Tiga

2225 Words
Mereka kemudian menaiki tangga melingkar menuju lantai atas. Saat sampai di kamar pertama rumah itu, Klara semakin takjub saja.  Kamar itu tampak seperti kamar di hotel-hotel bintang lima. Meskipun belum pernah ke sana, tapi Klara pernah melihatnya di internet. Semua warna di kamar ini bernuansa cream. Dari sofa, lantai yang dilapisi beludru, ranjang dengan ukuran king size, bahkan semua perabotannya berwarna cream, dan hampir semuanya dikelilingi jendela kaca yang menghadap ke pantai.  “Apa semua ruang di rumah ini menghadap pantai, Ms. Allen?” tanya Klara karena penasaran.  “Ohh ... panggil saja saya Olivia,” pinta Olivia kepada Klara.  “Baiklah, Olivia, dan Anda bisa memanggil saya Klara.”  “Saya senang sekali, akhirnya mempunyai seorang teman yang seumuran dengan saya di rumah ini.”  “Saya juga,” ucap Klara tersenyum kepada Olivia, dan tawa mereka meledak karena masih bersikap begitu formal satu sama lain, dan akhirnya mereka menjadi semakin akrab. “Maaf rasanya aku sudah melenceng dari pertanyaanmu. Untuk menjawab pertanyaanmu, ya, semua ruang di rumah ini didesain menghadap ke pantai, bahkan kolam renangnya saja menghadap pantai.” “Kolam renang? Rumah ini punya kolam renang?” “Iya.” Olivia tersenyum mendengar antusiasme yang terdapat di dalam suara Klara. “Aku sangat suka berenang, Olivia. Apakah kita diizinkan berenang di rumah ini?” “Karena aku tidak suka berenang dan begitu juga kedua orang tuaku, jadi itu harus kamu tanyakan sendiri pada Tuan.” Klara langsung menjadi lesu saat mendengarnya. “Tenang saja, Klara. Tuan itu orang yang sangat baik, jadi dia pasti akan mengizinkanmu berenang di kolam itu, tapi sebaiknya kamu minta izin agar lebih nyaman,” jelas Olivia memberi saran. “Benarkah? Aku takut dia akan seperti majikan-majikan yang ada di televisi, yang akan bersikap sangat kejam hingga membuatku enggan bertanya.” “Tenang saja, dia sangat baik,” timpal Olivia berusaha meyakinkan Klara. “Baiklah, terima kasih, Olivia. Nanti aku akan menanyakannya kepada Mr. Clark.” “Dan kamar siapakah ini, Olivia?” “Oh ... Ini kamar Tuan Muda.” “Tuan Muda?” tanya Klara bingung. “Anak Tuan Besar, Gray Clark.” “Jadi, Mr. Clark punya anak?” “Ya, hanya saja Tuan Muda sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis saat ini dan baru akan kembali satu minggu lagi.” “Oh ... apa tidak apa-apa kita masuk ke kamarnya?” “Tidak apa-apa, karena Tuan Besar meminta kami  memperlihatkan semua ruangan kepadamu dan memperkenalkan semua orang di rumah ini tanpa terkecuali, dan berarti kamar mandi juga termasuk. Ayo ... kita lihat kamar mandinya.” Saat memasuki kamar mandi, Klara merasa takjub melihat kamar mandi mewah untuk pertama kalinya. Dengan nuansa warna perabotan yang sama dengan yang ada di dapur, dan dilengkapi dengan bathtub juga. Klara tidak habis pikir cara orang kaya menghabiskan uangnya, sungguh sangat luar biasa. Dan bukannya bangkrut mereka malah semakin kaya setiap harinya. “Dan, sekarang, ayo, kita ke kamarmu.” Setelah keluar dari kamar itu, mereka menuju kamar di sebelahnya. Di sana ruangannya lebih kecil dari yang tadi dan lebih sederhana, tapi inilah yang Klara inginkan. Kamar ini pun tidak luput dari pemandangan jendela kacanya yang menghadap laut, dan terdapat teras juga, yang membuat Klara bisa melihat kolam renang sama seperti kamar Gray. Terasnya juga bersebelahan dengan teras kamar sebelah. Setelah itu ia memasuki kamar mandinya, dan di sana juga ada bathtub dan pancuran air panas yang disekat oleh kaca. Klara tidak sabar untuk mencobanya nanti, tapi ia merasa sedikit aneh sebab kamar ini sangat mewah untuk seorang perawat. Setelah dari kamarnya, Klara dibawa Olivia ke kamar Jimmy yang berada tepat di sebelah kamarnya yang lain. Jadi, kamar Klara tepat berada di tengah-tengah. Ia jadi merasa semakin aneh. Bukankah aku hanya pembantu saja biarpun bekerja sebagai perawat? Tapi kenapa aku ditempatkan di kamar ini, dan di antara kedua kamar majikanku? Bukan di dapur saja atau mungkin bersama keluarga Mr. Allen?   Klara menepis pikiran itu dari benaknya dan berusaha berpikiran positif. Mungkin supaya Mr. Clark mudah memanggilku jika butuh sesuatu dan tampaknya memang hanya kamar ini saja yang letaknya paling dekat dengan kamarnya. Kamar Jimmy didesain mirip sekali dengan kamar Gray. Jadi, mereka hanya berada di sana sebentar saja. Kembali melanjutkan berkeliling dan saat lewat di depan ruang kerja Gray, Olivia hanya memberitahukan saja pada Klara, tapi mereka tidak masuk dan langsung mengunjungi ruang biliar. Di sini mereka juga tidak lama-lama, ruang biliar tersebut didesain dengan pintu terbuka yang langsung menuju teras yang menuju ke pantai. “Ayo, sekarang kita ke ruang santai,” ajak Olivia. Begitu sampai di ruang santai, Klara semakin takjub melihatnya. Baru kali ini Klara melihat televisi sebesar itu dan sofa yang sangat besar yang bahkan bisa dipakai untuk tiduran beberapa orang. Tidak luput juga, dua jendela kaca menuju teras yang menghadap laut, serta pintu kaca yang menuju teras. “Baiklah, Klara, sampai di sini saja acara jalan-jalan kita. Di teras, sudah menunggu Tuan Besar untuk berbicara denganmu.” “Terima kasih, Olivia.” “Sama-sama. Jika kamu butuh bantuan apa pun, jangan sungkan-sungkan memintanya padaku atau kepada kedua orang tuaku. Kami tinggal di belakang rumah ini, kamu bisa mencari kami di sana kalau mau.” “Baiklah, terima kasih banyak, Olivia.” Setelah ditinggalkan Olivia, Klara dengan ragu-ragu membuka pintu kaca yang menuju ke teras. Di sana sudah menunggu Jimmy, yang sedang duduk di kursi santai sambil membaca majalah bisnis . “Ahh ... Klara, kamu sudah tiba.” “Eh iya, Tuan. Perkenalkan saya Klara Rose Wilden.” “Saya sudah tahu dari tantemu.” “Oh ... baiklah, Tuan.” Klara merasa sangat gugup dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. “Baiklah, apakah kamu sudah berkeliling rumah ini, Klara?” “Iya, Tuan. Rumah Anda sangat indah dan sangat menakjubkan.” “Hahaha ... iya, Klara saya tahu itu. Banyak yang ingin membelinya, tapi Gray menolak mereka semua dan tentu saja aku tidak akan mengizinkan Gray menjualnya. Bagaimanapun di sini terdapat banyak kenangan istri pertamaku, dan aku tidak ingin kehilangan semua kenangan itu.”  “Istri pertama, Tuan?” tanya Klara dengan spontan. ‘Jika ada istri pertama berarti ada istri selanjutnya,’ pikir Klara. ‘Dan entah istri keberapa. Jangan-jangan bisa-bisa aku selanjutnya,’ sontak wajah Klara menjadi pucat karena pikirannya. “Iya, Klara, istri pertama yang sangat aku cintai, mamanya Gray.” Mata Jimmy menerawang, memandang pemandangan pantai yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong, tampak seakan dia sedang mengingat semua memori istri pertamanya yang ada di rumah ini. Klara bisa melihat dari wajahnya, betapa Jimmy masih merindukan istrinya itu dan dirinya seolah bisa merasakannya. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai seperti itu? Istri Mr. Clark sangat beruntung karena memiliki suami yang begitu mencintainya bahkan hingga sekarang,’ batin Klara. “Baiklah, Klara, apa kamu sudah tahu tugasmu di rumah ini?” Klara begitu terkejut, karena tiba-tiba Jimmy sudah berbicara kepadanya lagi. “Eh ... maaf, Tuan, saya di sini bekerja sebagai perawat Anda, tapi saya tidak tahu apa kegunaan saya karena Tuan terlihat baik-baik saja dan sehat sekali. Selain itu, saya tidak tahu bagaimana cara menjadi perawat karena saya tidak pernah sekolah keperawatan sebelumnya. Kenapa Tuan tidak memakai perawat yang berlisensi saja? Kenapa Tuan memilih saya?” tanya Klara akhirnya karena begitu penasaran. Jika Tante tidak bisa menjawab pertanyaanku, aku bisa bertanya kepada Mr. Clark, walaupun mungkin aku akan langsung ditendang saat ini juga karena sudah begitu lancang. Tapi Olivia mengatakan jika Mr. Clark itu sangat baik, jadi mudah-mudah dia tidak langsung memecatku sekarang juga. “Klara panggil saja aku Jimmy atau Jim, jangan Tuan, karena kamu di sini bukan sebagai pembantu. Di sini kamu bertugas sebagai perawatku, seperti yang sudah kamu ketahui. Aku baru saja didiagnosa sakit oleh dokter kenalanku, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu sakit apa. Yang jadi tugasmu hanyalah, jika tiba-tiba aku jatuh atau pingsan kamu harus segera menolongku. Dan kapan pun aku meminta bantuan, kamu harus segera datang dan kamu juga harus menemani saat aku melakukan check up kesehatan rutin.” “Selain itu, kamu juga harus memastikan aku meminum obat secara rutin jika dokter meresepkan obat padaku. Dan yang terpenting kamu harus melakukan semuanya sesuai instruksi, karena sakitku inilah aku memilihmu sebagai perawatku, sebab aku tidak ingin Gray tahu jika aku sakit. Aku tidak mau dia khawatir. Mungkin saat aku siap, aku akan memberitahukannya kepadanya, tapi tidak sekarang. Jika aku memakai perawat berlisensi, maka aku tidak akan bisa menyembunyikan penyakitku darinya,” jelas Jimmy dengan panjang lebar pada Klara. “Eh ... baiklah, Tuan, saya mengerti. Tapi maaf saya tidak bisa memanggil Anda hanya nama saja, bagaimanapun saya hanya karyawan Anda dan itu tidak pantas.” “Baiklah jika itu maumu, panggil saja aku Om, anggap aku sebagai Ommu.” “Tapi saya tidak bisa,” ucap Klara hampir menangis, karena membuatnya ingat akan Benjamin yang sudah pergi untuk selamanya. “Panggil aku Mr. Clark kalau begitu,” timpal Jimmy cepat, karena tidak ingin gadis di hadapannya benar-benar meledak tangisnya. “Baik, Mr. Clark.” “Sekarang pergilah ke kamarmu untuk berbenah dan membersihkan diri. Besok kamu sudah bisa mulai bekerja dan makan malam akan dihidangkan sebentar lagi, aku ingin kamu makan malam denganku untuk menyambut kedatanganmu.” “Baik, Mr. Clark.” Saat baru akan pergi, tiba-tiba Klara ingat jika ada sesuatu yang belum ditanyakannya dan dia berbalik kembali. “Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan lagi, Klara?” tanya Jimmy saat melihat Klara kembali lagi. “Saya mau tanya, Mr. Clark, apakah saya boleh menggunakan kolam renang di waktu senggang saya?” “Oh, tentu saja, Klara. Kamu boleh berenang kapan pun kamu mau, bahkan kamu boleh menggunakan semua fasilitas di rumah ini.” Klara sesaat bingung mendengarnya, tapi dirinya menepis pikiran apa pun yang akan menghampirinya.  Benar kata Olivia, Mr. Clark memang sangat baik. “Terima kasih, Mr. Clark,” ucap Klara dan menyunggingkan senyumnya yang paling memesona, hingga membuat Jimmy terpana karenanya, dan ikut merasa senang. ‘Saya harap kamu adalah seseorang yang benar-benar sesuai seperti apa yang aku butuhkan saat ini, Klara,’ ucap Jimmy di dalam hatinya. Klara bergegas menuju ke kamar, dan membereskan pakaiannya yang tidak seberapa ke lemari pakaian yang sudah disediakan. Baru sebentar saja Klara sudah merindukan Lidya, Klara jadi merasa cemas akankah dia betah tinggal di tempat ini. Klara kemudian memutuskan membersihkan diri, dan kemudian makan malam. Klara ingin sekali mencoba bathtub yang ada di kamar mandi, tapi dia tidak ingin mati karena tenggelam sebab saat ini dia sangat mengantuk dan begitu kelelahan. Semalaman dia menangis dan tidak bisa tidur, sekarang efeknya sudah terasa. Klara tidak tahu apa yang dipikirkan Jimmy saat melihatnya tadi. Matanya bengkak karena menangis terlalu lama, penampilannya pasti terlihat sangat kusut dan acakacakan. Klara bergegas masuk ke kamar mandi dan mandi menggunakan air pancuran saja, lalu segera mengenakan pakaian kemudian bergegas ke ruang makan. “Duduk Klara dan makanlah!” perintah Jimmy, saat melihat kemunculan Klara.  “Baik, Mr. Clark.”  Klara makan dalam diam, karena dirinya mulai merasa kelelahan dan tadi pun selesai mandi ia hampir tidak sanggup membuka matanya. “Klara, Om-mu baru saja meninggal, bukan?” “Iya, Mr. Clark.” “Apakah kamu menyayanginya?” “Saya sudah menganggapnya seperti papa saya sendiri.” “Hm ... begitu. Apakah karena itu, matamu bengkak sebab masih menangisinya?” “Itu ... iya, Mr. Clark,” ucap Klara sambil menunduk. Klara terpaksa berbohong, sebab ia tidak mungkin mengatakan kalau ia menangis karena tidak rela meninggalkan Lidya, untuk bekerja di sini. Klara takut ia akan langsung dipecat, kalau Jimmy sampai tahu. Anak ini sungguh masih sangat polos. Dia bahkan tidak bisa berbohong. Apakah dia akan sanggup melakukan sandiwara itu nantinya? Tapi Lidya mengatakan aku tidak perlu memintanya. Hanya perlu membuat dia mau melakukannya dan Lidya mengatakan jika Klara akan melakukannya saat dia marah. Jimmy mengingat kembali pembicaraannya dengan Lidya, tantenya Klara. “Anda tidak perlu meminta apa-apa atau mengatakan apa-apa padanya, Jimmy. Buat saja anakmu memancing kemarahannya, dan semuanya akan dia lakukan dengan sendirinya, karena dia paling benci dengan laki-laki arogan yang suka menghinanya. Pernah satu kali dia menendang laki-laki yang mencoba menghinak dan menggodaku. Dan aku jamin dia akan menyatakan perang dengan anakmu, jika anakmu menghinanya. Setelah itu, baru kamu meminta padanya untuk bersandiwara seperti keinginanmu.” Jimmy kembali menyadarkan dirinya untuk saat ini.  Gray akan pulang enam hari lagi. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Gray marah, sehingga dengan sendirinya dia akan menghina Klara? Ya ... itulah yang harus aku lakukan. Tidak akan ada yang bisa membuat Gray marah selain itu.   Setelah memikirkannya beberapa saat, tiba-tiba Jimmy mendapatkan ide. Jimmy merasa sangat senang dengan idenya itu. Ia sangat yakin kalau ide itu pasti akan berhasil. Klara tidak berusaha memulai percakapan, meskipun Jimmy juga terdiam entah memikirkan apa. Yang Klara pikirkan saat ini adalah ranjang di kamarnya, dan Klara tidak tahu sampai kapan dia harus berada di sini, hingga ia tidak berani untuk berpamitan kepada Jimmy. “Klara, kamu bisa kembali ke kamarmu jika sudah selesai dan istirahatlah, karena aku ingin kamu menemaniku lari pagi besok jam 06:00.”         “Baik, Mr. Clark. Saya permisi dulu.”  Dengan segera Klara undur diri, karena dirinya benar-benar akan tertidur di meja makan jika lebih lama lagi berada di sana. ‘Anak itu, dia bahkan hampir tidak bisa membuka matanya, tapi dia tidak protes sama sekali,’ pikir Jimmy. Sesampainya di kamar, Klara menyetel alarm lagi dan langsung tertidur hingga keesokan hari. ☼☼☼
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD