Kecemburuan yang Nyata

1142 Words

Pagi itu datang dengan suasana yang berbeda, meski tidak ada satu pun yang secara langsung mengatakannya. Arman bangun lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, menatap kosong ke depan, seperti sedang menyiapkan dirinya menghadapi sesuatu yang tidak terlihat. Kamar itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara lain, tidak ada kehadiran siapa pun selain dirinya sendiri. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri tanpa banyak berpikir. “Sudah terbiasa sendiri, tapi kenapa sekarang terasa beda.” gumamnya pelan. Ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar, menuju ruang tengah dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia berdiri, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Di dapur,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD