Saat dia si pengganggu tiba-tiba hilang seperti hantu namun hati ini selalu mencari tahu. Inikah rindu?
***
Drttt!!
Jasmine membuka mata, kaget ketika ada getar ponsel yang membuat tidurnya terganggu. Tangan kirinya terangkat ke nakas, menggapai ponsel yang seingatnya dia letakkan di sana.
Tanpa melihat caller id, Jasmine mengangkat panggilan itu. “Halo,” sapanya.
“Jas. Uhuk. Lo bisa jemput. Uhuk.. uhuk..”
Seketika Jasmine terduduk mendengar suara itu. Valan? batinnya. Dia menjauhkan ponsel dari telinga untuk melihat caller id, dia lalu terbelalak kaget. Benar dugaannya, suara lelaki terbatuk itu memang Valan.
“Lan lo kenapa?” tanya Jasmine panik.
“Uhuk. Jemput gue. Uhuk. Uhuk. Gue habis berantem.”
“Lo berantem? Sekarang lo di mana? Chat alamatnya.” Setelah menjawab, Jasmine memutuskan sambungan secara sepihak. Dia turun dari ranjang dengan sedikit melompat. Dia mengambil sweater yang dia gantung di dekat lemari lalu memakainya. Setelah itu menyambar kunci mobil di atas nakas dan tidak lupa menyambar ponsel.
Ketika keluar kamar, Jasmine merasakan ponselnya bergetar. Langkahnya terhenti, membuka pesan masuk yang ternyata dari Valan.
Tak sampai tiga puluh menit Jasmine sampai di tempat yang diberi tahu sahabatnya. Dia menatap keadaan di luar yang begitu sepi senyap. Pandangannya menyapu ke setiap sudut, dia harus tetap waspada takut ada begal atau semacamnya.
Dirasa tidak ada tanda-tanda Valan, Jasmine mengambil ponsel di dashboard, menekan nomor lelaki itu lalu mendekatkan ke telinganya.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
“Sial!”
Jasmine meletakkan kembali ponsel ke dasboard. Tatapannya tertuju ke depan, tepatnya di sebuah toko yang sudah tutup. “Ck! Mana sih Valan. Ya kali gue suruh keluar? Gue juga bodoh main samperin gitu aja.”
Tadi ketika mendapat telepon dari Valan, satu yang Jasmine rasakan, panik. Dia tidak bisa berpikir jernih. Ah, sekarang Jasmine merutuki kebodohannya. Harusnya dia tadi membawa satpam rumahnya ikut serta. Yah, untuk jaga-jaga.
Jasmine menoleh ke belakang, masih berusaha mencari keberadaan Valan. Tak lama wanita itu melihat seorang lelaki yang dia tebak adalah Valan sedang berjalan sempoyongan.
Tanpa pikir panjang, Jasmine turun dari mobil dan menghampiri lelaki itu. “Ck! Lo ngapain sih berantem segala,” ucapnya meski posisinya masih cukup jauh dari Valan.
“Jas.”
Jasmine berlari ketika tubuh Valan hendak limbung itu. Dia menahan tubuh Valan dengan melingkarkan lengannya di pundak lelaki itu. Jasmine lalu menghidu aroma alkohol yang menguar. “Lo mabok, ya!!”
“Alya. Lo tega banget sama gue.”
Jasmine mendengar Valan merancau. Sekarang dia yakin kalau ini semua ada hubungannya dengan Alya-pacar Valan.
“Ck! Patah hati lo ya,” ejek Jasmine.
Valan tidak menjawab, kepalanya pening dan tubuhnya remuk karena dihajar banyak orang di kelab. Dia lalu menyandarkan tubuh di pundak Jasmine, tak kuat menyangga kepalanya.
“Eh! Jangan nyandar-nyandar!! Ayo jalan kita pulang!!” ajak Jasmine.
Jasmine memaksa agar Valan berjalan mengikutinya. Sekarang Jasmine sadar betapa berat tubuh sahabatnya itu. Tubuh Valan memang tidak sebesar Varlo atau teman sekantornya, tapi ternyata terasa berat.
“Huh. Ayo, Lan jalan dikit lagi. Bentar lagi sampai mobil.”
Napas Jasmine terengah, keringat mulai keluar dari pelipis. Malam yang terasa dingin tidak terasa baginya, yang dia rasakan justru panas seperti olahraga angkat beban dan beban itu adalah Valan.
Brak!!
Jasmine menutup pintu mobil dengan kencang. Dia menyandarkan tubuh di pintu mobil, menghapus keringat yang mengalir di pelipisnya. Dia lalu menoleh ke Valan, melihat sahabatnya itu tengah terlelap.
“Kalau lo sadar lo harus cerita ke gue!” ucap Jasmine sambil menatap Valan.
Jasmine menegakkan tubuh, berjalan memutari mobil dan membuka pintu kemudi. Sekarang tugasnya adalah mengantar sahabatnya itu pulang. Semangat, Jasmine!
***
Varlo mengerang frustrasi. Di tidur nyenyaknya dia harus mendengar suara ponsel yang berdering. Tangan kanannya menggapai ponsel yang dia letakkan di bantal sebelahnya. Tanpa membuka mata, dia menggeser layar ponsel.
Dering ponsel itu berhenti berbunyi. Varlo menempelkan ponselnya di telinga. “Halo,” sapanya tapi tidak ada nada sambung yang terdengar. Sepertinya dia salah menggeser warna merah.
Tring!
Ponselnya kembali berbunyi. Dia mengacak rambutnya frustrasi. Varlo lalu membuka mata, mengambil ponsel lalu menggeser layar warna hijau.
“Ha... .”
“... lelaki gila!! Buka pintu rumah lo!!!”
Belum sempat Varlo mengucapkan halo, kalimatnya sudah terputus. Dia yang mendengar makian dari ponsel seketika terduduk danmelihat caller id. Matanya seketika terbuka melihat nama Jasmine. “Loh, Sayang? Kamu di rumahku?”
“CEPET LO BUKA PINTUNYA!!!”
Tut. Tut. Tut. Tut.
Varlo menjauhkan ponsel ketika mendengar teriakan itu. Dia buru-buru turun dari ranjang lalu keluar kamar. Dia turun dari tangga dengan dua anak tangga sekaligus. Beruntung Varlo memiliki kesadaran yang cepat ketika bangun tidur.
Cekrek!
Varlo segera membuka pintu dengan lebar. Dia menatap Jasmine yang berdiri dengan merangkul seseorang. Perhatian Varlo lalu tertuju ke lelaki yang dirangkul Jasmine. “Valan? Kenapa dia bisa begini?”
“Bisa lo jangan banyak tanya dan bantuin gue bawa adik lo yang berat ini?” pinta Jasmine ketus.
Varlo seketika melingkarkan lengan Valan ke pundaknya lalu membopong tubuh adiknya itu masuk rumah. “Bawa ke sofa aja,” pintanya.
Jasmine tidak menjawab dan terus membopong tubuh Valan ke arah sofa. Sesampainya di sofa, Jasmine melepas rangkulan itu. “Akhirnya,” desahnya lega.
Jasmine duduk sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa. Pundaknya terasa kram setelah membopong Valan seorang diri.
Varlo yang duduk di seberang Jasmine, menatap adiknya yang tertidur pulas dengan luka lebam di wajah itu. Dia sempat mencium aroma alkohol menguar dari bibir Valan.
“Kenapa dia bisa kayak gini?” tanya Varlo ke Jasmine.
“Nggak tahu. Tanya aja kalau dia udah sadar.”
Napas Jasmine masih terenggah. Baginya cukup sekali dia membopong lelaki dewasa seorang diri, lain jika ada panggilan tengah malam dan meminta bantuan, dia enggan menyanggupi. Hah, dia jadi seperti orang jahat yang tidak mau menolong.
“Aku ambilin minum, ya. Kamu keliatan capek.” Setelah mengucapkan itu Varlo berdiri dan berjalan ke arah dapur.
“Ya gitu kek peka.”
Samar-samar Varlo mendengar gerutuan itu membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Ini.”
Jasmine membuka mata, menatap Varlo yang berdiri di depannya dengan bertelanjang d**a. Jasmine menelan ludahnya gugup. Dia tidak menyadari Varlo telanjang d**a. Tatapan Jasmine lalu tertuju ke bawah melihat d**a Varlo yang keras dan bidang. Pandangannya semakin turun ke bawah dan melihat kotak-kotak di perut Varlo.
“Mupeng, ya?”
Buru-buru Jasmine mengalihkan pandang. Dia merutuki kebodohannya yang menatap Varlo terang-terangan itu. “Enak aja lo ngomong.”
“Ngaku aja, Sayang. Tuh kamu sampai ngeces liat perutku yang kotak-kotak.”
Varlo melihat Jasmine menyentuh bibir, membuatnya terkekeh. Dia lalu mengulurkan minuman kaleng untuk Jasmine. “Jangan marah-marah. Ini minum dulu.”
Jasmine mengambil minuman kaleng yang diulurkan Varlo lalu meneguknya.
Diam-diam Varlo menatap Jasmine yang meminum minuman itu dengan rakus. Lalu perhatiannya tertuju ke pakaian Jasmine: sweater abu-abu bergambar hati dengan rok tipis pendek sepaha. Varlo yakin rok itu adalah gaun tidur.
“Ck! Kamu tadi jemput Valan pakai pakaian kayak gitu?” tanyanya dengan menunjuk Jasmine naik turun.
Jasmine menunduk. Dia tersentak kaget, tidak sadar hanya memakai baju tidur yang tertutup sweater. Dia menarik bantal sofa lalu meletakkan di atas pahanya yang terekspose. “Jangan nyari kesempatan deh. Iya tadi pakai ini. Habisnya adik lo tiba-tiba telepon gue sambil batuk-batuk. Kan, gue panik.”
“Tapi, kan, setidaknya kamu ganti baju dulu, Sayang. Kalau ada preman terus tergoda sama kamu gimana?”
Jasmine diam saja tidak ingin mendebat ucapan Varlo. Toh, ucapan lelaki itu memang bermaksud baik.
“Ini juga. Ngapain minta tolong ke Jasmine! Lupa kalau gue udah pulang,” ucap Varlo ke Valan yang terlelap itu.
Varlo mengusap luka Valan dengan tisu. Dia geleng-geleng melihat wajah adiknya yang membiru itu.
“Lain kali kalau Valan telepon dan minta jemput, kamu bisa minta tolong aku. Aku nggak bakal ngebiarin seorang wanita keluar buat bantu seorang lelaki. Oke, Sayang?”
“Ya.”
Jasmine menjawab singkat. Benar apa kata Varlo tidak seharusnya seorang wanita keluar membantu seorang lelaki apalagi malam hari dan seorang diri pula. Seolah menyadari sekarang malam hari, Jasmine mendongak melihat jam di ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. “Varlo gue pulang dulu, ya.”
Varlo menatap Jasmine yang berdiri dan berniat pulang ifu. “Udah malem. Rawan.”
“Terus lo minta gue nginep sini? Ogah banget gue nginep kandang buaya.”
Varlo terkekeh mendengar ucapan Jasmine. “Aku anter kalau gitu.”
“Tapi gue bawa mobil.”
“Ya udah aku juga bawa mobil. Aku ikuti dari belakang. Aku nggak terima penolakan.”
Jasmine mendengus tapi akhirnya mengangguk menyetujui ide Varlo. “Oke, deh.”
“Tunggu sini sebentar. Aku pakai kaus dulu.”
Setelah kepergian Varlo, Jasmine kembali duduk menatap Valan yang tertidur pulas itu. Besok pagi ketika Valan bangun, Jasmine ingin memberi pelajaran ke sahabatnya itu.
“Ayo.”
Tatapan Jasmine teralih, menatap Varlo yang memakai jaket hitam dengan celana jeans selutut. Dia lalu berdiri dan berjalan lebih dulu. Sesampainya di halaman depan, dia buru-buru masuk mobil. Ketika hendak menutup pintu, gerakannya terhenti karena Varlo berdiri di sebelah pintu.
“Makasih, ya, kamu udah nolongin Valan. Aku minta ini terakhir kalinya kamu nolongin Valan kalau dia butuh bantuanmu malem hari. Bahaya buat kamu.”
Untuk pertama kalinya, Jasmine tersenyum tulus ke Varlo. Dia tahu, Varlo berkata seperti itu hanya ingin dirinya baik-baik saja.
Varlo mendesah lega, untunglah Jasmine tidak mendebat ucapannya. Varlo lalu mendekat, mencium kening Jasmine lembut dan lama.
Merasakan ada yang menyentuh keningnya, Jasmine memejamkan mata menikmati ciuman Varlo yang begitu dalam itu.
“Ayo aku antar pulang.”
Jasmine membuka mata. Saat dia sadar, pintu mobilnya sudah tertutup. Dia melihat punggung Varlo yang berjalan ke arah mobil. Jemarinya menyentuh kening, Jasmine tersenyum tipis mengingat ciuman di kening yang terasa hangat itu.
***
Pagi hari sebelum berangkat kerja, Jasmine menyempatkan diri ke rumah Valan. Dia ingin tahu bagaimana keadaan sahabatnya sekaligus ingin meminta penjelasan.
“Valan!!” teriak Jasmine ketika membuka pintu rumah Valan yang tidak terkunci.
Jasmine sering langsung masuk ke rumah Valan. Jadi ini bukan hal baru lagi bagi.
Di dalam kamar, Valan mendengar teriakan sahabatnya igu. Dia terduduk, lalu menyandarkan punggung di kepala ranjang.
“Gue di kamar, Jas!!”
Jasmine buru-buru ke kamar di dekat tangga. Dia membuka pintu kamar dan melihat Valan tengah duduk. “Gimana keadaan lo?” tanyanya sambil berjalan mendekat.
Valan mengangkat bahu seolah menjawab keadaannya bisa dilihat sendiri oleh Jasmine.
“Lo kenapa semalem? Nggak biasanya lo mabuk terus babak belur.”
Pikiran Valan tertuju ke kejadian yang membuatnya seperti ini. Berawal dari pertemuannya dengan Alya yang membawa berita buruk. Wanita itu mengeluarkan undangan pernikahan. “Gue ditinggal nikah sama Alya.”
“Ha? Serius lo?”
“Ya.”
Jasmine melihat kesedihan yang terpancar dari mata Valan. Dengan cepat dia beringsut mendekat mengusap pundak Valan, memberi dukungan kepada sahabatnya itu.
“Sejak dua tahun lalu Alya selalu tanya kapan gue nikahin dia. Tapi gue selalu jawab nanti. Mungkin Alya capek nunggu gue yang tanpa kejelasan.”
Jasmine menggeleng tidak setuju dengan ucapan Valan. “Itu artinya Alya bukan jodoh lo. Kalau jodoh, meski awalnya tanpa kejelasan akan berakhir dengan pernikahan.”
“Ya mungkin bukan jodoh gue,” jawab Valan kecut.
“Udah, ya, jangan sedih. Terus kenapa akhirnya lo jadi babak belur gini?”
“Berantem. Gue kecewa sama Alya. Akhirnya gue lampiasin mukul salah satu orang. Eh ternyata banyak yang ngebela tuh orang. Dan gue dikeroyok, deh.”
“Lagian lo aneh-aneh aja.”
Jasmine menjitak kepala Valan lalu meleletkan lidahnya ke lelaki itu. Jasmine segera turun dari ranjang ketika melihat Valan hendak menggelitik tubuhnya.
“Sini nggak, Jas? Beraninya lo jitak kepala gue!!”
“No! Salah sendiri semalem nyusahin gue. Lo tahu? Tubuh lo, tuh, berat!!” Jasmine mulai mengungkapkan kekesalannya ketika memapah Valan.
“Ya sekali-sekali, Jas lo nolongin gue yang patah hati.”
“Iya. Ini sekali dan terakhir. Eh gue belum denger ucapan apa gitu. Secara gitu gue udah nolongin.”
Valan mendengus, Jasmine memang seperti ini jika telah membantu. Valan melihat sahabatnya yang melipat kedua tangan dan menunggu kalimatnya itu.
“Makasih Jasmine sahabatku yang cantik dan baik hatinya,” ucapnya.
Jasmine menepuk pundaknya sombong. “Ya itu memang gue.”
“Hahaha.”
Mereka berdua lalu tertawa terbahak. Beginilah persahabatan mereka meski usia mereka tidak lagi muda, tapi tingkah laku mereka masih seperti anak kecil.
“Ya udah gue ke kantor dulu, ya. Nanti gue bilangin orang kantor kalau lo sakit.”
“Oke. Sekali lagi makasih ya, Jas.”
“Yups. Cepet sembuh, Lan.”
Jasmine berjalan keluar. Saat di ruang tengah, dia berdiri sambil celingukan.
Rumah Valan memang sepi, tapi sekarang sudah ada penghuni baru. Jasmine tidak mendapati keberadaan Varlo di rumah ini. Ke mana Varlo?
“Astaga! Gue ngapain cari dia,” gerutunya sambil menepuk kening. Tidak seharusnya dia mencari lelaki yang mengganggunya itu. Dia lantas buru-buru keluar rumah Valan dan bergegas ke kantor daripada pikirannya semakin ke mana-mana.