"Wah! Ada manusia sebrengsek mereka." Viona berdecak, ia masih tak menyangka dengan taruhan tak masuk akal antara Rangga dan Vaga.
Memangnya Viona itu barang yang bisa diperjualbelikan atau ditukarkan. Berhadapan dengan dua anomali itu membuat darah Viona mendidih, ia hendak kembali melanjutkan langkahnya tetapi tiba-tiba dari belakang ada yang menarik tangannya. Viona tersentak, otomatis ia mengikuti ke mana Vaga membawanya pergi.
"Lepas!" Setelah berada di taman belakang kampus, Viona menghempaskan tangan Vaga dengan kasar.
Viona bertolak pinggang dengan satu tangan dan satu tangannya yang lain menyugar rambut panjangnya ke belakang. Lagi-lagi Vaga, belum cukup kah dengan apa yang di lakukannya tadi pada gadis itu.
"Mau apa lagi sih," ketus Viona sama sekali tak bersahabat.
"Lo lupa? Sekarang lo harus nurutin semua permintaan gue," kata Vaga dingin.
"Ogah!"
"Oke. Balikin duit gue yang dibawa lari sama pacar lo itu."
Mendengar perkataan Vaga membuat Viona mendelik. "Bukan urusan gue. Minta sama dia, lagi pula hubungan gue sama dia udah end."
Viona berputar badan hendak pergi, tetapi Vaga kembali mencegahnya. "Hubungan lo sama dia selesai setelah lo jadi jaminannya," ucap Vaga diakhiri dengan seringai tipis dari salah satu sudut bibirnya.
Viona menarik nafas dalam-dalam, ia kali ini tak menjawab ucapan Vaga. Kesempatan itu membuat Vaga merasa menang atas Viona, ia kembali melanjutkan perkataannya. "Jangan lo kira gue lupa tentang malam itu, Vio-na?"
***
Mata pelajaran terakhir selesai, semua orang satu persatu keluar dari kelas, Viona mengacak-acak rambutnya ucapan Vaga masih terngiang-ngiang dalam benak. Ia harus pulang untuk bekerja, persetan dengan ucapan cowok itu, Viona berusaha untuk mengabaikannya, tetapi ia juga meringis saat mengingat malam itu.
"Bodoh! Bodoh!" Viona menghantuk-hantukkan kepalanya ke meja. Saat ini bisa dibilang ia sangat ... Malu untuk menghadapi Vaga.
Tindakan Vioana berhenti setelah memikirkan lagi perkataan yang diucapkan Ranggaa ternyata sangat membekas di relung hatinya. Viona baru tahu jika Rangga sebrengs*k itu memandangnya, ia pikir ketika Rangga meminta hal yang tidak mungkin Viona berikan adalah sebuah lelucon, tapi ternyata Rangga memang benar-benar niat memintanya.
Beruntung sekarang Viona telah lepas dari bajing*n seperti Rangga. Hanya saja apa harus dirinya juga menjadi jaminan untuk pelunasan hutang cowok brengs*k itu. Ini tidak adil, mengapa semua begitu jahat padanya.
"Ekhem." Suara deheman itu berasal dari Vaga yang tiba-tiba saja sudah ada di kelas Viona.
Sejak tadi Vaga hanya bisa melihat Viona yang sedang bertindak bodoh. Cowok itu menghembuskan nafas kasar, ia beranjak dari tempat berdirinya sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana, Vaga berjalan menghampiri Viona.
"Lo masih nangisin cowok yang udah jual lo itu," ucap Vaga sinis sesaat setelah sampai di depan Viona.
Gadis itu menatap Vaga dengan tajam, mimik wajahnya menyiratkan sebuah kekesalan. "So, tau."
Sungguh Viona sudah sangat muak dengan apa yang terjadi hari ini. Baginya semua tak masuk akal. "Seharusnya dengan gue putus sama cowok sialan itu, gue gak ada urusan apa pun lagi sama dia dan juga sama lo. Kenapa juga gue yang harus ganti rugi uang yang bahkan gue gak ikut nikmatin?"
Memang masuk akal pernyataan dari Viona, detik itu juga Vaga menyunggingkan senyum sinis, ia duduk di samping Viona lalu mencondongkan wajahnya untuk melihat Viona dari jarak dekat. Sontak saja tindakan tiba-tiba Vaga membuat Viona mundur ke belakang, ia memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari wajah Vaga yang berjarak dekat dengannya.
"Sayangnya lo dijadikan jaminan sama pacar kesayangan lo itu," desis Vaga tepat di samping telinga Viona.
Hembusan nafas Vaga sangat jelas terdengar, bahkan Viona bisa merasakan deru hangat yang keluar dari mulut cowok itu. Vaga begitu dekat dengannya, tepat ketika wajahnya menjauh dari telinga Viona, gadis itu menoleh hingga kini ia bisa melihat dengan seksama pahatan wajah Vaga dalam jarak yang hanya beberapa inci saja.
Mereka saling menatap satu sama lain, waktu seolah berhenti berputar. Vaga mematung, ia melihat sorot mata yang sama persis saat melihat sorot mata seseorang, tak mungkin begini, Vaga tak pernah melihat yang semacam ini terjadi. Mengapa bisa begitu sama persis, mulutnya bungkam tetapi hatinya berisik bertanya-tanya.
Sorot mata Viona memang tajam menatap Vaga, tetapi anehnya Vaga melihat sesuatu yang lain ketika melihat tatapan itu, sesuatu yang dapat ... meneduhkan hatinya.
"Denger, mau sehebat apa pun pengaruh lo di kampus ini, mau seterkenal apa pun lo sama temen-temen lo, bagi gue lo itu tetep sama kayak semua orang. Lo gak bisa bertindak semau lo di sini, lo ..."
Vaga mendengar ocehan Viona tapi ia sama sekali tak mengatakan apa pun, Vaga masih bergeming dengan terus menatap mata Viona. Semua perkataan Viona seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
"Stop." Satu kata dari Vaga dengan memegang ke dua bahu Viona, berhasil menghentikan gadis itu berbicara.
Tiba-tiba saja raut wajah Vaga berubah menjadi memerah, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, Vaga terlihat seperti sedang menahan amarah, cengkraman tangan Vaga dibahu Viona pun semakin kencang membuat gadis itu meringis kesakitan.
Setelah satu kata itu Vaga melepaskan tangannya, ia berdiri lalu hendak berjalan menjauh dari Viona dengan sedikit tertatih. Seluruh tubuh Vaga bergetar, telinganya berdengung menyuarakan suara-suara aneh yang terdengar masuk ke dalam sana.
"Dasar anak tak berguna."
"Dasar anak tak tau diuntung."
"Mati saja sana kau."
"Kehadiranmu di sini sama sekali tak ada yang mengharapkan."
Vaga menepuk-nepuk telinganya sendiri, suara-suara itu saling bersahutan silih berganti, seolah-olah ingin menghakimi Vaga tanpa tahu letak kesalahannya di mana.
Viona segera berdiri untuk menghampiri cowok itu, ketika ia melihat Vaga seperti tidak sedang baik-baik saja. Sementara Vaga sendiri seperti kehilangan ke seimbangannya, tubuhnya limbung ke samping yang reflek tangannya sendiri menyangga meja di sampingnya agar dirinya tak terjatuh.
"Lo kenapa?"
Tepat ketika itu Viona berbicara sambil ikut menyangga tubuh Vaga. Ia menoleh pada Viona, detik itu juga tubuhnya tiba-tiba saja ambruk jatuh menimpa gadis itu. Karena tak sempat menghindar dan Viona yang tak kuat menahan bobot tubuh Vaga akhirnya posisi saat ini adalah Vaga yang berada di atas tubuh Viona. Kesadaran Vaga perlahan kembali sepenuhnya, dari atas cowok itu melihat kembali wajah Viona yang saat ini sedang berpaling dan menutup mata.
"Apa yang lo pikirin Vaga, bahkan gue belum mengenal sepenuhnya gadis ini," kata Vaga dalam hati.
"Steviona, sebenarnya siapa lo? Kenapa lo bisa buat gue kayak gini." Lagi ia masih berbicara dalam hatinya.
Belum ada satu hari penuh Vaga bertemu dengan Viona, tetapi gadis itu telah berhasil membuat Vaga penasaran. Sorot mata itu memenuhi benaknya.
"Aaaaaaaa!"
Bruk
"Lo cari kesempatan, dasar cowok m***m!" teriak Viona sambil mendorong tubuh Vaga dari atas tubuhnya, hingga cowok itu terjungkal ke belakang.
"Anj*ng!" umpat Vaga reflek karena terkejut.
Viona segera berdiri, begitu pula dengan Vaga. "Lo jadi cewek kasar banget sih," kata Vaga dengan nada ketus.
"Lo bisa-bisanya cari kesempatan, gue pikir lo sakit tapi ternyata lo pura-pura sakit, lo sengaja iya? Ah, gue baru inget lo playboy lo pasti sering pake trik murahan kayak gini biar bisa peluk-peluk cewek, iya 'kan, ngaku lo?" cerocos Viona tanpa jeda.
"Heh, sembarangan lo ngomong. Mana ada gue begitu," sanggah Vaga tak terima dengan tuduhan yang diberikan Viona padanya.
"Halah ngaku aja lo, modus kayak lo itu udah bisa ke tebak, gue yakin pasti lo lakuin itu ke cewek-cewek lain 'kan. Ih gue gak mau tubuh gue ternodai sama lo."
"Woy, gue gak serendah itu buat ngerusak cewek. Jaga ucapan lo! Lagian cewek kayak lo pantesnya jadi b***k gue," timpal Vaga lagi.
Vaga memang penasaran dengan Viona, karena untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang berhasil membuat Vaga 'sedikit' tertarik, tolong garis bawahi 'sedikit' ia ingin tahu sampai sejauh mana rasa penasarannya ini, mungkin setelah rasa penasaran itu hilang Vaga akan membuang Viona seperti cewek-cewek sebelumnya.
Sedangkan Viona sendiri tahu dan siapa yang tidak tahu seorang Vaga, famous karena apa di sekolah ini. Playboy cap kadal macam Vaga itu banyak ditemui di kampus dan mungkin Vaga adalah rajanya playboy di kampus ini. Maka dari itu Viona tak akan bisa terperangkap oleh tipu muslihat kadal seperti Vaga.
Cowok itu menyeringai ia mendekati Viona lagi dengan berjalan selangkah demi selangkah maju ke depan, Viona yang sudah waspada berjalan mundur bersamaan dengan Vaga yang maju. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi.
Sampai akhirnya Viona berhenti karena sudah mentok, di belakangnya terhalang meja bekas dan Vaga berhasil berdiri di depan Viona lagi. Ia menjulurkan tangannya untuk memegang sisi meja di samping tubuh Viona, tubuhnya yang jangkung sedikit ia tundukkan agar sejajar dengan wajah Viona.
Lagi-lagi mereka dalam posisi seperti ini dan Viona memalingkan wajah, tepat ketika Vaga mengatakan satu kalimat detik itu juga mata Viona membelakak.
"Mulai detik ini lo jadi b***k gue, lo harus bayar ganti rugi duit gue yang di bawa kabur sama mantan lo dengan satu kali kecupan di pipi kanan dan kiri, satu kali pelukan setiap hari dan bonus bisa cup 'bibir' kalo lo bisa memikat hati gue, sampai saat itu tiba kalo lo berhasil ambil bonus itu gue anggap semua utang lo lunas dan lo bisa bebas dari gue."