Dua Puluh Empat

726 Words

"Kita ke kafe?" tanya Kisha memiringkan wajahnya bertopang dagu pada bahu Gara.   "Iya," sahutnya singkat.   Kisha mencebik dengan jawaban singkat Gara. "Simple banget."   "Jangan mulai, Sayang..."   Kisha mendengkus melepaskan pelukannya. Dia kesal dengan respon Gara yang kadang suka simple. Kisha mendadak merasakan kalau Gara simple itu mode on pembunuh. Kisha selalu bergidik tak suka kalau Gara sudah memasang raut wajah datar, tatapan mata serius nan tajam, dan perkataannya yang bisa dibilang dingin menusuk ke telinganya.   "Habisnya kamu,"   "Apa? Kamu minta aku nggak datang menemui klien, masih saja salah. Mau ribut? Nanti saja." masalahnya Gara sedang fokus mengawasi dua kaca spion motornya bergantian karena memang ada dua mobil yang berjejer mengikutinya. Seringai men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD