"Calon Istri?" Semua orang terkejut mendengar penuturan Vaga, termasuk Viona yang sudah mengangakan mulut tak percaya dengan ucapan Vaga.
Sementara Kakek Adi hanya berekspresi dengan datar, kemudian bersuara. "Kamu tahu apa yang kamu sebabkan harus kamu tanggung konsekuensinya?"
Vaga menoleh pada Kakek Adi, ia tersenyum miring. "Jelas tahu, biar pun itu bukan kesalahan gue, tetap gue yang harus kena konsekuensinya 'kan, " ucap Vaga dengan berani.
"Vaga, bicara yang sopan dengan Kakek. Dasar anak haram tak tahu sopan santun," sela Tante Sinta.
Tidah aneh bagi Vaga yang harus menerima semua ucapan-ucapan buruk dari keluarganya, tetapi bagi Viona itu adalah pertama kalinya ia mendengar seorang Savaga ternilai rendah dihadapan orang lain, ah bukan, dihadapan keluarganya sendiri. Entah mengapa Viona menurunkan tangan Vaga yang sedang mencekal lengannya, lalu mengamit telapa tangan Vaga untuk ia genggam. Viona tidak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin menjadi kekuatan Vaga untuk saat ini. Vaga tidak bereaksi apa pun ketika Viona meraih tangannya, tetapi semua orang melihat tangan mereka saling bertaut
"Gue udah sangat sopan, kok. Salah lagi kah?" timpal Vaga melawan Tante Sinta.
Kakek Adi tidak bersuara apa pun ia hanya menggeram rendah lalu mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas tongkat. Semua mendadak hening, pria lanjut usia itu tampak tengah berpikir kemudian ia mengangkat tongkatnya untuk menunjuk Vaga tepat mengenai bahunya.
"Buka jasmu, lalu berlutut di sana," titah Kakek Adi seraya menunjuk space kosong di ruang tamu dekat dengan sofa.
Tanpa banyak bicara Vaga melepas jasnya, itu artinya ia melepaskan genggaman tangan Viona, lalu menyerahkan jas itu untuk di pegang oleh Viona. Berikutnya Vaga menggulung kemeja putihnya hingga sebatas lengan, sebelum menuju tempat yang ditunjuk oleh Kakek Adi, Vaga lagi-lagi melihat ke atas begitu juga dengan Viona yang mengikuti arah pandang Vaga. Papa Surya masih ada di sana, berkat Viona dan Vaga yang menengok ke atas tanpa perkataan atau sapaan apa pun Papa Surya memutus pandangannya, berbalik, lalu pergi.
Viona melihat itu, lalu melihat lagi pada Vaga. Sungguh ia tak mengerti dengan situasi ini, tetapi Viona hanya berusaha untuk tetap diam mengikuti alur yang diberikan oleh keluarga tersebut. Toh, Viona tidak berhak mencampuri urusan mereka. Kembali pada Vaga, cowok itu sudah berlutut di ruang kosong tersebut, lantas Kakek Adi berjalan menuju sudut ruangan untuk mengambil pecut yang digantung di sana.
Setelah itu Kakek Adi menghampiri Vaga dengan berdiri di depannya. "Kau tahu, saya sudah berusaha untuk menutupi semua ini, tapi keberadaanmu sekarang sudah mulai terpublikasi. Kamu tahu kerugian yang saya dapat akibat rumor itu?"
Ctak
"Aaaaa!" Yang berteriak adalah Viona sambil menutup wajahnya.
Kakek Adi mencambuk punggung Vaga membuat Viona yang melihatnya terkejut. Itu adalah cambuk, yang Viona tahu untuk memecut kuda agar berjalan, bahkan seorang kusir kuda pun hanya memecut kudanya dengan pelan. Tapi Kakek Adi dengan sangat lantang mencambuk Vaga.
Gadis itu menoleh pada orang-orang yang ada di belakangnya, mereka tak ada yang menolong Vaga. Justru mereka terlihat tersenyum ketika Vaga dicambuk seperti itu. Keluarga stres menurut Viona.
"Kamu hanya aib yang harus tertutup rapat, tetapi beraninya kamu muncul ke permukaan. Berani sekali kamu!"
Ctak
Setiap kali Kakek Adi berucap maka satu cambukan akan melayang untuk Vaga. Dan sekarang cambuk-cambukan itu semakin banyak Vaga dapatkan, Viona yang menyaksikannya sudah menangis, ia ingin menghentikan semua itu tetapi tak tahu harus bagaimana. Viona melihat Vaga tidak merespon sama sekali, ia heran saat di kampus Vaga tak segan-segan untuk membantai siapa pun yang mengusiknya tetapi mengapa kali ini Vaga hanya diam.
Viona tidak tahan lagi ia berlari lalu memeluk Vaga dari belakang, berkat itu satu cambukan berhasil mengenai punggungnya. Vaga menoleh pada Viona, Kakek Adi tediam dan juga semua orang yang ikut terkejut melihat tindakan Viona.
"Kakek tolong tenang dulu, ya. Ini semua bukan salah Vaga, bukan dia yang menyebarkan rumor itu," kata Viona bangkit berdiri lalu mencoba berbicara dengan Kakek Adi.
"Ka-kamu berani sekali ..."
"Ah, saya akan mengikuti semua permintaan Kakek sebagai ganti hukuman Vaga. Untuk sekarang Kakek tenang dulu ya, izinkan kami untuk mencari tahu asal muasal artikel itu bisa terbit, Saya dan Vaga berjanji akn membereskan masalah ini," sela Viona bernegosiasi pada Kakek Adi.
Kakek Adi terdiam, ia hanya melihat gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan, ia baru melihat Viona tetapi gadis itu dengan berani menghentikan perbuatannya pada Vaga.
"Saya tahu saat ini Kakek sangat marah, saya mengerti dengan perasaan Kakek. Tapi Kek, tidak adil rasanya ketika Vaga tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi ia harus menerima semua ini. Vaga adalah anak baik, dia tidak pernah mengeluh sakit. Ia menerima, tapi apa Kakek dan semua orang tahu perasaan Vaga yang sebenarnya?"
"Cukup Viona," sela Vaga sebelum Viona melanjutkan semua perkataannya. "Lo diem, sebelum Kakek puas dia gak akan berhenti buat lakuin ini."
Viona tertegun mendengar itu, artinya sudah sering Vaga mendapat perlakuan buruk dari keluarganya. Viona tidak bisa berhenti, kekerasan ada di depan matanya dan menimpa pada orang yang di kenalnya, Viona tidak tahan melihat semua itu.
"Kalo lo mau nanggung kesalahan yang bukan kesalahan lo, kenapa lo ajak gue ke sini? Gue gak bisa Vaga, gue gak bisa diem aja ketika lo dipecut kayak gitu," ucap Viona.
"Tante-Om, apa kalian senang melihat semua kejadian ini. Dan apa kalian yang di belakang sana juga suka melihat Vaga disiksa kayak gini?!" seru Viona pada semua orang termasuk para remaja yang hanya berdiam diri di balik meja makan, malah justru mereka menikmati makanan mereka dengan tenang saat Vaga harus menerima tindakan itu.
"Viona berhenti!"
"Kakek? Apa selama ini Vaga sering mendapat perlakuan ini? Apa kesalahan dia? Apa karena dia terlahir?" Viona tertawa sinis, tidak ada lagi rasa takut untuk menegakkan keadilan. "Kenapa memangnya kalau Vaga terlahir? Jika boleh memilih, saya yakin Vaga tidak akan mau terlahir bersama keluarga seperti ini."
"Viona cukup!" Vaga berdiri, menarik tangan Viona agar gadis itu berbalik melihat ke arahnya, dengan cepat gadis itu menyentak tangan Vaga.
"Lo bego atau gimana? Lo diem aja ditonton semua orang, ah iya ini yang lo maksud menikmati tontonan itu? Dengar Vaga, gue sama sekali gak menikmati ini semua, gue nyesel ikut lo ke rumah ini." Viona tampak sangat marah, ia tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi berikutnya.
"Gue cuma minta lo berhenti, gak usah ikut campur urusan gue, lo cukup diam, ngerti gak sih!"
Bugh
Viona memukul d**a Vaga bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir. "Bukan salah lo terlahir ke dunia."
Bugh
lagi Viona mengulang hal yang sama. "Bukan salah lo artikel-artikel sialan itu, tapi kenapa lo yang dapat pecutan itu."
Tanpa diduga Vaga menarik Viona ke dalam pelukannya, berkat itu Viona menangis lebih kencang lagi. "Lo bukan binatang, bahkan binatang aja masih punya rasa sayang ke anak-anaknya. Kenapa lo diem aja, kenapa lo terima semua ini? Lo bego, Vaga."
Tangis Viona menggelegar ke seluruh penjuru ruangan, membuat semuanya terdiam. Setiap kata yang Viona keluarkan berhasil membuat Vaga tertegun, gadis yang baru ia temui beberapa waktu ternyata mampu membuatnya merasakan perasaan yang tak menentu.
Bahkan gadis itu bisa menghentikan yang katanya hukuman untuk Vaga karena sebuah kesalahan yang tidak benar-benar ia lakukan, malam ini Viona menjadi penyelamatnya tetapi hal lain yang Vaga takuti. Laki-laki itu melihat pada Kakek Adi, memang sang Kakek hanya diam, tetapi dalam putaran otaknya Vaga yakin si tua bangka itu tak akan membiarkan Viona hidup tenang sekarang.
"Vaga," panggil Viona, melepaskan diri dari Vaga.
Cowok itu menoleh untuk melihat pada Viona, kemudian Viona melanjutkan perkataannya.
"Gak ada yang salah dari lahirnya lo ke dunia ini, lo berhak untuk mendapat tempat yang sama. Vaga, lo harus tegakkan kepala seperti biasanya, kalau semua orang gak mau kehadiran lo, sekarang ada gue yang hadir untuk lo."