Dua Puluh Satu

921 Words

"DITA..."   Suara jeritan pilu seorang wanita paruh baya meraung tidak menerima kenyataan bahwa putri semata wayangnya meninggal begitu saja dengan tembakan di keningnya. Wajahnya hampir rusak karena ledakan dari dalam mobil bersama dengan Ringga, kekasih putrinya itu. Bukannya seharusnya keponakannya yang mati? Bukan malah putrinya yang mati mengenaskan seperti ini.   "Pa! Dita, Pa!"   Ana hanya bisa meraung meratapi putrinya yang sudah tidak bernyawa itu. Kepolisian mengatakan bahwa itu murni kecelakaan. Lalu, bagaimana bisa ada lubang di kening putrinya? Sialan! Siapa yang berani menyakiti putrinya seperti ini.   Ardi hanya bisa menatap nanar liang lahat yang mulai menutup tubuh putrinya. Ardi bersumpah dalam hatinya dia akan menemukan siapa yang telah menbunuh putrinya dengan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD