“Tan, entar jangan balik kesorean, ya?” Aku berujar sesaat usai kembali berjumpa dengan Tania. “Yah! Padahal, aku mau ajakin kamu sekalian makan malam.” “Makan malam?” Seketika, aku teringat pada isi pesan dari Rendy. “Kan, entar malam kita memang makan bareng, Tan?” “Astaga, benar juga ya. Kita kan, memang janji ketemu di toserba buat ngopi. Bisa sekalian makan bareng,” Ia teringat pada janji singkat kami. Sebuah janji, yang sebenarnya kutujukan untuk dia dan Rendy. “Kalau begitu, selepas pulang dari sini. Kamu istirahat di rumah aku aja, Tan? Dari pada bolak-balik ya, kan?” “Wah, ide bagus tuh, Nad.” Usai bersepakat dan puas menjejalah tiap sudut ruang galeri seni, aku dan Tania memutuskan untuk pulang. Yakni, menuju hunian ibu dan ayah. Tania memang kerap berkunjung. Sehingga, ia

