Calon Istri

1316 Words
Vaga dan Viona saat ini berada di taman belakang kampus, mereka sedang mengeringkan pakaian masing. Mereka juga duduk dengan jarak tetapi masih pada bangku panjang yang sama, Vaga menyangga ke dua tubuhnya dengan satu tangan di bangku, kakinya ia selonjorkan dengan menyilang tak lupa juga sebatang nikotin yang asapnya sudah mengepul di udara. Sementara Viona melirik sinis pada cowok itu, gara-gara dia semuanya basah kuyup, detik berikutnya Viona meringis karena merasa malu. Beberapa menit yang lalu Viona kira Vaga akan mencium bibirnya, Viona sudah memejamkan mata tetapi ternyata Vaga hanya mempermainkan Viona dengan meniup wajahnya saja. Kan kalau mereka berhasil mendaratkan bibir satu sama lain, otomatis Viona akan lepas dari Vaga dan semua itu gagal total. "Gak segampang itu luluhin hati gue." Seolah mengerti dengan isi hati Viona, Vaga bersuara dan gadis itu menoleh padanya. "D-dih pede banget Lo," kata Viona sedikit terbata. "Gue tau isi otak lo, Vio." Viona mendengkus mendengar ucapan Vaga, ia tak lagi membalas perkataannya. Lebih baik ia menyibukkan dirinya untuk mengeringkan diri, ia memeras rambutnya yang masih mengeluarkan air. "Jadi gak akan segampang itu lo lepas dari gue," sambung Vaga. "Iya-iya gue gak akan gampang kabur dari lo, puas," jawab Viona dengan jutek, tetapi malah membuat Vaga tersenyum kecil karena merasa lucu dengan sikap gadis itu. Vaga menggelengkan kepala menyadari sikapnya yang sedikit goyah. "Apa-apaan lo, Vaga," ucapnya dalam hati. Namun tak dipungkiri Vaga mengingat kembali moment sebelumnya saat mereka terjatuh dan dirinya menimpa tubuh Viona. Vaga akui memang gadis itu cantik, pantas saja Papanya memilih Viona untuk menjadi simpanannya, mengetahui fakta itu rasa benci yang menyelimuti dirinya kembali hadir. Ting Satu pesan notifikasi masuk pada ponsel Vaga. Cowok itu merogoh mengambil ponselnya yang ada di sampingnya, melihat layar pop up menampilkan nama yang tak ingin di lihatnya, Vaga menghela nafas panjang. [Malam ini jam 7] Tulis pesan itu singkat, Vaga hanya membacanya tidak berniat membalas dan juga kemungkinan dari si pengirim pesan tak menunggu balasannya. Ia kembali menikmati sebatang nikotin penenang hatinya saat ini. "Sial," desis Vaga. *** "Pakai itu." Vaga menyerahkan dress warna hitam dengan lengan sebatas bahu dan panjang sebatas lutut di atas meja belajar Viona yang kebetulan gadis itu sedang belajar di sana. "Gue selesai, lo juga harus cepat selesai," lanjutnya kemudian berlalu pergi. Viona mengernyit melihat Vaga yang sudah pergi, lalu bergantian melihat pada dress itu. Meskipun dress tersebut lebih baik dari pada dress yang di pakainya tempo hari dari sang ayah, tetap saja Viona bertanya-tanya untuk apa dirinya memakai dress ini? Tetapi mau tak mau, Viona bergegas menuruti perintah cowok itu sebelum Vaga marah. Sementara Vaga kembali ke kamarnya, ia sedang berpakaian sambil bercermin dengan cermin besar di depannya. Vaga merapihkan kancing lengan bajunya, lalu mulai melingkarkan dasi di lerhernya untuk kemudian membuat simpul dasi di sana. Ia menatap dirinya di depan cermin dengan datar, tanpa ekspresi apa pun. Setelah selesai pada kemeja putihnya, Vaga mengambil jas hitam di atas kasur lalu mulai memakainya. Semua sudah sempurna Vaga tampak begitu mempesona dalam balutan tuksedo lengkap berwarna hitam putih tersebut. Lantas ia bergegas turun setelah mengambil kunci mobil di atas nakas, tepat ketika Vaga sedang menuruni anak tangga, Viona keluar dari kamarnya. Vaga menghentikan langkah sejenak di pertengahan anak tangga, kamar Viona memang berada di lantai bawah dekat dengan pintu keluar-masuk. Dari tempatnya berdiri Vaga, ia terdiam mengamati gerak-gerik Viona yang sedang merapihkan rambut. Dress hitam itu telah Viona pakai, rambut yang sengaja gadis itu gerai serta heels dengan hak sedang yang ia pakai menambah kesan elegant padanya. Viona tampak menawan dalam balutan dress tersebut, setelah selesai merapihkan rambut tak sengaja Viona melihat pada Vaga yang terpaku sedang melihat padanya. Begitu pula dengan Viona, gadis itu melihat Vaga dengan tatapan lain. "Cantik, tapi sayang simpenan Bokap." "Ganteng, tapi sayang tempramental." Mereka sama-sama berucap dalam hati, memuji tapi juga menghina. Vaga mengalihkan pandangan ia turun lagi dari anak tangga, lalu berjalan untuk menghampiri Viona. "Kita mau ke mana?" Pertanyaan itu keluar ketika Vaga yang Viona kira akan menghampirinya, melewati begitu saja gadis itu. "Gak usah banyak tanya, lo cuma cukup nonton aja," kata Vaga datar. Nonton? Sontak saja spekulasi lain hadir dalam benak Viona, tiba-tiba saja pipi Viona mendadak merona. Segera gadis itu menepuk pipinya untuk sadar dari hal yang semestinya tidak perlu di bayangkan. "Lo mikir apa, Vio," gumamnya lantas bergegas mengekori Vaga. Lagian siapa tahu memang Vaga mengajak kencan Viona. Dengan pakaian mereka yang masing-masing sudah tampak formal, siapa yang tidak mengira mereka akan kencan, terlebih Vaga mengatakan Viona cukup hanya menonton saja nanti. Pastilah pikiran gadis itu Vaga sedang akan membawanya pergi ke bioskop. Mereka telah sampai di parkiran, Viona mengernyit ketika tidak biasanya Vaga akan mengendarai mobil. Cowok itu setiap hari terlihat hanya dengan motornya saja. Meski begitu setelah Vaga masuk mobil, Viona masuk juga bedanya ia memilih masuk ke bagian belakang alias kursi penumpang belakang. Vaga mendengkus memutar bola matanya malas. "Lo pikir gue supir!" Vaga sedikit menaikkan intonasi nada bicaranya. "Iya-iya." Viona yang terkejut segera keluar lagi lalu pindah masuk untuk duduk di samping Vaga. "Gue kira lo nantinya gak akan nyaman duduk sampingan sama gue." "Gue lebih gak nyaman harus jadi supir lo," ketus Vaga. Viona mencebik, kalau ingin mengajaknya kencan ya tidak usah ketus-ketus begitu, sih. Lagi pula tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja mereka akan berkencan, kan Viona masih merasa malu. Tanpa ada obrolan lagi, Vaga mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup sedang. Benar saja, di dalam mobil semuanya hening tak ada yang memulai percakapan. Viona merasa canggung sendiri, ia berinisiatif untuk menyalakan musik di dashboard mobil Vaga agar suasana di dalam mobil ini sedikit mencair. "Jangan sentuh apa pun," ucap Vaga mencegah jari Viona menyentuh tombol musik. Gadis itu menelan ludah segera mengangkat lagi tangannya, lalu memilih untuk mengalihkan pandangan. "Lo ternyata cukup lancang, ya." "Gak maksud gitu, gue ngerasa aneh aja sama situasi ini. Lagian lo mau bawa gue ke mana sih," sanggah Viona yang memang begitulah yang ia rasakan. "Apa susahnya lo nurut aja, diem gak usah banyak bacot." Vaga yang kesal menginjak pedal gas mobil, hingga kecepatannya semakin bertambah. "Oke-oke Vaga, gue diem, aaaaaa!" Tak butuh waktu lama Vaga sudah sampai, memarkirkan mobilnya di depan rumah mewah. Vaga turun diikuti Viona di belakangnya, mereka berjalan masuk ke rumah mewah itu. Ternyata perkiraan Viona meleset jauh, Vaga tidak membawanya berkencan melainkan entahlah Viona sendiri tidak tahu ia sedang berada di mana sekarang. Vaga memencet bel masuk, tak lama kemudian pintu itu di buka dengan dua orang Pelayan di rumah itu. Viona terperangah melihat ke dalam isi rumah, juga melihat semua orang di depan sana seolah sedang menyambut kedatangan mereka, tidak-tidak mungkin menyambut kedatangan Vaga. Vaga melihat sejenak pada mereka di depan sana, kemudian mulai melangkah masuk begitu pula Viona yang masih mengikutinya di belakang. Mereka telah sampai di depan semua orang yang menunggunya, Vaga hendak menyalami seorang Kakek-kakek yang melihat padanya tanpa ekspresi apa pun. Tetapi tangan Vaga di tepis lalu ... Plak Satu tamparan keras melayang pada pipi cowok itu, Viona menutup mulutnya karena terkejut sementar Vaga hanya bergeming lalu kembali meluruskan kepalanya. "Kenapa bisa rumor itu tersebar! Apa yang kamu lakukan Savaga!" teriak Kakek tua di depan Vaga. "Cih! Nyari sensasi supaya dianggap sama keluarga, enak sekali kamu," ucap seorang wanita dengan make up cukup tebal di samping Kakek itu. "Bisa-bisanya sudah membuat kegaduhan, sekarang malah bawa seorang wanita ke sini lagi," timpal seorang pria yang perkiraan usianya tidak jauh berbeda dengan Papanya sendiri. Vaga yang mendengar Om-nya mengungkit Viona, langsung menoleh padanya tetapi pandangan matanya tertuju pada seorang pria paruh baya yang masih cukup gagah di atas sana tepatnya sedang melihat ke arahnya juga tanpa berniat untuk menghampiri. Diam-diam Vaga mengepalkan tangannya di bawah sana tanpa melepaskan pandangannya Vaga menarik tangan Viona untuk mendekat ke sampingnya. "Namanya Viona," sela Vaga, "Dia ... calon istri saya." Jika dengan gadis ini gue bisa balas Bokap, maka lihat saja Tuan Bramana, gue Savaga akan membalas semua yang lo lakuin ke anak lo ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD