Putus

1442 Words
"Gila, lo gila. Semua yang lo katakan itu gila." Sejak tadi Viona tak berhenti menggerutu, tak berhenti mondar-mandir. Viona dan Vaga tengah berada di rooftop kampus, Vaga duduk menopang kaki sambil sesekali tertawa kecil melihat kefrustasian Viona. "Lo gak percaya? Lo udah di jual sama pacar lo sendiri," kata Vaga begitu santai seolah-olah situasi ini sangat mudah dimengerti baginya. Namun nyatanya bagi Viona sendiri semua perkataan Vaga beberapa menit yang lalu sangat tidak masuk akal. Bagaimana tidak cowok itu mengatakan, Viona dijadikan sebagai ganti rugi karena pacarnya tidak bisa mengganti uang yang dibawa kabur. "Gak mungkin Rangga kayak gitu, dia sayang banget sama gue." Viona masih berusaha mengelak pernyataan yang dikeluarkan oleh Vaga. "Oh jadi namanya Rangga. Nama bagus tapi kelakuannya gak sebagus namanya," celetuk Vaga. "Diem deh lo." Viona sedikit menyentak Vaga, ia memijit keningnya, kepalanya mendadak berdenyut. Cowok itu seketika terdiam sambil menatap Viona. "Boleh juga nih cewek," katanya dalam hati. Pasalnya tidak ada yang berani menyela ucapan Vaga bahkan menyentaknya seperti itu. Kesan pertama yang diberikan Viona cukup membuat Vaga tertarik, terlebih saat tadi Vaga menjelaskan alasannya mengklaim Viona tanpa rasa takut gadis itu meneriaki Vaga. "Lo gak tau siapa gue?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Vaga. Siapa yang tidak mengenal sosok Savaga Adinandra, seluruh penghuni Universitas Bima Nusa pasti tahu siapa Vaga. Jika Viona tak tahu sangat mustahil kemungkinannya. "Penting buat gue tau siapa lo?" Detik itu juga ketika Vaga mendengar jawaban yang keluar dari mulut Viona membuatnya langsung bermuka datar. Vaga berdiri, ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Viona. "Lo gak tau gue?" tanya Vaga lagi kali ini penuh penekanan sambil menyorot tajam pada Viona. Tanpa rasa takut Viona maju satu langkah, ia tak kalah menatap tajam pada Vaga dengan mata sipitnya. "Gue harus tau lo itu Savaga Adinandra, playboy cap kadal terkenal bengis, kejam dan suka menindas, gitu? Harus banget gue tau lo, iya?" Mendengar perkataan Viona, Vaga mengepalkan tangannya, raut wajahnya pun sudah memerah. Apakah dirinya terkenal seperti itu di kampus ini? Agaknya Vaga merasa dirinya tak terlalu buruk, buktinya ia paling dipuja-puja. Namun mengapa bagi Viona seolah-olah menyiratkan semua keburukan ada dalam diri Vaga. Tak terima dengan perkataan Viona, Vaga mengangkat jari telunjuknya untuk menunjuk Viona. "Lo ..." "Apa?" Tak gentar sedikit pun Viona malah seperti menantang cowok itu. Mereka saling melempar pandangan tajam satu sama lain dengan jarak wajah yang hanya beberapa centimeter saja. "Lo berani sama gue?" "Ngapain gue harus takut sama lo? Lo bukan Tuhan yang mesti gue takutin." Lagi-lagi ucapan Viona berhasil membuat Vaga merasa kesal, tetapi detik berikutnya Vaga tersenyum miring. Viona bisa bersikap kurang ajar saat ini, tapi lihat saja nanti apakah gadis itu masih bisa bersikap arogant setelah menjadi b***k Vaga. Vaga mendekatkan wajahnya ke samping wajah Viona untuk berbisik di sana. "Lo boleh berani sama gue, tapi setelah ini lo bakal jadi boneka gue yang harus siap nurutin semua perintah gue." Kali ini Viona lah yang berhasil termakan oleh ucapan Vaga, gadis itu mengepalkan tangannya di bawah sana, mata sipitnya ia berusaha lebarkan untuk melototi Vaga. Cowok itu menjauhkan diri dari Viona untuk melihat ekspresi yang ditujukan gadis itu. Vaga menahan tawa saat berhasil membuat Viona merasa was-was. "Rangga gak mungkin ngelakuin itu sama gue," kata Viona masih berusaha denial. "Lo tanya aja sendiri sama dia," balas Vaga sambil mengedikkan kepalanya ke arah pintu masuk ke rooftop. Terlihat Asher dan Ganta mendorong Rangga untuk menghampiri Vaga dan Viona. Segera gadis itu menghampiri Rangga yang terlihat cukup babak belur. "Lo apain Rangga!" pekik Viona mengarah pada Vaga. Dengan santainya Vaga malah kembali duduk di kursi, ia bersiul-siul tanpa peduli celotehan dari gadis itu. "Kamu gak apa-apa, Ga?" tanya Viona yang hendak menyentuh pipi Rangga, tetapi cowok itu malah menghindari Viona dengan menjauhkan wajahnya. Viona merasa tertolak, tidak seperti biasanya Rangga bersikap seperti ini. "Mereka apain kamu?" Masih berusaha untuk mendekati Rangga, lagi-lagi Viona merasa ditolak karena Rangga terus menghindarinya. "Kamu kenapa sih, aku ada salah apa sama kamu?" Akhirnya Viona memutuskan untuk bertanya atas sikap Rangga padanya. Tidak mungkin 'kan apa yang dikatakan Vaga itu benar, tidak mungkin Rangga menukar Viona untuk mengganti uang Vaga yang dia bawa kabur. Viona berusaha untuk menepis segala pikiran buruk itu dalam benaknya, Viona sangat mempercayai Rangga. "Mulai detik ini kita putus, Vio." Kepercayaan itu runtuh seketika saat perkataan tersebut terlontar. Viona bergeming, ia mundur satu langkah, jadi benar apa yang dikatakan oleh Vaga jika dirinya secara tak langsung menjadi alat pelunasan hutang oleh Rangga. "Jadi dia benar? Rangga jawab aku, semua ini bohong 'kan. Kamu gak mungkin setega itu sama aku 'kan?" Viona menggoyangkan tubuh rangga, meminta penjelasan semua yang terjadi. "Vio maaf." Kata yang paling menyebalkan yang harus Viona dengar, Rangga melepaskan tangan Viona dari bahunya dari sorot matanya Viona melihat bahwa tidak ada rasa penyesalan sama sekali. Ah, apakah ini artinya Rangga tidak benar-benar mencintainya. Lantas selama ini sikap yang Rangga tunjukkan pada Viona itu sebuah kepalsuan? "Rangga hubungan kita baik-baik aja, kenapa kamu setega itu sama aku? Kamu tau kamu itu salah satu sumber kehidupan aku, jahat kamu Rangga." Kelopak mata Viona mulai berkaca-kaca, ia tak menyangka jika Rangga yang setaunya sangat menyayangi dirinya sanggup menukarnya dengan uang. Sementara Vaga berdecih, ia merasa muak dengan drama yang sedang berlangsung saat ini. Andai Viona tahu jika Rangga memang sebajing*n itu menyerahkan Viona padanya tanpa berpikir panjang, apalagi perkataan yang diucapkan Rangga tadi pagi menunjukkan bahwa dia lebih brengs*k dari dirinya sendiri. "Vio cukup. Aku udah capek berhubungan sama kamu." "Aku ada salah apa sama kamu sampe-sampe kamu harus capek sama aku. Aku gak pernah kayak cewek-cewek lain yang nuntut kamu, aku gak pernah overprotektif, aku salah apa Rangga?!" teriak Viona merasa tidak adil dengan keputusan Rangga. "Kamu gak usah munafik Viona, kamu tau aku mau apa dari kamu. Tapi apa? Kamu gak bisa penuhi, aku tau ya cewek miskin kayak kamu itu udah lepas segel terus kamu kenapa sok-sok'an jual mahal sama aku." "Brengs*ek," desis Asher yang mendengar ucapan Rangga. Plak Satu tamparan keras melayang pada pipi Rangga berasal dari Viona, ia tak menyangka jika Rangga—orang yang sangat ia percayai mampu mengucapkan kalimat-kalimat menyakitkan seperti itu. Jika tidak ada Ganta yang mencegah Asher untuk menghajar Rangga, mungkin si kunyuk satu itu sudah habis di tangan Asher. Sementara Vaga dari tempatnya hanya diam menyaksikan pertunjukkan yang semakin memanas. "Ternyata begini sifat asli lo. Oke, lo mau putus 'kan, gue terima. Mulai saat ini enyah dari hidup gue selamanya." Tidak ada lagi 'aku-kamu' yang terucap dari Viona untuk percakapannya dengan Rangga. Sedangkan Rangga yang masih menoleh ke samping akibat tamparan dari Viona, ia menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Ssh. Dasar cewek murahan!" Rangga menatap tajam pada Viona yang sudah berani menamparnya, tangannya terangkat hendak membalas yang sama dengan perlakuan Viona padanya. Melihat itu reflek Viona menutup mata, beberapa detik berlalu ia tidak merasakan tamparan yang mendarat ke pipinya. Viona membuka mata, saat itu pula ia melihat Vaga berdiri tepat di depannya sambil mencekal tangan Rangga yang sudah melayang di udara. Perlahan Vaga menoleh dengan pergerakan mata yang melirik bak lirikan elang pada Rangga, setelah tepat ia berhadapan dengan mulut lemes ini Vaga menyeringai berhasil membuat Rangga mati kutu terlebih lagi cekalan Vaga terasa sangat kuat mencekal lengannya, membuat Rangga juga meringis kesakitan. Apakah dia belum tahu, siapa pun yang berani melawannya akan Vaga beri sebuah hadiah besar yang tak akan pernah dilupakan. Sepertinya Rangga melupakan title seorang Vaga, apa lagi ia berani mengusik sesuatu yang sudah laki-laki itu serahkan sendiri padanya. Maka jangan salahkan Vaga jika sampai terjadi sesuatu pada dirinya sendiri. "Berani lo sentuh milik gue, habis lo di tangan gue," ucap Vaga dengan penuh intimidasi. "Cukup!" pekik Viona. "Lo berdua gak waras," katanya dengan wajah memerah. Sungguh ia tak habis pikir dengan dua laki-laki di depannya ini, mereka sama-sama gila. Mereka sama-sama tak memiliki perasaan sama sekali. Viona mendorong Vaga, berikutnya mendorong Rangga juga. Gadis itu menatap tajam pada Rangga, detik berikutnya telunjuknya terangkat menunjuk wajah Rangga. "Mulai detik ini, lo bukan siapa-siapa gue lagi. Lo cuma cowok gak punya hati dan gua anggap lo gak pernah ada dalam kehidupan gue. Walau pun sewaktu-waktu lo muncul tanpa sengaja, gue bersumpah gak akan pernah noleh lagi ke Lo, Rangga!" Perkataan Viona penuh penekanan, penuh kekecewaan dan penuh dengan gurat kesakitan yang sangat dalam. Selepas itu Viona berbalik, ia menatap Vaga dengan tajam tanpa berbicara sepatah kata pun, lalu mulai mengambil langkah untuk pergi meninggalkan dua orang gila itu. Tak terasa setetes air mata jatuh dari sudut matanya dengan cepat Viona menghapusnya, tak sudi sekali ia harus meneteskan air mata atas luka yang sudah Rangga berikan. "Lo berhasil Vio. Untuk sebuah luka lo selalu berhasil, Viona," ucapnya dalam hati yang sudah jelas untuk dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD