berada di tepi jalan Viona segera berlari lagi untuk menolong orang yang terjatuh tersebut.
"Maaf, apa Mas baik-baik saja? Terima kasih sudah menghindari Nenek itu," ucap Viona sambil membantu pengendara motor untuk berdiri dan menepikan motornya.
Viona membawa si pengendara motor itu ke bahu jalan, barulah beberapa orang yang melintas berhenti untuk menolong pengendara tersebut. Tidak ada luka luar yang cukup serius saat para warga lain dan si pengendara motor mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Apa yakin tidak perlu ke rumah sakit?" tanya Viona.
"Gak perlu, gue baik-baik aja, kok," jawab si pengendara motor sambil membuka helm full facenya yang sejak tadi masih ia pakai.
Viona menutup mulutnya melihat laki-laki itu, jelas Viona mengenalnya. "Asher."
Cowok itu hanya tersenyum tipis lalu mengangguk mengiyakan dirinya adalah Asher.
"Lo beneran gak ada luka 'kan?" tanya Viona lagi memastikan.
"Aman-aman kok, aws."
Viona langsung menarik tangan Asher ketika cowok itu meringis dan melihat pada pergelangan telapak tangannya yang terluka.
"Aman-aman matamu, ini luka loh," gerutu Viona, Asher terkekeh.
Viona berinisiatif membawa Asher ke taman setelah memastikan juga bahwa Nenek tadi selamat. Kebetulan Nenek itu sudah dijemput oleh keluarganya, karena memang Nenek itu sudah pikun jadi sering pergi sendirian, keluarganya memohon maaf atas insiden yang menimpa Asher. Mereka menawarkan untuk pengobatan Asher ke rumah sakit, tetapi laki-laki itu menolaknya.
"Sini tangan lo." Viona datang kembali dengan membawa sekantong alat pengobatan.
"Luka dikit doang kok, nanti juga sembuh sendiri," ucap Asher yang merasa tidak perlu diobati sama sekali.
"Meski pun hanya luka sedikit kalau dibiarkan nanti infeksi. Jangan membiarkan luka sekecil apa pun ada di tubuh lo, itu prinsip gue, sih." Tanpa meminta izin lagi, Viona menarik tangan Asher lalu mulai mengobatinya.
Sementara Asher hanya diam saja, kali ini ia menuruti ucapan Viona. Laki-laki yang konon tampan nomor dua di kampus tidak berkutik ketika Viona dengan telaten mengobati Asher. Ia menatap Viona sampai tak berkedip, Asher tak pernah terlibat langsung dengan seorang gadis mana pun tanpa perasaan.
Namun, entah mengapa sejak saat itu melihat Viona, ya ketika Vaga, Ganta dan dirinya menghampiri Viona tempo hari ada sesuatu hal lain yang membuat Asher merasa terlibat sesuatu dengan Viona. Asher sendiri tidak tahu sesuatu itu apa dan ia bukan tipikal orang yang peduli pada urusan orang lain juga.
"Selesai," kata Viona terakhir menutup luka itu dengan hansaplats.
"Padahal ini sama sekali gak perlu," timpal Asher membolak-balik tangannya.
Viona tertawa kecil, lalu membuka tutup botol air mineral dan menyerahkannya pada Asher.
"Minum, lo abis jatuh," ucap Viona lagi karena Asher tak kunjung menerima air mineral tersebut.
Meski ragu Asher menerima dan meneguk air mineralnya.
"Tadi malam gue abis lihat sebuah luka yang dibuat langsung dengan kekerasan. Gue heran mereka sengaja membuat luka itu, tanpa memikirkan yang menanggungnya sakit atau enggak." Viona tiba-tiba mengingat apa yang terjadi tadi malam, baginya tindakan yang menimpa Vaga adalah sebuah tindakan yang bisa dihindari.
"Kadang apa yang terlihat itu gak selalu sama dengan yang dirasakan. Mungkin saja orang yang lo maksud merasakan sakit tetapi tidak diungkapkan secara langsung," balas Asher, Viona mengangguk.
"Maka dari itu setiap gue terluka, gue selalu berusaha untuk mengobati luka itu. Mungkin akan membekas tapi akan lebih baik, dari pada dibiarkan mengering sendiri tanpa pengobatan."
Asher tahu maksud Viona ke arah mana, ia juga mengerti dan sedang mengalami hal yang sama. Setiap orang punya luka masing-masing, hanya saja cara metode penyembuhannya yang bagaimana? Jika dibiarkan mengering tanpa pengobatan, sama saja hanya menutup luka lama lantas ketika luka baru muncul akhirnya menjadi menumpuk. Istilah ini mungkin lebih sering banyak dipakai orang, tetapi bagi Viona cara untuk sembuh adalah dengan mengobati. Jika bukan dirinya sendiri yang mengobati, tidak akan ada orang lain yang mau peduli.
Viona terdiam cukup lama, pikirannya mendadak teringat pada Rangga yang telah menukar dirinya, pada sang ayah yang telah menjualnya dan pada Vaga yang kerap membuat Viona sakit hati. Semua itu jika menumpuk pada hatinya, hanya akan menambah penyakit saja, Viona berusaha untuk menerima demi dirinya sendiri, prinsip itu lah yang membuatnya tetap semangat sampai saat ini.
Asher yang sejak tadi melihat pada Viona, tampak terpaku pada perkataan gadis itu. Selain cantik, Viona juga terlihat cerdas. "Soal Vaga, biar gue yang bantu lunasin uang itu."
Seketika Viona menoleh saat mendengar apa yang diucapkan Asher. "Eh, gak usah." Jelas ia tak akan menerima begitu saja bantuan dari Asher.
"Gue bisa ganti dan lo bisa lepas dari dia, gue yakin Vaga pasti semena-mena sama lo. Gue cukup tau dia gimana," ucap Asher, terlihat dari nada bicaranya tampak sedikit khawatir pada Viona.
Viona meringis, jika ia punya uang banyak pun sudah sejak lama Viona ingin lepas dari Vaga. Tapi faktanya sekarang Viona malah terjebak tinggal bersama laki-laki itu, bagaimana cara Viona mengatakan hal tersebut pada Asher. Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa satu atap dengan Vaga, Viona takut malah Asher mencurigai dirinya.
"Ini bukan soal uang aja, Sher. Tapi tentang harga diri gue yang dipermainkan, jadi meski pun lo bisa bantu gue, lo gak akan bisa bantu balikin harga diri gue."
Betul, Asher terdiam detik berikutnya ia juga mengangguk membenarkan. Harga diri Viona sebagai seorang perempuan telah dipermainkan oleh Vaga, apa lagi jika ia mengatakan pada Ahser apa yang diminta oleh Vaga atas hutang Rangga, Viona akan semakin merasa buruk di depan cowok itu.
"Sebelumnya makasih udah menawarkan diri, gue ngerti maksud lo baik," lanjut Viona.
"Mana ponsel lo?"
Asher malah mengatakan hal lain pada Viona, meski bingung Viona tetap memberikan ponsel miliknya pada Asher. Kemudian laki-laki itu mengetikkan beberapa digit angka, tak lama kemudian menelpon melalui ponsel Viona. Rupanya Asher sedang menyimpan nomornya di ponsel Viona, begitu pun sebaliknya. Ketika sudah selesai ponsel Viona berdering dan tak sengaja Asher melihat siapa yang menelepon gadis itu.
"Tuan muda," gumam Asher yang masih terdengar oleh Viona.
Dengan cepat Viona mengambil ponselnya dari tangan Asher, ia hanya menyengir padanya lalu mengangkat telepon ini. Sedangkan Asher mengangkat sebelah alisnya, siapa yang menelepon Viona dengan user name 'Tuan Muda'.
"Woy! Di mana lo!" Gendang telinga Viona akan pecah jika tidak menjauhkan ponselnya dari suara teriakan itu. "Balik sekarang!" titahnya tanpa dibantah, bahkan belum sempat Viona menjawab telepon sudah dimatikan.