Simpanan

1316 Words
"Dasar setan! Maksudnya apa coba, gue harus bayar dia pake cara murahan kayak gitu," kesal Viona mencak-mencak di dalam kamarnya. Semakin dipikirkan semakin Viona merasa marah, apalagi ketika membayangkan wajah Vaga tadi, rasanya Viona ingin mencakar-cakar wajah itu tak peduli jika nanti wajah tampannya rusak. Toh Vaga orang kaya, dia pasti bisa memperbaiki wajahnya sendiri. Astaga pikiran macam apa yang hinggap di kepala Viona. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, mata pelajaran terakhir tadi ia tak fokus dengan memikirkan dua cowok b******k. alhasil Viona harus terjebak bersama Vaga di rooftop dan setelah jam pulang sekolah, baru lah Viona bisa kembali ke kelas lalu pulang. Ditambah Vaga yang menghampirinya lagi membuat Viona semakin merasa jengkel. Ceklek "Viona, pakai itu." Baru saja Viona bernafas dengan tenang, pintu kamarnya di buka tanpa ketukan oleh sang Ayah—Najib, ia melempar sebuah dress tepat ke wajah gadis itu. "Apa ini, Yah." Viona merentangkan dress itu dengan ke dua tangannya. Seketika matanya melotot ketika melihat dress yang cukup sexy itu, Viona segera melemparnya ke samping. Yang benar saja ia harus pakai baju kurang bahan seperti tersebut. Melihat pakaian yang diberikan olehnya di lempar, Pak Najib segera masuk ke dalam kamar sang anak. "Ayah beli pakaian itu cukup mahal, kenapa kamu lempar begitu?" "Ayah, Vio gak mau pake baju seterbuka itu." "Halah, gak usah sok suci jadi manusia. Di dunia ini semua perlu duit, gak ada duit kamu pun gak akan bisa hidup," ucap Pak Najib sedikit kasar. Viona menghela nafas kasar, dipikiran Ayahnya itu hanya ada uang, uang dan uang. Siapa yang tak butuh uang, semua orang pasti butuh yang namanya uang. Tetapi bagi Pak Najib, ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapat uang dengan jumlah yang cukup besar. Lalu uang tersebut dipakai untuk apa? Ya, apalagi kalau bukan judi dan dihambur-hamburkan. Sungguh sebenarnya Viona sudah sangat muak dengan perilaku Pak Najib yang sejak dulu tak pernah berubah, malah semakin menjadi-jadi. Dan sekarang entah apa lagi yang akan dilakukan olehnya dengan memerintah Viona untuk memakai dress tersebut. "Vio gak mau pakai baju ini, Yah," kata Viona menolak. "Pakai cepat atau mau Ayah paksa untuk pakai?" Bola mata Viona melebar, ia sangat tahu betul sifat Ayahnya. Gadis itu segera berdiri, sebelum ayahnya mendekat. "Ayah keluar aja, Vio pakai nanti," jawab Viona. Pak Najib keluar dari kamar Viona setelah memastikan bahwa sang anak sungguh-sungguh akan memakai baju pemberiannya. Untuk ke sekian kalinya Viona menghela nafas kasar sambil memijit keningnya. "Apa lagi kali ini yang bakal gue hadapi," gumam Viona. Perasaannya mengatakan akan terjadi sesuatu yang lebih besar lagi, tapi Viona sendiri tak tahu apa itu. Setelah tiga puluh menit Viona bersiap, ia melihat pantulan dirinya di depan cermin. Viona merasa aneh dengan pakaiannya, belahan dadanya terlihat juga. Pakaian ini panjangnya di atas lutut saja dengan tak ada lengan yang artinya hanya tali pengait sebagai lengan di atas bahu. "Gue kayak cuma pake daleman," gumam Viona. Gegas ia mengambil cardigan warna hitam di dalam lemari lalu ia pakai tak lupa juga memakai celana panjang lagi untuk menutupi kaki jenjangnya. "Vio, cepet!" teriak Pak Najib dari luar kamar Viona. Dengan cepat Viona mengambil tas selempangnya, memasukkan dompet juga ponselnya ke dalam sana. Viona keluar dari kamarnya. "Kita mau ke mana, Yah?" "Udah deh jangan banyak tanya ikut aja bi—astaga Viona!" Pak Najib yang baru saja menoleh ketika melihat Viona kembali berteriak atas pakaian yang dikenakan gadis itu, sedangkan Viona meringis mendengar teriakan Ayahnya. "Yang penting aku pakai bajunya 'kan, Yah." "Cepat buka!" Viona mengerti dengan perkataan Pak Najib, tapi Viona enggan untuk mengikuti perintah Ayahnya. Gadis itu hanya bergeming di tempatnya sekarang. "Viona, kamu dengar tidak!" sentak Pak Najib. "Yah, Vio gak mau pake pakaian seterbuka ini, Vio gak bisa," sahut Viona lagi. Plak Satu tamparan keras melayang pada pipi Viona hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana. Gadis itu memegangi pipinya yang terasa kebas, ia tak berani menatap langsung sang Ayah. "Mulai berani kamu melawan perintah Ayah." Sorot mata Pak Najib menatap Viona dengan tajam. "Cepat pakai yang benar pakaiannya!" Namun, lagi-lagi Viona tetap terdiam di tempatnya. Ia sama sekali tak mau memakai pakaian itu yang menurutnya sangat kurang bahan, hal itu membuat Pak Najib semakin murka. "Viona!" Tin Tin Bertepatan dengan suara gelegar Pak Najib, dari luar terdengar suara klakson mobil. Pak Najib reflek menengok, kemudian mendesis. "Sial, mereka sudah datang," katanya berdecak. Viona yang sama sekali tak mengerti dengan apa yang dilakukan Ayahnya kali ini, sedikit tahu jika seseorang di dalam mobil itu yang akan membawa mereka. "Sudahlah tidak ada waktu lagi, kita pergi sekarang," ucap Pak Najib lagi sambil menyeret lengan Viona. "Yah, sakit," keluh Viona merasa Ayahnya mencengkram sangat kuat, sementara Pak Najin tidak peduli. "Tuan besar sudah menunggu." Seorang berpakaian formal dengan kemeja putih dibalut jas hitam serta memakai dasi warna hitam sudah menunggu di depan pintu mobil, ia berbicara sesaat Viona dan Pak Najib telah sampai di depannya. Pak Najib mencoba tersenyum ramah dan mengangguk sopan pada pria itu, tetapi ia hanya mendapat kekecewaan karena orang itu tak membalas sapaannya. "Silahkan masuk ke dalam mobil," katanya lagi. Tanpa banyak menunggu Pak Najib segera masuk ke dalam mobil bersama Viona, sementara pria itu pun juga ikut masuk dengan mengambil tempat di depan tepat di samping supir. Kemudian mereka pergi dari pelataran rumah Pak Najib. Jantung Viona sudah berdegup sangat kencang, saat ini ia sangat takut. Pikirannya sudah sangat buruk tentang kepergiannya. Sementara Pak Najib sendiri tampak senyum-senyum sambil melihat ke arah luar jendela. "Yah, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Viona untuk ke sekian kalinya dengan berbisik. "Syut, udah gak usah bawel kamu, sebentar lagi hidup kita akan berubah. Ayah akan banyak uang dan kamu juga bisa sekolah tanpa harus berpikir kesulitan biaya." Tiba-tiba saja mata Viona berbinar mendengar ucapan Pak Najib, benarkah itu? Apa Ayah sudah sadar dan mau membiayai sekolahnya, apa ini hanya mimpi bagi Viona? Pasalnya sang Ayah lah yang sangat menentang keras untuk Viona bersekolah, katanya lebih baik Viona bekerja saja agar menghasilkan uang. Senyum tipis terbit dari sudut kecil bibir Viona, matanya sedikit merembang apa mungkin nanti impiannya pun akan tercapai. Viona mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia berdoa dalam hati meminta kemudahan dalam proses hidupnya dan apakah ini termasuk salah satu doanya terkabul. Mobil berhenti di depan sebuah gedung yang di depannya tampak di jaga ketat oleh dua orang security, Viona, Pak Najib dan laki-laki yang duduk di depan turun untuk masuk ke dalam gedung itu. Diam-diam Viona memperhatikan jika ada yang salah dengan tempat persinggahannya sekarang. Langkah kaki Viona terasa berat untuk masuk ke dalam dan benar saja dugaannya Viona sedang berada dalam 'club malam', perasaan tak enaknya kembali muncul. "Yah, kita gak salah tempat?" tanya Viona sambil memegang lengan Ayahnya. "Haduh kamu ini berisik sekali, sudah ikuti saja." Mau tak mau Viona kembali berjalan mengikuti langkah Pak Najib. "Loh bukannya itu Steviona-Steviona itu ya," celetuk Ganta menunjuk pada Viona. Vaga dan Asher menoleh ke arah telunjuk Ganta, seketika mereka sedikit terkejut melihat Viona. Detik berikutnya Vaga menyunggingkan senyum sinis, lalu meneguk minuman dalam gelasnya. "Gue pikir dia gadis baik-baik, ternyata bisa main juga ke club," kekeh Ganta. "Yang terlihat baik di luar, belum tentu baik juga di dalam," celetuk Vaga sambil tersenyum tipis. Vaga teringat lagi akan ucapan Rangga kemarin yang menyatakan bahwa ia sama sekali tidak pernah menyentuh Viona dan ketertarikannya terhadap Viona tiba-tiba saja menghilang saat melihat gadis itu menginjakkan kakinya di tempat ini. "Ternyata lo sama aja, gak ada bedanya kayak cewek lain," ucap Vaga dalam hatinya. Sedangkan Asher yang sejak tadi melihat gerak-gerik Viona berjalan seperti merasa aneh, terlihat sangat jelas dalam pandangannya jika Viona tidak nyaman berada di tempat ini. Selang beberapa menit kemudian Asher dan Ganta berpamitan untuk pergi, katanya ada urusan lain dan di tempat itu hanya tersisa Vaga seorang diri. Sembari menyesap tembakau berbentuk panjang, mata Vaga melirik pada Viona yang baru saja keluar dengan orang yang sangat dikenalnya. "Jadi lo juga simpenan, Viona," desis Vaga, tangannya mematahkan rokok yang di pegangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD