PoV Vincen Malam itu, saat sepatuku baru menapaki teras rumah, setelah kembali dari luar kota. Di balik pintu utama yang baru saja terbuka, kusaksikan pemandangan yang sangat tidak ingin kusaksikan di sudut sofa ruang tamu. Di tempat yang biasanya kuhabiskan dengan penuh kehangatan bersama tiga perempuan yang sangat kusayangi—yang posisinya tidak akan pernah berubah di palung hati. Malam ini, kulihat di sofa itu tampak beku, dengan gerimis begitu menderas dari pelupuk mata seseorang. Mama. Hanya Mama di sana. Terisak pilu, tanpa Yasmine dan Nari di sampingnya. Tentu saja aku terkejut. Dengan perasaan berkecamuk gegas kuhampiri Mama. Batinku bertanya-tanya gelisah, apa penyebab wanita yang paling kucintai itu menangis keras malam-malam begini. "Mama kenapa?" tanyaku yang sudah berlu

