Cincin

1430 Words
Vaga mengerjapkan mata, perlahan ke dua kelopak matanya itu terbuka dan saat ia benar-benar sudah terbangun dari tidurnya, hal pertama yang ia lihat adalah Viona yang sedang terlelap di depannya. Ah tidak-tidak bukan hanya sekedar ada di depannya saja, tetapi tangan Viona melingkar di pinggangnya, bahkan deru nafas gadis itu dapat Vaga dengar. Seketika Vaga membolakan mata, ia mencoba mengingat apa yang sudah mereka lakukan tadi malam, tidak ada mereka tidak melakukan hal apa pun yang tidak-tidak. Vaga mengingat jika Viona memang takut gelap dan petir, jadi begitulah akhirnya mereka tidur dalam satu selimut yang sama. Tetapi siapa sangka jika ke duanya tidur sambil berpelukan, satu pertanyaan muncul dalam benak Vaga, apa sepanjang malam mereka seperti itu? Vaga bergidik, jangan sampai ia menjadikan Viona sebagai istrinya benaran, tidak Vaga tidak mau! "Bangun!" teriak Vaga lalu mendorong tubuh Viona hingga terpental ke belakang. "Apa? Ada apa? Siapa yang jadi bencong!" "Mata lo bencong. Keluar dari kamar gue sekarang!" teriak Vaga lagi. Sontak saja ketika menyadari bahwa dirinya sedang ada di kamar Vaga, Viona reflek menutupi tubuhnya sendiri. "Heh! Gue gak apa-apain lo." Viona mengernyit menatap tak percaya pada cowok itu, Vaga yang merasa dicurigai turun dari ranjang lalu menghampiri Viona dan langsung menyeret gadis itu untuk keluar dari kamarnya. "Gue gak selera kalau harus ngerasain bekas Bokap gue sendiri," kata Vaga sesaat setelah Viona ia hempaskan keluar kamarnya begitu saja. Viona tertegun mendengar itu, lebih tepatnya hatinya merasa terluka, ia kembali menghadapi Vaga. "Apa? Bekas? Lo pikir gue semurahan itu?" "Kalau bukan bekas apa lagi? Lo rela dibayar untuk dijadikan pemuas nafsu Bokap, ya gue gak mau lah dapet bekas sekali pun itu bekas orang tua gue sendiri." Plak Usai mengatakan itu dengan memandang Viona rendah, Vaga berhasil menerima satu tamparan keras dari Viona. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca, terlihat sangat jelas bulir bening berkumpul di satu titik yang sama yaitu pelupuk matanya. "Tutup mulut lo, meskipun Bokap gue sendiri yang jual gue ke Bokap lo, gue gak sehina itu untuk mengalayanin orang yang sama sekali bukan suami gue." Viona berbalik hendak berlalu, tetapi langkahnya terhenti ketika Vaga mencekal lengannya. "Lo berani nampar gue?" desis Vaga terdengar menahan amarahnya. Viona menghempas tangan Vaga yang memegang lengannya, ia menatap laki-laki itu dengan datar. "Kenapa harus takut ketika mulut lo udah jahat ke gue, lo pikir gue akan diem gitu aja saat lo udah injek-injek gue. Enggak Vaga, gue manusia lo juga manusia, kita sama-sama makan nasi dan gue gak harus bertekuk lutut sama lo." Setelah mengatakan itu kali ini Viona berbalik dan benar-benar meninggalkan Vaga yang masih tercengang karena ucapannya. "Dasar orang jahat," gumam Viona yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Ia pikir Viona tidak bisa membalas perlakuan buruk yang Vaga berikan, jangan salah jika Viona ditindas maka ia akan menindas balik orang yang sudah menindasnya, sekali pun orang itu adalah Vaga. Seperti apa yang di katakannya beberapa detik yang lalu, dirinya dan Vaga sama-sama makan nasi, sama-sama manusia lantas apa yang harus ia takuti ketika direndahkan oleh orang yang juga tidak lebih baik darinya. Sementara Vaga yang masih shock atas perkataan gadis itu memegangi pipinya karena terasa nyeri, tamparan Viona tidak serta merta membuat cowok itu sadar akan ucapannya pada Viona yang sudah terkesan merendahkannya. Vaga juga tidak ingin menarik kata-katanya, Viona pikir setelah ia berhasil melihat sisi lain dari seorang Vaga, Viona akan memiliki celah untuk mendekatinya, tidak akan pernah. Vaga tidak akan goyah pada dirinya sendiri. Laki-laki itu menghela nafas panjang, perkataan dan perasaannya mengatakan hal lain, Vaga meraba jantungnya saat mengingat kejadian tadi malam. Jika ia tidak berkilah mungkin Viona akan bertanya lebih lanjut untuk hal yang Vaga sendiri belum bisa pastikan kebenarannya. "Cewek aneh," gumam Vaga kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya. *** "Lo kenapa sih, Sher. Kalo lo terus ngehindarin gue kayak gini, justru gue bakal makin ngejar lo." Seperti biasa setelah melakukan ritual terlarang antara Asher dan Alora, selalu terjadi keributan kecil yang mereka ciptakan. Asher menyesap sebatang rokoknya tanpa peduli dengan ucapan Alora. "Lo pikir, lo siapa, Lora," katanya dengan santai tanpa ekspresi sedikit pun. Alora tersentak, benar siapa dirinya, tapi ia juga merasa hubungannya dengan Asher harus diperjelas. "Apa selama ini yang gue kasih ke lo itu belum membuktikan diri gue ke lo bahwa 'siapa' gue buat lo." Asher terkekeh, ia berbalik untuk berhadapan dengan Alora. "Lo lagi ngelawak atau apa? Setiap kita melakukan itu, gue selalu bayar lo 'kan?" Lagi-lagi benar, Asher mengatakan sebuah kebenaran yang tidak bisa Alora bantah. Wanita itu terlihat mengepalkan tangannya di bawah sana, ia ingin marah tetapi uang yang diberikan Asher sudah sangat menjamin hidupnya. "Kenapa lo nolongin gue waktu itu?" "Peri kemanusiaan." "Tapi gue lihat hal lain dari mata lo." Asher menyunggingkan senyum sinis. "Sok tau." "Apa karena ini?" Alora membuka telapak tangannya hingga memperlihatkan sebuah cincin yang membuat Asher membolakan mata. Jelas terlihat, Alora tahu Asher tertarik karena cincin itu. Alora bisa melihat dari tatapan mata Asher yang menyiratkan banyak pertanyaan tapi enggan untuk bertanya. "Ini cincin masa kecil gue," terang Alora, terlihat Asher malah memalingkan wajahnya. "Gue dapat dari seseorang yang pernah nolongin gue waktu kecil dulu," sambung Alora sambil tersenyum kecil, sedangkan Asher yang mendengar itu mulai berdiri tidak tenang. "Dulu waktu gue liburan ke sebuah pantai, ada anak laki-laki yang hampir tenggelam di laut, gue nolong dia dan sebagai tanda terimakasih anak itu kasih cincin ini ke gue. Semula gue gak hiraukan, tapi berkat cincin ini gue bisa bertahan sampe sekarang. Kalau gue dikasih kesempatan untuk ketemu dia lagi, gue pengen banget ketemu dia untuk bilang makasih karena udah kasih gue cincin ini." Alora menceritakan dengan menerawang jauh sambil tersenyum membayangkan kejadian tempo dulu. "Pergi." Asher yang cukup terganggu dengan cerita Alora, malah mengusir wanita itu. Bagi Asher cukup untuk hari ini, ia tak mau mendengar apa pun lagi dari Alora. Asher menarik tangan Alora untuk keluar dari kamar hotel ini, setelah pintu tertutup Asher merasakan sebuah dengungan dari gendang telinganya. Ia menutupi ke dua telinganya dengan ke dua tangannya memori kilas balik saat dirinya tenggelam seolah menari-nari dalam benaknya, Asher melihat dua orang yang sedang melihat padanya saat tenggelam tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menolongnya. Hingga akhirnya ada seorang anak perempuan menerjang ombak dan berenang menghampirinya. Ia selamat tapi tidak dengan cerita hidupnya sampai detik ini. Sementara Alora yang merasa sudah menceritakan inti penting dari bagaimana kisah pertemuan dua orang anak yang begitu dramatis tersenyum senang, sambil memakai cincin itu Alora melenggang pergi dengan melakukan panggilan telepon. "Oke kebetulan tempatnya deket dari tempat gue berada sekarang." *** "Aaaaaa Vio!" "Lora!" "Gue kangen banget sama lo," ucap Alora sambil memeluk Viona. "Gue juga," balas Viona dengan hal yang sama. Lantas ke duanya duduk saling berhadapan sambil berpegangan tangan, mereka adalah dua teman yang cukup akrab. Mereka kenal karena pernah bekerja di tempat yang sama, lalu juga pernah satu kos bersama dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya Viona harus kembali pulang ke rumah ayahnya karena sang ayah yang terus berbuat onar di tempatnya. Beberapa waktu lalu memang mereka rutin bertemu untuk sekedar saling bercerita mengenai hidup masing-masing, tetapi tempo hari saat Alora sedang membutuhkan Viona, gadis itu tidak bisa datang menghampirinya karena ya dia juga sedang mengalami masalah. "Lo sekarang tinggal di mana?" tanya Alora pada Viona. Viona bergeming, ia sendiri bingung untuk menjawab apa pada Alora. "Eum sama majikan gue sih di apartement," jawabnya sedikit canggung. "Kenapa lo ambil job itu Viona." "Gak masalah sih selagi gue dapet tempat tinggal," kata Viona lagi menjawab Alora. "Lo cantik, Vio. Lo gak pantes jadi ART." "Hah ART? Ah iya-iya, gak apa-apa selagi itu cuan." Viona meringis ketika Alora menyimpulkan sendiri tentang pekerjaan yang di lakukannya. Tidak salah juga sih, memang di apartement Vaga, ia melakukan pekerjaan ART alias asisten rumah tangga, menanggapi fakta itu Viona menghela nafas panjang. "Oh iya, Lora. Gue minta maaf ya waktu itu gue gak bisa datang pas lo lagi butuh," sesal Viona. "Apa sih, lo. Ya gak apa-apa lah, gue ngerti juga keadaan lo." Lantas ke duanya saling berbincang hangat sambil menunggu makanan yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya mata Viona tertuju pada sebuah cincin yang melingkar di jari kelingking Alona. "Euh, Lora lo masih simpen cincin itu?" Alora mengalihkan pandangannya untuk melihat pada cincin itu, ia tersenyum kemudian kembali melihat pada Viona. "Iya gue suka sama cincin ini, makasih Vio udah izinin gue milikin cincin ini," kata Alora. "Ya gak apa-apa, sih. Lo juga yang minta sendiri, cuma cincin itu ... seperti yang Lo tau kisahnya gimana," jawab Viona dan respon Alora hanya mengangguk-angguk. "Makasih Vio, karena berkat cincin lo ini, gue jadi punya alasan kuat buat milikin Asher juga," ucap Alora dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD