BAB 7: KONTRAK DI ATAS KERTAS

1362 Words
​Di bawah pendar lampu ruangan yang temaram dan hamparan salju yang kian lebat di balik dinding kaca, Nabila menekan semua rasa takutnya dalam-dalam. Menatap langsung pada sepasang manik mata abu-abu milik Caspian, wanita itu meremas jemarinya yang dingin sebelum akhirnya bersuara, mengutarakan rasa terima kasih yang teramat tulus. ​"Terima kasih, Mr. Devereux. Tanpa bantuan Anda... saya pasti sudah dideportasi dengan sejuta rasa malu pada hari pertama saya menginjakkan kaki di Kanada," cicit Nabila dengan nada bergetar, namun sarat akan keteguhan hati. "Meskipun visa dan beasiswa saya dari agensi penipu itu sudah hangus, setidaknya berkat dokumen jaminan Anda, saya tidak dijebloskan ke sel tahanan sebagai imigran gelap. Saya berjanji akan tetap berusaha belajar dan mencari cara untuk mendapatkan beasiswa itu lagi secara resmi. Tapi untuk saat ini, karena Anda adalah penjamin saya..." ​Caspian tidak menyela. Pria itu hanya mendengus remeh, menyesap kopinya dengan keangkuhan mutlak seolah menganggap ambisi Nabila adalah hal yang terlalu sepele. Tanpa sepatah kata pun, jemari kokoh Caspian menggeser sebuah dokumen tebal dan sebuah pena mahal ke hadapan Nabila, memintanya untuk segera membubuhkan tanda tangan sebagai syarat formalitas penjaminan hukum. ​Awalnya, Nabila mengira itu hanyalah surat pernyataan sponsor domestik biasa. Namun, sebagai wanita dewasa yang teliti, ia tidak ingin gegabah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nabila membuka lembar demi lembar klausul berbahasa Inggris tersebut, membaca setiap baris kalimatnya dengan saksama di bawah tatapan tajam Caspian yang terus mengintimidasi. ​Dan tepat di halaman tengah, gerakan tangan Nabila mendadak terkunci. ​Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seakan menguap dalam sekejap saat matanya menangkap sebaris judul dokumen hukum yang tertera dengan sangat tebal dan jelas: Application for Spousal Sponsorship – Legal Marriage Contract under Canadian Law. ​Itu bukan surat jaminan kerja atau sponsor biasa. Itu adalah dokumen pendaftaran pernikahan legal yang sah di bawah hukum Kanada. ​​Nabila langsung mendongak dengan tatapan syok, napasnya tertahan di balik kain niqab yang menyembunyikan wajah pucatnya. Di seberang meja mahogani, Caspian masih duduk dengan tenang, menatap reaksi Nabila dengan senyum tipis yang sarat akan kendali mutlak. Pria itu tahu persis bahwa di bawah hukum Kanada, satu-satunya cara paling rasional dan instan untuk menyelamatkan imigran dengan dokumen bermasalah dari jerat hukum federal adalah dengan menjadikannya seorang istri di atas kertas. ​"M-Mr. Devereux... apa maksud dari dokumen ini?" Suara Nabila terdengar bergetar hebat, nyaris seperti bisikan di tengah keheningan ruangan yang luas itu. Jari telunjuknya yang terbungkus sarung kain gemetar saat menunjuk baris kalimat Legal Marriage Contract di atas meja. ​Caspian tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkir kopinya tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu menegakkan punggungnya. Sepasang manik mata abu-abunya menatap Nabila lurus-lurus, begitu dingin dan tajam hingga membuat Nabila merasa seolah sedang diinterogasi oleh aparat federal. ​"Aku adalah seorang pebisnis, Nabila. Dan seorang pebisnis tidak suka membuang waktu untuk sesuatu yang tidak efisien," ujar Caspian, suaranya berat dan terdengar begitu tenang, kontras dengan gemuruh di d**a Nabila. "Visa pelajarmu sudah hangus akibat agensi penipu itu. Dalam waktu kurang dari 48 jam, jaminan sementaraku akan habis, dan petugas imigrasi akan menyeretmu kembali ke bandara untuk dideportasi. Kau pikir sistem hukum Kanada bisa dilunakkan hanya dengan air mata?" ​Nabila tersentak, batinnya teriris mendengarkan kalimat sinis pria itu. "Tapi tidak harus dengan... pernikahan, bukan? Saya bisa mengajukan banding, atau mencari sponsor kerja—" ​"Sponsor kerja?" Caspian mendengus remeh, memotong kalimat Nabila tanpa ampun. Sebuah senyum sinis terukir di sudut bibirnya. "Jangan naif. Mengurus sponsor kerja atau banding hukum bagi imigran dengan dokumen cacat seperti dirimu membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan. Dan selama proses itu berjalan, tempatmu bukan di rumah pamanmu, melainkan di dalam sel tahanan imigran gelap." ​Caspian memajukan sedikit tubuhnya, memberikan tekanan intimidasi yang membuat Nabila otomatis menahan napas. "Di bawah hukum federal Kanada, satu-satunya tameng hukum yang paling instan, legal, dan mutlak untuk menyelamatkanmu dari deportasi saat ini adalah Spousal Sponsorship. Pernikahan di atas kertas. Begitu tanda tanganmu ada di sana, statusmu terlindungi sepenuhnya di bawah namaku." ​Nabila menggelengkan kepalanya perlahan, air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya yang tertutup kacamata tebal. Logika Caspian memang sangat rasional dan tak terbantahkan secara hukum, namun harga diri Nabila sebagai wanita muslimah seolah dipaksa runtuh. Pernikahan bukanlah sebuah transaksi bisnis yang bisa ditandatangani begitu saja di atas kertas mahogani yang mewah ini. ​"Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Nabila akhirnya, mencoba mencari sisa harga dirinya yang tersisa. "Kenapa seorang miliarder seperti Anda... rela repot-repot menjamin wanita asing seperti saya dengan cara seperti ini? Apa imbalan yang Anda inginkan dari saya?" ​Pertanyaan Nabila menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam selama beberapa detik. ​Caspian tidak langsung menjawab. Pria itu meletakkan cangkir kopinya, lalu perlahan bangkit dari kursi kulit mewahnya. Tubuh tegapnya yang menjulang tinggi seketika memotong cahaya lampu di belakangnya, melemparkan bayangan besar yang menenggelamkan sosok Nabila. Dengan langkah pelan yang konstan, Caspian mulai berjalan memutari meja kerja mahoganinya. ​Melihat pria itu bergerak mendekat, insting Nabila langsung menyuruhnya untuk mundur. Namun, karena gerakannya yang terlalu panik dan canggung, ujung mantel tebalnya sempat tersangkut pada sudut kursi tamu di dekatnya. Nabila tersentak, hampir saja kehilangan keseimbangan jika ia tidak buru-buru menapakkan sneakers-nya dengan kuat di atas lantai marmer. Efeknya, langkah pelariannya terkunci mati. Jantungnya berdegup menggila saat Caspian akhirnya berhenti tepat di hadapannya. ​Jarak mereka begitu dekat hingga aroma mint dan keharuman kayu maskulin yang pekat dari tubuh Caspian langsung mengepung indra penciuman Nabila. Berdiri di depan d**a bidang pria itu membuat Nabila terpaksa mendongak mentok demi bisa menatapnya, menyebabkan kacamata tebalnya sedikit merosot di pangkal hidung. ​Caspian sedikit menundukkan kepalanya, mengunci netra Nabila yang bergetar di balik lensa kacamata bulat itu. ​"Imbalan?" Caspian mengulang kata itu dengan suara baritonnya yang berat, berdesis rendah tepat di hadapan wajah Nabila. "Jangan terlalu tinggi menilai dirimu, Nabila. Aku memiliki segalanya di kota ini. Uang, kekuasaan, hukum—tidak ada satu pun hal yang ada pada dirimu yang bisa menguntungkan bisnisku." ​Kalimat itu dingin, namun tatapan mata abu-abu Caspian yang menatapnya lurus justru terasa membakar. Caspian menaikkan satu tangannya, bukan untuk menyentuh, melainkan untuk mengetukkan telunjuknya di atas dokumen pernikahan di samping tubuh Nabila, memberikan tekanan intimidasi yang mutlak. ​"Aku hanya tidak suka milikku diusik. Surat jaminan 72 jam kemarin diterbitkan atas nama perusahaanku, Devereux Group. Begitu namamu masuk ke dalam sistemku, kau adalah tanggung jawabku. Dan aku tidak pernah mentoleransi adanya cacat atau kegagalan dalam hidupku," bisik Caspian lagi, suaranya begitu dekat hingga embusan napasnya terasa di dahi Nabila. "Pernikahan ini murni transaksi hukum. Kau mendapatkan status tinggal yang legal, dan aku mendapatkan kepatuhan mutlakmu. Kau tidak punya pilihan untuk menolak, Nabila." ​Nabila memejamkan mata, membiarkan setitik air mata yang sejak tadi ditahannya luruh menyerap ke dalam kain niqab hitamnya. Dadanya sesak, kepalanya pening karena kedekatan fisik yang begitu mengintimidasi ini. Logika Caspian sangat kejam, namun pria itu benar: ia tidak punya pilihan jika tidak ingin dideportasi dan mempermalukan keluarganya. ​Dengan tangan yang gemetar hebat, Nabila meraih pena mahal di atas meja. Sebelum menggoreskan tinta, ia mendongak sekali lagi, mencoba menegakkan sisa harga dirinya. "Hanya di atas kertas... Setelah status saya aman dan saya mendapatkan beasiswa itu lagi, Anda harus melepaskan saya, Mr. Devereux." ​Caspian tidak berkomitmen pada janji itu. Pria itu hanya menegakkan tubuhnya kembali, menyunggingkan senyum tipis yang penuh teka-teki—seolah tahu bahwa sekali wanita mungil ini masuk ke dalam jerat kendalinya, dia tidak akan pernah diizinkan untuk melangkah keluar. ​Sret. Sret. Goresan pena itu akhirnya selesai. Di bawah kesaksian malam Edmonton yang membeku, Nabila resmi mengikat nasibnya—menjadi istri di atas kertas dari sang miliarder muda, Caspian Devereux. Caspian menarik kembali dokumen yang kini telah sah bertanda tangan itu, lalu menyelipkannya ke dalam laci meja dengan gerakan yang teramat rapi, seolah baru saja menyelesaikan audit tahunan perusahaannya. Sementara itu, Nabila melangkah mundur dengan sisa tenaga yang ia miliki, merasakan jemarinya yang masih bergetar hebat saat menyelipkan kembali kedua tangannya ke balik khimar panjangnya. Di balik dinding kaca raksasa menara Devereux Group, badai salju Edmonton malam itu tampak semakin menggila, mengubur jalanan kota di bawah tumpukan es yang membeku—sama seperti nasib dan kebebasan Nabila yang kini telah terkunci rapat, sepenuhnya berada di bawah jerat kendali mutlak sang miliarder dingin, Caspian Devereux.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD