“Wah serius? Masa gitu doang, Yu?” Jangankan Tias, aku pun sungguh tak percaya, Satya bisa sedatar itu. Padahal ini aku, orang yang katanya gak bisa bikin dia lupa, dan gak bisa bikin dia berhenti memikirkan, walau sedetik juga. “Iya, ngomong gitu. Emang sih kelihatannya sekarang dia lebih dewasa, dan masih keren seperti dulu. Sejujurnya dia terlihat gagah pakai seragam itu. Tapi aku lebih suka Satya yang dulu,” ucapku penuh penyesalan. “Udah, sabar aja. Dunia kalian kan sekarang udah beda, mau digimanain lagi,” respon Tias penuh empati. “Eh... mending jangan ngomongin yang sedih lagi. Tahu gak... tahu gak... ini soal Erfan!” wajah Tias langsung berbinar-binar mengingat Erfan. “Hah? Erfan? Gimana... gimana...? Kamu wajib cerita ke aku!” kataku penuh antusias. Sudah lama rasanya a

