Viona mengikuti langkah kaki sang ayah, ia tak bisa kabur kali ini karena di belakangnya ada dua orang berbadan besar sedang mengawalnya. Entah apalagi yang akan dilakukan ayahnya kali ini, perasaan Viona mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Sampai akhirnya mereka semua tiba di sebuah ruangan bergaya eropa lengkap dengan furniture mewah di sekitarnya, uniknya lagi ruangan ini berada disalah satu bagian terdalam bar yang notabene design interiornya sangat bertolak belakang dengan ciri khas sebuah bar. Dari dalam sana seseorang membuka pintu, bertemu pandang dengan Pak Najib sedikit memberi senyuman lalu membuka jalan untuk mempersilahkan Viona dan Pak Najib agar masuk ke dalam ruangan lain di dalam ruangan ini.
Seperti sebuah tempat kerja perkantoran, Viona sedikit bingung tempat semewah ada dalam bar. Viona yakin tempat ini bukan sembarangan tempat yang dapat dimasuki seseorang, apa tempat ini ilegal. Banyak pertanyaan dalam benak Viona, tetapi ia lebih memilih untuk membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Maaf, Pak. Mereka sudah datang," ucap laki-laki tampan dengan menggunakan kacamata bening yang tadi membuka pintu untuk Viona.
Kemudian seseorang dibalik kursi itu memutar tubuhnya sekaligus kursi yang ikut berputar, tampak seorang pria paruh baya yang masih terlihat awet muda menatap Pak Najib sekilas lalu melihat pada Viona dengan pandangan yang tak dapat diartikan. Sadar dengan tatapan itu Viona mencoba untuk menutupi tubuhnya dengan satu tangan, ia berdiri dengan tidak percaya diri.
"Kampungan," desisnya masih terdengar oleh Viona.
Pria itu lalu membuka laci meja kerjanya untuk mengeluarkan amplop coklat yang cukup tebal dan ia letakan di depan Pak Najib.
Melihat amplop tersebut mata Pak Najib berbinar, dengan segera pria tua itu mengambilnya lalu sedikit mengintip isinya. Sontak saja Pak Najib tersenyum senang.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Pak Najib, lalu menarik putrinya untuk ke depan. "Namanya Viona, Pak. Anaknya baik dan pasti cantik, Bapak sendiri bisa melihatnya. Tenang saja Vio masih perawan kok."
"Ayah!" Benar saja feeling Viona, sang ayah menjualnya. "Ayah jual, Vio?" tanya Viona menatap ayahnya penuh kecewa.
Untuk ke sekian kalinya Viona lagi-lagi harus menghadapi kenyataan ini, memang berulang kali sang ayah hendak menjadikan dirinya sebagai jaminan pelunasan hutang pada rentenir-rentenir, tetapi Viona berhasil kabur dari mereka.
Namun, hari ini datang kembali. Entah dari mana Pak Najib mengenal sosok pria itu, yang Viona bisa pastikan jika pria yang ada di depannya ini adalah orang kaya, buktinya amplop yang di ambil Pak Najib sangat tebal.
"Syut. Ayah tidak menjualmu, ayah hanya menggadaikanmu sebentar, nanti ayah tebus lagi, kok."
Mendengar perkataan dari sang ayah malah semakin membuat hati Viona teriris, matanya sudah berkaca-kaca, Viona bak barang yang tak berharga. Ia mudah dijadikan jaminan dan dijual kapan pun. Bahkan ayahnya sendiri yang melakukan hal tidak terpuji itu.
"Ayah? Vio anak ayah bukan?" Kembali Viona bertanya, kali ini tenggorokannya terasa tercekat.
Dengan santainya sambil menghitung uang tanpa menoleh sedikit pun pada Viona, Pak Najib menjawab. "Ya anak ayah lah. Mana mungkin ayah gadai kamu kalau bukan anak ayah, kalau gadai anak tetangga nanti ayah masuk penjara."
jleb
Jawaban dari Pak Najib berhasil menyayat relung hati Viona, bibirnya bergeta dan air mata yang ia bendung di pelupuk mata akhirnya terjun bebas. Apa nilai seorang anak bagi Pak Najib adalah hanya sebatas penghasil uang, padahal Viona sudah membantu ayahnya untuk bekerja, semua kebutuhan mereka Viona yang tanggung. Bahkan semua hutang-hutang ayahnya Viona juga yang cicil, tapi ternyata Viona sama sekali tak berarti untuk ayahnya sendiri.
Tanpa di duga gadis itu merampas amplop coklat tersebut dari tangan sang ayah, hingga membuat bentakan kasar keluar dari mulut Pak Najib.
"Viona! Dasar anak sialan!"
Viona tak peduli, ia kembali meletakkan amplopnya di depan pria tersebut. "Saya tidak akan pernah terjerat oleh anda, jadi jangan pikir anda bisa menyentuh saya."
"Viona!"
Pak Najib menarik tangan Viona, tetapi dengan cepat gadis itu langsung menepis tangan sang ayah. "Saya bukan w************n yang bisa diperjualbelikan begitu saja, saya bukan barang!"
Sekali lagi Pak Najib menarik tangan Viona dan lagi-lagi gadis itu menepisnya, hingga akhirnya dalam satu tarikan terakhir dari Pak Najib, tubuh Viona tertarik ke belakang lalu ...
Plak
Satu tamparan keras melayang pada pipi Viona sampai wajahnya tertoleh ke samping. Viona merasakan nyeri sekaligus kebas pada pipinya itu, air matanya sudah tak terhitung berapa banyak yang keluar.
"Bukan kamu yang berhak menentukan, saya yang punya kendali penuh atas dirimu!" gelagar suara Pak Najib.
Berikutnya Pak Najib kembali menghadap pada pria yang memberinya uang tadi, ia dengan cepat mengambil uang itu lagi sebelum Pria tersebut berubah pikiran.
Pak Najib tersenyum padanya. "Bapak tidak usah menghiraukan ucapan Viona. Dia sudah milik Bapak, saya pamit lebih dulu."
Setelah mengucapkan itu tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Pak Najib buru-buru meninggalkan anaknya sebelum Viona berbuat ulah lagi.
"Ayah! Jangan tinggalin Vio!" teriak Viona, ia segera berdiri lalu mengejar ayahnya.
Sementara pria itu hanya menonton drama kampung yang baru saja selesai di depannya. Tanpa ekspresi pria itu mengambil gelas berisi minuman berwarna merah lalu meneguknya sedikit kemudian berkata sambil tersenyum smirk. "Miris."
Sedangkan Viona yang tertahan di depan pintu karena dicegat oleh dua orang bodyguard yang sebelumnya mengawal mereka tadi. Percuma Viona berteriak dan meronta-ronta, tak akan ada yang menolongnya dan tak akan bisa Viona lari dari mereka. Pria paruh baya itu berdiri, berjalan angkuh menghampiri Viona setelah mengenakan jasnya, sekali lagi ia memindai gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berlalu, diikuti oleh laki-laki berkacamata bening di belakangnya lalu Viona serta dua bodyguard yang mengawal gadis itu.
***
Vaga telah sampai di apartemennya menyandarkan punggungnya pada sofa lalu sedikit memijik dahinya merasa pusing, Vaga mengingat kembali pada Viona yang ia lihat di bar tadi. Gadis yang Vaga yakini bahwa dia gadis baik-baik, tenyata mematahkan keyakinannya sendiri. Vaga menyunggingkan senyum sinis. "Ternyata sama saja," gumamnya beranjak dari sofa lalu mengambil rokok, kemudian berjalan menuju balkon.
Cowok itu menikmati pemandangan malam Ibu Kota dengan menyesap sedikit demi sedikit sebatang nikotin di tangannya. Sunyi, itulah yang setiap hari dirasakan oleh Vaga, selain di kampus yang hanya memiliki teman Asher dan Ganta, tidak ada siapa pun lagi yang berhasil membuat cowok itu tergerak untuk bergaul. Cewek-cewek yang menjadi pacar sewaannya pun seolah tak berhasil membuat Vaga untuk melembutkan hatinya.
Namun pikiran cowok itu masih terngiang-ngiang dengan perkataan keberanian dari Viona. Gadis yang sedikit membuatnya tertarik ternyata adalah seorang simpanan, betul Vaga melihat sendiri bagaimana ayahnya keluar dari bar bersama sekertaris pribadinya lalu diikuti Viona di belakangnya. Ternyata sekarang pun sang Papanya sudah berani mengagandeng cewek yang usianya terpaut hampir dari setengah usia Papanya sendiri, bahkan Viona sendiri pun masih seusia dengan Vaga.
Enyahkan pikiran tentang Viona, Vaga tengah menikmati angin malam yang menerpa wajahnya hingga rambutnya pun tertiup angin, Vaga menyesap lagi sesapan terakhir dari sebatang rokoknya, setelah itu mematikan puntungnya dan membuang pada asbak. Ia melamun sejenak memasukkan ke dua tangannya di saku celana. Siluet penampilannya terlihat berantakan dengan mengenakan kemeja putih yang dikeluarkan dan dua kancing atasnya sengaja tidak dikancingkan, serta celana hitam kebesaran. Tadi siang setelah pulang dari kampus Vaga mengunjungi suatu tempat, sampai akhirnya berakhir di bar dan baru pulang ke apartemen hampir tengah malam. Seperti biasa tak ada kehidupan yang benar-benar hidup di sini, hanya Vaga yang ditemani kesunyiannya.
Ting
Tong
Suara bel apartemennya membuat lamunan Vaga buyar, ia mengernyit, malam-malam begini siapa yang berkunjung ke tempat tinggalnya. Selain Asher dan Ganta, tak ada lagi yang pernah ke apartemennya. Vaga melangkah kembali ke dalam apartemennya, lebih tepatnya ia hendak membuka pintu.
"Siapa?" tanya Vaga sesaat setelah Vaga membuka pintu, detik berikutnya lelaki jangkung itu membolakan mata.
Sementara yang ada di depannya hanya menyengir sambil mengangkat tangannya. "Hai."
"Viona?"