Bab 13 Semakin Benci

1286 Words

Bukankah pengkhianat tidak pantas untuk dimaafkan? Sekalipun ia mengemis sambil berlutut, sekalipun tangisan darahnya keluar. . "Di mana putriku, Mas?!" Sekali lagi aku bertanya putus asa, bulir bening kurasakan sudah menggenang di pelupuk mata. Nariku, di mana dia. Kenapa Mas Asraf tega mempermainkanku. "Aku tidak suka mendengarmu menyebut 'putriku' Yas. Bagaimanapun Nari putri kita berdua. Dia juga anakku ...." "Mama!" Seketika aku membeku. Tanpa peduli dengan ocehan Mas Asraf, aku segera menoleh ke arah tangga. Di mana suara itu berasal, suara yang kunanti-nantikan sejak tadi, yang kurindukan setengah mati. "Sayang!" Aku segera berlari ke arah gadis kecil berusia delapan tahun itu. Bersamaan dengan Nari yang juga menghambur ke pelukanku. "Mama." "Sayang, kamu baik-bai

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD