Dua

974 Words
Keesokan harinya, orang yang dikirim oleh Jimmy Clark sudah datang sesuai dengan waktu yang Lidya katakan pada Klara. Padahal semalam ia berharap dengan sepenuh hati, agar diberi waktu sebentar lagi untuk tetap berada di rumah ini. Dan saat harapannya tidak terjadi sesuai keinginannya, hal itu membuat ia semakin kesal saja.  Ia belum rela meninggalkan Lidya secepat ini, dan dengan terpaksa ia membawa semua barang bawaan sambil meneteskan air mata, lalu mencari Lidya untuk berpamitan.  “Tante, aku pergi dulu.”  “Hmmm ... pergilah.”  “Bolehkah aku memeluk Tante?” tanya Klara dengan penuh harap.  “Hmmm ....” Dengan segera ia memeluk Lidya dari belakang, dan kemudian mencium pipinya. Hal itu menyebabkan air matanya menempel di pipi Lidya. Walaupun Lidya tidak mencintainya tapi ia tidak akan pernah berhenti mencintai tantenya itu.   “Aku mencintai Tante, sampai kapan pun aku akan terus menyayangi Tante walaupun Tante tidak menyayangiku. Aku pergi dulu, Tante,” lirih Klara dengan mata berkaca-kaca, berharap Lidya akan berubah pikiran dan tidak membiarkannya pergi. “Cepatlah pergi, Klara! Kamu mengganggu pekerjaan Tante saja!” jerit Lidya frustrasi. “Tante ....” Air mata yang sudah mengalir dan berusaha ditahan Klara, sekarang mengalir deras tanpa bisa dibendungnya lagi. Dengan kasar ia menghapusnya dan segera beranjak pergi dari sana, ia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan jika tetap berada di sana untuk waktu lama. Kemarahan Lidya tadi akhirnya benar-benar menyadarkannya jika dia memang mengatakan yang sebenarnya, jika dirinya memang tidak mencintainya. Tanpa disadari Klara, orang yang ditinggalkannya pun tidak bisa membendung lagi air matanya.  “Maafkan Tante, Klara. Semua ini Tante lakukan untukmu, semoga suatu hari nanti kamu akan mengetahui alasannya.” Lidya hampir tidak sanggup menahan dirinya lebih lama lagi hingga membuat dirinya membentak Klara.  Untung saja anak itu segera pergi. Saat sampai di mobil yang dikirimkan Jimmy Clark untuknya, sopir membantu memasukkan semua barang-barangnya dan Klara segera masuk ke dalam tanpa disuruh lagi, sebelum dirinya mempermalukan dirinya dengan berlari ke dalam dan memohon-mohon kepada Lidya. Ia bahkan tidak membalas perkenalan dari orang yang ditugaskan untuk menjemputnya itu— saat dia menyebutkan namanya. Samar-samar dirinya hanya sempat mendengar nama Allen saja, tapi ia tidak tahu apa nama depannya. Ia tahu dirinya tidak sopan, tapi ia tidak bisa menahan tangisnya lebih lama lagi. Ia terus meneteskan air mata sepanjang jalan menuju bandara dan tempat tinggal barunya, seolah-olah akan dieksekusi. Beruntung, orang yang ditugaskan untuk menjemputnya juga tidak berusaha mengajaknya berbicara. ☼☼☼ Setelah naik pesawat kira-kira hampir tujuh jam, Klara tidak tahu tepatnya dan tidak ingin mengetahuinya. Karena sepanjang penerbangan ia hanya bisa menangis, dan saat lelah ia akan tertidur sejenak, tapi tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dirinya baru benar-benar membuka mata, saat mereka akan mendarat. “Mr. Allen kita ada di mana?” tanya Klara, saat melihat pemandangan laut dari dalam pesawat yang akan segera mendarat. “Nassau, Bahama, Nona.” Setelah itu Klara terdiam dan hanya memandang keluar, melihat pemandangan yang tampak begitu indah dari dalam pesawat. Saat akhirnya mendarat, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan naik mobil milik Jimmy Clark yang diparkir di bandara. Kali ini Mr. Allen sendiri yang yang menyetirnya, setelah itu Klara kembali murung karena merasa sedih sudah berada begitu jauh dari Lidya. “Tante ...,” lirih Klara kembali berkaca-kaca. Mereka berkendara beberapa lama yang terasa sangat singkat bagi Klara, karena tiba-tiba saja mereka sudah sampai. Dirinya tidak memperhatikan waktu dan sekitarnya lagi. Saat sudah tiba di tempat di mana ia akan bekerja entah sampai kapan. Klara memperhatikan rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk sementara waktu ini. Dari luar rumah ini tampak biasa saja, kecuali letaknya yang dekat dengan pantai berpasir putih dan laut birunya indah, dan Klara sangat menyukai itu. Jadi untuk sesaat Klara melupakan kesedihannya kembali, dirinya terpesona saat melihat lautnya yang biru.  Setelah barang-barang bawaannya diturunkan, Klara diajak masuk ke dalam rumah untuk bertemu Jimmy Clark. Sesampainya mereka di dalam, betapa terkejutnya Klara melihat kemewahan rumah ini. Ruang tamu dengan lima baris jendela kaca tinggi menghadap laut. Langit-langit yang tinggi dengan lampu hias di atasnya, serta tangga melingkar di bawahnya yang merupakan akses jalan menuju lantai atas, dan setelah itu Klara diantar berkeliling oleh Mr. Allen sesuai instruksi Jimmy Clark untuk mengajaknya berkeliling dulu. Kemudian Klara dibawa ke ruang makan, di mana terdapat meja marmer yang berbentuk bulat dengan delapan kursi dan Klara juga diperkenalkan dengan juru masaknya yang bernama Katie Allen, yang juga merupakan istri dari Mr. Allen. Mereka bersikap sangat ramah kepada Klara dan ternyata selain orang kepercayaan Jimmy Clark, Mr. Allen juga merangkap sebagai sopir di rumah ini. “Nona, setelah ini putriku yang akan melanjutkan mengajakmu berkeliling rumah ini. Perkenalkan, ini Olivia,” ujar Mr. Allen, saat seorang gadis muncul dari pintu belakang. “Halo, aku Klara,” ujar Klara, pada seorang gadis mungil yang terlihat ceria dan murah senyum. “Hai, aku Olivia. Senang berkenalan denganmu.” “Aku juga,” ucap Klara berusaha tersenyum. “Olivia, kamu ajaklah Nona Klara berkeliling sesuai instruksi Tuan Besar.” “Baik, Pa. Ayo, Nona.” “Mr. Allen, maafkan aku tadi karena sudah bersikap tidak sopan tidak membalas perkenalanmu,” ucap Klara sebelum mengikuti Olivia berkeliling. Klara merasa harus meminta maaf kepada Mr. Allen, karena tadi sudah tidak sopan. “Tidak apa-apa, Nona, saya maklum. Anda akan menuju tempat baru dan meninggalkan rumah dan juga Tante Anda, pasti sangat sedih rasanya. Dan, Anda bisa memanggil saya Jackson.” “Baiklah, Jackson. Saya ucapkan terima kasih atas pengertiannya, dan Anda bisa memanggil saya Klara saja tidak usah Nona, karena saya di rumah ini hanya sebagai perawat,” timpal Klara dengan mata yang kembali berkaca-kaca. “Sudah, Sayang, di sini ada kami jadi kamu tidak akan kesepian,” sambung Katie sebelum Klara kembali menangis. “Terima kasih, Mrs. Allen.” “Panggil aku Katie.” “Baiklah. Terima kasih, Katie. Aku pamit dulu,” ujar Klara, mengikuti Olivia yang akan menjadi pemandunya. ☼☼☼ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD