Sejak dari hutan sampai memasuki jalan raya, Kisha tak kunjung membuka suaranya. Dia masih diam membisu dengan segala pemikiran yang berkecamuk dalam benaknya. Kisha berkali-kali mengembuskan napas pelan merasa sakit di kepalanya. Sesekali Kisha melirik Pria yang bernama Prans itu yang hanya memasang raut wajah datar. Kisha memejamkan sejenak matanya menghalau rasa sesak yang berdatangan karena kenyataan antara dirinya dan Gara. Gara seorang pembunuh? Lalu mengapa Gara meninggalkannya tanpa menjelaskan padanya terlebih dahulu? "Kita sudah sampai, Nona." Kisha menoleh menatap penuh tanya pada Prans. Tempat apa ini? Apa mungkin tempat dirinya yang akan dieksekusi? Tubuh Kisha meremang, hatinya terasa diremas begitu kuat. Haruskah dia mati di tangan Pria yang telah membuatnya j

