PART 4

1619 Words
Jangan bersikap seperti itu. Kau pulanglah. Aunty pasti menunggumu." "Aku sudah bilang Mom aku ke sini."  "Tidak seharusnya. Yang seharusnya itu kau menemui orang tuamu terlebih dulu. Mereka pasti merindukanmu." "Kau tidak?" "Apa maksudmu bilang seperti itu? Sana. Pulang." Callia mendorong Orlando hingga keluar dari ruang tamu. Mereka berdiri di teras dengan tatapan berbeda. "Baiklah." Callia menarik napas lega. Dia mengangguk perlahan dan menunduk. Kakinya bergerak-gerak gelisah. "Aku menunggumu di apartemen." Gerakan kaki Callia terhenti. Dia terpaku dan tetap menunduk. Orlando sudah berdiri begitu dekat dengannya dan membisikkan sesuatu yang membuatnya merinding seketika. "Well...kita perlu bicara bukan? Di sini kita tidak bisa bicara banyak tanpa kau merasa khawatir." "Kau tidak?' "Tidak. Kau adalah pihak yang tidak menyetujui apapun tentang memberi tahu kedua orangtua kita, tentang semuanya. Jadi kau selalu khawatir. Tidak denganku." "Kau gila." "Katakan apapun yang kau mau, Cal. Aku hanya pria yang tidak berdaya pada kekuatan cinta." Lalu sebuah ciuman di pipi yang membuat pipi Callia bersemu merah. Callia sedikit mendongak dan menemukan Orlando yang berjalan ke arah mobilnya. Callia menelengkan kepalanya. Dia seakan dapat merasakan, tangannya yang terkepal kuat sekalipun tidak mempunyai arti apapun ketika harus membentur tubuh Orlando. Deru mobil Orlando dan tatapannya dari balik kaca spion membuat Callia membeku. Mengapa dia tidak jatuh cinta saja pada pria lain? Mengapa harus pada sepupunya itu? Callia mengusap hidungnya keras. Sungguh pertanyaan yang hanya dia saja yang tahu jawabannya. Pintu pagar tertutup. Dan Callia masih membeku di teras. Dan berbalik. Memilih untuk masuk dengan sungging senyum.  * "Orlando selalu terlihat serius saat berbicara denganmu." Callia menoleh. Dan mendapati Calista yang tersenyum simpul ke arahnya. Sejenak Callia merasakan tatapan Calista yang sangat aneh. Seakan gadis itu menyimpulkan sesuatu. "Aah...dia selalu seperti itu bukan? Bertingkah serius. Dan kenyataannya, dia sering sekali bercanda." Calista mengangguk. "Dibanding Marlon, Orlando memang lebih bisa mengekspresikan dirinya." Callia mengangguk-angguk. Dan sejenak dia menoleh ke arah pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang tamu. Mereka sedang menunggu ibu mereka yang sedang menemui seseorang dari rumah perhiasan. "Mom dan aku akan ke toko sepatu dan bunga. Kau mau ikut?" "Maafkan aku. Sebenarnya aku mau ikut, tapi ada beberapa hal perlu aku kerjakan." "Tidak apa-apa. Bisa kita makan siang nanti? Aku akan menelpon." "Tentu saja." Calista beranjak. Callia terhenyak dan pandangannya mengikuti Calista yang berjalan ke arah pintu penghubung dan menghilang di baliknya. Callia menghela napas dan melirik jam di pergelangan tangannya. Lalu dengan langkah tergesa dia berjalan menuju kamarnya. Perlahan dia menutup pintu dan mulai menghitung. Dia tersenyum simpul dan sedikit berjingkat menuju ke arah jendela. Dia menyibak tirai sedikit untuk bisa melihat adik dan ibunya memasuki mobil dan perlahan mobil itu meninggalkan kediaman Jefferson. Callia berbalik dan melangkah ke arah ranjang dan menyambar sebuah tas selempang yang sudah dia siapkan sejak beberapa saat lalu. Callia menghela napas lalu melangkah keluar. Sejenak dia tertegun di depan sebuah cermin besar. Dia mengamati dirinya yang berdiri menyamping. "Tak ubahnya remaja yang sedang jatuh cinta. Kuharap aku tahu dan sadar dengan apa yang aku lakukan. Callia..." Callia menggeleng dan berjalan ke arah pintu. Dia keluar dan berpapasan dengan seorang pelayan di koridor. Callia balas mengangguk ketika pelayan itu mengangguk padanya. Langkah kaki jenjang dengan sepatu kets. Terlihat sangat mantap menapak lantai menuju keluar rumah. Gaya berbusana yang mencerminkan siapa dirinya. Remaja yang baru saja menapak ranah kedewasaan. Callia sedikit berbicara dengan seorang penjaga rumah sebelum akhirnya dia keluar dan menunggu sebuah taksi. Dan pada akhirnya, menyusur pagi menjelang siang yang menghangat menuju sebuah tempat. * Selalu saja nampak salah tapi menghanyutkan dan membawa Callia menjadi tenang dan merasa keberadaannya menjadi nyata. Bukan hanya sebuah bayang-bayang yang selamanya akan mengikuti Calista dalam diam dan selamanya terdiam tanpa mampu memupuk setitik harapan bahwa dirinya sama berharganya dengan saudari kembarnya itu. Berada di pelukan Orlando. Salah. Memang. Tapi kuasa apa yang sanggup menepis rasa nyaman dan terlindungi yang dirasakan Callia sekarang? Rasanya rasa bersalah pun tidak akan sanggup menepis rasa nyaman itu. Saling diam sekalipun pada kenyataannya banyak sekali yang harus mereka bicarakan. Tetapi mereka menjadi begitu bosan karena semuanya akan kembali pada topik bahwa mereka harus mengakhiri semuanya atas nama persaudaraan. Berlaku seakan tidak pernah terjadi apapun menjadi sangat sulit karena memang ada sesuatu antara mereka. "Pernikahan Calista dan Dale akan menjadi titik dimana aku akan melepaskan Calista untuk Dale jaga. Sekalipun aku tidak mempunyai keyakinan sedikitpun bahwa Dale..." Orlando mengusap lengan Callia lembut. Membaui aroma jeruk dari rambut Callia dan mematrinya di kepalanya. Dia setia. Mendengarkan tanpa berniat sedikitpun menyela sekalipun kalimat Callia menggantung. "Dale bukan pengendali sepertimu." Orlando menghela napasnya perlahan mendengar penuturan Callia. "Aku tidak ingin bersikap kejam. Tapi kurasa kau benar. Calista harus membiasakan dirinya." "Dan aku selalu tidak memiliki keyakinan bahwa kau mampu melepaskan Calista dan menyerahkannya pada Dale seutuhnya. Apa yang bisa pria itu bisa lakukan selain menghitung berapa alat berat yang..." "Jangan menghinanya." Callia merutuk. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa tidak begitu yakin." Callia menghela napasnya. "Seharusnya kau ijinkan aku berbicara pada kedua orangtuamu..." Orlando meneruskan kata-katanya. Terdengar asing, karena pada kenyataannya yang Orlando maksud dengan kedua orangtuanya adalah Paman dan Bibi bagi Orlando. Nyaris seperti orangtuanya sendiri. Callia terdiam. Tangannya meraih tangan Orlando dan menangkup telapaknya erat. "Hal itu juga yang membuatku datang kemari." "Huum...?"  "Aku ingin kita membuat sebuah perjanjian." "Perjanjian?" "Kau mencintaiku?" "Sangat." "Seberapa besar Mr Jefferson?" "Seperti aku mencintai ibuku dan negaraku." Callia beranjak dari pelukan Orlando dan menatapnya tajam. Tidak ada gurat senyum apalagi tawa yang mencapai sudut mata lembut Orlando. Yang ada adalah sebuah keyakinan yang nampak sangat jelas terpatri di wajah teramat tampan dan menggemaskan pria itu. "Terimakasih sudah mencintaiku sebesar itu." Orlando mengusap pipi Callia lembut. "Kau ingin kita saling berjanji tentang apa?" "...tentang...bahwa kita akan sedikit lebih lama lagi diam. Aku belum siap mengatakan apapun pada Ayah dan Ibuku. Tapi suatu hari nanti aku akan mengatakan semuanya." "Kapan?" "Momentum itu akan tiba. Dan saat itu tiba, aku akan mengetahuinya." Orlando menghela napas pasrah. Tangannya bergerak menyusup dan mengusap leher Callia lembut dan terpaku saat Callia mengecup jemarinya. "Berjanjilah satu hal untukku Cal..." Callia mendongak. "Kau mau aku berjanji apa padamu?" "Menangislah saat kau ingin menangis. Kau hanya perlu menemukan aku dan aku akan menemanimu." Callia tertegun. Dan hanya dengan kalimat itu. Orlando nyata mampu mendobrak dinding tebal bernama kekuatan yang Callia bangun untuk menguatkan hatinya. Menangis. Bening itu luruh begitu saja. Dalam diam. Bersama dengan sebuah pertanyaan. Apalagi yang dia cari dari seorang pria selain dia yang mau menemaninya saat berduka dan gelisah, lalu mau menemaninya untuk memberikan bahunya dan sedikit kata penghiburan? Dan menemukan Orlando lah yang bersedia melakukannya. Sesuatu yang sangat sederhana tapi akan sangat sulit dilakukan oleh para pria yang rata-rata mengedepankan logika dibanding dengan sebuah sentimentalisme penuh drama. Lalu semua nampak benar. Callia tidak ingin mencari. Dia sudah menemukan. *** Dan sepertinya, Orlando menyetujui semuanya. Diam. Orlando mencoba bersikap bijak dan menghargai apa yang sudah mereka bicarakan. Dia bersikap biasa pada saat mereka berkumpul dengan keluarga. Tidak ada lagi usaha mencuri sebuah ciuman kecil seperti yang sudah sudah. Atau mencoba membawa Callia menyelinap ke tempat sunyi? Ruangan kosong? Tidak lagi. Kesibukan menjelang pernikahan Calista dan Dale sedikit membantu usaha Callia dan Orlando untuk bersikap dengan benar. Sebisa mungkin tidak menimbulkan kecurigaan siapapun. Termasuk hari itu saat beberapa anggota keluarga sedang mendengarkan seseorang dari wedding organizer menjelaskan konsep pernikahan yang Calista dan Dale sudah pilih. Semua orang sepertinya bergerak sangat cepat. Dan seperti beberapa generasi sebelumnya. Padang golf di belakang mansion Leandro selalu menjadi pilihan terbaik. Sebuah pesta kebun yang akan sedikit lebih meriah mengingat cukup banyak anggota keluarga dan sanak saudara dari kedua belah pihak. Juga sahabat, teman dan kolega Dale yang akan mereka undangCallia berjalan di tengah-tengah antara Orlando dan Marlon. Dan menatap Orlando. Tersenyum simpul.  "Apa kelak kau juga ingin menikah di sini Callia?" Marlon mengajukan pertanyaan yang membuat Callia menoleh padanya. "Aku? Setelah kau pastinya." Dia mencoba mengganti subyek pembicaraan. Dia tidak ingin membicarakan dirinya. "Aku belum menemukan seseorang dan tidak masalah kalau kau dulu yang menikah. Asal bukan Orlando yang melangkahi aku dan menikah terlebih dulu." Callia menoleh dan menatap Orlando yang berdiri tegak dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Tidak terlihat perubahan wajah Orlando. Rombongan keluarga sudah sedikit menjauh. "Aku memikirkannya. Tentu saja. Tapi abaikan. Dan...kalau aku boleh menebak, suatu hari Callia akan memilih menikah di barak tentara. Aku bisa memfasilitasinya." Dan Orlando yang tertawa mendengar kata-katanya sendiri. Callia yang tertegun. Lalu ikut tertawa. Marlon juga ikut tertawa. "No way. Sepupu kita yang manis ini tentu saja akan menikah di sini. Bukan begitu Cal?" "Huum...entahlah..." "Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku. Siapa tahu ada yang berjodoh denganmu kelak. Aku harus mempercayakanmu pada seseorang yang sudah aku kenal bukan?" "Sebaiknya memang seperti itu. Dia terlalu berharga kalau harus berakhir dengan seseorang yang tidak kita kenal dengan baik." Orlando menarik bahu Callia dan memberinya ciuman sekilas di kepalanya. Sesuatu yang juga seringkali Marlon lakukan pada Callia dan Calista sebagai bentuk rasa sayang. Callia tertawa sumbang. Dia tahu semua ucapan Orlando sarat dengan makna yang dalam. Sebuah bentuk penguasaan tak terbantah. Kepemilikan yang enggan terusik akan dirinya. Callia! Dan suatu hari semua itu akan terucap dengan gamblang. Akan mengalir dengan lancar dari mulut Orlando yang terbiasa hidup ditempa dengan ketegasan dan keberanian. Kali ini mungkin saja dia masih diam karena menghargai keputusan Callia. Tapi kelak, suatu hari nanti, Callia yakin, Orlando tidak akan pernah mendengarkan permohonannya sekalipun --untuk tetap diam--. Tidak. "Kita makan siang di luar Cal? Aku ada janji dengan beberapa teman. Ikutlah agar  kau tidak bosan." Callia menoleh pada Marlon yang menawarkan ajakan makan siang padanya. "Kau terlambat. Callia tadi sudah setuju pergi ke barak denganku. Ada beberapa menu baru untuk prajurit yang harus dipilih dan Callia setuju untuk membantu. Kau belum berubah pikiran bukan, Cal?" Callia tersenyum geli. "Tentu saja. Marlon, lain kali, okay?" "Baiklah." Marlon mengacak rambut Callia dan berjalan lebih cepat menuju kerumunan anggota keluarga yang sudah menjauh. "Kau ini!" Orlando tertawa. Dan merapikan rambut Callia yang berantakan karena ulah Marlon. "Bagaimana keadaanmu? Kau sudah lebih baik?" "Huum..." Callia mengangguk. Di sedikit meregangkan tubuhnya. "Aku serius tentang menu baru di barak. Kau mau bergabung?" "Jadi benar?" Orlando mengangangguk. "Baiklah." Callia melangkah. "Aku mencintaimu Cal." Langkah Callia terhenti. Dia menoleh pada Orlando yang masih berdiri menjulang. "Aku mencintaimu..." Callia berbisik dan tertawa kecil. Lalu berbalik dan kembali melangkah. Orlando menghela napas. Menatap rambut hitam Callia yang selalu mampu membiusnya. Mereka sekarang tak ubahnya seperti tengah bermain hide and seek. Memacu adrenalin yang bahkan lebih tinggi dari sebuah latihan perang sekalipun. Entah sampai kapan? Dan Orlando? Dia merasa tertantang!   --------------------------  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD