Klara terbangun saat alarm pada ponselnya berbunyi. Dirinya bergegas mandi, kemudian menemui majikannya.
Jimmy memberikan rincian aktivitas dan obatobatannya, sejak hari itu Klara mulai mengawasi asupan dan kegiatannya. Selain itu, setiap pagi Klara juga menemani Jimmy berlari di pinggiran pantai. Dan sore harinya, Klara akan menunggui Jimmy berenang karena takut sesuatu terjadi kepadanya saat sedang berenang.
Saat malam hari, dihabiskan Klara dengan bersantai. Tidak banyak yang bisa dilakukannya selain berenang, dan kadang-kadang Klara memberanikan diri berjalan-jalan di pantai. Kadang-kadang jika dia tidak dibutuhkan, dia akan pergi ke rumah belakang untuk berbincang-bincang dengan Olivia dan Katie.
Tak terasa sudah seminggu Klara berada di sana, dan hari ini adalah jadwalnya menemani Jimmy untuk check up rutin di rumah sakit Elizabeth Estate— milik teman Jimmy yang terletak di Kota Nassau. Di sana Klara tidak diizinkan untuk ikut masuk, jadi dia hanya menunggu di luar dan berjalanjalan di sekitar tempat itu.
Berjam-jam Klara menunggu Jimmy di sana hingga membuat dirinya khawatir.
Mungkinkah Mr. Clark sakitnya tambah berat hingga harus begini lama prosesnya?
Akhirnya saat sore mereka sudah boleh pulang. Jadi, Klara menelepon Jackson agar menjemput mereka kembali. Tadi Jimmy menyuruh Jackson pulang terlebih dahulu, karena mungkin sudah tahu mereka akan lama berada di rumah sakit.
Sesampainya di rumah, Jimmy masuk terlebih dahulu karena Klara masih harus membawa masuk obat-obat dan sebuah amplop besar yang tidak ia ketahui isinya apa. Saat masuk ke dalam rumah, dirinya mendengar suara serak dan berat seorang laki-laki, jadi dia memperlambat langkahnya.
“Papa, apa Papa baik-baik saja? Katie bilang Papa pergi ke rumah sakit?”
“Papa baik-baik saja, Gray. Itu hanya check up rutin Papa setiap bulan.”
“Syukurlah, aku kira Papa sedang sakit.”
Jimmy tidak ingin memberi tahu Gray sekarang, karena dirinya belum siap dan semuanya juga belum sesuai rencana.
Saat masuk ke dalam, Klara melihat Jimmy sedang berbicara dengan seorang laki-laki dan dari pembicaraan mereka, ia tahu jika ternyata itu Gray, anaknya Jimmy.
Ia masuk sepelan mungkin, agar ayah dan anak itu tidak menyadari kehadirannya sehingga tidak menyebabkan mereka terganggu. Tetapi hal itu mustahil, karena ruangan itu terbuka jadi pasti dirinya terlihat.
“Ah ... Klara, kemari.”
“Ya,” jawab Klara, gugup saat ditatap oleh dua laki-laki yang tampak sama tapi berbeda usia. Walaupun dirinya lebih merasa gugup, karena tatapan dari Gray yang seolah menyelidikinya luar dalam, hingga membuat Klara ingin melihat apa mungkin ada satu kancingnya yang terlepas.
“Gray, perkenalkan ini calon istri Papa, Klara. Dan Klara perkenalkan ini anakku, Gray.”
Klara hanya bisa melongo, tak bisa berkata-kata saat mendengar penuturan Jimmy.
Ada apa dengan Mr. Clark? Dia tidak salah minum obat kan? Atau terjadi sesuatu padanya saat pemeriksaan tadi? Tidak mungkin dalam waktu seminggu dia ingin menjadikanku istrinya.
Klara baru akan mengatakan yang sebenarnya, saat dirinya mendengar teriakan keras dari Gray.
“Apa?! Calon istri? Apa Papa sedang bercanda?! Dia lebih pantas menjadi anak Papa. Lagipula, hanya wanita matre yang mau menikah dengan Papa padahal dirinya masih begitu muda,” sindir Gray, dan menatap Klara dengan tajam dari bawah ke atas kembali—seolah-olah matanya adalah mesin scanner saja.
‘Sabar Klara, ingat dia itu anak majikanmu. Jaga mulutmu jika masih ingin bekerja di sini,’ nasihat Klara pada dirinya sendiri.
“Katakan, Nona, dengan cara apa kamu membuat papaku ingin menikahimu hanya dalam waktu beberapa hari?”
‘Sabar ... Klara ... sabar ... orang sabar disayang Tuhan, anggap saja itu bunyi mesin scanner,’ batin Klara di dalam hati, kembali untuk menenangkan dirinya.
“Apakah kamu menjerat papaku dengan tubuhmu? Katakan apa rencana tersembunyimu yang sebenarnya kepada papaku?”
Aku tidak tahan lagi! Laki-laki ini sungguh arogan sekali.
“Benar sekali semua yang Anda katakan Mr. Clark, atau aku harus memanggilmu anakku, berhubung sebentar lagi aku akan jadi mamamu? Dan aku harap kamu harus belajar sopan santun, mengingat aku akan menjadi mamamu sebentar lagi. Mulai sekarang, kamu juga bisa memanggilku mama jika kamu mau,” ujar Klara, dan memaksakan dirinya tersenyum ceria saat menjawab pertanyaan Gray yang begitu merendahkannya.
“Ayo ... Jimmy sayang, kita ke atas. Ada yang harus kita bicarakan mengenai pernikahan kita,” sindir Klara kepada Jimmy, yang tentu saja hanya diketahui oleh Jimmy.
Pria tua itu sangat ingin tertawa, karena rencananya berhasil dengan begitu mudah. Tinggal hasil akhirnya, apakah akan sesuai keinginannya.
Sedangkan Klara begitu marah hingga tidak peduli lagi ke mana dia membawa Jimmy, atau bahkan menyadari kalau Jimmy masih atasannya saat ini. Bahkan dengan lancangnya ia memanggil nama pada majikannya, dan juga menyeretnya. Ternyata karena kebiasaannya selama menjadi perawat Jimmy, kakinya secara otomatis langsung membawanya melangkah menuju ke kamar majikannya itu.
“Please ... Mr. Clark, katakan apa maksud Anda dengan semua itu? Sejak kapan saya menjadi calon istri Anda? Bukankah saya di sini hanya sebagai perawat Anda saja?” tanya Klara meminta penjelasan, saat mereka sudah tiba di kamar.
“Maaf, Klara, aku melakukan itu semua tanpa menanyakan padamu terlebih dahulu.”
Jimmy menggenggam kedua tangan Klara dan tidak melepaskan, meski dia berusaha menariknya. Klara memandang Jimmy.
“Tolong, Klara! Tolong bantu aku sekali ini saja. Aku sungguh sudah begitu putus asa, agar Gray mau menikah. Dan hanya ini satu-satunya cara, agar Gray mau segera menikah. Aku berencana nanti akan mengatakan kepadanya kalau kita tidak akan menikah, kalau dia segera menikah. Akan aku katakan kepadamu penyebab diriku melakukan semua hal ini,” ujar Jimmy, dan sesaat dia terdiam mempersiapkan diri. “Aku sakit kanker otak stadium tiga dan hidupku tidak lama lagi. Jadi, maukah kamu membantuku di saat-saat terakhir hidupku? Aku tidak ingin meninggalkan Gray sendirian di dunia ini, dan jika dia sudah punya istri maka aku bisa meninggal dengan tenang.”
“Ini semua juga merupakan kesalahanku. Dulu aku menikah lagi, untuk memberikan mama yang sangat diinginkan oleh Gray. Tetapi ternyata wanita itu hanya menginginkan hartaku. Dia tidak pernah benar-benar mencintaiku, apalagi Gray. Saat itu dirinya baru berusia 12 tahun, dan semua impiannya tentang keluarga bahagia serta wanita baik musnah bersamaan. Saat dewasa, dirinya hanya berganti-ganti wanita setiap saat tanpa benar-benar menjalin hubungan serius dengan mereka. Wanita dianggapnya hanya hiasan saja. Aku merasa sangat cemas dengan dirinya. Jadi, apakah kamu mau membantuku? Anggap saja ini sebagai permintaan terakhirku, sebelum meninggal.”
Klara terbelalak tak percaya mendengar penuturan Jimmy tentang penyakitnya, dan dia bisa mendengar nada permohonan dari suara Jimmy. “Tapi Mr. Clark, bagaimana caranya saya bersandiwara? Saya sangat tidak berbakat dalam hal itu, dan apakah kita harus bersikap mesra?” Klara sedikit tidak nyaman jika harus seperti itu.
“Terus, sampai kapan saya harus berpura-pura menjadi calon istri Anda? Jujur saya sangat tidak suka berbohong,” tambah Klara lagi.
Jimmy memikirkan lagi pembicaraannya dengan Lidya.
“Ingat Jimmy, jangan meminta Klara berakting apa pun karena dia tidak pandai berbohong, biarkan dia melakukannya secara alami karena provokasi anakmu.”
“Tidak, Klara. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, lakukan saja semuanya seperti biasa dan secara alami, semua ini akan berakhir setelah Gray menikah atau aku meninggal.”
Klara memikirkannya sejenak. ‘Aku tidak suka melakukan semua itu tapi apa aku punya pilihan? Jika aku menolak mungkin aku akan dipecat dan ke mana aku akan pergi karena Tante pasti tidak akan mau menerimaku. Jadi sepertinya aku harus melakukan permintaan Mr. Clark.’
“Baiklah, Mr. Clark. Saya akan membantu, tapi ini hanya untuk memastikan agar anak Anda menikah, bukan? Tidak ada maksud lain?” Klara menjadi curiga setelah ingat perkataan Lidya. Klara takut, jika mungkin ini hanya akalakalan Jimmy saja untuk menjadikan dirinya istrinya yang selanjutnya.
“Ya, tidak ada maksud lain. Kamu tidak berpikir aku benar-benar akan menjadikanmu istriku, bukan?”
“Eh ….” Klara tidak bisa menjawab, karena memang seperti itulah yang dipikirkannya.
“Ya, ampun, Klara! Aku tidak sebejat itu, dengan menikahi wanita yang masih muda sepertimu. Kamu lebih pantas menjadi anakku.”
Wajah Klara bersemu merah karena apa yang sudah dipikirkannya tentang Jimmy, dan Klara bersyukur jika apa yang dipikirkannya itu ternyata salah.
“Dan, emm ... mungkin sebagai awalnya agar kita tidak ketahuan, kamu bisa mulai dengan tetap memanggilku Jimmy seperti tadi, tidak Mr. Clark lagi. Tidak mungkin bukan calon istriku memanggilku Mr. Clark.”
Sesaat wajah Klara semakin bersemu merah, saat diingatkan akan kelancangannya tadi. Untung saja atasannya tidak marah.
“Eh ... baiklah, Mr. Clark, saya akan memanggil nama Anda saat di depan anak Anda saja. Tapi saat kita berduaan dan tidak ada orang lain, saya akan tetap memanggil Anda Mr. Clark. Saya permisi dulu untuk kembali ke kamar, jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan dari saya saat ini.”
“Ya, istirahatlah. Kamu pasti sudah lelah karena hampir seharian menemaniku di rumah sakit.”
“Terima kasih, Mr. Clark.”
Klara bergegas menuju pintu untuk keluar, setelah meletakkan obat-obat dan amplop yang dibawanya tadi ke meja yang ada di sudut kamar. Sewaktu Klara membuka pintu akan keluar dari kamar, sudah berdiri Gray di depan pintu kamar Jimmy.
“Apa yang kamu lakukan di kamar papaku? Menawarkan dirimu lagi?”
Gray dapat melihat bagaimana wajah Klara yang masih merona merah, hingga membuat dia berpikiran yang tidak-tidak mengenai apa saja yang baru Jimmy dan Klara lakukan.
“Itu bukan urusan Anda.”
Klara mencoba mendorong Gray menyingkir dari depan pintu, tapi saat menyentuh pria itu, Klara begitu terkejut karena dirinya bagai tersengat listrik— hingga dia langsung menarik tangannya dan melangkah mundur.
“Bisakah Anda tolong menyingkir? Saya ingin keluar.”
Setelah Gray memberi jalan, Klara bergegas pergi dari sana dan menghindari bersentuhan dengan Gray lagi.
‘Hmmm ... Ini sangat menarik,’ pikir Gray.
“Papa, katakan apa maksud Papa ingin menikahi wanita matre itu? Apa Papa tidak belajar dari kesalahan masa lalu, saat istri kedua Papa hampir saja menjual rumah ini?”
“Jaga bicaramu, Gray! Wanita itu adalah calon mamamu, dan Papa tidak akan menikahinya kalau kamu sudah menikah.”
“Apa maksud, Papa? Apa hubungannya Papa menikah, dengan aku yang menikah?”
“Buka amplop itu. Hasil tes kesehatan Papa satu bulan yang lalu, ada di sana.”
Gray segera membuka amplop yang ditunjuk Jimmy— yang terletak di meja yang berada di sudut kamar ini— dan betapa terkejutnya Gray, saat membaca vonis dokter kalau Jimmy menderita kanker otak stadium tiga dan waktunya tinggal sebentar lagi.
“Papa tidak ingin meninggalkan kamu sendirian di dunia ini, Gray. Jadi jika kamu punya istri, Papa tidak perlu menikah lagi. Dan Papa tidak akan menikah, jika kamu segera menikah. Tapi, jika kamu tidak menikah maka Papa yang akan menikah dan memberikan kamu seorang mama untuk menjagamu.”
“Kenapa Papa baru memberitahukan hal ini sekarang padaku? Dan aku bukan anak kecil lagi, Pa, hingga perlu dijaga. Separuh harta Papa akan jatuh ke tangan wanita itu jika Papa menikahinya, kecuali jika Papa memintanya menandatangani surat pranikah. Aku bukannya tampak begitu peduli atau hanya peduli dengan harta-harta Papa, itu semua adalah hasil kerja keras Papa dan tentu hanya Papa yang berhak menentukan akan diapakan harta-harta itu. Hanya saja, rumah ini akan termasuk juga dan yang paling Gray pedulikan adalah rumah ini. Papa tidak perlu menikahinya, kita akan mencari dokter terbaik di seluruh dunia untuk mengobati Papa.”
“Maafkan Papa, karena baru memberitahukan hal ini sekarang padamu, tapi Papa tidak mau kamu merasa cemas. Papa tahu, kamu takut apa yang kita alami dulu akan terjadi kembali saat Papa menikah lagi, tapi tidak ada pilihan. Selain itu, Klara adalah wanita yang sangat baik dan Papa tidak bisa memintanya menandatangani surat pranikah karena itu sangat tidak adil untuknya. Waktumu satu bulan untuk menemukan wanita yang ingin kamu nikahi, jika tidak, Papa yang akan menikah, dan kanker ini kanker ganas, jadi tidak akan bisa disembuhkan.”
“Ini tidak adil, Papa!”
“Papa tidak peduli, Gray! Papa hanya tidak ingin meninggalkanmu sendirian di dunia ini, dan kamu harus menerimanya sebagai mamamu jika kamu tidak menikah juga dalam waktu satu bulan!”
“Baiklah, jika itu yang Papa mau, hanya saja Gray sangat ingin tahu, bagaimana caranya Papa bertemu wanita itu dan dalam waktu singkat dia bisa menjadi calon istri Papa?”
“Klara adalah perawat Papa sejak satu minggu yang lalu, dan Papa terpesona dengannya hingga memutuskan akan menjadikan dia istri Papa.”
“Hebat sekali wanita itu bisa menjerat Papa hanya dalam waktu beberapa hari saja. Aku akan membongkar topengnya yang sebenarnya sebelum Papa menikahinya agar Papa tidak menyesal nantinya, dan agar Papa juga bisa melihat kebusukannya.”
“Jaga bicaramu, Gray!” bentak Jimmy lagi.
“Aku permisi, Papa.”
Gray berlalu meninggalkan kamar Jimmy, masih dalam keadaan marah.
☼☼☼