Bukankah ini yang kutunggu-tunggu. Bukti yang sebenarnya harus kucari namun, ia datang sendiri? Bukankah ini akan sangat memudahkanku? Lalu, mengapa hati ini sesak sekali? Ternyata telah sejauh ini aku dikhianati? . Hening. Detak jantungku seperti berhenti selama sepersekian detik. Mataku menatap nanar ke arah testpack dengan dua garis yang terpampang jelas di depanku. Di tempat yang dipenuhi banyak orang ini, aku membeku. Jiwaku seperti terpisah dari raga. Hidup seolah berhenti untuk beberapa saat. Otakku tidak mampu berpikir. Aku terdorong ke dasar jurang. Aku terbunuh. Sebelum, Maurina mengeluarkan satu bukti lagi yang berupa selembar kertas berisi surat keterangan dokter. Lagi-lagi dia menyodorkannya padaku dengan senyum sumringah. Hingga akhirnya Maharani merebut kertas i

