Aku memutuskan untuk memukul kepala sisi belakang Andre menggunakan vas bunga yang semula diletakkan kembali olehnya di atas meja. Seketika Andre jatuh terkapar begitu saja. Setelah memastikan jika tidak ada darah yang bercucuran pada kepala Andre, melainkan hanya sekedar menunjukkan reaksi sempoyongan karena terkejut saja. Aku bergegas meninggalkan kamar apartemen milik Aira. Aku mengambil tas dan handphoneku yang sedang terjatuh. Aku bergegas berlari meninggalkan Andre begitu saja. “Nadine!” Aku mendengar Andre sedang meneriakkan namaku dari kejauhan. Aku terkejut karena sewaktu aku menoleh ke arah sumber suara tersebut, sudah ada sosok Andre yang kembali mengejarku. “Berhentilah Nadine!” teriak Andre untuk kedua kalinya.

