Fitnah

1231 Words
Sore itu, Nindya menutup buku catatan kecilnya dengan tenang. Ujung jarinya berhenti sejenak di sampul lusuh yang sudah menemaninya sejak pagi. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Arman di luar rumah, namun ia bisa merasakannya. Getaran halus dari seseorang yang mulai kehilangan kendali. Perasaan itu tidak asing bagi Nadia. Sebagai pengacara, ia pernah melihatnya berkali-kali. Orang yang merasa kekuasaannya terancam akan melakukan satu hal yang sama, menyerang lebih dulu, sering kali dengan cara paling kotor. Langkah kaki terdengar dari luar. Pintu rumah terbuka lebih keras dari biasanya. Nindya mengangkat wajah ketika Arman masuk ke ruang tamu. Wajah pria itu tegang, rahangnya mengeras, sorot matanya tidak lagi sekadar dingin melainkan penuh perhitungan. “Kita perlu bicara,” kata Arman singkat. Nindya berdiri perlahan. “Aku mendengar itu hampir setiap hari,” jawabnya tenang. Arman tidak menanggapi. Ia hanya menoleh ke arah dapur. “Ma.” Beberapa detik kemudian, ibu mertuanya muncul. Wajahnya kaku, seperti sudah dipersiapkan untuk sebuah peran. “Ada apa?” tanyanya, meski jelas ia sudah tahu. Arman menghela napas, lalu menatap Nindya lurus. “Aku tidak mau ini berlarut-larut. Sudah cukup.” “Cukup tentang apa?” tanya Nindya. Ibu mertuanya mendengus. “Kamu masih berani bertanya?” katanya ketus. “Kelakuanmu sudah memalukan keluarga ini!” Nindya mengangkat alis tipis. “Kelakuan yang mana?” “Jangan pura-pura bodoh!” bentak perempuan itu. “Kamu berselingkuh!” Kata itu jatuh tepat seperti yang Nadia perkirakan. Tidak ada emosi berlebihan. Tidak ada terkejut. Justru sebuah ketenangan dingin menyelimuti dadanya. “Jadi ini yang kalian pilih,” batinnya. “Apa?” tanya Nindya pelan. “Bisa diulang?” “Kamu berselingkuh!” ulang ibu mertuanya lebih keras. “Kami punya bukti!” Nindya menatap Arman. “Bukti seperti apa?” Arman mengalihkan pandangan sejenak, lalu berkata dingin, “Aku tidak perlu menjelaskannya padamu.” “Sebaliknya,” sahut Nindya. “Kalian yang perlu menjelaskannya.” Ibu mertuanya melangkah maju. “Perempuan tidak tahu diri! Sudah jadi istri masih berani menuntut macam-macam!” Nindya tersenyum tipis. “Menuntut kebenaran bukanlah dosa.” Arman tertawa kecil tanpa humor. “Kebenaran versimu?” “Versi fakta,” jawab Nindya. Suasana ruang tamu menegang. Udara terasa berat, seolah setiap kata bisa memicu ledakan. “Kamu tahu,” lanjut Arman, “aku bisa menyelesaikan ini dengan cepat. Dengan cara baik.” “Cara baik menurutmu,” balas Nindya. Arman melangkah ke meja, membuka laci, lalu mengeluarkan sebuah map cokelat. Ia meletakkannya di atas meja dengan satu hentakan pelan, tapi cukup tegas. “Ini,” katanya, “jalan keluarnya.” Nindya tidak langsung mendekat. Ia sudah tahu apa isinya bahkan sebelum membukanya. “Surat cerai,” lanjut Arman. “Dengan alasan yang jelas.” “Perselingkuhan,” gumam Nindya. Ibu mertuanya menyilangkan tangan. “Nama baik keluarga harus diselamatkan.” Nindya akhirnya melangkah maju dan membuka map itu. Matanya menyapu barisan kata hukum yang dingin dan rapi. Tuduhan yang disusun hati-hati. Narasi korban dan pelaku yang dibalik dengan sempurna. “Menarik,” katanya pelan. Arman mengerutkan kening. “Menarik?” “Kalian sudah mempersiapkannya cukup lama,” lanjut Nindya. “Bahasanya rapi. Terstruktur. Terlihat seperti bukan kerja orang sembarangan.” Ibu mertuanya tersenyum tipis. “Kamu pikir kamu sepintar itu?” Nindya menutup map. “Tidak,” jawabnya jujur. “Aku hanya terbiasa membaca kebohongan.” Arman mendengus. “Kamu mau menyangkal semuanya?” “Aku menolak tuduhan palsu,” jawab Nindya. “Siapa yang akan percaya?” tanya Arman tajam. Nindya menatapnya lama. “Aku.” Arman tertawa kecil. “Kamu sendirian.” “Tidak,” sahut Nindya tenang. “Aku hanya belum berbicara.” Ibu mertuanya mendekat, suaranya merendah namun penuh ancaman. “Jangan bermimpi terlalu tinggi. Perempuan sepertimu tidak punya siapa-siapa.” Kalimat itu biasanya akan menghancurkan Nindya. Namun kini, Nadia justru merasakannya seperti pengakuan kelemahan. “Perempuan tanpa apa-apa tidak perlu dijatuhkan dengan fitnah,” jawab Nindya. “Kecuali kalau kalian takut.” Arman membanting telapak tangannya ke meja. “Cukup! Aku tidak mau berdebat. Tanda tangani. Hari ini.” Nindya menatap kolom tanda tangan itu. Pena sudah disiapkan, seolah keputusan sudah seharusnya diambil tanpa perlawanan. Ia teringat tubuh yang hampir mati. Teringat malam saat Nindya menyerah. Teringat jiwa yang memilih pergi karena tidak melihat jalan keluar. Perlahan, ia mendorong map itu kembali ke tengah meja. “Tidak,” katanya tegas. Arman membeku. “Apa?” “Aku tidak akan tanda tangan,” ulang Nindya. “Bukan dengan tuduhan palsu.” “Kamu pikir kamu punya pilihan?” suara Arman rendah dan berbahaya. Nindya mengangkat wajahnya. Sorot matanya dingin, penuh kendali. “Kalian sudah mengambil hampir segalanya dariku,” katanya pelan. “Tapi satu hal belum.” “Apa itu?” tanya ibu mertuanya sinis. “Waktuku,” jawab Nindya. “Dan kali ini, aku akan menggunakannya.” Ruangan itu kembali sunyi. Nindya mengambil tas kecilnya. “Aku akan keluar sebentar.” “Kamu mau ke mana?” tanya Arman tajam. “Mencari kebenaran,” jawabnya singkat. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Arman berdiri kaku. Untuk pertama kalinya sejak ia merencanakan perceraian ini, muncul satu perasaan yang tidak ia sukai. Perasaan takut. Sementara itu, di dalam d**a Nindya, Nadia menyusun langkah demi langkah dengan tenang. “Fitnah adalah senjata orang lemah,” batinnya. “Dan orang yang memakai senjata itu… selalu meninggalkan jejak.” Permainan sudah dimulai. Dan kali ini, ia pastikan dirinya akan memenangkan kebenaran. Nindya melangkah keluar rumah dengan langkah mantap, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat daripada kakinya. Dunia di luar tampak biasa saja, suara kendaraan, langkah orang-orang, langit yang mulai meredup menjelang malam namun baginya, semuanya terasa seperti papan catur yang baru saja disusun ulang. Ia duduk di bangku halte yang sepi dan membuka buku catatan kecilnya kembali. Di halaman pertama, ia menulis satu kata…Motif. Arman ingin bercerai. Itu jelas. Tapi perceraian saja tidak cukup baginya. Ia membutuhkan pembenaran, alasan yang membuatnya tetap terlihat bersih, terhormat, dan menang. Maka fitnah adalah jalan tercepat. Nindya menarik napas pelan. “Kalau begitu,” gumamnya, “aku harus mulai dari awal.” Ia menutup mata sejenak, membiarkan ingatan Nindya mengalir. Jam-jam sepi di rumah. Telepon Arman yang jarang diangkat. Tatapan ibu mertua yang selalu penuh curiga. Dan satu hal yang terus berulang: Ratna. Nama itu muncul terlalu sering untuk sekadar kebetulan. Nindya membuka mata. Ujung bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, melainkan tekad. Di rumah, Arman mondar-mandir di ruang tamu. Ibunya duduk dengan wajah masam, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi. “Kamu terlalu memanjakannya,” gerutu sang ibu. “Perempuan itu sudah kelewatan.” Arman tidak menjawab. Kata-kata Bima siang tadi kembali terngiang di kepalanya. “Perempuan yang tidak takut biasanya sudah sampai di batas.” “Dia tidak seharusnya menolak,” gumam Arman pelan. “Dia tidak punya pilihan,” balas ibunya yakin. “Besok juga dia akan menyerah.” Namun entah kenapa, keyakinan itu tidak sepenuhnya sampai ke d**a Arman. Ada kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan, seperti perasaan saat menyadari bahwa lawan yang ia anggap lemah ternyata tahu cara bertarung. Sementara itu, Nindya berdiri dan melangkah pergi dari halte. Tujuannya belum jelas, tapi satu hal pasti: ia tidak lagi berjalan tanpa arah. “Jika kalian menjatuhkanku dengan fitnah,” batinnya dingin, “maka aku akan membalasnya dengan bukti.” Dan kali ini, ia tidak sendirian. Ia memiliki waktu, akal, dan keberanian yang dulu tidak pernah dimiliki Nindya. Fitnah telah dilemparkan. Kini, giliran kebenaran bergerak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD