Ketika pikiran selalu tertuju kepadanya
Bersabarlah hati secara perlahan mengukir namanya
***
Varlo mengaduk kopi di depannya, bosan menunggu. Menunggu Jasmine? Bukan! Dia tengah menunggu sahabatnya, Tria.
Varlo memiliki dua orang sahabat, yaitu Tria dan Yama. Hubungan persahabatan mereka terjalin sejak mereka masih kecil. Hingga saat ini persahabatan mereka masih terjalin meski Varlo sempat meninggalkan mereka sejak SMP. Hari ini, Varlo ingin bertemu dan bernostalgia dengan sahabatnya itu.
Puk!
Sebuah tepukan di pundak membuat Varlo menoleh lalu berdiri. “Lama banget, sih, lo!!”
Tria menjabat tangan sahabatnya dan menariknya ke dalam pelukan. “Gitu ya ucapan pertama setelah lo ngilang dari peredaran.”
Varlo mendong tubuh Tria lalu kembali duduk. Dia menatap Tria yang makin banyak berubah itu. Tubuh Tria yang dulu sangat cungkring kini terlihat berisi dan kekar.
“Kok lebih keren di foto,” goda Varlo.
“Sialan lo.”
Varlo, Tria dan Yama memang tidak putus hubungan. Mereka bertiga sering bertukar kabar baik lewat email, telepon atau akun sosial media mereka.
“Eh Yama emang ke mana?” tanya Varlo menanyakan keberadaan sahabat satunya.
“Yama lagi fitting baju.”
“Jadi beneran dia mau nikah?” Varlo terkekeh mentertawakan Yama. Dia masih ingat ketika SD Yama paling anti dengan perempuan. Yama bahkan terkesan takut, karena pernah digigit oleh teman perempuannya ketika masih TK. Dan hal itu membuat Yama antipati.
“Iya. Kalau inget jaman SD dulu dia takut sama cewek, kayak nggak mungkin ya dia bakal nikah. Bahkan lebih dulu dari kita,” jawab Tria.
Varlo mengangguk. Dia kembali menahan tertawa ketika kenangan masa kecilnya menyeruak dalam pikirannya.
“Kalau lo sendiri, kapan mau nikah?”
Senyum Varlo mendadak pudar. Dia menatap Tria sambil mengangkat bahunya tak acuh. “Nggak tahu. Belum nemu yang cocok aja.”
Tria terkekeh melihat Varlo yang tersenyum kecut itu. Sebenarnya di antara mereka bertiga yang paling tampan adalah Varlo, tapi meski tampan kalau belum bertemu jodoh juga nggak akan nikah duluan.
“Jangan-jangan lo nunggu cewek yang dulu?” tebak Tria.
Varlo melipat kedua tangan di atas meja. Senyumnya mengembang ketika diingatkan tentang cewek itu. “Bisa jadi,” jawabnya misterius.
“Ck! Aneh lo. Kalau aslinya tuh cewek nggak kayak di foto gimana?”
“Gue yakin seratus persen dia lebih cantik dari yang di foto.”
“Ya. Ya. Ya terserah lo. Btw gue dapet w******p dari Yama, nih. Kita disuruh nyusul ke butik tempat dia fitting,” ucap Tria sambil menatap ponsel, membaca pesan dari Yama.
“Boleh juga. Di butik banyak cewek cantik, kan, ya? Itung-itung cuci mata.”
Tria menggeleng, Varlo selalu tidak bisa jauh dari wanita. Bahkan sifat Varlo yang satu itu sudah terlihat sejak kecil. Tiap kali Tria bertanya kenapa selalu dekat-dekat dengan cewek, Varlo selalu menjawab, cewek itu membuat gemas dan ingin mempermainkannya.
***
Tak!! Tak!! Tak!!
Jemari Jasmine menekan keyboard cukup kencang. Setelah dirasa lelah, dia menyandarkan tubuh di sandaran kursi sambil kepalanya menengadah menatap langit-langit ruang kerjanya. Hari ini dia sulit berkonsentrasi. Penyebabnya, jelas si lelaki gila Varlo.
Semalam entah setan apa yang merasuki Jasmine hingga dia membiarkan saja Varlo menciumnya. Dia yakin kalau semalam dirasuki setan pohon jambu di belakang rumahnya.
“Pohon di rumah gue ada penunggunya. Nggak ke sana lagi ah,” gumamnya sambil mengidikkan bahu.
Jasmine menegakkan tubuh lalu telunjuknya menyentuh bibir. Tiba-tiba pikiran tentang ciuman itu menyeruak. “Varlo gila!”
Jasmine menggeleng melupakan kejadian ciuman itu. Dia menggerakkan kursi hingga tubuhnya dekat dengan meja di depannya.
Dia hendak melanjutkan pekerjaannya tapi pikirannya malah tertuju ke kejadian semalam. Dia ingat ketika Varlo mengajaknya ke kamar. Saat itu dia hanya diam saja digandeng tapi ketika masuk rumah, ada mamanya yang masuk dari pintu depan. Jasmine buru-buru melepas genggaman tangan Varlo dan berlari ke mamanya.
Tanpa sadar Jasmine mendesah lega. Untung mamanya datang tepat waktu. Kalau tidak, mungkin Jasmine sudah diapa-apakan oleh Varlo.
“Ah!! Setan Varlo! Nggak ada orangnya tetep aja bikin gue susah.”
Kedua tangan Jasmine memijit kepala. Dia berusaha sebisa mungkin agar tidak mengingat kejadian semalam. Dia bertekad, tidak akan dekat-dekat lagi dengan Varlo. Lelaki itu sangat berbahaya.
“Amit. Amit deh,” ucap Jasmine sambil mengepalkan tangan lalu diketukan ke meja dan ke keningnya.
“Jasmine! Lo ngapain, sih?”
Jasmine menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah pintu. Dia melihat Valan berdiri menatapnya. “Valan. Sejak kapan lo di situ?”
Jasmine melihat Valan yang menatapnya sebal itu. Jasmine memejamkan mata sejenak berdoa semoga Valan tidak mendengar makiannya yang ditujukan ke Varlo.
“Baru aja. Dan cukup tahu kegiatan aneh lo getok-getok meja sambil getok kepala.”
Valan berjalan mendekat dan duduk di meja berseberangan dengan Jasmine. “Lo kenapa? Ada masalah?” tanya Valan dengan pandangan menyelidik.
Ada. Ada masalah sama kakak lo batin Jasmine.
Jasmine menggeleng, terpaksa berbohong tidak ingin Valan tahu kejadian semalam. Baru saja siangnya Valan mewanti-wanti agar hati-hati dengan Varlo, malam harinya Jasmine kecolongan.
“Enggak kok. Ada apa lo ke ruangan gue?” tanya Jasmine mengalihkan pembicaraan.
Valan mengangkat tangan kanan, menunjukan jam yang melingkar di pergelangan tangannya ke Jasmine. “Udah jam dua belas, Jas.”
Jasmine melihat jam di pergelangan tangan Valan. Dia mendesah tidak menyadari waktu telah berjalan dengan cepat. Dia hanya membuang waktu untuk memikirkan dan memaki Varlo. Sial!
“Kita makan di ruangan gue aja, deh ya. Gue lagi males keluar,” usul Jasmine.
Valan mengangguk. Dia juga sebenarnya enggan makan di luar. Profesinya sebagai wakil direktur di perusahaan periklanan dan sedang banyak proyek membuat fisiknya cukup lelah. Sedangkan Jasmine yang berprofesi sebagai kepala divisi keuangan juga terlihat sibuk dengan laporan bulanan.
“Lo pesen aja, gih. Gue terima jadi,” ucap Jasmine.
“Dasar bos. Baiklah.” Valan mengambil ponsel di saku jas lalu menghubungi salah satu restoran langganannya dengan Jasmine.
“Eh nanti malem lo jadi makan di rumah gue, kan? Gue di rumah sendiri,” ucap Jasmine.
“Iya-iya. Apasih yang enggak buat lo.”
Jasmine tersenyum puas, selalu senang ketika Valan menuruti kemauannya.
***
Pukul enam sore, Jasmine dan Valan sampai di rumah wanita itu. Mereka berdua masuk dengan satu kantong kresek di masing-masing tangan mereka. Malam ini rencananya, mereka akan masak bersama.
“Gue langsung masak aja kali, ya. Lo mandi aja dulu,” usul Valan.
Valan meletakkan barang belanjaan di atas meja makan lalu melepas jas dan menyampirkan di sandaran kursi. Tidak lupa dia menggulung kemeja hitamnya hingga sebatas siku.
“Iya, deh. Gue mandi dulu, ya.” Jasmine meletakkan kantong yang dia bawa ke atas meja lantas berlalu menuju kamarnya di lantai dua.
Selepas kepergian Jasmine, Valan mengeluarkan satu persatu barang belanjaan. Dia menyisihkan bahan makanan yang hendak dia gunakan dan barang yang tidak dia gunakan.
Malam ini rencananya Jasmine dan Valan akan memasak spageti dan membuat pop corn.
Tett!!
Valan mendengar bel rumah Jasmine berbunyi. Buru-buru dia memasukkan mi ke dalam air yang mendidih lalu membuka pintu.
Tett!!
Bel rumah Jasmine kembali berbunyi.
Valan berjalan cepat dan membuka pintu utama. Dia tersentak melihat siapa tamu Jasmine itu. “Kak Varlo?”
Varlo kaget melihat adiknya itu di rumah Jasmine. Varlo lalu masuk tanpa menunggu dipersilakan. “Pacar gue mana?”
“Dia bukan pacar lo, Kak.”
Valan mengikuti langkah Varlo yang berjalan ke arah dapur itu. Dia mengernyit, Varlo seolah paham dengan rumah Jasmine. “Lo udah pernah ke rumah Jasmine, Kak?”
Varlo menoleh ketika sampai di depan pintu dapur. Dia mengangguk dengan senyum miringnya. “Jelas pernahlah. Ini kan rumah pacar gue.”
Valan mendengus. Dia kemudian ingat dengan spagetinya.
“Valan udah mateng belum... Lah kok lo ada di sini?” Kalimat Jasmine yang sebelumnya ditujukan ke Valan kini dia tujukan ke Varlo.
Varlo tersenyum manis. Dia menatap Jasmine dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut panjang Jasmine tergerai indah dan terlihat basah. Perhatian Varlo lalu tertuju ke pakaian yang dikenakan Jasmine, kaus press body berwarna putih dengan hotpants berwarna hitam.
Damn! maki Varlo dalam hati.
“Malah bengong!! Lo ngapain di sini?”
Jasmine mendekati Valan, menatap sahabatnya yang sibuk menuangkan saos di atas spageti itu. Tanpa sadar Jasmine menggandeng lengan Valan. “Heemm. Baunya enak,” ucapnya.
“Jasmine. Jauhkan tanganmu!!” ucap Varlo mengingatkan.
Jasmine hanya mengangkat jari tengahnya tanpa repot-repot menoleh. Dia enggan berdekatan dengan Varlo dan tidak mau kecolongan lagi.
“Terus pop cron-nya gimana?” tanya Jasmine.
“Gue aja yang buat. Lo duduk aja.”
“Huaa. Makasih, Valan.” Jasmine memeluk Valan kegirangan, senang malam ini ada yang memasak untuknya. Pembantunya sedang pulang kampung dan Jasmine hari ini enggan mencari makan di luar.
Varlo berjalan mendekat, berdiri di depan Jasmine dengan kedua tangan tangan berada di atas meja—mengurung tubuh wanita itu.
“Apaan sih lo!!” Jasmine mendorong Varlo agar menjauh.
“Kok bisa kamu meluk Valan padahal ada aku di depanmu?”
“Bodoh amat!!”
Valan menarik lengan kakaknya agar menjauh dari hadapan Jasmine. Jasmine memanfaatkan itu dengan menjauh dari Varlo.
“Kak udah deh jangan buat Jasmine kesel,” ucap Valan menengahi.
Varlo menatap Jasmine yang berdiri di sebelah lemari es itu. Dia lalu berjalan keluar dapur tanpa sepatah katapun.
“Fiuh. Akhirnya, tuh, orang menyingkir juga,” gumam Jasmine lega.
Jasmine menatap Valan yang membelakanginya sibuk mengaduk-aduk itu. Dia lagi-lagi bersyukur malam ini mengajak Valan ke rumah. Jika tidak, mungkin sekarang dia hanya berduaan dengan tamu tak diundang itu. Jasmine bergidik ngeri membayangkan dirinya hanya di rumah berdua bersama Varlo.
“Jas. Nih, udah mateng semua, makan yuk,” ajak Valan.
Jasmine berjalan mendekat lalu duduk di kursi makan biasanya. Dia mengambil piring berisi spageti itu lalu memakan dengan lahap.
Sedangka Valan berjalan keluar dapur mencari keberadaan kakaknya. Dia tidak sejahat itu membiarkan dirinya makan enak sedangkan kakaknya tidak. Dia berjalan ke arah pintu samping ketika dilihat pintu rumah itu terbuka. Dan dia melihat Varlo berdiri membelakanginya.
“Kak, masuk yuk. Makan.”
Varlo menoleh dan beranjak dari posisinya. Dia mengikuti adiknya berjalan ke arah dapur. Sesampainya di dapur, Varlo melihat Jasmine tengah makan dengan santai. Perlahan Varlo mendekat dan menarik kursi di sebelah Jasmine. “Laper?”
Jasmine melirik Varlo sekilas lantas kembali melanjutkan makan.
“Nih, Kak, makan,” ucap Valan mendorong sepiring spageti ke Varlo.
Varlo menggeleng sudah kenyang karena sebelum ke rumah Jasmine, dia makan bersama Tria dan Yama. Perhatian Varlo lalu tertuju ke bibir Jasmine yanv belepotan karena saos tomat. Refleks ibu jari Varlo terulur menyentuh bibir itu untuk menghapus saos nakal itu. “Ada noda, Sayang. Jangan marah dulu.”
Jasmine mengusap bibir dengan punggung tangan. Dia berdiri, mengangkat piringnya yang sudah kosong dan meletakkan di tempat cucian.
Huh! Lo harus jauh-jauh dari Varlo, Jasmine.