5-Sedikit Terbuai

1943 Words
Jangan membuatku terbuai jika ada yang ingin kau tuai ***   Suasana ruang tamu Valan tampak ramai. Beberapa teman sekantor termasuk Jasmine datang menjenguk. Valan senang dengan kehadiran temannya membuat harinya tidak suntuk dan pasti bisa melupakan Alya untuk sejenak. “Gimana keadaan lo?” tanya Riza bagian pemasaran. Valan tersenyum tipis. Keadaan yang bagaimana? Harusnya diperjelas keadaan yang mana yang ditanyakan Riza. Kalau keadaan fisik masih lemas, kalau keadaan hati hancur berantakan. “Cukup membaik,” jawab Valan akhirnya. Jasmine tersenyum penuh arti. Pasalnya hanya dia yang tahu bagaimana keadaan Valan. Dia tidak memberitahukan penyebab Valan babak belur ke teman sekantornya hanya memberi tahu kalau lelaki itu sakit. “Gue harap, sih, memang baik-baik saja,” ujarnya. Kalimat itu membuat semua orang menatap Jasmine penuh tanya. Sedangkan Valan segera merangkul Jasmine dan memiting leher wanita itu cukup kencang. “Jangan macem-macem,” bisiknya memperingati. Jasmine terkikik lalu melepas pitingan Valan dan beringsut agak menjauh. “Risih ah gue lo peluk-peluk,” ucapnya mengalihkan topik pembicaraan. Meski Jasmine suka menggoda sahabatnya, tapi dia tidak akan menggoda sahabatnya di banyak orang. Terlalu berisiko dan pasti orang lain akan tahu apa yang sedang dihadapi Valan. “Kalian berdua ini berantem mulu, tapi ujung-ujungnya baikan. Heran kalian kok nggak pacaran?” ucap Seto. “Ngapain gue pacaran sama si Valan? Ogah!” Jasmine menjulurkan lidah ke Valan setelah menjawab pertanyaan itu. Sedangkan Valan melotot ke Jasmine. “Nggak bisa apa ya, jawab yang lebih kerenan dikit? Jawaban lo seolah-olah nggak mau banget sama gue. Ati-ati benci jadi cinta,” balas Valan. “Gue doain kalian cepet jadian.” Tujuh orang itu mendoakan Jasmine dan Valan agar jadian. Sedangkan dua orang yang didoakan hanya geleng-geleng. “Jas! Lo bisa tolongin gue?” bisik Valan. “Apa?” “Buatin minuman buat mereka.” Jasmine tersenyum mengiyakan lantas berdiri dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minum. Sampai dapur dia langsung menuangkan sirup, menuangkan air dingin tak lupa dengan es batu. Setelah itu dia mengaduk satu persatu air dalam gelas hingga larut. Setelah semua gelas berada di atas nampan, Jasmine keluar dapur. Dia belok ke kanan tepatnya ke arah ruang tamu. Tiba-tiba pikirannya berputar ke kejadian seminggu lalu saat dia memergoki Varlo di kolam renang. Jasmine mengernyit tumben seharian ini dia tidak diganggu Varlo. Tadi pagi saat ke rumah Valan, dia tidak bertemu dengan Varlo. Sekarang dia juga tidak mengetahui keberadaan lelaki itu. “Ya ampun. Ngapain juga gue nyariin dia,” gumamnya lalu buru-buru melanjutkan langkah. Sesampainya di ruang tamu, Jasmine meletakkan gelas minuman ke hadapan temannya, termasuk Valan. Setelah itu dia kembali duduk di sebelah Valan dengan memangku nampan. “Eh kakak lo ke mana?” Valan yang hendak mengambil minum, gerakannya seketika terhenti. Dia menatap Jasmine dengan kening mengernyit. “Kenapa? Lo kangen?” Jasmine menggeleng. “Enak aja. Ya gue ngerasa tenang aja nggak ada yang gangguin.” “Kirain lo kangen. Nggak tahu Kak Varlo ke mana. Tadi pergi nggak pamit.” “Semoga dia nggak balik lagi.” Valan mendengar jelas ucapan Jasmine. Lelaki itu tidak ingin membalas kalimat itu tahu kalau dilanjutkan akan menjadi percakapan yang panjang. “Lan. Kita balik dulu, ya. Semoga lo cepet sembuh,” ucap Riza. “Kok cepet banget? Nanti ajalah pulangnya,” jawab Valan. “Udah malem nggak enak.” Valan mengangguk lalu berdiri dan menyalami satu persatu temannya. Setelah semua temannya keluar rumah, Valan kembali duduk di sebelah Jasmine. “Lo bisa nolongin gue lagi?” tanyanya. “Apa?” “Cuciin gelasnya.” “Wah gila lo manfaatin kesakitan lo buat nyiksa gue.” Valan terkikik. Dia berdiri mengacak rambut Jasmine gemas setelah itu berjalan masuk ke kamar. “Gue berasa pembantu,” gerutu Jasmine. Tak urung, Jasmine membereskan sisa gelas juga. Dia membawa gelas yang hampir semuanya kosong ke dapur. Dia juga mencuci gelas kotor dan mengembalikannya ke tempat semula. “Sayang!” Jasmine seketika menoleh ke belakang. Dia menghela napas lelah, baru saja merasa tenang karena tidak diganggu Varlo eh si penganggu sekarang berdiri di depan pintu dapur. Perhatian Jasmine lalu tertuju ke pakaian yang dikenakan Varlo: kemeja biru dongker yang lengannya digulung sampai siku dengan celana kain berwarna hitam. “Dari mana lo?” tanya Jasmine ketus. Pertanyaan Jasmine disalahartikan oleh Varlo. “Jangan marahlah. Maaf, deh, aku tadi nggak pamit.” Mata Jasmine terbelalak lebar, menyadari kalau Varlo salah mengartikan nada bicaranya. “Terserah lo mau pamit atau enggak.” “Galak banget, sih. Oh ya kamu ngapain di sini? Nungguin aku, ya?” “Pede gila!!” Varlo membuka lemari es dan mengambil satu botol minuman yang ada di sana. Dia lalu menegak minuman itu hingga tandas. Jasmine yang melihat itu bergidik. Varlo terlihat sekali kehausan sampai air minum itu menetes ke d**a dan membasahi kemeja. “Haus banget rupanya,” ucapnya. “Emang haus, Sayang. Eh iya aku beli makanan. Kamu yang siapin, ya. Aku mau mandi.” Jasmine melotot. Gila! Hari ini dia disuruh-suruh oleh kakak beradik itu. “Enak aja lo nyuruh gue!!” “Aku minta tolong. Kamu nggak liat wajahku lusuh gini? Aku mau mandi dulu.” Varlo menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk. Dia memang tidak mengada-ada. Dia ingin mandi, tubuhnya terasa lengket karena keringat. “Iya deh, iya,” ucap Jasmine akhirnya. Sudut bibir Varlo tertarik ke atas. Dia bergerak cepat ke Jasmine lalu mencium pipi wanita itu gemas. “Kamu makan di sini juga, ya.” Jasmine diam membeku, masih dapat merasakan bibir Varlo menempel di pipinya. Pertama bibir, lalu dagu, sekarang pipi. Jasmine menggeleng, hampir semua wajahnya sudah dijamah oleh bibir Varlo. “Ck! Gue kecolongan!!”   ***   Jasmine menatap ponsel yang menyala, melihat banyaknya panggilan tidak terjawab. Semua itu berasal dari satu nomor, Varlo. “Nih, orang ngapain coba,” gerutunya lalu membuka pesan Varlo satu persatu. Kenapa pulang duluan? Kamu pulang naik taksi atau mobil? Kenapa nggak nunggu aku selesai mandi? Aku kan bisa nganter kamu. “Dih ogah lo anter lagi!!” Jemarinya menggeser layar ponsel ke arah bawah kembali membaca pesan dari Varlo. Sayang kenapa nggak angkat teleponku? Kamu masih dijalan? Cepet hubungi kalau kamu sampai rumah. Jasmine sayang, kamu belum sampai rumah juga? Udah satu jam lebih. Kamu di mana sih? Langsung pulang kan? Jasmine!! Angkat teleponku atau aku ke rumahmu dan mengurungmu dalam pelukanku! Wajah Jasmine memucat membaca chat terakhir itu. Dia menggeleng, tidak ingin kejadian di bawah pohon jambu terulang lagi. Tak lama, layar ponsel menyala dan memunculkan nomor Varlo. Jasmine buru-buru mengangkat panggilan itu. “Halo.” “Apa harus nunggu aku ancem dulu baru angkat teleponku?” Jasmine mengigit bibirnya, bingung mau jawab apa. “Nggak apa-apa.” Terdengar helaan napas kesal di sana. Bibir Jasmine tertarik ke atas membayangkan Varlo yang pasti tengah kesal itu. “Kenapa tadi pulang dulu?” “Nggak apa-apa. Pengen pulang aja.” “Keras kepala.” “Biarin.” Jasmine terkikik, mulai lagi bertengkar dengan Varlo. Dia mengakui dia keras kepala tapi menurutnya ada yang lebih keras kepala lagi, siapa lagi kalau bukan lelaki yang sedang meneleponnya itu. “Btw sekarang seminggu kita jadian, loh.” Tubuh Jasmine membeku. Seminggu? Jadian? Dia menggeleng tegas. “Nggak! Gue nggak pernah jadian sama lo!!” “Terserah apa katamu, Sayang. Tapi sekarang hubungan kita udah seminggu. Nggak mau dirayain?” “Lo kayak ABG labil tahu nggak!!” Jasmine memandang ponseldengan kesal. Berhadapan dengan makhluk seperti apa dirinya saat ini? “Varlo gila!” “Jasmine. Aku udah di depan rumahmu. Buka pintunya.” “LO NGAPAIN DI DEPAN RUMAH GUE?”   ***   Varlo menjauhkan ponsel mendengar Jasmine yang berteriak itu. Dia memijit telinga dan berharap gendang telinganya tidak pecah gara-gara mendengar suara pacarnya itu. “Udah, kamu cepetan ke bawah. Aku tunggu, ya. Aku nggak bakal pulang kalau kamu nggak keluar.” Klik. Varlo memutuskan sambungan secara sepihak. Dia lalu duduk di kursi teras. Setelah mendapati Jasmine tidak ada di rumahnya, dia segera melesat ke rumah wanita itu. Dia sangat khawatir kepada wanita yang pulang sendiri itu. “Gue tunggu sampai lo keluar, Jas.” Varlo melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dia sudah di depan rumah Jasmine selama satu jam tapi semua tidak terasa. Dia akan menunggu sampai Jasmine keluar. Jam sebelas, belum ada tanda-tanda Jasmine keluar. Varlo mulai digigiti nyamuk. Jam dua belas, masih belum ada tanda-tanda Jasmine keluar. Varlo mulai mengantuk dengan muka memerah diserang nyamuk. Jam satu, Varlo kelelahan hingga terlelap di kursi teras rumah Jasmine. Sedangkan di kamar, Jasmine bergerak gelisah. Dia kepikiran Varlo. Apa benar Varlo ada di depan rumahnya? Jasmine tadi tidak memastikan Varlo ada di depan rumahnya atau tidak. “Astaga! Lo ganggu gue tahu nggak!” gerutu Jasmine ketika lagi-lagi ingat Varlo. Buru-buru Jasmine turun dari ranjang. Dia berjalan ke arah lemari dan mengambil baju panjang. Jasmine tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Cukup sekali Varlo melihatnya yang memakai gaun tidur, meski bagian atasnya tertutup oleh sweater. Setelah memakai kaus dan celana panjang, Jasmine keluar rumah. Dia berjalan perlahan karena ruang tengah rumahnya remang-remang hanya ada lampu ruang tamu yang tadi belum sempat dia matikan. Sesampainya di ruang tamu, Jasmine mengintip dari kaca jendela. Dia yakin Varlo sudah pulang tapi ketika melihat ke arah kursi, dia terbelalak kaget. Lelaki itu beneran di sini? Jasmine buru-buru membuka pintu. Dia berjalan ke depan lalu mengguncangkan tubuh Varlo. “Varlo bangun! Ngapain sih lo masih di sini?” Tubuh Varlo berguncang, buru-buru dia membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Jasmine. Lelaki itu tersenyum lembut lalu mengucek mata. “Akhirnya kamu keluar juga, Sayang.” Pletak! Jasmine menjitak kepala Varlo, kesal dengan lelaki itu. Kenapa juga sampai menunggunya seperti ini? “Ngapain sih lo ke sini? Mau ngerayain seminggu jadian seperti kata lo tadi? Please ya Varlo kita nggak jadian. Jadi lo stop bertingkah kayak gini,” ucap Jasmine sambil melipat tangan di depan d**a. Varlo menarik tangan kanan Jasmine dan menggenggamnya erat. Varlo sedikit memajukan tubuh, mendongak menatap wanita yang berdiri di depannya itu. “Memang salah aku ngelakuin ini semua?” “Salahlah. Kita nggak ada hubungan apa-apa.” “Kita pacaran.” “Tapi aku nggak pernah mau!” Varlo mengangguk, meski begitu dalam hati, dia bertekad akan menjadikan wanita itu pacarnya. Bahkan akan membuat wanita itu takhluk. “Aku bakal usaha sampai kamu mau jadi pacarku.” “Huh!” Jasmine mendesah sebal. Lelaki gila yang keras kepala itu masih saja berharap menjadi pacarnya. Wanita itu lalu menatap Varlo dengan mata memicing. “Usaha aja sana.” “Kamu tunggu aja, bentar lagi kamu bakal jadi pacarku beneran.” Jasmine diam saja memilih berjalan menjauh dari Varlo. Dia lalu berdiri di dekat pilar dan menyandarkan tubuh ke sana. “Sekarang lo pulang, deh. Udah tengah malem. Gue nggak mau ya Pak RT pagi-pagi ke rumah gara-gara ada lo yang tidur di teras rumah,” usirnya. Varlo berdiri dari posisinya. Dia berjalan mendekat lalu mencium puncak kepala Jasmine dalam. “Ya aku pulang. Aku ke mari cuma mastiin kamu baik-baik saja.” Jasmine menegakkan tubuh. Jadi Varlo ke rumahnya hanya untuk memastikan itu? Entah kenapa hatinya mulai tersentuh, sebelumnya tidak pernah ada lelaki yang perhatian sampai seperti ini. “Good night, My Jasmine.” Setelah mengucapkan itu Varlo berlalu dari hadapan Jasmine. Di teras tatapan Jasmine mengikuti arah kepergian mobil Varlo. Dia menarik napas panjang mulai takut akan terbuai oleh perhatian Varlo. “Gue takut perhatian lo cuma kedok. Gue nggak tahu apa yang lo rencanain, Varlo. Dan gue nggak mau kalau lo cuma mainin atau manfaatin gue.” Jasmine lalu masuk dengan wajah lesu. Dia yakin ada maksud dan tujuan tertentu Varlo mendekatinya. Dia ingat dengan kata-kata Valan, jika Varlo suka gonta-ganti wanita. Dan Jasmine yakin dirinya sekarang menjadi target Varlo.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD