"Nar, pulang bareng, yuk," ajak Wulan sembari mengenakan tas punggungnya, wanita itu memang biasa pergi dan pulang bekerja dengan mengendarai sepeda motornya. Sayangnya arah rumahnya berbeda dengan arah rumah Jenar hingga sesekali Jenar hanya membonceng padanya sampai lampu merah depan di mana Jenar biasanya menunggu angkot yang akan mengantarnya pulang. "Eh, iya Mbak. Sebentar lagi," jawab Jenar yang masih sibuk dengan pekerjaannya, sebenarnya gadis itu hanya mengulur waktu saja agar Wulan meninggalkannya untuk pulang terlebih dahulu, bagaimana pun Jenar teringat jika malam ini Bu Endang memintanya untuk makan malam di rumahnya. Jenar telah mengalami sendiri bagaimana sedihnya saat satu satunya orang yang dia miliki menderita sakit parah hingga gadis itu tahu betul bagaimana perasaan

