Melihatnya dengan yang lain dan tak memedulikanku membuatku takut. Takut diserbu perasaan cemburu.
***
Jangan lupa nanti aku jemput jam delapan malam. Dress codenya warna ungu.
“Warna janda.”
Jasmine berkomentar sambil meletakkan ponsel di atas nakas. Dia lalu berjalan ke lemari. Seingatnya, dia tidak punya dress berwarna ungu. Dia lebih suka dress berwarna soft pink.
“Tuh, kan, nggak punya!” gerutunya setelah mengamati deretan dressnya dan tidak ada warna yang dia cari.
Tak lama, sudut bibirnya tertarik ke atas. Jasmine bergegas ke nakas mengambil ponsel lalu mengetikkan pesan untuk Varlo. Pesan yang bisa jadi membuat Varlo ilfeel dan berpikir dua kali untuk mendekatinya. Usai mengirim pesan, dia berbaring di ranjang dengan ponsel di atas perut. Dia tersenyum sendiri membayangkan kalau Varlo tiba-tiba ilfeel kepadanya.
Don't let me don't let me down.
Ponsel Jasmine berdering. Dia menggapai benda itu lalu berguling menjadi tengkurap.
Varlo: Aku otw. Kita cari gaun semahal yang kamu mau.
Mulut Jasmine terbuka, tidak menyangka jawaban Varlo seperti itu. Dia lalu melempar ponsel itu ke sisi ranjang.
Dia meminta dibelikan dress termahal sebagai ganti karena Varlo yang mengajaknya pergi. Jasmine kira Varlo akan menolak, tapi jawabannya malah seperti itu.
“Wah kalau gue matre udah gue porotin tuh anak. Untung gue anak baik-baik,” kekehnya.
Lima belas menit kemudian Jasmine keluar rumah. Dia buru-buru masuk ke mobil, lalu tancap gas.
Jasmine terkekeh membayangkan Varlo ke rumahnya dan menunggunya di luar. Padahal di rumah tidak ada orang sama sekali. Orangtuanya sedang di Malang sedangkan pembantunya entahlah keluar ke mana.
Don't let me down.
Jasmine mendengar nada ponselnya. Dia membiarkan ponsel itu tanpa berniat mencari tahu siapa yang menghubunginya.
Tak berapa lama ponselnya berhenti bersuara. Jasmine mengeluarkan ponsel ketika lampu merah dan melihat panggilan tak terjawab itu. Dugaannya benar, yang menghubungi barusan memang Varlo. Jasmine mengubah pengaturan ponsel menjadi mode senyap lalu memasukkan benda itu ke dalam tas.
“Mau telepon sampai berapa ratus bodoh amat,” ucap Jasmine sambil tersenyum puas.
Dia puas karena mengerjai Varlo. Jasmine masih belum terima atas insiden jatuh dari gendongan dan tiga permintaan yang harus dia turuti waktu itu.
***
Di belakang mobil Jasmine, Varlo membuntuti. Dia hampir sampai rumah Jasmine, ketika melihat mobil itu keluar rumah. Langsung saja Varlo mengikuti 'pacarnya' itu.
Dia melirik ponselnya di dashboard lagi-lagi Jasmine tak mengangkat panggilannya. “Angkat dong. Yaampun,” gerutunya.
Lelaki itu tadi sedang sarapan saat mendapat pesan dari Jasmine. Setelah tahu kalau wanita itu butuh gaun untuk nanti malam, dia buru-buru berangkat ke rumah Jasmine eh malah pacarnya pergi duluan. Entah Jasmine tidak sabar menunggunya atau memang sengaja.
Tangan kiri Varlo memukul stir, jelas Jasmine sengaja. Dia ingat Jasmine masih tidak terima dengan insiden beberapa hari yang lalu.
Beberapa saat kemudian, Varlo melihat mobil Jasmine berbelok ke sebuah mal. Dia menggeser sen lalu berbelok ke arah mal, ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan dan apa yang sedang direncanakan Jasmine.
Usai memarkirkan mobil, Varlo mengambil kaca mata yang pernah dia tinggalkan di laci agar Jasmine tidak mudah mengenalinya. Kalau Jasmine mudah mengenali itu artinya dirinya sangat berarti, Varlo mulai narsis.
Varlo lalu bergegas masuk mal. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan hingga tatapannya tertuju ke wanita yang memakai celana sepaha dan kaus lengan panjang berwarna putih terlihat mengaduk-aduk isi tas. Perhatian Varlo lalu jatuh ke kaki jenjang Jasmine hingga naik ke paha wanita itu.
“Sial! Ngapain Jasmine pakai baju gituan!!”
Varlo lalu mengikuti. Arah pandangnya tertuju ke sekeliling melihat beberapa lelaki melirik ke kaki Jasmine. Rasanya Varlo ingin mencolok mata itu agar tidak digunakan memandang kaki dan paha Jasmine.
Bukannya lo juga ngelihat, bisik hati Varlo.
“Sialan!” Varlo mengumpat, kalau ada mata yang harus dicolok, pastilah mata dia dulu.
***
Varlo menatap pantulan dirinya di cermin. Kemeja putih, jas dan celana soft purple. Varlo menyisir rambut dan menatanya ke arah kiri. Setelah memastikan penampilannya sempurna dia keluar kamar.
Waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Varlo sudah siap dengan penampilannya. Dia harus menjemput Jasmine terlebih dulu setelah itu ke pernikahan Yama.
Tadi siang, rencana Varlo membuntuti Jasmine gagal total. Dia mendapat telepon dari Tria yang mengajak ke akad pernikahan Yama. Padahal Varlo tidak berniat ke akad pernikahan. Bukannya tidak mau, tapi dia tahu kalau akad itu hanya dihadiri keluarga inti mempelai.
Lima belas menit kemudian, Varlo sampai di rumah Jasmine. Dia mengambil ponsel lalu menghubungi pacarnya.
“Hallo.”
“Aku sudah di depan rumahmu, Sayang.”
“Oke.”
Klik.
Varlo mematikan sambungan telepon. Dia merapikan jasnya, malam ini ingin tampil sempurna. Bisa dibilang, pernikahan Yama kali ini sekaligus ajang reuni bagi teman lama Yama, Tria dan juga Varlo.
Di dalam rumah, Jasmine menata rambutnya. Dia dari tadi bingung menata rambutnya menjadi model seperti apa. Akhirnya, dia hanya menggerai rambut panjangnya saja.
Sebelum turun Jasmine menatap lagi pantulan dirinya di cermin. Dress soft purple selutut dengan lipatan ikat pinggang berwarna putih. Dress sederhana tapo dia sangat menyukainya.
Perhatian Jasmine lalu tertuju ke kakinya yang belum mengenakan apapun. Dia berbalik mengambil tas kecil yang telah dia siapkan di ranjang setelah itu mengambil stiletto putih yang sebelumnya dia siapkan di dekat pintu. Setelahnya dia turun ke lantai satu.
“Sudah lama?” tanya Jasmine sesampainya di teras depan.
Varlo yang duduk sambil melamun seketika berdiri. Matanya meneliti penampilan Jasmine dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Cantik,” pujinya setelah menatap penampilan Jasmine beberapa detik.
Jasmine mendengus, bisa saja buaya darat itu memujinya. Meski begitu dia tersenyum. Dalam hati dia puas mendapat penilaian seperti itu dari Varlo.
Ngapain juga gue seneng dipuji Varlo. batinnya.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Jasmine memecah keheningan yang entah sejak kapan tercipta.
Varlo tergagap, tidak mudah baginya mengalihkan pandang dari Jasmine. “Kalau menurutmu? Aku ganteng nggak?”
Jasmine menatap Varlo. Rambut lelaki itu disisir membantuk belah kiri. Matanya lalu turun ke kemeja putih, jas soft purple, dan celana senada dengan jasnya. Penampilan Varlo terlihat keren meski tanpa dasi. Sejauh ini Varlo memang tampan menurut Jasmine.
“Biasa aja.”
Lain di mulut lain di hati. Yah itulah kebiasaan yang dilalakukan makhluk bernama wanita. Jasmine tentu saja termasuk di dalamnya.
“Berangkat yuk!!” ajak Varlo kecewa.
Varlo memutar tubuh kesal karena Jasmine tidak memujinya. Tapi dia bisa apa, Jasmine tidak akan berbuat baik atau memujinya.
***
Sesampainya di hotel tempat penikahan Yama, Jasmine berjalan mengikuti Varlo. Sepanjang perjalanan mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun. Aneh memang sebab mereka berdua jika bertemu selalu sibuk adu mulut.
“Gandeng tanganku.”
Jasmine yang kaget menatap Varlo dengan bibir terbuka. Setelah kesadarannya pulih dia buru-buru menutup mulut. Dia bergeser menjauh, bukan menggandeng tangan Varlo seperti yang lelaki itu ucapkan. “Nyari kesempatan banget!!” jawabnya ketus.
“Di dalem banyak cowok ganas.”
Jasmine memutar bola matanya. “Emang di depan gue ini bukan cowok ganas?”
“Setidaknya yang ganas cuma satu. Di dalem sana ratusan. Ayo! Nggak usah ngebantah.”
Tangan kiri Varlo melingkar ke pinggang Jasmine lalu membimbing wanita itu.
Ballroom itu telah ramai oleh undangan Yama dan Ayu. Jasmine menatap sekeliling, ballroom telah disulap sedemikian rupa hingga tampak elegan. Dia melihat orang-orang berkelas dengan pakaian yang waw. Jasmine jadi ragu dengan ucapan Varlo.
Cowok di sini ganas-ganas? batin Jasmine. Seganas-ganasnya nggak bakal ngelirik gue. lanjut kata hatinya.
Wanita yang hadir kebanyakan mengenakan gaun glamor. Jasmine yang hanya memakai dress biasa tampak seperti upik abu di ruangan ini.
“Varlo!!”
Merasa ada yang memanggil, Varlo menoleh perhatiannya tertuju ke Tria yang melambaikan tangan itu.
“Kita ke sana,” ajak Varlo lalu menarik Jasmine mendekati Tria.
Jasmine diam menurut. Dia tidak kenal siapapun di ruangan ini. Jadilah dia hanya mengikuti Varlo.
“Lama amat lo,” ucap Tria sesampainya Varlo berdiri di depannya.
Varlo mengangkat bahu, tidak merasa lama. Toh acara memang baru dimulai jam delapan malam. Varlo lalu melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Oke dia memang lama.
“Oh, ya cewek cantik ini siapa?” tanya Tria.
Jasmine tersenyum tipis karena lelaki di depannya itu menyebutnya cantik. Ah ternyata di ruangan ini masih ada yang tertarik kepadanya.
“Dia Jasmine.”
“Jasmine? Jadi ini yang namanya Jasmine?”
Ucapan Tria tampak terkejut dan seolah tidak asing dengan nama Jasmine. Membuat si punya nama menatap Tria dengan pandangan menyelidik.
Varlo melotot atas reaksi Tria yang berlebihan itu. Tria yang mendapati pelototan itu hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal.
“Lo udah ketemu Yama?” tanya Varlo mengalihkan pembicaraan.
“Udah barusan. Lo cepet ke sana, deh. Dia tadi nyariin lo.”
Varlo mengangguk lantas menggandeng Jasmine ke arah pelaminan. Jasmine yang tidak tahu diajak ke mana hanya mengikut saja.
“Varlo!!”
Belum sempat mereka berdua sampai pelaminan ada yang memanggil nama Varlo lagi. Jasmine dan Varlo menghentikan langkah lantas menoleh ke sumber suara.
“Varlo honey. Kapan balik? Tega, ya balik ke Indo nggak nemuin gue.”
Varlo menatap wanita yang memakai dress ungu bling-bling itu dengan saksama. Dia lupa apa wanita di depannya itu teman sekolahnya atau hanya wanita sok kenal.
“Lo lupa sama gue, ya? Gue Mila temen sebangku lo kelas lima sama kelas enam.”
Setelah wanita itu menyebutkan namanya barulah Varlo ingat. Dia melepas genggaman tangannya dengan Jasmine lalu menjabat tangan Mila. Namun Mila beranggapan lain, dia malah menarik Varlo ke dalam pelukannya.
“Kangen banget sama lo!!” pekik Mila.
“Gue juga.”
Jasmine memutar bola mata, drama teman lama yang membosankan. Dia lalu menatap Varlo dan Mila yang masih berpelukan itu. Lihat, mana ada teman lama yang berpelukan selama itu?
“Eh itu Varlo, ya? Varlo!!!”
Jasmine mendengar ada suara lagi yang menyebut nama Varlo. Lalu semuanya terjadi dengan cepat ketika lima wanita berpakaian glamor memeluk Varlo penuh minat. Jasmine menggeleng dengan kelakuan teman Varlo itu. Dan Varlo malah diam saja, malah terlihat menikmati.
“Playboy tokek belang,” desis Jasmine.
Lama-lama Jasmine mual melihat pemandangan di depannya. Ketika wanita-wanita itu bergantian mencium pipi Varlo. Perlahan Jasmine mundur, lebih baik mencari makan daripada melihat playboy tokek belang itu.
Varlo tidak sadar kalau Jasmine pergi. Dia terlalu asyik dengan teman SD-nya. Teman yang bisa dibilang sifatnya tidak berubah ke Varlo. Ya seperti inilah, dulu Varlo sering diperebutkan oleh teman-temannya.
***
Kesal, marah, muak, itulah yang Jasmine rasakan kali ini. Bagaimana tidak, dia merasa Varlo lagi-lagi mengerjainya. Setelah diam-diam pergi sampai sekarang Varlo tidak juga mencarinya. Sempat Jasmine melihat kalau lelaki itu berciuman dengan seorang wanita.
Bayangkan di tengah keramaian undangan, Varlo berciuman dengan seorang wanita. Entah siapa yang memulai Jasmine tidak tahu, yang jelas tindakan Varlo benar-benar tidak tahu malu.
“Kalau dia mau cari cewek ngapain ajak gue? Mau pamer gitu kalau lo banyak yang naksir?” gerutu Jasmine.
Jasmine mamasukkan sepotong brownies ke mulut sambil menatap Varlo yang sekarang berbincang dengan kedua mempelai itu. Jasmine meraih segelas air minum ketika tenggorokannya terasa ada yang mengganjal.
Tanpa peduli itu minuman apa dia langsung menegaknya. Dia mengernyit ketika rasa minuman itu membakar kerongkongannya tapi kembali lagi, dia tak peduli.
“Sialan lo, Varlo. Gue pengen nyekik leher lo sekarang juga.”
Jasmine meletakkan gelas itu di atas meja. Tanpa sadar dia menegak tiga gelas. Jasmine lalu menoleh ke kiri, mencari pintu keluar. Lebih baik dia pulang daripada di sini seperti upik abu yang numpang makan enak.
Dari kejauhan Jasmine melihat arah panah pintu keluar. Lalu tiba-tiba kepalanya mendadak pening. Dia menyentuh kepala tapi yang dia rasanya kepalanya semakin berat lalu dia ambruk ke lantai. Membuat beberapa undangan yang berada di dekatnya berteriak meminta tolong.