"Aaaaaaaa! Viona lo bego-bego!" Viona berteriak sambil mencak-mencak di dalam kamar.
Ia baru tersadarkan karena apa yang di lakukannya tadi sudah sangat mencampuri urusan Vaga dan keluarganya, tetapi disisi lain ia juga tak bisa membiarkan Vaga terus mendapat kekerasan itu padahal tidak bersalah. Dan sebelum mereka pulang tadi, mereka diberi kesempatan oleh Kakek Adi untuk membuktikan bahwa rumor itu tidak disebarkan oleh Vaga.
Sekarang Viona bingung sendiri bagaimana cara membuktikannya, Viona bangkit dari kasur, ia menghela nafas panjang teringat jika luka-luka yang didapat oleh Vaga tadi belum diobati. Ketika ia hendak berdiri, Viona meringis karena ternyata dirinya juga terluka karena satu cambukan untuk melindungi Vaga tadi. Viona berdiri untuk berjalan menuju cermin dan melihat pada punggung, seketika ia terkejut melihat luka panjang berwarna merah, jika dibiarkan pasti akan meninggalkan bekas, lantas bagaimana dengan luka yang Vaga terima.
"Segini aja sakit, apa lagi dia. Hem Vio, lo sok jadi pahlawan banget sih."
Setelah berganti baju dan bersusah payah mengoles salep, Viona keluar dari kamar lalu membuatkan suatu makanan untuk Vaga. Cowok itu belum terlihat makan dan saat semuanya selesai Viona membawanya dengan satu nampan yang sudah berisikan juga obat serta salep untuknya, kemudian ia berjalan menuju lantai atas.
Viona mengetuk pintu kamar Vaga, tetapi tak ada respon sama sekali, ketukannya kali ini sedikit brutal agar cowok itu membukakan pintu untuknya. Selang beberapa menit, akhirnya Vaga membuka pintu itu dengan memasang ekspresi jutek.
"Mau apa lo?"
Viona menjawab pertanyaan Vaga dengan isyarat mata menunjuk pada nampan yang di bawanya.
"Gak perlu."
Sementara Vaga menolak mentah-mentah makanan itu, ia hendak kembali menutup pintu kamarnya tetapi dengan cepat Viona menjulurkan kakinya agar pintu itu tidak tertutup, lalu tanpa permisi Viona masuk ke dalam kamar Vaga.
"Lancang banget lo!"
"Gue cuma pengen lo makan," timpal Viona cepat.
"Gue gak mau makan, keluar!"
"Batu banget sih lo!"
Viona yang tidak mendengarkan Vaga malah menarik tubuh cowok itu, lalu melihat pada punggungnya. Benar saja bahkan darah dari bekas cambukkan sangat terlihat, Vaga belum berganti pakaian, kemeja yang dikenakannya cukup tipis hingga cukup terlihat luka-lukanya.
"Lo mau ngebiarin luka ini?"
Vaga menepis tangan Viona, sampai gadis itu terhuyung ke belakang. "Gak usah sok peduli, gara-gara lo semua jadi kacau."
"Kok gara-gara gue, bukannya terima kasih udah gue tolongin."
"Gue gak perlu lo tolongin, gue gak butuh bantuan lo. Justru karena lo semua jadi kacau, kalo lo gak ikut campur saat ini mereka gak akan tertarik sedikit pun sama gue!" Vaga terlihat sangat marah pada Viona.
"Apa sih maksud lo!"
"Lo gak ngerti sama hidup gue, jadi gak usah sok jadi pahlawan buat gue, Viona!" sentaknya membuat Viona terdiam. "Dengan cara lo kaya gitu tadi, mereka akan mulai usik gue, cari tahu keseharian gue dan akan mulai cari tau lo juga. Lo gak akan selamat, Viona," lanjut Vaga menatap Viona tajam.
Viona bergeming, mendadak bulu kuduknya merinding. Ucapan Vaga baginya cukup menakutkan, apa lagi membahas tentang keselamatan, mendadak Viona menyesali apa yang di perbuatnya tadi.
"Gue cuma cukup nerima hukuman itu, terus pulang kalo semua udah selesai. Tapi gara-gara lo, hidup gue ke depannya gak akan tenang." Lagi kata Vaga bersuara.
"Tapi lo gak berhak dapat kekerasan kayak gitu, Vaga." Akhirnya Viona buka suara dengan nada lemah, ia tak ingin menandingi nada bicara Vaga yang cukup tinggi.
Viona tahu jika ia menanggapi Vaga dengan cara yang sama, mereka hanya akan ribut yang tidak berkesudahan.
"Berhak atau tidak bukan lo yang tentuin, Vio. Gue cuma anak haram Papa dan bagi mereka gue itu benalu di keluarga ini, gue gak pernah ada, gue gak pernah terlihat, jadi untuk apa gue peduli. Gue hanya cukup datang ketika di panggil dan nurutin apa yang mereka mau."
"Lo manusi, bukan binatang apa lagi benda mati!"
Vaga menyunggingkan senyum sinis, selama hidupnya memang seperti itu, ia tak terlihat, terasingkan dan terlupakan. Lantas untuk apa peduli pada jati dirinya yang hanya anak haram, ia hanya perlu ketenangan yang jauh dari mereka semua.
"Lo gak akan pernah paham ada diposisi gue," celetuk Vaga.
"Apa lagi yang harus gue pahami? Bokap yang udah jual gue, pacar yang udah gadai gue, terus sekarang gue harus terjebak sama lo yang tempramental? Justru karena gue paham, gue gak bisa diemin orang disiksa begitu di depan mata gue. Setiap kehidupan punya cerita masing-masing Vaga, lo punya cerita sendiri begitu pun dengan gue. Semua gak bisa lo anggap sama yang gak punya beban masing-masing, baik lo, gue, atau pun orang lain mereka pasti punya alur cerita sendiri. Tapi mereka juga sama pasti ingin menutupi yang buruk-buruknya, gak salah kok. Yang salah adalah ketika lo gak salah tapi lo harus mendapat kekerasan, stop Vaga, sampai kapan? Lo gak sayang sama diri lo sendiri?" ungkap Viona panjang lebar berhasil membuat Vaga tertegun.
Ia menatap gadis itu dengan penuh arti, baru pertama kali ini ia mendengar sebuah kalimat yang terasa seolah sedang menasehatinya. Dari kecil Vaga tidak pernah mendapat arahan, ia tak tahu bagaimana harus bersikap tetapi saat ini ketika mendengar Viona mengatakan hal itu, bukan semua amarah yang hadir dalam hatinya melainkan sebuah rasa hangat tercipta karena Vaga merasa ada seseorang yang peduli padanya.
Melihat Vaga yang terdiam menjadi kesempatan untuk Viona. "Biar gue obatin luka lo," katanya menarik tangan Vaga lalu membawanya untuk duduk di atas ranjang.
Akhirnya Vaga menurut, ia membuka satu-persatu kancing kemeja lalu membukanya dengan membelakangi Viona. Seketika Viona meneguk ludah saat melihat baretan luka Vaga di sana, tak hanya luka baru, terdapat juga beberapa bekas luka yang mengering dan sudah lama. Tanpa banyak bicara lagi, Viona mulai mengobati Vaga dengan seksama.
Gadis itu sangat telaten mengurus luka-luka Vaga, terakhir Viona mencoba melilitkan perban terpaksa ia setengah berdiri di atas ranjang, lalu meminta izin untuk memakaikan perban dengan cara melingkari dari bekalang ke depan begitu seterusnya, hingga posisi mereka benar-benar dekat dengan Viona yang seolah-olah akan memeluk Vaga.
Sedangkan cowok itu hanya terdiam, ia tak berekspresi apa pun, tetapi dalam dadanya sebuah irama berdetak-detak cukup kencang seolah sedang akan mengadakan konser, Vaga memejamkan mata untuk menetralisir degup jantungnya, jangan sampai Viona tahu jika Vaga sedang gugup saat ini.
"Sudah," ucap Viona ketika semua perbannya terpakai.
Vaga membuka mata, tak sengaja dirinya terlihat di depan cermin sana, begitu pun dengan Viona di belakangnya. Vaga melihat wajah gadis itu, seketika teringat moment tadi saat Viona menangis karena membela Vaga, lalu dirinya yang memeluk gadis itu untuk menenangkannta, ia tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Sudah beberapa kali terlibat dengan moment tertentu dengan gadis itu membuat Vaga merasakan hal aneh. Ia menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan Viona dalam benaknya.
"Lo mau jadiin gue mumi," ucap Vaga langsung berdiri lalu berbalik untuk melihat Viona.
"Eum anu, gue bingung harus perban lo gimana jadi ya udah gitu aja."
"Ck. Udah keluar sana, gue mau tidur."
"Gue balik ke kamar tapi lo harus makan, makanan lo," kata Viona memperingati.
"Iya-iya bawel banget Ibu tiri."
Viona mendelik tadi saja di depan keluarganya Vaga menyebutkan dirinya sebagai calon istrinya, sekarang malah kembali lagi menyebut Ibu tiri. Ah, sudah lah SSV (suka-suka Vaga) Viona sudah cukup lelah, ia ingin segera berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Selepas Viona pergi Vaga menghela nafas panjang, ia meraba dadanya sendiri, degupnya sudah berkurang. "Lo gak waras Vaga," gumamnya.
Duar
Jep!
"Aaaaaa!"
Dugh
"Gue takut petir sama gelap!"
Lagi-lagi Vaga harus menahan nafas ketika Viona tiba-tiba saja masuk menerobos kamarnya karena suara guntur dari luar juga mati lampu dalam waktu bersamaan. Viona yang masih ada di luar kamar Vaga reflek masuk lagi lalu memeluk cowok itu, sampai mereka berdua terjatuh di atas kasur.
Vaga bergeming dengan tindakan tiba-tiba Viona, ia merogoh ponselnya di saku celana lalu mengklik icon senter, tepat ketika penerangan itu menyorot ke arah Viona, Vaga bisa melihat jelas wajah Viona yang ketakutan.
"Vaga?"
Vaga tidak menjawab panggilan itu, Viona mendongak ke atas untuk melihat juga wajah Vaga, tatapan mereka kembali bertemu.
"Sorry," kata Viona menyengir. "Gue takut sama gelap dan suara petir," sambungnya.
"O-oke," jawab Vaga terbata.
"Tapi ..."
"Tapi a-apa?"
"Lo juga takut petir sama gelap? Jantung lo bunyinya keras banget."
Damn!