6-Lagi-Lagi Sial

2042 Words
Sejak bersamanya, aku merasakan apa itu menyebalkan Aku tahu dia menyebalkan Namun hati selalu mengatakan dia mengagumkan ***   Tok. Tok. Tok. “Masuk.” Tanpa menoleh ke pintu ruang kerjanya, Jasmine menjawab. “Masih sibuk?” Jasmine mengangguk masih sibuk mengecek angka nol yang jumlahnya sangat banyak itu. Dia memang seperti ini, selalu mengecek berulang kali digit angka yang dia hitung. Pekerjaannya cukup berisiko, salah satu angka saja sudah berpengaruh besar. “Nggak keberatan, kan, kalau aku temeni?” Lagi-lagi Jasmine mengangguk. Dia mulai menghitung digit angka lainnya ketika angka sebelumnya sudah dia pastikan benar. Namun, ketika hendak mengetikkan angka, dia menghentikan gerakannya merasa aneh dengan seseorang yang masuk ke ruangannya itu. Pertama, seseorang itu mengetuk pintu dan tidak mengucapkan maksud kedatangannya. Kedua, seseorang itu mengucapkan kalau ingin menemani. Menemani? Menemani gue Ketiga, jangan-jangan orang itu... Jasmine seketika menoleh menatap lelaki yang duduk di hadapannya itu. Dia menghela napas. Benar bukan, jangan-jangan seseorang itu adalah Varlo. Dan memang benar, seseorang itu Varlo. “Ngapain, sih, lo di sini?” sunggut Jasmine. “Loh bukannya tadi kamu nggak keberatan, ya, Sayang?” Jasmine menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Iya sih dia tadi tidak keberatan tapi sungguh, itu diluar kesadarannya. Dia tadi sedang berkonsentrasi. Sedangkan Varlo menatap dengan senyum merekah. Ini pertama kalinya dia ke ruangan Jasmine. Tidak sia-sia semalam dia mencari tahu bahkan memohon ke adiknya agar diberi tahu ruangan pacarnya itu. “Udah jam dua belas. Kamu istirahat jam berapa?” tanya Varlo sambil melihat arloji di pergelangan tangannya. “Lo ngajak gue makan? Gue nggak makan siang.” Jasmine mendekatkan kursi kerjanya ke meja, mulai mengerjakan tugasnya daripada meladeni Varlo. “Siapa juga yang ngajak kamu makan.” Varlo terkekeh ketika Jasmine menatapnya dengan muka memerah itu. Dia mendekat lalu berdiri di sebelah kursi. Pria itu menunduk mendekatkan wajahnya ke telinga Jasmine. “Aku mau ngajak kamu ngedate.” Jasmine mendongak dengan mulut terbuka. Dia kaget dengan bisikan Varlo. Ngedate? Bahkan ini baru pertama dia diajak ngedate. Jasmine menatap Varlo yang tersenyum manis itu. Buru-buru dia menutup mulut lalu mengalihkan pandang ke layar monitor. Pasti Varlo ngetawain tampang bloonku. batinnya. “Mau nggak?” tanya Varlo menanti jawaban. “Gue sibuk, Varlo. Lo nggak lihat apa!” Tatapan Varlo tertuju ke layar monitor, melihat deretan angka yang berjejer panjang itu. Dia lalu mengalihkan pandang dari layar penuh angka itu. “Kamu nggak pusing ngeliat angka berjajar panjang gitu?” “Nggak! Itukan emang kerjaan gue. Udah deh lo pergi sono! Gangguin gue kerja aja,” usir Jasmine terang-terangan. Bukan Varlo kalau tidak bisa memaksa. Sekarang dia memutar kursi hingga Jasmine menghadap ke arahnya. Setelah itu dia menarik Jasmine ke dalam gendongannya. “Woyy!! Apa-apaan lo? Turunin!!” pekik Jasmine sambil memukul d**a Varlo. Varlo bergeming. Dia keluar ruangan dengan Jasmine di gendongannya. Ketika di luar ruangan banyak karyawan yang menatapnya dan Jasmine penuh minat. Varlo cuek saja, tak peduli dengan tatapan seperti itu. “Cie Bu Jasmine gendong-gendongan.” “Cie Bu Jasmine udah nggak jomlo lagi.” “Traktirannya ditunggu loh, Bu.” Jasmine mendengar godaan dari anak buahnya itu. Sial! Sekarang jam istirahat dan pasti banyak karyawan yang berkeliaran. Jasmine mendongak menatap Varlo yang cuek saja dengan godaan sekitar itu. “Sialan!” maki Jasmine lalu mengigit bahu Varlo kencang. “Ahhh sakit!!” Varlo merasakan gigitan Jasmine semakin dalam. Dia tak kuasa menahan rasa sakit itu. Refleks tangannya yang memegang belakang lutut Jasmine berganti menyentuh pundaknya, hal itu membuat keseimbanganya hilang. “Aw!!” Jasmine memekik ketika p****t tak sexynya menyentuh lantai. “Sayang, kamu nggak apa-apa?” “Ya ampun Bu Jasmine. Bu Jasmine nggak apa-apa?” Jasmine merasa sekitarnya mendadak penuh. Perhatiannya lalu tertuju ke biang kerok yang membuatnya malu itu. Dia menarik lengan Varlo hingga mendekat ke arahnya. “Biang kerok lo!!” Varlo menggeleng, bukan salah dirinya sepenuhnya. Coba kalau Jasmine mengiyakan ajakan ngedate-nya pasti tidak berujung seperti ini, tapi Varlo mau menyalahkanpun percuma dia paham watak pacarnya itu seperti apa. “Ayo aku bantu,” ucap Varlo sambil melingkarkan tangan ke pinggang Jasmine. Sebenarnya Jasmine tidak mau dibantu Varlo. Mana sudi dia menerima bantuan dari biang kerok yang membuatnya malu, tapi mau bagaimana lagi, daripada menjadi tontonan karyawan. “Gue mau balik ke ruangan,” kata Jasmine. “Oke.” Varlo membantu Jasmine ke ruangan wanita itu. Dia sempat melotot ke karyawan yang terang-terangan tertawa itu. Pelototan Varlo lalu membuat karyawan itu terdiam dan pamit pergi. “Hari gue sial gara-gara lo!!” maki Jasmine setelah dirasa tidak ada karyawan lagi yang melihatnya. “Nggak, Sayang. Itu insiden kecil.” “Kecil maksud lo? Muka gue tercoreng bodoh!”   ***   Keesokan harinya Jasmine tetap masuk kantor. Setelah perang dengan pikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan tetap masuk. Kalau tidak, bisa-bisa dia semakin diolok-olok. Memasuki lobi, Jasmine melihat beberapa karyawan yang melihatnya menahan tawa. Sial! Dia tahu, pasti karyawan itu sebenarnya ingin mentertawakannya. Jasmine melengos, berjalan dengan kaku karena kaki dan pantatnya terasa nyeri. Tring! Pintu lift terbuka, Jasmine berjalan masuk dan berdiri di ujung belakang. Tatapannya tertuju ke karyawan yang masuk dan lagi-lagi tampak menahan tawa itu. Jasmine berdeham membuat karyawan itu menunduk dan menghentikan tawanya. “Bu Jasmine gimana keadaan, Ibu?” Keadaan yang gimana maksud lo? teriak hati Jasmine. “Baik,” jawabnya singkat. Tring! Jasmine melihat ke angka lift. Dia menegakkan tubuh lalu permisi keluar. Beginikah cobaan setelah dipermalukan? “Varlo. Lo harus dapet balasan!!” Jasmine membuka pintu ruang kerjanya dan menutupnya kencang. Dia meletakkan ta di sebelah monitor, saat itulah melihat sebuah bunga tergeletak indah. Dia mengambil setangkai mawar pink lalu mendekapnya. Jasmine lalu membuka kartu yang menempel di plastik yang melapisi mawar itu. Aku minta maaf udah bikin kamu malu. Percayalah aku nggak ada niatan seperti itu. Forgive me my Jasmine. -Gavarlo- Tanpa sadar Jasmine tersenyum. Cara Varlo meminta maaf sangat manis. Dia tidak pernah mendapat perlakuan manis seperti ini sebelumnya. Dia menunduk, mencium bunga mawar pink itu. Saat mencium bunga, Jasmine merasa ada yang salah. Buru-buru dia meletakkan setangkai mawar itu ke tempatnya. Untuk apa dia senyam-senyum bahkan mencium bunga mawar itu? Jasmine merasa murah karena dengan gampangnya menerima bunga mawar itu dari Varlo setelah lelaki itu membuatnya malu. “Jasmine sadar. Dia yang bikin lo malu. Muka lo seolah tercoret Jasmine,” ucap Jasmine meyakinkan dirinya sendiri. Tapi dalam hatinya ada yang memberontak. Dia melirik bunga mawar itu, ada dorongan tersendiri untuk mengambil bunga mawar itu tapi egonya berkata tidak. “Gue bisa gila gara-gara nih bunga.” Jasmine mengambil bunga itu memasukkan bunga itu ke dalam tong sampah.   ***   Di ruangan Valan, ada seseorang berjalan mondar-mandir dengan harap-harap cemas membuat si pemilik ruangan geram karena konsentrasinya terganggu. “Kak. Duduk, deh. Gue nggak bisa konsentrasi.” Varlo menghentikan langkah dan menatap Valan yang duduk di balik monitor itu. Varlo lalu berjalan menghampiri adiknya. “Menurut lo Jasmine maafin gue nggak?” tanyanya entah sudah keberapa kalinya. “Jasmine nggak gampang maafin orang. Gue udah bilang berkali-kali.” Sial! Kenapa gara-gara Jasmine ngambek Varlo jadi aneh seperti ini? Dulu dia punya segudang cara untuk menggaet wanita tapi ke Jasmine, cara itu tidak mempan sama sekali. “Terus cara biar Jasmine luluh gimana?” Valan menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia menatap Varlo yang menunggu jawaban. Valan menggeleng, selama berteman dengan Jasmine, sahabatnya itu jarang sekali luluh dengan suatu hal. “Jasmine bukan tipe wanita yang gampang luluh.” Varlo menyandarkan tubuh, lalu dengan cara apa agar dia kembali dekat dengan Jasmine? Dia rasanya sudah kehabisan tenaga untuk bisa dekat dengan Jasmine tapi usahanya itu tidak membuahkan hasil apapun. “Gimana kalau ajak nonton film romantis? Siapa tahu luluh.” Varlo menegakkan tubuh menatap adiknya itu meyakinkan. “Beneran?” “Tapi terakhir kali gue nonton film romantis sama Jasmine dia ketiduran.” Bagai ditebangkan ke awan, tapi belum sampai sudah dijatuhkan. Itulah kalimat yang mewakili perasaan Varlo saat ini. “Ah, Jasmine. Susah banget deketin lo!!” “Ya itu biar Kakak lebih ngehargain cewek. Biar nggak asal gaet terus buang,” timpal Valan. Varlo diam tak menanggapi. Dalam benaknya, sibuk mencari cara agar Jasmine memaafkannya. “Kak Yama Sabtu ini nikah ya, Kak?” “Kok lo tahu?” “Udangannya udah sampai rumah. Gue juga diundang. Gue bareng ya, Kak.” Varlo menggeleng tegas. “Berangkat sendiri. Gue dikira homo kalau sama lo.” “Sama adik sendiri kali. Ya udah gue sama Jasmine.” “Enak aja. Jasmine sama gue.” Valan menatap kakaknya dengan senyum meremehkan itu. “Emang Jasmine mau lo ajak?” Telak! Varlo diam tak berkutik mendapat pertanyaan seperti itu. Sekarang Jasmine marah, akan semakin sulit kalau Varlo mengajak. Beberapa menit kemudian sudut bibir Varlo tertarik ke atas. Jangan panggil Varlo jika tidak bisa menggandeng Jasmine lagi. Seketika dia berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan cepat keluar ruangan. Valan yang melihat kakaknya berjalan keluar itu hanya mengangkat bahu.   ***   Tok. Tok. Tok. Jasmine menoleh ke pintu ruang kerjanya. “Masuk!” Ketika pintu terbuka Jasmine mendesah kecewa. Kalau tahu yang datang adalah Varlo, pasti dia akan berteriak mengusir. “Mau ngapain lo?” tanyanya ketus. “Aku ganggu kamu, ya?” “Udah tahu nanya.” Varlo berjalan mendekat lalu memutar kursi yang di duduki Jasmine. Lelaki itu lalu berlutut di depan Jasmine. “Sayang maaf kalau aku buat kamu malu. Sungguh aku nggak ada niatan seperti itu.” Jasmine bingung dengan tindakan lelaki itu. Dia berusaha melepas genggaman tangan Varlo, tapi genggaman tangan itu begitu erat. Jadilah Jasmine hanya duduk sambil bersandar di kursinya, malas meladeni Varlo. “Aku nggak akan pergi sebelum kamu maafin aku.” “Bodoh amat!” “Aku nggak akan beranjak dari posisi ini sebelum kamu maafin aku.” “Lo horor banget, ya,” ucap Jasmine sambil bergidik. Jasmine berusaha melepaskan genggaman tangan Varlo tapi lagi-lagi terasa sulit. Jasmine tidak mau kalah, dia menggoyangkan kedua tangannya agar genggaman itu lepas. Namun dia tidak memikirkan akibat dari tindakannya itu. Karena terlalu bersemangat, membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa Varlo. Sekarang posisinya berada di atas tubuh Varlo. Jasmine mengerjab. Double sial! “Gue jadi jatuh gara-gara lo!!” makinya. Varlo tidak menyangka hal ini akan terjadi, kejadian yang membuatnya banyak untung. Kedua tangannya dengan sigap melingkar ke tubuh Jasmine dan menahan wanita yang hendak beranjak itu. “Lepas!!” teriak Jasmine. “Aku ada tiga permintaan.” “Bodo amat!!” Jasmine tersentak ketika tangan Varlo menarik tubuhnya semakin mendekat. Dia mulai merasakan hangatnya d**a Varlo. Dia berontak, tapi kukungan itu begitu kuat. “Kabulin dulu tiga permintaanku, Sayang,” bisik Varlo. “Kalau enggak. Aku rela kok di posisi terus,” lanjutnya. “Huh... .” Jasmine menghela napas berat. “Oke sebutin.” Senyum Varlo mengembang. Dia sedikit merenggangkan kukungannya. Lalu menunduk, menatap Jasmine yang mendongak menatapnya itu. “Pertama maafin aku.” Jasmine sudah menduga kalau Varlo meminta hal ini. Dia tersenyum kecut lalu mengangguk. “Iya gue maafin.” “Oke, yang kedua. Sabtu nanti jadi pasangan aku ke pernikahan temanku.” “Apaan, tuh? Ogah!” “Ya Udah. Tetep posisi kayak gini.” Muka Jasmine merah padam. Sial, lelaki di depannya itu benar-benar memanfaatkan situasi. “Iya gue mau,” jawabnya terpaksa. “Permintaan ketiga. Ini berlaku untuk selamanya,” ucap Varlo sambil tersenyum manis. Jasmine terperenggah mendengar ucapan Varlo. Perasaannya tidak enak, dia yakin permintaan ketiga lebih berat daripada permintaan sebelum-sebelumnya. Melihat Jasmine yang diam saja Varlo jadi gemas sendiri. Dia mencium puncak kepala Jasmine membuat wanita itu melotot tajam. “Apa permintaan ketiga?” Varlo mendekatkan bibir ke telinga Jasmine. “Jangan pernah meninggalkanku sekalipun kamu marah ke aku.” Jasmine menggeleng tak setuju. Permintaan apa itu? Enak saja Varlo meminta seperti itu. Iyain aja kali ya, batin Jasmine kemudian. Untuk saat ini yang dia butuhkan adalah lepas dari posisi ini. “Aku minta kamu janji sama permintaan terakhirku,” lanjut Varlo. “Ya gue janji,” jawab Jasmine cepat. Varlo tersenyum puas lalu menjauhkan tangannya. Jasmine segera bangkit berdiri lalu kembali duduk di balik meja kerjanya. “Sabtu jam delapan malam aku jemput, Sayang. Dandan yang cantik,” ujar Varlo setelah itu keluar dari ruangan Jasmine. Selepas keperian Varlo, Jasmine mengembuskan napas lega. Ketika berdekatan dengan Varlo seperti tadi dia merasa sesak bahkan rasanya sampai tidak bisa bernapas. Jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya. Aneh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD