Satu
Klara Rose Wilden, termenung memandang ke arah lalu lintas Los Angeles dari jendela kamarnya di lantai tiga tempat dirinya tinggal sejak kecil bersama Benjamin Wilden dan Lidya Wilden— yang merupakan om dan tante dari pihak papanya.
Klara sudah yatim piatu sejak berumur enam tahun, dan ia tidak bisa mengingat kedua orang tuanya. Yang Klara ketahui, mereka meninggal karena kecelakaan mobil saat terburu-buru pergi ke rumah sakit untuk membawa dirinya yang sedang sakit. Semua orang mengatakan bahwa hal itu adalah keajaiban, bahwa dirinya bisa selamat dari kecelakaan.
Klara juga tidak tahu akan hal itu tapi Benjamin—Klara lebih suka memanggilnya dengan Om Ben—sering bercerita padanya dulu tentang orang tuanya dan tentang semua hal mengenai mereka, saat dirinya sudah dianggap cukup besar untuk mengetahuinya.
Klara rasa, karena trauma akan kecelakaan yang sudah dialaminya hingga membuat dirinya sama sekali tidak bisa mengingat kenangan akan mereka. Klara sering merasa bersalah karena hal itu, walaupun saat itu dirinya masih kecil.
Hanya Benjamin dan Lidya saja yang Klara kenal sebagai orang tuanya. Ia mencintai orang tua kandungnya, tapi ia tidak ingat kenangan tentang mereka. Dari apa yang sering diceritakan Benjamin padanya, Klara mengetahui jika mereka sangat menyayanginya.
Akankah hidupku berbeda jika mereka masih hidup saat ini?
Baru satu minggu sejak kematian Benjamin. Ia tidak menyangka, kalau ternyata kematiannya itu akan mengubah hidupnya. Bahkan saat ini ia masih sangat sedih, dan masih sangat sering mengingat kenangan-kenangan akan Benjamin. Ia jadi semakin sedih, saat mengingat konfliknya dengan Lidya beberapa saat yang lalu. Tidak menyangka ternyata Lidya tidak menyayanginya, dan bahkan mengusirnya. Padahal ia sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri.
Lidya-lah yang memperkenalkannya pada dunia, dan mengajarkannya untuk tidak terjatuh. Sedangkan Benjamin yang mengenalkan dunia padanya, dan mengajarkannya untuk bangun jika dirinya terjatuh.
Benjamin lebih menahan diri dalam menunjukkan kasih sayang padanya walaupun Klara tahu jika dia juga sangat menyayanginya, sedangkan Lidya yang selalu memperhatikan, menyayangi, dan mendengarkan keluh kesahnya serta yang mengkhawatirkan keadaan dirinya tapi ternyata mengatakan bahwa dia tidak mencintainya.
Hati Klara hancur saat mengetahui kenyataan itu. Tanpa ia sadari air matanya mengalir perlahan di kedua pipinya.
Ia kembali mengingat pembicaraannya dengan Lidya tadi.
“Tante, kenapa Tante tega melakukan ini kepadaku?”
“Klara, sekarang Om Ben sudah meninggal, Tante tidak sanggup lagi berpura-pura bisa menerimamu di rumah ini. Jadi, kamu harus segera pergi dari rumah ini. Tante sudah mencarikan pekerjaan untukmu. Kamu tenang saja, Tante tidak mengusirmu tanpa memberikan kamu sesuatu sebagai penopang hidup dan orang yang akan memperkerjakanmu ini adalah orang kaya, siapa tahu kamu akan menikah dengannya dan kamu akan mendadak menjadi orang kaya. Jadi, harusnya kamu berterima kasih sama Tante.”
“Tapi, Tante, Klara masih ingin di sini menemani Tante. Tidak ada yang menjaga Tante.”
“Tidak perlu, Klara! Kamu itu hanya akan menjadi beban buat Tante. Jadi tidak ada untungnya kamu tetap di sini.”
Ia merasa seolah-olah ada pisau yang menusuk hati, saat mendengarkan ucapan Lidya tersebut. Ia mengira ucapan Lidya yang pertama tidak sengaja, tapi tidak mungkin bukan untuk kedua kalinya juga tidak sengaja. Tetapi ia masih berusaha untuk berpikiran positif.
“Tante tidak serius bukan mengatakan itu semua?”
“Tante serius, Klara, selama ini Tante terpaksa menerimamu karena Benjamin. Sebab Tante tahu Benjamin sangat mendambakan memiliki seorang anak, dan dengan kehadiranmu Benjamin seperti mendapatkan keajaiban dari Tuhan. Jadi, Tante mau tidak mau juga berusaha menerimamu dan merawatmu dengan baik, karena Tante sangat mencintainya. Tapi sekarang Benjamin sudah tiada, tidak ada lagi alasan Tante untuk tetap menerimamu dan harus membuat Tante terus berpura-pura.”
Tanpa Klara sadari air matanya menetes tanpa bisa dia tahan.
“Tante ....” Klara tidak bisa berkata-kata lagi. Ini semua terasa sangat menyakitkan. Klara masih tidak ingin percaya jika sikap Lidya selama ini kepadanya hanyalah kepura-puraan, jadi Klara melarikan diri ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.
Saat ini di kamarnya, Klara kembali memikirkan semuanya dan tidak bisa menyangkal lagi. Ia harus menerima kenyataan kalau Lidya memang benar-benar tidak mencintainya, dan mungkin memang tidak pernah mencintainya. Jadi, sebaiknya ia mengikuti keinginan Lidya dan pergi saja dari rumah ini.
Untuk apa aku bertahan di sini jika kehadiranku tidak diinginkan.
Hanya saja ia merasa sangat takut, karena selama ini ia tidak pernah hidup sendiri. Selalu ada Benjamin dan Lidya tempat ia bersandar, tapi sekarang tiba-tiba semua itu direnggut dari pelukannya.
Ia memutuskan sebaiknya bertanya kepada Lidya, siapa orang yang akan memperkerjakannya. Ia tidak punya pilihan, kalau harus mencari sendiri pekerjaan ia bisa pengangguran dalam waktu lama dan bahkan mungkin menjadi gelandangan, karena dirinya baru saja menyelesaikan kuliah.
Perusahaan mana yang akan langsung memperkerjakan orang yang baru lulus? Itu hanya mungkin jika orang tuanya pemilik perusahaan tersebut, sedangkan hal itu mustahil karena sesuai kenyataannya dirinya yatim piatu, dan sekarang benar-benar yatim piatu.
Dengan terpaksa Klara akhirnya keluar dari kamar dan kembali mencari Lidya.
“Tante, baiklah aku akan segera pergi dari sini sesuai keinginan Tante. Jadi, aku akan bekerja sebagai apa dan sama siapa?”
“Baguslah akhirnya kamu sadar juga. Kamu akan bekerja sebagai perawat Jimmy Clark, dan kamu akan tinggal bersamanya.”
“Perawat, Tante?! Tapi aku tidak tahu apa-apa menjadi seorang perawat, aku tidak pernah sekolah keperawatan dan yang pernah sekolah keperawatan di sini itu Tante bukan aku,” timpal Klara histeris saat tahu pekerjaan apa yang akan dilakukannya.
“Tenang saja nanti lama-lama kamu juga akan bisa, lagipula Mr. Clark masih dalam keadaan sangat sehat saat ini, hanya saja kadang dia sering merasa tidak enak badan dan sangat sering merasa sakit kepala. Jadi, dia butuh seseorang untuk menjaganya agar jika sampai dirinya pingsan atau butuh bantuan, ada seseorang yang akan langsung menolongnya dan jiwanya tidak akan berada dalam bahaya.”
“Memangnya dia tidak punya istri apa sampai harus mempekerjakan seorang perawat,” gerutu Klara.
“Klara, tinggal di planet mana kamu selama ini, sampai saat Tante menyebutkan nama Jimmy Clark saja kamu tidak tahu.”
“Haruskah, Tante?”
“Klara! Kamu ini membuat Tante kesal saja. Memangnya kamu tidak pernah ke bank selama ini?”
“Maksud Tante, Clark yang itu? Yang mempunyai bank terbesar keempat di Amerika ini dan yang berpusat di Paradise Island, Bahama itu?”
“Nah, pintar.”
Lidya senang karena akhirnya Klara sadar juga, hampir saja rasanya ia ingin menjambak rambutnya karena begitu kesal dengan keponakannya itu.
“Dia itu sudah tua, Tante, usianya saja sudah 60 tahun, Tante menyuruhku menikah dengan om-om itu, usiaku baru 22 tahun, Tante!” Klara hampir histeris, saat sadar kalau Lidya berharap ia menikah dengan seorang pria tua yang lebih pantas menjadi ayahnya.
“Tante hanya mengatakan siapa tahu, Klara.”
“Sama saja, Tante tega sekali padaku, biarpun Tante ingin segera menyingkirkanku dari rumah ini tapi apa harus mengharapkanku menikah dengan om-om?”
“Kenapa tidak? Dia itu orang yang sangat kaya dan kalau dia meninggal dengan cepat, kamu akan menjadi janda kaya.”
“Tante!” pekik Klara akhirnya.
“Sudah jangan bawel, kamu hanya baru akan bekerja dengannya bukan dilamar olehnya, sudah seperti orang kebakaran jenggot saja,” timpal Lidya. “Bersiap-siaplah, besok dia akan mengirim orang untuk menjemputmu jam 8 pagi,” sambung Lidya lagi.
Klara terkejut, “Haruskah secepat itu, Tante? Aku benar-benar belum siap pergi dari sini secepat itu.”
“Tentu saja, Klara. Makin lama di rumah ini, semakin kamu membuat Tante susah dan merasa terbebani. Jadi sebaiknya kamu segera pergi, agar Tante bisa bebas tanpa ada beban yang harus Tante tanggung karena dirimu.”
Mata Klara berkaca-kaca mendengar jawaban Lidya, “Baik, Tante,” jawab Klara dengan pasrah, dan segera beranjak pergi untuk membereskan barang-barangnya.
Saat di pertengahan jalan ia menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghadap Lidya. “Tapi kenapa harus aku, Tante? Bukankah dia orang kaya? Kenapa tidak mempekerjakan perawat berlisensi saja?”
“Kamu ini Klara, terlalu banyak bertanya. Harusnya kamu bersyukur, dia memilihmu yang baru lulus kuliah dan bahkan bukan jurusan keperawatan,” cerca Lidya marah.
“Baik, Tante, maaf,” ujar Klara menyesal, saat melihat Lidya marah. Walaupun dirinya sendiri tidak puas dengan jawaban itu. Ia bergegas melangkah ke kamarnya, meninggalkan Lidya tanpa menyadari tatapan tantenya.
Ia tidak punya pilihan selain menerima, meskipun dirinya masih tidak rela meninggalkan Lidya dan rumah ini. Apa pun yang Lidya lakukan padanya, dia tidak akan pernah dengan rela pergi dari sini.
☼☼☼