Lima

1099 Words
Di kamarnya, Klara sangat bingung apa yang harus dilakukannya dan dirinya berjalan mondar-mandir di dalam kamar menyesali tindakannya hingga membuat ia terjebak ke dalam situasi ini.  “Klara, kenapa kamu ceroboh sekali? Kenapa kamu masih tidak belajar menutup mulutmu?” tanya Klara memarahi dirinya sendiri. “Oh ... ya ampun, apa yang telah aku lakukan? Dirimu sudah gila, Klara! Dan karena mulut besarmu itu kamu jadi harus ikut dalam sandiwara itu.”  Klara juga tidak mengerti apa yang merasukinya, hingga dirinya menyentuh Gray tadi. Padahal ia bisa saja tidak perlu menyentuh pria itu, dan hanya perlu meminta agar dia mau menyingkir. Namun, ia seperti merasakan magnet yang menariknya hingga ia tidak bisa menahan diri untuk menyentuh Gray.  ‘Dirimu memang sudah gila Klara, ya sudah sangat gila! Arghh!’ batin Klara kesal.  Klara tidak tahu nanti bagaimana ia akan bersikap saat makan malam nanti.   Bolehkah aku tidak usah ikut makan malam saja? Tapi aku bisa kelaparan. Mungkin aku bisa minta tolong Olivia saja untuk menyelundupkan makanan untukku. Tapi nanti Mr. Clark akan mencariku. Ah ... aku jadi semakin pusing. Mungkin aku hanya perlu bersikap biasa saja. Anggap saja anak Mr. Clark tidak ada seperti kemarin-kemarin. Yah ... itulah solusi terbaik saat ini. Klara tahu kalau hal itu tidak akan mudah karena dirinya tahu pasti Gray akan terus menghinanya.  ‘Kamu hanya harus diam saja dan bersabar serta jangan menanggapinya,’ nasihat Klara pada dirinya. Klara membayangkan wajah Gray. Alis tebal, bola mata  berwarna hazel, rahang kokoh ditumbuhi janggut tipis, dan tidak ketinggalan juga kumisnya yang seksi. Serta dipadukan dengan tubuh atletik setinggi 190cm, membuat wajahnya sangat tampan dan terasa sangat jantan. Apa lagi yang sedang aku pikirkan sekarang? Klara tidak pernah merasa seperti ini terhadap laki-laki saat dia kuliah.  ‘Laki-laki itu sangat arogan dan menyebalkan, Klara. Kamu tidak mungkin menyukai laki-laki seperti itu. Ini pasti hanya karena kamu sangat marah terhadapnya hingga memikirkannya,’ batin Klara kembali pada dirinya sendiri. ‘Mudah-mudahan dia segera menikah agar aku tidak perlu bersandiwara terlalu lama dan sebelum aku jadi gila karena semua ini.’ ☼☼☼ Setelah keluar dari kamar Jimmy, Gray pergi ke kamarnya dan hanya bisa mondar-mandir.  Aku tidak habis pikir ada apa dengan Papa? Bukannya fokus untuk menemukan dokter terbaik untuk sakitnya tetapi malah ingin aku menikah secepatnya hanya karena tidak ingin aku sendirian di dunia ini. Dia tahu kalau Jimmy mencemaskannya. Bagaimanapun usianya sudah 30 tahun, dan sampai sekarang belum menikah. Tetapi dia memang sama sekali tidak ingin menikah, apalagi jika bersama dengan wanita seperti ibu tirinya dulu. Dan dia merasa hampir seluruh wanita yang dikenalnya seperti itu, termasuk calon ibu tiri barunya saat ini. Dasar wanita mata duitan! Apa yang dia tawarkan untuk Papa hingga Papa mau menikahinya? Tubuhnyakah seperti yang aku kira? Bukannya aku ingin berpikiran buruk tentang Papa, tapi biar pun diusia seperti itu Papa masih terlihat prima. Aku tidak akan percaya jika ada yang mengatakan Papa sakit kanker, karena hal itu tidak tampak sama sekali pada diri Papa. Tpi hasil tes sudah membuktikan Papa memang mengidap penyakit kanker. Gray kembali fokus pada Klara, membayangkan tubuh wanita itu. Tubuhnya yang tinggi semampai dan lekuk-lekuk yang pas di sana-sini, rambut cokelat keemasan dan mata cokelat.  Dengan tubuh seperti itu, tidak akan ada yang menolak untuk memilikinya dan Gray pun merasakan kejantanannya bangkit hanya dengan membayangkan wanita itu. Sadarlah Gray, dia adalah calon istri papamu. Walaupun dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Kkembali ingat saat Klara menyentuhnya, dia merasakan seperti tersengat listrik. Dia tahu jika Klara pasti juga merasakannya, karena dia bisa melihat keterkejutan di kedua matanya. Sebaiknya aku menghirup udara segar.  Gray melangkah keluar ke teras kamarnya. Dari sudut matanya, dirinya melihat Klara yang juga sedang menikmati udara segar. Sesaat Gray terpesona saat melihatnya. Klara menghirup udara sedalam-dalamnya dan membentangkan tangannya saat berada di teras kamarnya.  Hmmm ... ini lebih baik, aku sudah merasa lebih baik sekarang.  Tiba-tiba Klara merasa bulu kuduknya meremang, karena perasaan seperti ada yang memperhatikannya. Dengan perlahan Klara menurunkan tangannya dan kemudian memutar tubuhnya.  Benar saja, di teras sebelah Klara menemukan Gray sedang memerhatikannya dan menatapnya, dengan cara yang tidak ia ketahui bagaimana cara menggambarkannya. Hal itu membuat tubuh Klara meremang dan salah tingkah hingga dirinya memutuskan kembali masuk ke dalam saja.  Kenapa aku meremang hanya karena ditatap olehnya? Mungkin aku jadi merasa seperti ditatap hantu saja hingga sampai meremang semua. Klara tertawa saat memikirkan hal itu.  Sudahlah aku sebaiknya mandi karena sebentar lagi makan malam akan dihidangkan. Saat makan malam tiba. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan melewati makan malam dengan mudah, karena Jimmy dan Gray tidak muncul untuk makan malam.  Apakah aku harus cemas? Bagaimana kalau Mr. Clark jatuh? Mungkin sebaiknya aku memeriksanya. Setelah selesai makan, Klara bergegas menuju kamar Jimmy. Dirinya mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Saat akan membuka pintu, tiba-tiba dirinya mendengar seseorang membentak padanya. “Apakah satu kali sehari tidak cukup?!” “Tentu saja tidak cukup. Bagaimana mungkin cukup?” “Kamu sungguh menjijikkan, Woman! Apakah kamu tidak tahu malu?” “Apa maksud Anda? Kenapa aku harus malu untuk memeriksa keadaan Jimmy beberapa kali sehari? Oh ….” Mata Klara terbelalak, setelah mengetahui apa maksud dari perkataan Gray padanya. “Anda memang berengsek! Aku di sini hanya untuk memeriksa keadaan Papa Anda, karena dia tidak turun untuk makan malam sehingga aku takut dirinya terjatuh atau pingsan! Jika Anda ingin memikirkan hal yang tidak-tidak, itu menjadi urusan Anda!” bentak Klara kesal. Klara langsung masuk ke dalam setelah mengatakan itu, dan tidak memedulikan Gray lagi. “Jimmy ... Jimmy ... apa kamu baik-baik saja?” “Ya, Klara. Aku hanya merasa kelelahan karena check up hari ini. Apa kamu sudah makan?” tanya Jimmy, dan dirinya tahu jika pasti ada Gray saat ini karena Klara memanggilnya menggunakan namanya saja. “Iya. Maaf karena mengganggu istirahatmu. Aku takut sesuatu terjadi, karena kamu tidak turun untuk makan malam.” “Aku baik-baik saja. Kamu bisa istirahat, Klara, karena aku sudah tidak membutuhkanmu lagi untuk hari ini.” “Aku akan meninggalkanmu kalau begitu.” Saat akan melewati Gray. Klara menyapanya lebih karena merasa tidak sopan jika dirinya langsung pergi. “Anda bisa melihat Papa Anda sekarang.” Kemudian Gray masuk ke dalam kamar Jimmy, “Apa Papa baik-baik saja?” “Iya, Nak. Papa baik-baik saja saat ini. Hanya merasa sedikit lelah.” “Baiklah. Papa bisa istirahat, aku akan meninggalkan Papa sekarang.” Saat Gray baru akan pergi Jimmy memanggil Gray kembali. “Gray, ingat waktumu hanya satu bulan.” Gray terdiam dan tidak membalas perkataan Jimmy. Dirinya langsung menuju ruang kerja.  “Aku harus menemukan seseorang yang bisa aku nikahi.” ☼☼☼ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD