Jadi Ibu Tiri

1293 Words
"Sayang." Seorang wanita cantik nan sexy yang hanya mengenakan handuk, memeluk tubuh Asher dari belakang. Tak sampai di sana, ia mengusa-usap d**a bidang cowok itu dengan sedikit sentuhan-sentuhan aneh. Setelah kancing terakhir di dadanya sudah terkancingkan Asher menghempas kasar tangan wanita itu, ia berbalik menatap tanpa ekspresi padanya. "Bayaran lo udah gue transfer," kata Asher, lantas beranjak untuk pergi. "Di mata lo, apa gue hanya sebatas itu, Sher?" Wanita itu memberikan pertanyaan pada Asher yang berhasil membuatnya menghentikan langkah. Asher berbalik, masih dengan ekspresi datarnya ia menjawab. "Kita gak punya hubungan apa pun." "Kenapa gak dijadikan ada hubungan?" "Mustahil," ucap Asher. "Apa yang mustahil Asher. Kita sudah melakukan semuanya, kita sama-sama menikmati, apa gue cuma sebatas pemuas nafsu lo?" "Ya." Jawaban berikutnya dari Asher membuat gadis itu terdiam, mendadak sesuatu benda tajam menghujam hatinya. "Gue cuma klop sama lo soal ranjang, untuk yang lain jangan berharap lebih sama gue." Setelah mengatakan itu Asher berbalik badan, lalu benar-benar melangkah pergi meninggalkan wanita itu yang masih termenung oleh perkataannya. "Arrrggghhh!" pekiknya, "Gimana pun caranya gue harus bisa dapetin lo, Asher." Setelah kepergian Asher, ia segera mengenakan pakaiannya lagi. Lantas mengambil ponselnya dan mengotak-atik mencari nomor ponsel seseorang, selanjutnya ia menekan panggilan pada nomor tersebut. "Kok gak diangkat, sih," kesalnya ketika seseorang yang sedang berusaha ia telepon, tidak merespon panggilannya. Sekali, dua kali tetap tidak ada jawaban, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan saja. [Di mana, lo. Gue butuh lo :(] Sama sekali tidak ada jawaban, karena moodnya semakin turun akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan hotel. Wanita itu tampak menunggu di halte, pesanan taksi onlinenya terus dibatalkan hingga membuatnya semakin merasa kesal dan marah. Mungkin karena sudah cukup larut juga, tidak hanya sedikit taksi yang menerima orderan. Ia duduk termenung sembari menyandarkan kepalanya pada kaca halte di belakangnya. "Gimana caranya gue bisa dapetin, lo," gumamnya. Satu taksi melintas di depannya, wanita itu segera bangkit dan berteriak memanggil taksi yang sudah menjauh. "Aaakkkhh, sialan," umpatnya semakin sebal. Tanpa disadari ia berlari ke tengah jalan untuk mengejar taksi tadi dan begitu dirinya berbalik, sebuah motor dengan klakson yang berbunyi-bunyi membuatnya membolakan mata. "Aaaaaaa." Ia berteriak, lalu berjongkok dengan menutupi kepalanya, tas genggamnya terlempar tak jauh darinya karena reflek. Ckittt Merasa tidak terjadi apa-apa wanita itu membuka mata, lalu terduduk sambil menghela nafas panjang. Hampir saja, jantungnya sudah merasa akan lepas, untung motor itu mengerem jika tidak, mungkin dirinya sudah berpindah ke alam lain. "Maaf, gue gak sengaja." Si pengendara motor tersebut turun lalu menghampirinya. "Untung gue masih idup. Lagian gimana sih bawa motor gak liat ada orang," ketusnya mendelik sinis. "Lah, lo yakin ngomong gitu?" "Kenapa, hah?" "Lo yang gimana, pake berdiri di tengah jalan. Eh Neng, meskipun hidup itu berat gak gini caranya, bukan masuk surga yang ada nanti Neng. Masuk neraka loh," ucap si pengendara. Mendengar ucapan itu ia terdiam, bahkan dirinya juga sudah jauh dari kata baik menjadi seorang wanita. Dan apa yang dilakukannya tadi bersama Asher pun ia yakin tak ada surga untuknya, lagi pula apa itu surga? Ia tak akan bisa menginjakkan kaki ke tempat suci tersebut. "Halah, banyak bacot. Lo kira gue mau bunuh diri? Gue masih sayang sama nyawa gue lah," timpalnya. "Terus ngapain di tengah jalan, dong." Ia meringis ketika menyadari bahwa dirinya lah yang bersalah, tetapi demi menjaga harga dirinya, wanita itu mengibaskan rambutnya ke belakang, lalu kembali berdiri setelah memungut tas dan ponselnya. "Sebagai tanggung jawab lo yang uda mau nabrak gue, anter gue pulang," katanya berlalu begitu saja lalu berjalan menghampiri motor si pengendara. Sejenak si pengendara mencerna kalimat yang diucapkan oleh wanita itu. "Yang salah kan dia, kenapa kesannya gue yang salah," katanya menunjuk diri sendiri, lantas mau tak mau si pengendara itu memberikan tumpangan pada wanita temuannya ini. "Oke, gua anter pulang. Sebelum itu nama lo siapa?" "Pede banget lo ngajak kenalan gue." "Dih. Ya gue nanya siapa tahu kita ketemu lagi, siapa tahu lo ada lecet, gue bawa ke rumah sakit, Ijah," katanya asal sebut nama. Plak Wanita itu menggeplak punggungnya. "Sembarangan lo panggil gue nama kampung itu." "Lagian." "Alora, panggil gue Lora." "Oke, Lora. Gue Ganta." Setelah memperkenalkan diri, Ganta mulai menyalakan motornya, diam-diam cowok itu tersenyum tipis lalu mulai melajukan motornya, tepat ketika mereka pergi suara notifikasi yang tersamarkan oleh suara motor Ganta berdenting dari ponsel Alora. Dari layar pop upnya menampilkan sebuah pesan yang sepertinya balasan atas pesan Alora pada seseorang sebelumnya. Ona : [Sorry, Lora. Malam ini gue gak bisa ke tempat lo, gue udah dijual Bokap ke laki-laki tua bangka :(] *** Ting Tong Viona memencet bel setelah mengirim balasan sebuah pesan. Tak butuh waktu lama, pintu apartemen terbuka dan menampilkan sosok Vaga dengan tatapan dinginnya menatap Viona. Gadis itu berdiri canggung akhirnya menyengir sambil mengangkat tangannya untuk menyapa Vaga. "Ngapain lo ke sini?" "Gue masuk dulu, ya." Tanpa persetujuan Vaga, Viona menerobos masuk ke dalam apartemen cowok itu. Vaga yang merasa geram ikut masuk lalu menarik tangan Viona dengan kasar. "Yang sopan lo! Keluar!" Vaga menunjuk ke arah pintu dengan mata yang sudah hampir lepas karena melotot. "Gue gak bisa pergi," ucap Viona. "Apa hak lo gak bisa pergi? Ini tempat gue!" "Tanya aja sama Bokap, lo." "Oh jadi Papa." Ah, seketika Vaga mengerti mengapa Viona tidak bisa pergi dari sini, karena Papanya yang mengirim Viona datang. Vaga merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, lalu berjalan menjauh dari gadis itu. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan telepon mulai tersambung. "Apa maksud Papa mengirim Viona ke sini?!" Tanpa basa-basi Vaga langsung menanyakan hal tersebut pada Papanya dengan intonasi bicara yang cukup tinggi. "Dia akan tinggal di sana bersama kamu." "Anj*ng!" umpat Vaga sama sekali tidak takut pada respon Papanya nanti. "Papa gak ada hak buat nempatin simpanan Papa di sini, cepat bawa pergi, bawa ke tempat lain." "Simpanan? Ah iya, Papa titip calon istri Papa sementara waktu di sana ya." Tut Panggilan diputus sepihak oleh Papanya membuat Vaga semakin murka apa lagi ketika Papanya sendiri sudah mengakui jika Viona adalah calon istrinya yang berarti juga akan menjadi Ibu tiri Vaga nantinya. Dengan langkah cepat, Vaga kembali menghampiri Viona lalu menyeret keluar dari apartemen sampai pada ke lantai bawah, Viona dihempaskan begitu saja keluar dari bangunan apartemennya. "Jangan pernah kembali lagi ke sini, lo b***k gue cukup di kampus, selebihnya lo gue haramkan nginjekin kaki busuk lo ke lingkungan apartemen gue!" Setelah mengatakan kalimat kejam itu, Vaga pergi meninggalkan Viona. "Arrrggghhh! Dasar cowok gak punya hati nurani!" pekik Viona. Mana mungkin juga ia kembali ke atas setelah tragedi pengusiran kejam kejam ini. Viona berdiri, mengacak-acak rambutnya dengan kasar lalu berteriak seperti orang gila. Malang sekali nasib gadis itu, sekarang ke mana lagi Viona harus pergi, tak mungkin ia kembali ke rumah ayahnya. Apa lagi sampai Papanya Vaga tahu jika dirinya di usir oleh anaknya ini, pasti Viona akan berada dalam bahaya. "Oke. Malam ini gue harus cari tempat buat tidur dulu, besok gue bakal coba ke sini lagi," gumam Viona bertekad kuat. Mau tak mau Viona harus segera mencari tempat aman untuknya malam ini, ia juga takut jika sampai terjadi sesuatu pada dirinya sendiri. Viona meraba tas selempangnya yang ia rasa tak ada yang terkait di tubuhnya, saat menyadari sesuatu Viona lagi-lagi berteriak kesal, tas Viona tertinggal di apartemen Vaga bersama dengan ponsel dan dompet berisikan uang. "Komplit dah, komplit penderitaan gue. Aaaaa!" "Awasss!" Viona merasakam sebuah tarikan pada tangannya diiringi teriakan, tubuhnya berputar dan tepat ketika ia berbalik sebuah motor melaju cukup kencang hampir saja menabraknya, jika tidak ada yang menarik dirinya saat ini. Gadis itu membuka mata, perlahan pandangannya naik ke atas dan saat itu pula Vaga pun ikut menoleh ke arah Viona. Tatapan mereka bertemu, selama beberapa detik mereka saling bertatapan sebelum akhirnya Vaga tersenyum penuh arti. "Kalau lo mau tinggal sama gue, lo harus harus belajar jadi Ibu tiri yang baik buat gue." "Ibu tiri? APA IBU TIRI!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD