Pagi pertama di Edmonton disambut oleh langit kelabu yang seolah enggan menampakkan matahari. Suara deru angin musim dingin yang menyapu dinding papan kayu townhouse Paman Hasan terdengar seperti bisikan ancaman di telinga Nabila. Suhu di luar melonjak turun hingga minus delapan belas derajat, namun rasa dingin yang menyergap d**a Nabila sejak membuka mata sama sekali bukan berasal dari luar jendela.
Ponselnya yang tergeletak di atas nakas masih menampilkan layar hitam, namun isi pesan teks tadi malam seolah telah terpahat di dalam kepalanya. Besok malam, jam delapan. Datanglah ke Devereux Tower... Setiap detak jarum jam dinding di kamarnya kini terdengar seperti hitung mundur dari sisa waktu 72 jam jaminan federal yang menahan deportasinya.
"Nabila, ayo sarapan dulu, Nak. Setelah ini Paman mau mengajakmu ke kantor komunitas imigran, siapa tahu ada titik terang," panggil Paman Hasan dari balik pintu, memecah lamunan Nabila.
Nabila buru-buru membetulkan khimar instannya, lalu membuka pintu dengan senyum yang dipaksakan. "Iya, Paman. Nabila segera turun."
Suasana di meja makan terasa jauh lebih berat dari malam sebelumnya. Paman Hasan berkali-kali memeriksa berkas agensi penipu dari Jakarta dengan dahi berkerut dalam, sementara Mbak Intan duduk di seberang meja sambil mengaduk sereal tanpa selera, sesekali melirik Nabila dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapan yang seolah terus menagih jawaban: Imbalan apa yang akan diminta oleh seorang miliarder sekelas Caspian Devereux dari wanita asing seperti dirinya?
"Paman sudah telepon beberapa kenalan, Nabila," ujar Paman Hasan pelan setelah meneguk kopi hitamnya. "Tapi... kasus penipuan visa pelajar internasional yang sudah masuk sistem federal seperti ini memang sangat rumit. Kalau tidak ada jaminan kuat dari warga negara sini atau draf hukum baru dalam tiga hari, petugas imigrasi di bandara kemarin punya hak penuh untuk menjemputmu kembali."
Nabila meremas jemarinya di bawah meja. Jaminan kuat itu ada. Surat sakti itu kini terselip di dalam paspormu yang berwarna hijau. Namun, pemilik jaminan itu adalah pria sedingin es yang malam nanti menuntut kehadirannya di menara tertinggi di pusat kota.
Hari berjalan begitu cepat dan melelahkan bagi Nabila. Usaha Paman Hasan mendatangi lembaga bantuan imigran di Edmonton tidak membuahkan hasil instan; semuanya membutuhkan waktu berminggu-minggu, sesuatu yang tidak dimiliki Nabila. Sepanjang jalan pulang melintasi jalanan kota yang diselimuti black ice, pikiran Nabila lumpuh. Ia tahu, tidak ada jalan lain. Ia harus mendatangi Devereux Tower.
Tepat pukul tujuh malam, Nabila sudah berdiri di depan cermin kamarnya. Kamar terasa sunyi karena Paman dan Bibi sedang menemani Intan yang ada kelas malam di kampus. Nabila mengenakan gamis hitam tebal berlapis mantel abu-abunya. Dengan tangan gemetar, ia mengikatkan kain niqab hitamnya, menyembunyikan wajah pucatnya yang dipenuhi ketakutan.
Saat ia membetulkan posisi kacamata tebalnya, alarm peringatan cuaca buruk berbunyi pendek di ponselnya. Waktu baginya telah habis. Langkah kaki Nabila terasa sangat berat dan canggung saat menuruni tangga rumah yang asing itu, bersiap menerobos malam sendirian demi menemui sang miliarder muda, Caspian Devereux.
Perjalanan malam itu terasa seperti labirin yang menyiksa. Sebagai imigran yang belum genap dua puluh empat jam menginjakkan kaki di Kanada, Nabila harus berjuang keras memahami rute bus kota dan jalur kereta komuter (LRT) bawah tanah di Edmonton. Angin malam yang bercampur kabut salju langsung menghantam wajahnya begitu ia keluar dari stasiun pusat kota. Sarung tangan kainnya yang tipis sama sekali tidak mampu menghalau udara dingin yang menusuk hingga ke tulang, sementara kacamata bulatnya terus-menerus berembun setiap kali ia mengembuskan napas.
Sembari merapatkan mantel dan membetulkan letak niqabnya, Nabila berjalan canggung menyusuri trotoar yang mulai licin tertutup es. Di hadapannya, berdiri sebuah menara pencakar langit berbahan kaca dan baja hitam yang menjulang angkuh membelah langit malam: Devereux Tower.
Nabila menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum mendorong pintu kaca berputar dan melangkah masuk ke dalam lobi utama yang megah berlapis marmer. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di sana, atmosfer seketika berubah kaku. Sosok Nabila yang mengenakan gamis longgar dan niqab hitam tampak sangat kontras—bahkan asing—di tengah lingkungan korporat yang serba modern, glamor, dan sekuler itu.
Beberapa resepsionis wanita berpakaian formal dan staf keamanan yang berjaga langsung menghentikan gerakan mereka. Tatapan mereka yang semula profesional berubah menjadi penuh selidik, dingin, dan sarat akan prasangka. Saat Nabila berjalan canggung dan kebingungan mencari arah lift, bisikan-bisikan tajam mulai berdengung di sudut lobi, cukup keras untuk ditangkap oleh indra pendengaran Nabila.
"Astaga, siapa wanita itu? Kenapa pakaiannya menyeramkan begitu?" bisik seorang staf wanita pada rekannya sambil memicingkan mata ragu.
"Entahlah. Apa dia tidak salah alamat? Kenapa orang asing seperti dia bisa lolos masuk ke lobi? Apa lobi kita aman? Jangan-jangan dia teroris atau semacamnya..." sahut yang lain dengan nada sinis, sengaja memundurkan langkah saat Nabila berjalan melintas di dekat mereka.
Kalimat itu bagai tamparan tak kasat mata yang menghantam d**a Nabila. Langkah kakinya sempat goyah dan sneakers-nya hampir saja tersandung ujung karpet lobi yang tebal. Wajahnya di balik kain niqab langsung memanas karena malu dan terluka. Di negara asing ini, ia tidak hanya harus menghadapi ancaman deportasi, tetapi juga stigma kejam yang langsung menghakimi keyakinannya.
Dengan tangan gemetar, Nabila memberanikan diri mendekati meja resepsionis eksekutif untuk menanyakan janji temunya. Namun, sebelum resepsionis itu menjawab dengan ketus, sebuah langkah kaki yang tegas terdengar mendekat. Sosok pria paruh baya dengan setelan jas rapi—Arthur, asisten pribadi Caspian—baru saja keluar dari koridor lift privat.
Arthur melayangkan tatapan tajam dan dingin ke arah para staf lobi yang bergosip tadi, seketika membungkam seluruh bisikan jahat di sana. "Jaga lidah kalian jika masih ingin melihat hari esok di perusahaan ini," tegur Arthur dengan suara rendah namun penuh penekanan yang mutlak.
Staf yang berbisik tadi langsung memucat. Arthur kemudian menoleh pada Nabila, suaranya melunak sedikit. "Mari, Miss Nabila. Mr. Devereux sudah menunggu Anda di atas."
Nabila hanya bisa mengangguk samar, meremas tali tas jinjingnya erat-erat demi menahan air mata yang mendesak keluar. Ketika lift berkecepatan tinggi itu membawanya naik menuju lantai teratas, hati Nabila benar-benar telah membeku.
Hingga akhirnya pintu lift berdenting terbuka, menampilkan dinding kaca raksasa dengan hamparan lampu kota Edmonton yang berkilauan. Pemandangan megah yang bagi orang lain luar biasa, di mata Nabila justru tampak seperti jurang tak berdasar yang siap menelannya hidup-hidup. Kepalanya pening, hatinya lelah karena dihakimi. Ia memundurkan langkahnya satu kali dengan gemetar, tepat saat sepasang manik mata tajam sedingin es menangkap sosoknya dari balik meja kerja mahogani yang besar.
Keheningan di dalam ruangan luas itu terasa begitu mencekam, hanya dipecah oleh desis halus pemanas ruangan yang gagal mengusir rasa membeku di dalam d**a Nabila. Dari balik kacamata tebal dan kain niqabnya, Nabila memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak, menantang sepasang manik mata abu-abu milik Caspian yang menatapnya lurus tanpa ekspresi. Pria itu meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menyandarkan tubuh tegapnya pada kursi kulit, membiarkan auranya yang intimidatif memenuhi setiap sudut ruangan seolah ingin menelanjangi seluruh ketakutan yang sedang disembunyikan oleh wanita di hadapannya.
Bagi Caspian, wanita bercadar yang berdiri gemetar di dekat liftnya malam ini adalah sebuah teka-teki yang merusak seluruh keteraturan rumusnya. Namun bagi Nabila, tatapan tajam sang miliarder tak ubahnya seperti vonis mutlak yang siap menentukan sisa hidupnya di tanah Kanada. Di bawah pendar lampu ruangan yang temaram dan hamparan salju yang kian lebat di balik dinding kaca, Nabila tahu bahwa permainan ego baru saja dimulai—dan ia telah melangkah terlalu jauh ke dalam jerat kendali seorang Caspian Devereux.
"Kau terlambat sepuluh menit, Nabila," suara bariton Caspian memecah keheningan, terdengar begitu berat dan tenang, namun sanggup membuat bulu kuduk berdiri. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, menatap lurus pada sosok ringkih yang masih membeku di depan pintu lift. "Dan di duniaku... tidak ada tempat bagi orang yang tidak bisa menghargai waktu."
"Duduklah, Nabila. Aku tahu apa yang baru saja kau alami di lobi bawah, tapi aku tidak menerimamu di lantai ini hanya untuk melihatmu berdiri gemetar meratapi harga diri. Waktumu tinggal tujuh puluh dua jam sebelum otoritas federal menyeretmu kembali ke bandara, dan aku tidak punya waktu semalaman untuk menghadapi sikap canggungmu."